
Setelah berhasil mendapat bantuan dari bengkel panggilan, Keduanya bisa kembali melanjutkan perjalanan menuju kota B.
Saat di perjalanan keduanya kembali nampak diam, terutama Putri yang sama sekali tak berani memulai obrolan. mungkin karena merasa malu atau apalah, hanya wanita itu yang tahu.
Bagaimana tidak, pagi tadi saat semalaman tidur di mobil, Putri yang baru saja terbangun dari tidurnya terkejut saat menyadari jika ia tengah berada di dekapan pria yang kini tengah kembali fokus mengemudi tersebut. atau lebih tepatnya wanita itulah yang menjatuhkan diri di dekapan Gio, terbukti saat terjaga dirinya lah yang dengan tidak tahu malunya memeluk tubuh Gio.
Flash back On
Entah kenapa Gio mulai merasa khawatir saat melihat wanita yang kini duduk di sampingnya itu mulai terlihat kedinginan, terbukti saat Gio melihat Putri mulai melihat tangannya ke dada dan buku tangannya mulai memutih.
Malam ini keduanya terpaksa bermalam di mobil sebab saat ban mobil mereka kempes malam mulai gelap serta jalan yang mereka lintasi saat itu lumayan sepi, tak ada bengkel tambal ban di sekitarnya sehingga membuat keduanya memutuskan untuk bermalam di mobil sebelum besok pagi mencari bantuan.
Mungkin karena lelah Putri pun terlelap dengan posisi duduk, sementara Gio yang melihat hal itu segera melepaskan jasnya kemudian menyelimuti tubuh mungil Putri dengan jas miliknya.
Saat hendak ikut memejamkan matanya, bola mata Gio kembali terbelalak saat menyadari wanita itu secara tidak sengaja menjatuhkan diri ke dalam dekapannya. Sejujurnya Saat itu Gio juga merasa jantungnya seperti mau copot, sebab ini kali pertama ia berada begitu dekat dengan lawan jenis.
Namun dengan alasan tak tega membangunkan wanita itu, Gio terpaksa berdamai dengan detak jantungnya seraya kembali mencoba memejamkan matanya. meski sulit sekali bagi pria itu memejamkan mata dalam posisi sedekat itu dengan seorang wanita, namun Gio berusaha bersikap biasa.
Sampai keesokan harinya ia yang terjaga lebih awal menunggu wanita yang masih berada di dekapannya tersebut ikut terjaga.
"Kecil kecil ternyata kamu berat juga sampai badanku rasanya seperti mau remuk." Putri berusaha mengumpulkan jiwanya yang rasanya belum terkumpul sempurna saat baru saja terjaga saat mendengar kalimat pria itu.
"Kamu sendiri yang menjatuhkan diri ke dalam dekapan saya semalam jadi jangan berpikir macam macam tentang saya, masih untung saya baik dengan membiarkan kamu menjadikan dada saya sebagai bantal." ingin rasanya Putri menolak ucapan pria itu namun pada kenyataannya itu semua bisa saja benar adanya menurut wanita itu, sebab buktinya saat terjaga ialah yang memeluk tubuh pria itu saat berada di dekapan Gio.
"Maaf semalam saya tidak menyadarinya." ucap Putri berusaha bersikap biasa meski pada kenyataannya saat ini wanita itu merasa sangat malu setengah mati, mungkin jika saja saat ini ia bisa menghilang dari muka bumi untuk sementara waktu, maka putri sudah pasti akan melakukannya saking malunya.
"Tidak perlu minta maaf pada saya, seharusnya kamu minta maafnya pada calon istri saya nantinya, sebab sudah lebih dulu menyentuh dada saya yang seharusnya menjadi haknya." melihat raut wajah Putri yang nampak jelas tengah menahan malu, Gio malah sengaja menggoda wanita itu dengan kalimatnya.
"Kalau begitu sampaikan permintaan maaf saya pada calon istri kamu, tapi katakan padanya jika aku melakukannya tanpa sengaja!!.". Putri mengatakan itu tanpa berani menatap lawan bicaranya.
"Sebaiknya sekarang kita mencari bantuan agar bisa kembali melanjutkan perjalanan. untuk permintaan maaf kamu, simpan saja dulu karena untuk saat ini saya belum memiliki calon istri." Putri sontak menatap tajam ke arah Gio sembari mengerutkan keningnya, karena merasa pria itu sengaja mempermalukan dirinya.
__ADS_1
Mendapat tatapan tajam dari Putri bukannya membuat Gio marah ataupun ketakutan, pria itu malah terlihat tersenyum tipis. yang Putri sendiri tidak tahu maksud dari senyuman dari pria itu.
Pria segera turun dari mobil saat melihat ada sebuah mobil yang datang menghampiri mobil mereka. mobil dari sebuah bengkel panggilan yang beberapa saat lalu di hubungi pria itu.
Beberapa menit kemudian montir yang nampak cekatan tersebut selesai mengganti ban mobil mereka dengan ban mobil baru, sehingga keduanya bisa kembali melanjutkan perjalanan.
Flash back of.
"Kita sarapan dulu." ucapan Gio memecahkan keheningan yang terjadi hampir beberapa waktu dan Putri pun mengangguk sebab saat ini perutnya pun sudah mulai keroncongan.
Usai sarapan keduanya kemudian kembali melanjutkan perjalanan, hingga tak butuh waktu yang terlalu lama untuk tiba di kota B.
Usia melakukan kegiatan yang telah di perintahkan padanya, dengan hati hati Putri meminta pada Gio yang bertugas mengemudi untuk mampir sebentar ke suatu tempat yang juga berada di kita tersebut dan Gio pun mengangguk tanda setuju.
Hingga mobil yang di kendarai Gio memasuki gerbang sebuah rumah yang terbilang cukup mewah di kota tersebut.
Gio cukup tercengang saat penjaga memanggil Putri dengan sebutan Nona.
"Selamat siang tuan." pria tersebut juga menyapa Gio dengan ramah.
"Selamat siang pak." sahut Gio tak kalah ramah.
"Ayah sama ibu ada di dalam pak??." Gio kagum saat mendengar nada bicara Putri yang terdengar begitu sopan dan ramah.
"Iya non bapak sama ibu ada di dalam." jawab bapak yang biasa di sapa pak Diman.
Baru saja hendak melangkah pak Diman kembali melontarkan sebuah kalimat.
"Non Putri jarang sekali datang kesini sekali datang sudah bawa calon suami." bukan hanya Gio yang terkejut dengan kalimat mang Diman namun Putri pun tak kalah terkejutnya, sehingga keduanya langsung saling pandang untuk beberapa saat sebelum kembali melanjutkan langkah masing-masing.
"Ayah,,,Ibu,,,,." panggilan yang sudah lama begitu dirindukan oleh kedua orang tua yang lama merindukan buah hati, membuat keduanya segera menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Putri." Ujar keduanya hampir bersamaan.
Putri pun berlari menghampiri ayah dan ibu yang begitu dirindukannya, sementara Gio masih diam berdiri di tempat.
Usai melepaskan rindu kedua orangtuanya beralih menatap pria asing yang berdiri di belakang Putri mereka.
"Namanya Gio, dia itu_" Putri tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena ayahnya langsung menyela kalimat Putrinya.
"Terima kasih nak kamu sudah menepati janji kamu, dengan membawa calon menantu ayah ke rumah ini." Putri hanya bisa menganga tak percaya saat ayahnya menyangka jika Gio adalah calon suaminya, dan ia pun baru menyadari akan janjinya beberapa bulan yang lalu pada kedua orang tuanya.
Ayahnya Putri menghampiri pria yang disangka pria paruh baya itu adalah calon menantunya.
"Tapi ayah pak Gio itu asisten pribadi bos Putri." ujar Putri yang ingin meluruskan kesalahpahaman ayahnya, namun siapa sangka ayahnya malah kembali salah menanggapi kalimat Putrinya.
"Ingat putri, sejak dulu ayah selalu bilang jika ayah tidak pernah mempermasalahkan status sosial dari calon menantu ayah.". Putri nampak menghela nafas panjang seolah saat ini paru parunya membutuhkan asupan oksigen lebih.
Berbeda dengan Putri yang nampak merasa bersalah padanya, Gio malah bersikap biasa pada ayahnya Putri. sampai kedua pria berbeda generasi tersebut asyik mengobrol. sampai satu pertanyaan dari pria paruh baya itu yang membuat Gio malah melemparkan pertanyaan tersebut pada Putri.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah nak Gio??." pertanyaan ayahnya Putri malah di tanggapi Gio dengan senyuman, sebelum kembali melemparkan pertanyaan tersebut pada Putri yang duduk di sampingnya berhadapan dengan ayahnya.
"Kalau saya menyerahkan semua ini pada Putri." ujar Gio yang kini menunjukkan sikap tenang di hadapan kedua orang tua Putri.
"Ayah sebaiknya kita bicarakan hal ini lain kali saja, sebab saat ini Putri belum ingin menikah." Ujar Putri yang berpikir jika Gio sengaja melempar pertanyaan padanya agar ia bisa mencari alasan untuk menolaknya.
"Tapi Put usia kamu saat ini sudah sangat matang nak, bahkan anak teman ayah yang seusia dengan kamu sudah ada yang memiliki anak dua nak." Putri semakin merasa terhimpit dalam situasi seperti ini, hal inilah yang membuat Putri jarang sekali pulang ke rumah orang tuanya. sebab sudah pasti pertanyaan yang sama akan terus di terima wanita itu dari kedua orang tuanya terutama sang ayah.
"Tapi ayah, Putri bisa menghidupi diri putri sendiri jadi untuk apa Putri harus buru buru menikah.". argumen yang sama terus di lontarkan Putri apalagi ada di situasi seperti saat ini, sama seperti sebelum sebelumnya.
"Ayah kamu benar nak, sebaiknya kamu segera menikah dan memiliki anak. sudah cukup kamu bermain main dengan waktu kamu nak, kini saatnya kamu memikirkan masa depan kamu!!." rasanya saat ini kepala Putri ingin pecah, bukannya ingin menolak permintaan orang tuanya namun pada kenyataannya Gio bukanlah calon suaminya, itu yang membuat Putri harus berpikir keras untuk menghadirkan seribu alasan.
Sampai terbersit sebuah alasan di benak dan pikirannya.
__ADS_1
"Ayah ibu,,,Biarkan Putri dan Pak Gio kembali ke Jakarta dulu, nanti Putri akan menghubungi ayah dan ibu tentang hal ini." Pinta Putri dengan wajah memelas sehingga membuat orang tuanya yang tak tega pun terpaksa mengiyakan permintaan Putri semata wayangnya itu.