
Setibanya di rumah Gunawan bergegas turun dari mobil untuk segera membukakan pintu mobil untuk Widia.
"Hati hati!!." titah Gunawan saat Widia hendak turun dari mobil.
"Iya mas." sahut Widia.
Baru saja beberapa langkah, Widia berhenti saat mendengar ucapan suaminya.
"Apa perlu aku gendong??." tanya pria itu dengan wajah serius.
"Nggak perlu mas, aku bisa jalan sendiri." jawab Widia yang sebenarnya merasa kurang nyaman saat suaminya tersebut nampak posesif padanya.
"Bagaimana hasil nak??." Nyonya Lena nampak bertanya pada putra serta menantunya, namun meski keduanya belum sempat menjawab secara lisan. namun wanita paruh baya tersebut bisa menebak akan hasilnya dari raut wajah putranya yang nampak berseri seri.
"Alhamdulillah,,, Widia hamil Bu." jawaban menantunya yang membenarkan dugaannya membuat wanita itu berurai air mata haru.
Wanita paruh baya itu langsung memeluk erat tubuh menantunya sebelum mencium kedua pipi Widia bergantian.
Widia merasa begitu di sayangi oleh ibu mertuanya itu, saat mendapat pelukan hangat dari wanita itu, Widia bahkan merasa seperti tengah di peluk oleh ibu kandungnya sendiri.
Perlahan wanita itu melepas pelukannya lalu berkata pada menantunya.
"Terima kasih sayang, sudah membawa kebahagiaan baru di dalam keluarga ini." jujur Widia merasa terharu dengan kalimat ibu mertuanya, meski sebenarnya ia yang harusnya berterima kasih karena sudah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari wanita itu.
"Jangan bilang seperti itu Bu, seharusnya Widia yang berterima kasih karena ibu sudah begitu baik dan sayang sama Widia dan juga Farhan. bahkan dari ibu Widia belajar mencintai dan menyayangi tanpa mengharapkan imbalan apapun." entah kenapa Gunawan merasa kehangatan keluarga seperti masih bersama dengan mendiang istrinya dulu. di mana ia merasa sangat bahagia saat mengetahui jika Rahma mengandung anaknya saat itu.
"Kruyuk... Kruyuk..." Di sela obrolan hangat yang mengharu tiba tiba suara cacing di perut Widia membuat ibu mertuanya tersenyum, berbeda dengan putranya, Gunawan, pria itu nampak khawatir saat mendengar perut istrinya mulai keroncongan.
"Kamu lapar, astaga saya sampai lupa kalau tadi pagi kita belum sarapan." Gunawan nampak menepuk jidatnya mengingat kebodohannya, apalagi saat ini waktu saat ini hamy menunjukkan waktunya makan siang.
"Sayang, kenapa nggak sarapan dulu baru berangkat tadi, lain kali jangan sampai lupa sarapan, ibu nggak mau calon cucu ibu sampai kelaparan lagi seperti ini!!." dengan lembutnya Nyonya Lena memberi nasehat dan Widia pun mengangguk paham.
"Iya Bu." sahut Widia sambil mengangguk paham.
"Bi." Gunawan terdengar memanggil ART. tak butuh waktu lama, seorang orang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun yang merupakan kepala pelayan menghampiri majikannya.
__ADS_1
"Iya tuan." sahut ART yang bernama Bi Ida.
"Tolong bibi siapkan makanan, soalnya sejak pagi istri saya belum sarapan!!." wanita itu pun mengangguk patuh sebelum berlalu melaksanakan perintah majikannya.
Tidak perlu waktu lama bagi bi Ida untuk menyiapkan makanan untuk majikannya, dengan menggerakkan empat rekan sesama ART lainnya, kini meja makan telah di penuhi dengan berbagai macam menu.
Setelah siap bi Ida kemudian menemui majikannya yang kini tengah duduk di ruang keluarga.
"Makanannya sudah siap tuan,,, nyonya,,,,." ujar bi Ida dengan sopan.
"Terima kasih Bi." jawab Gunawan kemudian mengajak istrinya untuk makan siang, karena saat ini sudah hampir makan siang. pagi tadi keduanya melewati sarapan, akibat terburu buru menuju rumah sakit.
"Ayo!!." ajak Gunawan, namun saat pria itu hendak mendekati sang istri, Widia nampak menghindar, sehingga membuat Gunawan memicing bingung. apalagi saat itu istrinya tersebut nampak seperti mual saat ia mendekat.
"Kamu kenapa sih??." tanya Gunawan dengan wajah bingung saat melihat sikap istrinya.
"Mas pakai parfum apa sih, baunya nggak enak banget??." mendengar pertanyaan wanita itu semakin membuat Gunawan memicing bingung, sebab pria itu merasa tak pernah berganti parfum ia selalu menggunakan parfum yang sama, dan Widia pun tak pernah protes sebelumnya.
"Mas ganti aroma parfum ya??." Gunawan hanya bisa menggeleng bingung saat mendengar pertanyaan itu.
"Tapi kok aromanya nggak enak banget mas" beberapa saat kemudian barulah Gunawan bisa mencerna maksud kalimat istrinya.
Gunawan kembali ke kamar, bukan karena tidak mau menemani sang istri makan siang namun karena tidak ingin nafsu makan Widia malah hilang akibat mencium aroma parfum miliknya.
"Aneh, mengapa setiap wanita yang mengandung anakku mengalami hal seperti ini??. dalam hati Gunawan saat teringat akan mendiang istrinya dulu saat mengandung Arista, wanita itu juga tak menyukai aroma parfum Gunawan padahal sebelumnya tak pernah protes.
Gunawan hanya bisa menggeleng tak percaya kedua wanita spesial dalam hidupnya tak suka mencium aroma parfum yang merupakan limited edition tersebut. padahal untuk mendapatkan parfum kesukaan tuannya tersebut Gio harus berjuang bolak balik Paris dalam dua puluh empat jam.
Saat berada di dalam kamar Gunawan mendapatkan panggilan dari asisten pribadinya, Gio.
"Ada apa Gi??." tanya Gunawan tanpa basa basi saat menerima panggilan dari pria itu.
"Maaf tuan mengganggu waktu anda, pak Hardi datang ke kantor ingin menemui anda." Gunawan tersenyum menyeringai saat mendengar laporan asisten pribadinya.
"Tapi Anda jangan khawatir saya sudah meminta security untuk mengusirnya, namun beliau masih nekat menunggu anda di depan gedung perusahaan tuan." lanjut terang Gio melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Biarkan saja pria itu berdiri di sana sampai dia bosan dan pergi dengan sendirinya, aku tidak ingin merusak suasana hatiku hari ini dengan bertemu dengannya." titah Gunawan.
"Baik tuan." jawab Gio patuh.
"Satu lagi, kamu carikan saya parfum dengan aroma yang berbeda dari parfum yang saya gunakan biasanya!!." baru kali ini tuannya tersebut meminta di Carikan aroma parfum yang berbeda, padahal biasanya pria itu akan marah jika Gio terpaksa membelikan parfum dengan aroma berbeda.
"Baik tuan." meski sempat heran dengan permintaan tuannya, namun Gio tetap patuh pada Gunawan.
Memastikan agar sisa aroma parfum di tubuhnya benar-benar tak lagi tercium, Gunawan memutuskan untuk mandi lagi.
Usai mandi serta mengenakan pakaian santai, sebuah kaos berwarna putih serta celana pendek dengan selutut Gunawan keluar dari kamar mencari keberadaan Widia di dapur.
"Bi, kemana istri saya??." tanya Gunawan pada salah satu ART yang tengah sibuk di dapur.
"Tadi nyonya pamit ke kamar non Arista tuan." jawab Bi Atun sopan.
Mendengar itu Gunawan pun segera menuju kamar putrinya. Gunawan menghentikan langkahnya di ambang pintu yang tak tertutup sempurna, dari sana Gunawan mendengar canda tawa istri serta kedua anaknya.
"Kakak jadi nggak sabar bertemu dengan dedek bayi, kira kira dedek bayinya mirip ayah apa mirip mamah ya???." ucapan putrinya tak sadar membuat Gunawan yang kala itu masih berdiri di ambang pintu pun langsung tersenyum tipis.
Sementara di dalam kamar Gunawan juga bisa melihat Widia tersenyum menanggapinya ucapan putrinya.
"Kalau kakak sih pengennya mirip wajah ayah, soalnya wajah Kakak udah mirip sama Almarhumah bunda, kasian ayah anaknya nggak ada yang mirip dengan wajah ayah." lanjut kata Arista kemudian tertawa lebar sementara Widia ikut tertawa karena bahagia melihat putri sambungnya tersebut bisa kembali ceria.
Gunawan pun melanjutkan langkahnya.
Seketika tawa di antara ketiganya memudar saat menyadari kedatangan sang ayah, terutama Widia takut pria itu marah karena sudah menjadi bahan tertawaan.
"Lagi ngobrolin apa sih, kayaknya seru banget?.tanya Gunawan pura pura tak tahu kemudian ikut duduk di sisi ranjang di samping istrinya.
"Nggak ada apa apa kok yah." jawab Arista di sisa tawanya begitupun dengan Farhan.
"Sepertinya anak anak ayah sudah pandai ya main rahasia rahasiaan sama ayah." ujar Gunawan pura pura merajuk.
"Itu loh yah, kakak pengennya wajah dedek bayinya mirip dengan wajah ayah, soalnya kata kakak kasian ayah jika wajah anaknya nggak ada yang mirip dengan wajah ayah." dengan polosnya Farhan berkata demikian, sementara Widia langsung melirik ke arah suaminya begitupun sebaliknya.
__ADS_1
"Ayah juga nggak masalah kalau adik kalian mirip mamah, apalagi kalau adik kalian perempuan pasti akan lebih cantik jika mirip dengan wajah mamah." ucap Gunawan secara tidak langsung menuju kecantikan Widia, hal itu sontak membuat Widia bingung harus menimpali dengan ucapan seperti apa. akhirnya wanita itupun hanya bisa diam sambil tersenyum kecil pada kedua anaknya.
"Karena di dalam perut Mama kalian ada dedek bayi, jadi sekarang mama harus banyak istirahat. ayah pinjam mama kalian dulu ya sayang." ucap Gunawan pada kedua anaknya sebelum mengajak Widia kembali ke kamar. keduanya pun mengangguk, Arista istirahat di kamarnya sementara Farhan juga kembali ke kamarnya.