
Setibanya di rumah sakit, beberapa perawat serta dokter jaga di ruang instalasi gawat darurat langsung membawa tubuh Arista ke dalam ruang IGD untuk mendapatkan penanganan utama, mengingat gadis itu masih dalam keadaan tak sadar.
"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk." ucap salah seorang perawat pada Gunawan yang hendak ikut masuk bersama putrinya.
Mendengar ucapan perawat tersebut ingin rasanya Gunawan mengamuk, namun hal itu urung di lakukan pria itu sadar itu sudah menjadi aturan rumah sakit.
Dengan wajah panik Gunawan nampak mondar mandir di depan kamar tindakan ruang IGD sementara Widia nampak berdiri di depan pintu kamar tersebut, sampai dengan suara seseorang mengejutkan keduanya.
"Sedang apa kamu di sini Gun, apa ada yang sakit??." tanya sahabatnya Beni yang merupakan salah satu dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut.
"Arista Ben, Arista pingsan sekarang sedang di tangani dokter di dalam sana." jawab Gunawan masih dengan raut wajah panik seraya menunjuk ke arah kamar di mana putrinya tengah mendapat penanganan dari dokter.
"Aku akan masuk ke dalam untuk melihat kondisi Arista, sebaiknya kalian tetap di sini!!." ujar Beni sebelum membuka pintu kamar tersebut.
Beberapa saat kemudian Beni nampak keluar dari kamar tindakan guna menemui sahabatnya, Gunawan.
"Bagaimana kondisi putriku Ben, putriku baik baik saja kan Ben??." baru saja hendak kembali menutup pintu Gunawan sudah mencecar Beni dengan berbagai pertanyaan tentang kondisi putrinya, Arista.
"Arista sudah sadar, sebaiknya kamu tenang gun, karena sebentar lagi dokter yang kini menangani Arista akan segera keluar, dan beliau ingin bicara dengan orang tua pasien." jawab Beni seraya menenangkan sahabatnya itu.
Tidak lama kemudian seorang dokter pria nampak keluar dari kamar tersebut.
"Bagaimana kondisi putriku Dokter??." Gunawan nampak bertanya kondisi putrinya pada dokter yang menangani putrinya.
"Alhamdulillah saat ini pasien sudah sadar, namun untuk saat ini kami belum bisa memastikan penyebab pingsannya putri anda. jadi untuk memastikan sebaiknya kita melakukan tes darah pada pasien, agar bisa mengetahui penyebab pingsannya pasien." terang dokter usai menangani kondisi Arista.
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya dok, berapa pun biayanya tidak masalah." sahut Gunawan dengan wajah yang nampak mulai acak acakan karena sejak tadi pria itu tak henti hentinya mengacak rambutnya frustrasi memikirkan kondisi putrinya tercinta.
"Anda tidak perlu khawatir tuan, Sebagai dokter tentunya kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien." jawab dokter sebelum pamit kembali menemui pasien dengan di ikuti salah satu petugas yang bertugas di laboratorium untuk mengambil sampel darah pasien untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Sebaiknya kita berdoa agar hasil pemeriksaan darah Arista baik baik saja!!." kata Beni yang kini berdiri berdampingan dengan Gunawan sementara Widia kini duduk di bangku rumah sakit sembari terus memanjatkan doa.
Tiba tiba Gunawan baru menyadari jika saat ini istrinya tersebut hanya mengenakan dres rumahan yang panjangnya di atas lutut sehingga memperlihatkan paha Widia yang putih bersih saat wanita itu duduk.
__ADS_1
Pria itu tidak ingin istrinya menjadi pusat perhatian, apalagi ada beberapa keluarga pasien yang kebetulan melintas terus memandang ke arah Widia, melihat itu membuat Gunawan hendak menutupi bagian dari tubuh istrinya namun saat ini pria itu hanya mengenakan sebuah celana pendek serta baju kaos.
Merasa tak punya pilihan lain, Gunawan pun membuka paksa jas kebanggaan yang kini tengah di kenakan Beni, sehingga membuat sahabatnya tersebut menjadi bingung.
"Apa yang kamu lakukan gun??." tanya Beni dengan wajah bingung saat sahabatnya itu membuka paksa jas kebanggaannya tersebut dari tubuh Beni. meski merasa bingung namun Beni tak menghalanginya.
"Aku pinjam sebentar." jawab Gunawan kemudian segera menghampiri Widia lalu menutupi bagian paha wanita itu yang sedikit terekspos saat ia duduk di bangku rumah sakit.
"Apa kamu sengaja ingin menarik perhatian semua orang yang ada di rumah sakit ini??." cetus Gunawan seraya menutupi bagian tubuh istrinya dengan menggunakan jas kebanggaan milik sahabatnya.
Sementara Widia hanya bisa bersengut dalam hati saat mendengar kalimat pria dingin yang kini menjadi suaminya tersebut.
Melihat sikap sahabatnya tersebut membuat Beni tersenyum tipis.
"Katanya nggak sayang." ucap Beni lirih saat Gunawan sudah kembali berdiri di depannya.
"Aku hanya risih menjadi pusat perhatian." jawab Gunawan dengan nada yang juga lirih.
"Canda kali, serius amat sih." sahut Beni tak ingin memancing emosi pria dingin tersebut.
Tidak perlu waktu lama dokter memindahkan Arista ke ruangan VVIP, bukan tanpa alasan, semua itu karena Gunawan yang meminta pada pihak rumah sakit.
Beberapa saat kemudian Saat menemani sang putri Gunawan serta Widia menoleh saat perawat meminta kedua orang tua pasien menemui dokter di ruangannya.
"Ceklek" seorang perawat nampak membuka pintu kamar perawatan Arista, setelah mengetuk pintu lebih dulu.
"Tuan, dokter meminta anda serta istri untuk menemui dokter di ruangannya!!." titah perawat tersebut pada Gunawan dan Widia.
"Baik Suster, kami akan segera menemui dokter." kini Widia yang menjawab.
"Kakak sama Oma dan adik sebentar ya, mama sama ayah ingin bertemu dengan dokter." kata Widia pada putrinya, sementara Arista mengangguk seraya tersenyum meski wajahnya masih nampak pucat.
"Ayah nggak akan lama sayang." ucap Gunawan lalu mengecup puncak kepala putrinya, sebelum keduanya beranjak menemui dokter di ruangannya.
__ADS_1
"Tok,,, tok,,, tok,,,." tiba di depan ruangan dokter Gunawan mengetuk pintu sebelum membuka handle pintu.
"Ceklek." terdengar suara pintu terbuka.
"Silahkan masuk tuan nyonya,,,, silahkan duduk!!." ucap dokter tersebut ramah.
"Terima kasih dok." jawab Gunawan sebelum duduk berhadapan dengan dokter dengan sebuah meja yang menjadi pembatas, kemudian di ikuti sang istri yang ikut duduk di samping suaminya.
"Begini tuan Wicaksono berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang di lakukan pada pasien, putri anda di nyatakan menderita penyakit leukimia." mendengar penjelasan dokter seakan membuat dunia Gunawan runtuh seketika.
"Bagaimana bisa putri saya menderita penyakit berbahaya seperti itu dok??." ucap Gunawan yang kini tak sanggup lagi menahan linangan air mata, sementara Widia yang juga merasa tidak sanggup mendengar penjelasan dokter tersebut hanya bisa menguatkan Gunawan dengan mengusap lembut punggung pria itu.
"Kami sendiri belum tahu pasti penyebab putri anda sampai bisa menderita penyakit tersebut namun anda tidak perlu khawatir sebab kami akan berusaha melakukan yang terbaik dengan melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang pada putri anda, karena saudara kandung dari putri anda bisa menjadi pendonor." mendengar penjelasan dokter semakin membuat Gunawan frustasi, bagaimana tidak, pendonor yang bisa menyelamatkan putrinya adalah saudara kandung Arista sementara gadis itu merupakan satu satunya anak kandung Gunawan dan Rahma.
"Bagaimana bisa dok sementara anak saya merupakan anak tunggal saya dengan almarhumah istri saya." mendengar jawaban Gunawan membuat dokter langsung memandang ke arah Widia, sementara Widia yang merasa tak nyaman saat dokter itu memandangnya hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Maaf Nyonya saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda." kata dokter saat bisa membaca situasi.
Mendengar permintaan maaf dari pria itu membuat Widia menengadah lalu berkata.
"Tidak perlu meminta maaf dok." jawab Widia dengan senyum tipis.
"Apa tidak ada lagi cara untuk menyembuhkan anak saya??." tanya Gunawan yang kini hampir putus asa.
"Kita masih punya satu harapan tuan, jika anda memiliki anak kandung meski itu bukan lahir dari rahim ibu kandung putri anda, masih bisa menjadi pendonor bagi putri anda. mengingat penyakit yang di derita putri anda masih dalam tahap stadium awal, jadi Putri anda sanggup menunggu sampai tiga empat tahun ke depan." kembali mendengar penjelasan dari dokter itu membuat Gunawan sontak beralih menatap Widia.
"Baiklah tuan, karena pasien meminta agar bisa mendapat perawatan intensif di rumah, maka kami akan membawa serta peralatan rumah sakit ke kediaman anda untuk menunjang kesehatan putri anda saat ini." ucap dokter sebelum kembali melanjutkan penjelasannya.
"Lagi pula dokter Beni adalah kerabat anda, beliau bisa membantu memantau kondisi anak anda selama di rawat di rumah." lanjut kata dokter.
"Baiklah dokter terima kasih atas penjelasannya." jawab Gunawan sebelum berlalu meninggalkan ruangan dokter.
Saking frustasinya Gunawan tak langsung kembali ke ruangan perawatan putrinya melainkan pria itu mengajak istrinya mencari tempat untuk bicara berdua.
__ADS_1