Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Barang sensitif.


__ADS_3

Keesokan harinya,


Raut wajah Gio nampak merah menahan malu saat hendak meraih sesuatu dari rak Mini market, apalagi saat ini pengunjung di mini market tersebut lumayan ramai.


"Sudah bertahun tahun aku menjadi asisten pribadi tuan Gunawan, baru kali ini tuan meminta saya untuk membeli barang seperti ini." dalam hati Gio heran sekaligus bingung mengingat bosnya tersebut telah menikah mengapa masih membutuhkan barang tersebut.


Setelah merasa di meja kasir masih sepi pengunjung yang hendak membayar belanjaan mereka, Gio segera meraih benda tersebut kemudian secepat kilat membayar di kasir. tanpa berniat menunggu petugas kasir mengembalikan uang kembalian.


Petugas kasir tersebut nampak menggigit bibirnya seperti tengah menahan senyum, saat Gio meletakkan beberapa dos barang yang akan di belinya. "Semua 250.000 ya mas." kata petugas kasir kemudian memasukkan benda tersebut ke dalam kresek dan menyerahkannya pada Gio.


Sementara pria itu segera meletakkan tiga lembar uang merah di atas meja kasir kemudian segera berlalu meninggalkan meja kasir, sehingga membuat si mbak penjaga kasir memanggil pria itu.


"Pak kembaliannya." kata mbak tersebut dengan sedikit keras karena saat ini Gio hampir berada di ambang pintu.


"Buat anda saja." jawab Gio tanpa berniat sedikitpun.


Kini Gio bisa bernapas lega karena ia telah berada di dalam mobil, untuk beberapa saat Gio menarik napas panjang kemudian menghembusnya perlahan. sebelum pria itu berbalik ke arah tuanya sembari memberikan pesanan tersebut pada Gunawan.


"Ini pesanan anda tuan." Dengan raut wajah yang masih nampak merah karena menahan malu, Gio menyerahkan sebuah kantong pada bosnya.


Melihat raut wajah Gio seperti heran bercampur bingung membuat Gunawan mencoba menjelaskan, meski sebenarnya ia tidak perlu memberi penjelasan pada asisten sekaligus bodyguardnya itu "Jangan berpikir macam macam, aku akan mengunakannya pada istriku!! hal ini untuk mencegah sesuatu yang buruk pada calon anakku, sebenarnya ini juga kali pertama bagiku menggunakan barang ini." terang Gunawan yang tak ingin Gio berpikir yang tidak tidak tentang dirinya.


"Bagaimana pun aku ini pria normal yang tidur seranjang dengan istrinya, jadi barang ini untuk berjaga jaga." lanjut Gunawan dengan wajah nampak malu malu.


"Saya mengerti tuan.".Jawab Gio singkat tak berani bertanya lebih dari penjelasan sang tuan.

__ADS_1


Saat merasa mulai tenang Gio kembali menghidupkan mesin mobil kemudian menginjak pedal gas secara perlahan, sehingga sempat puluh menit kemudian mobil yang di kendarai pria itu tiba di rumah mewah milik majikannya.


Gio segera turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Gunawan. Gunawan pun segera turun dari mobil kemudian berkata.


"Kamu boleh pulang sekarang, jangan lupa besok datang tepat waktu, karena besok perusahaan kita akan kedatangan tamu dari Jepang!!." titah Gunawan sebelum berlalu, namun baru beberapa langkah pria itu kembali menoleh "Tentang perintah saya kemarin, apa sudah ada hasilnya??." tanya Gunawan yang kini menampilkan raut wajah garang, akibat kesal dengan seorang pria yang telah berani bermain main dengannya.


"Tentu saja tuan, kemarin anak buahku sudah melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik, kita tinggal menunggu apa pria itu masih berani bermain main dengan anda tuan." jawaban Gio membuat Gunawan tersenyum tipis, sebelum berkata "Bagus, sekarang kamu boleh pergi, jangan lupa untuk tetap meminta beberapa bodyguard untuk berjaga jaga di luar rumah!!." Titah Gunawan sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


"Mari kita lihat, seberapa besar nyali pria itu, karena sudah berani mengusik sesuatu yang telah menjadi milik Gunawan Wicaksono." Gunawan yang tengah melangkah nampak bergumam, untuk saja tak ada seseorang yang mendengarnya.


Setibanya di ruang keluarga, Gunawan melihat istrinya yang tengah menemani dua buah hati mereka belajar.


Gunawan bisa merasakan bagaimana besarnya kasih sayang sang istri pada putrinya yang terlahir dari pernikahannya terdahulu.


"Assalamualaikum." ucapan salam dari ayahnya membuat kedua bocah tersebut segera bangkit untuk menyambut ayah mereka.


Namun tanpa di sadari Gunawan kantong kresek pemberian Gio tadi masih tertenteng di tangannya, sehingga membuat Farhan berpikir jika itu adalah mainan untuknya.


"Ayah ini mainan untuk Adek ya??" seketika Gunawan menyadari isi kresek yang ada tangannya itu, kemudian berusaha mencari alasan agar pria kecil itu tak meminta kresek itu darinya.


"Boleh nggak adek lihat mainannya??." seketika Gunawan meletakkan tangannya ke atas agar pria kecil itu tak dapat meraih kresek tersebut sebelum memutar otak untuk memberikan alasan.


"Ini bukan mainan sayang, ini obatnya mama kalian. apa adek mau minum obat mama??." Gunawan sengaja berkata demikian karena tahu betul jika anaknya tersebut paling enggan minum yang namanya Obat.


"Enggak yah, adek kan nggak sakit, kenapa harus minum Obat??." akhirnya Trik yang di gunakan Gunawan pun berhasil, buktinya pria kecil tak lagi tertarik dengan isi yang ada di dalam kantong kresek hitam tersebut.

__ADS_1


Sampai Gunawan meyerahkan kresek tersebut pada Widia, dan meminta wanita itu segera membawanya ke kamar. seperti biasa, wanita itu pasti akan patuh dengan perintah Suaminya.


Ketika sudah berada di dalam kamar, Widia yang berpikir jika isi kresek tersebut adalah obat miliknya seperti kata sang suami, segera membuka kresek tersebut.


Namun saat membuka kresek hitam tersebut alangkah terkejutnya Widia saat melihat beberapa dus pengaman dengan merek yang berbeda beda.


"Obat apaan sih kayak gini??." gumaman Widia ternyata terdengar oleh sang suami yang ternyata tadi segera menyusul langkahnya.


"Jika mas menggunakan itu, kata dokter Beni kamu tidak akan kesakitan. jadi apa bedanya dengan obat, semuanya sama sama membuat seseorang tak merasa kesakitan." timpal Gunawan memberi pembelaan terhadap dirinya.


Widia yang kini telah beralih memandang ke arah suaminya, nampak berdengus tak habis pikir dengan suaminya yang dengan entengnya membawa barang itu tanpa menaruhnya di dalam tas kerjanya, bagaimana jika tadi anak anak sempat melihatnya.


"Mas nggak malu beli sebanyak ini??." pertanyaan Widia membuat Gunawan tersenyum kemudian berkata "Malulah, makanya mas meminta Gio untuk membelinya di mini market, mas menunggu di mobil." kata Gunawan dengan santainya tanpa merasa bersalah sedikitpun meminta seorang pria jomlo untuk membelikan barang sensitif seperti itu.


"Hah??." Kata Widia seakan tidak percaya dengan tingkah suaminya yang menurutnya gila.


"Kata Gio ini semua ini merk terkemuka, untuk memastikan kebenaran dari ucapan Gio, mas akan mencobanya malam ini." lanjut kata Gunawan kemudian melenggang dengan Santainya menuju kamar mandi.


Sementara Widia hanya bisa melongo sambil melihat suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


Setelah melihat suaminya benar benar telah berlalu pandangan Widia kembali tertuju pada benda yang saat ini masih berada di genggamannya.


"Mengapa mas Gunawan meminta Pak Gio membeli Kond*m sebanyak ini?? apa mas Gunawan berniat menggunakan semuanya, jika benar itu artinya mas Gunawan akan sering melakukannya??." Entah mengapa Kini hati Widia nampak kebingungan. bukankah saat hendak melakukan hubungan suami istri saat pertama kali suaminya tersebut mengatakan jika dirinya terpaksa melakukannya agar Widia bisa segera mengandung anaknya, namun setelah Widia telah mengandung mengapa pria itu masih ingin terus melakukannya.


Kini begitu banyak pertanyaan yang berputar putar benak serta pikiran wanita itu.

__ADS_1


"Apa seorang pria tetap bisa melakukan hubungan se*k tanpa cinta, dan itu yang tengah di rasakan mas Gunawan saat ini??." entah kenapa relung hati Widia terasa begitu nyeri saat membayangkan dirinya hanyalah sebuah pelampiasan sek* suaminya.


__ADS_2