Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Ingin Bakso.


__ADS_3

Gunawan nampak menepikan mobilnya saat Widia melihat ada Abang Abang yang menjual bakso parkir di tepi jalan, lengkap dengan meja serta kursinya yang beratapkan langit serta bintang bintang.


"Kamu yakin ingin makan bakso di tempat ini, apa nggak takut sakit perut??." Gunawan nampaknya masih ragu dengan kehigenisan tempat tersebut, namun berbeda jauh dengan Widia, wanita itu bahkan nampak berseri seri saat hendak melangkah.


"Yakin dong mas, mana ada sih mas orang makan di tempat seperti ini langsung sakit perut, dulu juga aku sering makan di tempat seperti ini, buktinya sampai saat ini aku nggak sakit perut aku bahkan sehat saja." Gunawan tidak habis pikir dengan jawaban sang istri.


"Ya sudah terserah kamu saja!!." jawab Gunawan pasrah.


"Bang aku pesan 2 mangkok ya!!." dengan wajah berseri seri Widia memesan dua mangkuk, untuk dirinya dan juga sang suami.


"Siap neng." jawab si bang penjual bakso.


"Kamu saja, saya tidak lapar." kata Gunawan berbohong saat mengatakan ia tak lapar, karena buktinya saat ini Widia dapat mendengar perutnya yang mulai keroncongan.


"Di coba dulu deh mas, kalau nggak di coba Gimana bisa tahu rasanya. biasanya sesuatu yang enggan di coba malah bikin kita ketagihan loh mas." entah kenapa Gunawan merasa tersindir dengan kalimat wanita itu, Gunawan bahkan merasa jika istrinya tersebut tengah menyamakan seperti saat ia dulu enggan menikmati tubuhnya, namun saat tahu rasanya pria itu malah di buat ketagihan. meski pada kenyataannya Widia sama sekali tidak ada maksud ke sana.


"Memangnya salah jika suami ketagihan dengan tubuh milik istri sendiri, kalau ketagihan dengan istri orang, itu baru salah." jawab Gunawan yang merasa kalimat istrinya tadi sengaja menyindir dirinya.


"Mas ngomong apaan sih??." tanya Widia bingung, saat menyadari arah bicara suaminya malah ke arah ranjang.


"Tidak ada apa apa, tidak perlu di bahas" jawab Gunawan menyesali jawabannya barusan, karena saat melihat ekspresi Widia seperti nampak bingung dengan kalimatnya tadi.


"Mas aneh deh, di tanya apa jawabnya apa." ucap Widia seraya menggelengkan kepalanya.


Saat melihat bakso yang tersaji Wajah Widia kembali berseri seri, sehingga memancing kalimat dari si Abang penjual bakso.

__ADS_1


"Kelihatannya senang banget, lagi ngidam ya neng???kalimat si Abang sontak mendapatkan pandangan dari Gunawan.


"Si Abang bisa aja." sahut Widia karena merasa kalimat si abang hanya sebuah candaan.


"Kenapa aku tidak berpikir ke arah sana." dalam hati Gunawan, saat mendengar kalimat si bang penjual bakso.


Kini Gunawan menatap istrinya yang tengah menikmati semangkuk bakso dengan lahapnya, sementara baksonya sudah nampak dingin sama sekali belum di sentuh oleh pria itu. perasaan lapar yang tadi melanda pria itu lenyap seketika saat mendengar kalimat si Abang tadi.


"Apa kamu sudah datang bulan??." Widia nampak tersedak kuah bakso saat mendengar pertanyaan dari Gunawan.


"Uhuk,,,,uhuk,,, uhuk,,,." Gunawan segera memberikan segelas air saat mendengar istrinya tersedak.


Widia nampak diam sejenak mengingat siklus haidnya, sebelum menjawab pertanyaan dari Gunawan.


"Sepertinya belum mas, tapi sekarang masih dua Minggu mas sejak kejadian itu, masa iya aku hamil." jawab Widia, yang mengerti dengan maksud dari pertanyaan suaminya.


"Besok kita ke Dokter, Siapa tahu kamu memang tengah mengandung saat ini." ucap Gunawan, sementara Widia langsung terdiam, teringat akan dulu saat masih bersama dengan mantan suami, saat itu ia bahkan sedikit sulit untuk memiliki anak lagi meski dokter mengatakan jika kandungannya dalam kondisi sehat.


Tidak menutup kemungkinan jika kejadian yang sama akan kembali terjadi, dan hal itu sudah pasti akan membuat Gunawan sangat kecewa. buliran bening mulai jatuh dari sudut mata wanita itu, entah kenapa ia merasa tak sanggup melihat Gunawan kecewa nantinya saat tahu ia ternyata tak mengandung.


Dengan segera Widia menoleh ke arah berlawanan dengan posisi Gunawan saat ini, agar pria itu tak sampai melihat air mata yang jatuh di sudut matanya.


Dulu bahkan saat masih bersama dengan mantan suami terdahulu, Widia kerap mendapat ancaman dari ibu mertua akibat belum bisa memberikan seorang cucu perempuan untuknya. mengingat hal itu semakin membuat hati Widia terasa nyeri, bukan karena masih memiliki perasaan terhadap mantan suami terdahulu, namun karena takut tak bisa memberikan sesuatu yang menjadi harapan terbesar Gunawan, untuk menyelamatkan nyawa dari putri kesayangannya.


"Maafkan aku mas, seandainya jika aku tak sanggup memberikan seorang anak, seperti yang kamu harapkan untuk menyelamatkan nyawa Arista." dalam hati Widia yang kini tiba tiba kehilangan selera makannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, kenapa baksonya tidak di habiskan??." pertanyaan sang suami hanya mendapat senyuman kecil dari Widia, sebelum wanita itu meminta untuk segera kembali ke rumah.


"Mas aku mau pulang!!." Gunawan nampak Bingung saat mendengar Widia tiba tiba tak bersemangat dan ingin segera kembali ke rumah, namun begitu Gunawan tak lagi banyak bertanya. ia segera membayar dua mangkuk bakso yang tadi di pesan oleh istrinya, sebelum ia menyusul langkah wanita itu ke mobil.


"Ada apa dengan Widia, kenapa sikapnya tiba tiba berubah seperti ini, apa tadi ada kata kataku yang menyinggung perasaannya??." Gunawan nampak bertanya tanya dalam hati tentang perubahan sikap istrinya.


Suasana di mobil nampak senyap sampai Widia mengeluarkan kalimat yang membuat Gunawan bingung.


"Mas??." Widia menoleh ke arah Gunawan yang kini tengah fokus mengemudi.


"Hemt." pria itu pun menoleh.


"Seandainya aku tidak bisa melakukan tugasku dengan baik, apa yang akan mas membenciku??." pertanyaan Widia membuat Gunawan tak sepenuhnya mengerti kemana maksud ucapan wanita itu.


"Apa maksudmu??." Gunawan yang sepertinya tak paham sepenuhnya dengan maksud ucapan Widia malah balik bertanya.


"Bagaimana jika ternyata aku tidak hamil seperti dugaan mas Gunawan apa mas akan_" belum lagi Widia menuntaskan kalimatnya Gunawan lebih dulu menyela.


"Maka aku terus berusaha sampai kamu benar benar mengandung anakku." sela Gunawan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.


"Memangnya kenapa kamu bisa putus asa seperti itu, apa kamu tidak ingin mengandung anak dariku sampai kamu berkata seperti itu??." tebak Gunawan dengan raut wajah kurang bersahabat.


"Bukan mas, bukan begitu maksud aku mas, aku hanya mengatakan seandainya, tidak ada maksud seperti yang mas tuduhkan padaku." Jawab Widia ingin mematahkan dugaan suaminya terhadap dirinya.


"Lagi pula tidak ada seorang istri yang tidak merasa senang jika mengandung anak dari suaminya sendiri, meski suaminya tidak pernah bisa mencintainya." Jawaban Widia yang di sertai senyum getir tersebut sontak membuat Gunawan kembali menoleh ke arah wanita itu.

__ADS_1


"Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana perasaanku padamu Widia." dalam hati Gunawan saat menoleh ke arah istrinya itu.


__ADS_2