
Setelahnya, Gunawan pun merebahkan tubuhnya di samping sah istri, kini keduanya masih dalam keadaan polos hanya dengan selimut putih yang menutupi bagian tubuh sepasang suami istri tersebut. ini merupakan pertama kali bagi keduanya berbagi selimut, karena sebelumnya selama menikah dengan pria itu Widia yang merasa tak enak harus mengganggu kenyamanan pemilik tempat tidur, memutuskan untuk tidur di sofa.
Beberapa saat kemudian Gunawan nampak bangkit dari tempat tidur tanpa sepatah kata pun, dengan mengenakan sebuah handuk fasilitas hotel yang di lilitkan pada pinggangnya.
Sementara Widia yang menyadari itu hanya bisa memegangi dadanya, seperti sedang menahan rasa sakit di dalam sana.
"Sebegitu tak berharganya aku di matamu mas??." dalam hati Widia, saat pria itu bangkit dari tempat tidur tanpa sepatah kata pun.
Gunawan yang kini mengguyur tubuhnya dengan kucuran air yang mengalir dari shower, terus teringat saat ia dengan begitu mendambanya menikmati tubuh Widia.
"Ya Tuhan apa yang telah terjadi padaku, tidak mungkin aku mulai jatuh cinta pada wanita itu. mengapa tadi rasanya aku tidak melakukannya demi Arista, melainkan karena aku begitu menginginkannya." dalam hati Gunawan yang kini berdiri di bawah kucuran air.
Setelah kurang lebih satu jam Gunawan keluar dari kamar mandi, pria itu melihat istrinya telah mengenakan jubah mandi dengan rambutnya yang di ikat tinggi ke atas, hal itu mampu kembali membangkitkan gairah pria itu. namun dengan cepat Gunawan menepis perasaannya, dengan mengalihkan pandangannya dari Widia.
"Aku memang hanya seorang janda yang kau nikahi, tak sebanding dengan mbak Rahma, yang dulunya seorang gadis saat menikah denganmu mas. tapi bisakah kamu sedikit memperlakukan aku dengan selayaknya." dalam hati Widia, saat menyadari pria itu sengaja memalingkan pandangannya darinya.
"Pergilah mandi, setelah itu kita kembali ke rumah!!." titah Gunawan tanpa melihat lawan bicaranya.
"Baik mas." jawab Widia patuh sebelum berlalu menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, di sanalah Widia menumpahkan semua isi hatinya melalui tangisan. bukannya tidak ikhlas melayani sang suami, namun entah kenapa hati wanita itu begitu terasa nyeri saat Gunawan kembali bersikap dingin padanya.
Kini Widia nampak keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian lengkapnya, sebab tadi saat hendak membersihkan diri ia membawa serta pakaiannya.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang, anak anak pasti mencarimu!!." titah pria yang kini telah kembali mengenakan tuksedo lengkapnya.
"Baik mas." begitulah jawaban Widia setiap kali mendengar perintah dari Gunawan, wanita itu pasti akan patuh, hal itu semakin menambah nilai plus dirinya di mata pria itu.
Sebelum kembali ke rumah, Gunawan mengatakan pada Widia jika ia ingin mampir ke makam mendiang istrinya, Rahma.
"Aku mau mampir sebentar ke makam bundanya Arista." kata Gunawan, seperti biasa Widia pun hanya bisa kembali mengangguk setuju.
Setibanya di makam, Gunawan nampak berjongkok di samping makam istrinya begitupun dengan Widia, setelah lebih dulu meminta izin pada suaminya itu.
Saat ini Widia tak tahu apa yang ada di pikiran suaminya, namun yang jelas di mata wanita itu suaminya tersebut kini menitihkan air mata. sehingga Widia berpikir jika pria itu merasa telah mengkhianati istrinya, dengan tidur dengan wanita lain, meski menurut Widia pria itu terpaksa melakukannya demi buah hatinya dengan almarhumah sang istri.
"Mbak, maafin aku jika secara tidak langsung aku sudah membuat mas Gunawan mengkhianati cinta mbak Rahma, tapi percayalah jika mas Gunawan terpaksa melakukannya demi menyelamatkan Arista, putrinya mbak Rahma." mendengar kalimat Widia yang seperti tengah berkomunikasi di samping pusara mendiang istrinya membuat Gunawan sontak menoleh.
Pria itu nampak menoleh ke arah Widia tanpa sepatah kata pun, sehingga membuat wanita di buat seperti sedang ketakutan karena berpikir suaminya itu akan memarahi dirinya.
Tidak ingin memancing kemarahan suaminya, Widia pun beranjak meninggalkan makam Rahma, dan berpindah ke makam kedua orang tuanya yang letaknya tidak jauh dari makam Rahma.
Setelah melihat Widia menjauh darinya, barulah Gunawan bersuara di atas makam mendiang istrinya.
"Maafkan aku Rahma, sepertinya apa yang di katakan Widia tidak benar, aku telah berbuat salah padamu. karena aku melakukannya bukan karena terpaksa, melainkan karena aku menginginkan wanita itu. maafkan aku Rahma, maafkan aku karena telah mencintai wanita lain. sungguh semua ini di luar kendaliku Rahma, aku tak sanggup lagi terus menyembunyikan perasaanku terhadap wanita itu darimu. jika kamu ingin marah, marahlah padaku jangan marah pada wanita itu, karena dia tidak salah aku yang bersalah padamu" dengan linangan air mata Gunawan berbicara di samping pusara mendiang istrinya.
Sampai beberapa saat kemudian Gunawan memandang ke arah Widia, yang kini tengah berdiri di bawah terik matahari sembari sesekali memijat betisnya, mungkin karena sudah terlalu lama berdiri menunggu dirinya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu Rahma, kasian jika Arista mencariku." ucap Gunawan sebelum berlalu meninggalkan makam Rahma, dan beranjak menghampiri Widia.
"Ayo kita pulang!!." ajak pria itu dan Widia pun mengangguk.
Setelah kembali di mobil Gunawan nampak bertanya pada Widia, tentang makam yang tadi di kunjungi wanita itu.
"Makam siapa tadi yang kamu kunjungi??." tanya Gunawan di sela aktivitasnya menyetir.
"Makam kedua orang tuaku mas." mendengar jawaban Widia membuat Gunawan sontak menoleh ke arah wanita itu.
"Kenapa tadi kamu tidak bilang padaku, jika itu makam kedua orang tuamu??." tanya Gunawan dengan raut wajah serius.
"Bukannya aku tidak ingin mengatakannya pada mas, tapi aku hanya takut menganggu mas." jawab Widia jujur.
"Lain kali kita kesini lagi, aku juga ingin mengunjungi makam mertuaku. karena sejak menikahi putri mereka aku belum pernah mengunjungi makam mereka." ujar Gunawan masih dengan raut wajah serius, Sampai membuat Widia menatap lekat ke arah pria yang kini tengah fokus menyetir mobil tersebut.
"Mulai hari ini jangan lagi melakukan aktivitas yang membuat kamu kelelahan, dengan begitu kamu pasti akan segera mengandung!!." mungkin karena sudah terbiasa, pria itu pun berbicara dengan raut wajah datar.
"Baik mas." jawab Widia.
***
Malam harinya, saat kembali dari ruang kerjanya Gunawan melihat Widia masih masih tidur di sofa seperti malam malam sebelumnya, sehingga membuat pria itu memindahkan tubuh istrinya ke tempat tidur dan menggantikan posisi wanita itu untuk tidur di sofa.
__ADS_1
Baru beberapa saat merebahkan tubuhnya di sofa tersebut Gunawan sudah merasa tidak nyaman, apalagi harus tidur semalaman di tempat itu.
"Baru beberapa menit saja aku merebahkan tubuhku di sini, rasanya punggungku seperti mau patah. apalagi Widia yang sudah hampir sebulan tidur di sofa ini??." gumam Gunawan lirih seraya menatap wanita yang kini tengah terlelap di atas tempat tidur.