Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Pengakuan.


__ADS_3

Gio Fokus menyetir, sementara Gunawan nampak berkutat dengan ponselnya. seperti hendak menghubungi seseorang.


Benar saja saat menemukan salah satu nomor kontak di ponselnya, Gunawan segera melakukan panggilan.


Beberapa saat berbicara melalui sambungan telepon, Gunawan meminta Gio menuju suatu tempat untuk menemui seseorang.


Beberapa saat kemudian Mobil yang di kendarai Gio tiba di sebuah gedung pencakar langit, di mana seorang pria tengah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat siang tuan Wicaksono." dengan ramah pria berwajah blasteran tersebut mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangannya.


Kurang lebih tiga puluh menit, Gunawan dan Gio pun segera meninggalkan gedung tersebut dan kembali mencari keberadaan istrinya.


Sebelum Gunawan berkerah mencari keberadaan Widia, Gio terlebih dahulu meminta bantuan kepada tim khusus dari kepolisian untuk mencari keberadaan Widia.


***


Jantung Widia semakin berdebar kencang saat mendengar suara kaki melangkah, hendak mengarah padanya.


Mata Widia membulat sempurna, saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Kenapa, kamu pikir saat ini saya telah mendekam di penjara, kamu pikir kamu akan lebih pintar di banding saya?? tidak akan ada yang percaya jika seorang kakak tega menghabisi nyawa adik kandungnya sendiri." wanita itu tak lain adalah Sela, wanita yang sengaja menculik Widia dari rumah sakit, dengan menyamar sebagai seorang perawat.


"Apa salahku pada anda Nona Sela, mengapa anda sangat tega melakukan semua ini kepadaku??." Sela langsung tertawa terbahak bahak saat mendengar pertanyaan Widia, yang menurutnya sangat lucu.


Sela melangkah mendekati Widia yang duduk meringkuk, dengan kaki dan tangannya di ikat. saat ini Widia nampak begitu menyedihkan, namun nampak menyenangkan di mata Sela.


"Kamu bilang apa barusan, aku tega?." Sela tertawa sumbang.


"Kamu masih belum sadar dengan kesalahanmu??. Sela menengadahkan wajah Widia "Aku bahkan sudah dengan susah payah menyingkirkan adik kandungku sendiri demi mendapatkan pria yang ku inginkan, dengan begitu sedikit lagi aku bisa mendapatkannya, namun dengan senangnya kamu datang merusak semua impianku. dan sekarang kamu masih bertanya apa kesalahan kamu??." di akhir kalimat Sela terdengar berteriak seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat, sehingga membuat nyali Widia semakin menciut.


"Ya Tuhan ternyata Nona Sela sendiri yang telah menghabisi nyawa mbak Rahma sadisnya." batin Widia, seperti tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya.

__ADS_1


"Jika adik kandungku saja sanggup aku lenyapkan, maka tidak sulit bagiku untuk melenyapkan seekor serangga seperti dirimu wanita bodoh." Sela menghempas kasar wajah Widia, sehingga membuat tubuh Widia hampir saja terhuyung ke belakang, kalau saja wanita itu tidak segera menyeimbangkan beban tubuhnya.


Tidak puas hanya dengan menghempas wajah Widia dengan kasarnya, Sela kemudian melayangkan tamparan ke wajah Widia beberapa kali, sehingga membuat kepala Widia terasa semakin pusing.


"Nona Sela, Jika anda memang sangat membenci saya, tapi saya mohon setidaknya kasihanilah janin yang ada di dalam kandungan saya Nona, karena dia tidak berdosa." Widia berkata demikian, setidaknya agar Sela tidak melakukan sesuatu yang sampai membahayakan nyawa janin dalam kandungannya, tapi nampaknya itu sama sekali tidak membuat Sela peduli.


Buktinya, wanita itu bukannya merasa iba justru nampak tersenyum licik, seolah melintas sesuatu di pikirannya yang membuat hati Widia jadi semakin tak tenang.


"Wah,,,waaah,,,,waaahhh,,,jadi ternyata kamu sedang mengandung anaknya Gunawan??." Sela tersenyum menyeringai, awalnya wanita itu tidak tahu tentang kehamilan Widia, namun karena pengakuan wanita itu dia jadi tahu jika saat ini Widia tengah mengandung, dan hal itu semakin membuat Sela bersemangat untuk menyiksa Widia.


Seketika Widia menyesal akan kebodohannya karena telah mengakui kehamilannya kepada Sela.


Seketika Sela kembali tersenyum licik saat satu ide jahat terlintas di pikiran wanita itu.


"Bagaimana jika aku menyuruh mereka memper*kosa anda, apakah Gunawan masih mau menerima kamu dan calon anak yang ada di dalam kandungan anda ini??." Sela menunjuk jijik ke arah perut Widia yang masih nampak rata, dan dari nadanya terdengar begitu menyeramkan.


"Saya mohon Nona jangan!!." Widia nampak memelas berharap Sela masih memiliki sedikit rasa perikemanusiaan sebagai sesama wanita.


Melihat wajah Widia nampak memelas, Sela semakin bersemangat hendak memerintahkan para pria suruhannya untuk melakukan tindakan susila kepada Widia.


***


"Sepertinya kita tidak salah lagi tuan, ini sudah sesuai dengan petunjuk." Gio yang mengendarai mobil, segera menepikan mobilnya di tepi jalan sempit yang di penuhi semak semak.


Dengan penuh perjuangan akhirnya keduanya tiba, meski harus berjuang melewati jalur yang lumayan terjal.


Sebelum turun dari mobil, Gunawan nampak menyiapkan senjata api buatan luar negeri, yang hanya di gunakan oleh orang orang tertentu.


***


"Bug." pria yang hendak melecehkan Widia terjungkal ke lantai, saat seseorang memandangnya dari arah belakang pria itu.

__ADS_1


"Mas Gunawan." Kalau saja Gunawan lambat semenit saja, mungkin saat ini istrinya sudah menjadi santapan pria itu. untungnya Gunawan datang tepat waktu, di saat pria itu baru saja berusaha mendekati Widia.


Sela yang berdiri tak jauh, terbelalak saat melihat kedatangan Gunawan ke tempat yang menurutnya aman dan sangat jauh dari keramaian, bahkan jalanan ke tempat itu bisa di bilang sangat sulit di temukan.


"Hari ini anda benar benar membuat saya kehabisan kesabaran, anda sungguh membuat saya kehilangan rasa hormat saya terhadap anda, yang notabene adalah kakak kandung dari mendiang Rahma." baru kali ini Gunawan mengunakan bahasa Formal kepada Sela, dan itu artinya Gunawan sama sekali tak lagi menaruh rasa hormat pada mantan kakak iparnya itu.


Karena panik, Sela mengacungkan senjata api ke arah Widia namun dengan sigap Gunawan menjadikan dirinya perisai sang istri.


"Minggir!!." Sela berteriak agar Gunawan berhenti melindungi Widia.


"Apa salah istri saya pada anda, kenapa anda begitu membencinya. tidak puas dengan memfitnah Widia, lalu anda menculiknya." Gunawan nampak benar benar geram, pria itu mengepal kedua tangannya saat menatap Sela.


"Kesalahan wanita ini adalah karena dia harus menghalangi jalanku untuk memilikimu Gunawan." Bagai di sambar petir di siang bolong, saat Gunawan mendengar pengakuan Sela.


"Apa??." Gunawan kembali bertanya, berharap telinganya yang sedang bermasalah, sehingga ia salah dengar.


"Jangankan wanita bodoh ini, Adik kandungku saja tega ku habisi karena sudah merebut pujaan hatiku." Belum habis keterkejutan Gunawan dengan pengakuan Sela yang pertama, kini pria itu harus menerima satu kenyataan yang kembali membuatnya terkejut setengah mati.


Sakit terkejutnya, Gunawan sampai kehabisan kata-kata untuk menjabarkan bagaimana perasaannya saat ini.


"Jika aku tidak bisa memiliki kamu Gunawan, maka wanita itu juga tidak bisa memilikimu." dengan tatapan berapi api Sela mengatakan hal yang semakin membuat Gunawan membencinya.


"Minggir!!." Sela kembali mengulang kata-katanya, namun Gunawan tak bergeser sedikit pun.


"Jika anda ingin menembak istri saya, sebaiknya anda menembak saya terlebih dahulu!! karena saya tidak bisa hidup tanpa istri saya.". Widia benar benar terharu dengan pengakuan suaminya, bahkan di situasi genting seperti saat ini, pria itu masih bisa mengungkapkan perasaannya terhadap sang istri.


"Jangan bodoh Gunawan." Sela kembali berteriak, sesaat sebelum wanita itu semakin panik karena mendengar suara seseorang melalui pengeras suara.


"Sebaiknya anda segera menyerahkan diri, sebelum kami bertindak jauh!!." ternyata di luar pihak yang berwajib sudah mengepung tempat itu, Sela yang panik segera menarik pelatuknya.


"Dor." Sela semakin panik, karena peluru tersebut justru mengenai Gunawan, bukannya Widia.

__ADS_1


__ADS_2