Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Mencari kebenaran.


__ADS_3

"Aku yakin mas." jawab Widia


"Siapa yang telah tega melakukan itu pada mendiang istriku, selama pernikahan kami setahu mas, Rahma sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun." ujar Gunawan mengingat sosok mendiang istrinya yang terkenal ramah dan baik.


"Aku juga tidak tahu mas, yang jelas saat itu aku bisa menebak jika orang tersebut melakukannya dengan sengaja." jawaban Widia yang terdengar begitu penuh keyakinan membuat Gunawan memijat pelipisnya, berharap jika semua itu hanyalah mimpi buruk.


"Itu artinya ada seseorang yang sengaja ingin melenyapkan Rahma saat itu, tapi siapa orang yang tega menghalalkan segala cara seperti itu." dalam hati Gunawan.


"Lalu bagaimana dengan kalung ini, bagaimana bisa kalung ini ada padamu??.". beberapa saat kemudian Gunawan kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Widia kembali melanjutkan ceritanya.


Flash back On.


Saat melihat mobil yang sengaja menabrak mobil yang di kendarai seorang wanita yang ternyata adalah Rahma, bundanya Arista, Widia segera berlari menghampiri tubuh Wanita yang saat itu telah tergeletak di aspal.


Mobil yang di kendarai Rahma berguling hingga beberapa kali, hingga mengakibatkan tubuh mendiang Rahma saat itu terpental keluar dari mobil.


"Mbak,,,, bertahanlah !!! aku akan mencari bantuan untuk membawa mbak ke rumah sakit." saat itu Widia nampak begitu ketakutan, bagaimana tidak tubuh wanita yang kini hampir kehilangan kesabarannya tersebut telah berlumuran darah, bahkan wajahnya nyaris tak dapat di kenali Oleh Widia karena banyaknya darah yang mengalir dari kepala korban saat itu mengenai wajah.


"Tolong,,,,tolong,,,, tolong,,,,," beberapa Kali Widia berteriak histeris meminta bantuan, butuh beberapa saat barulah ada mobil yang melintas kemudian membantu Widia membawa tubuh korban ke rumah sakit.


Widia bahkan meninggalkan motornya yang di parkir di tepi jalan, demi mengantarkan korban ke rumah sakit terdekat.


Saat berada di mobil hendak menuju rumah sakit, Widia terkejut saat korban tiba tiba menggenggam erat tangannya seraya berkata kata.


"Saya mohon pada anda, Tolong berikan kalung ini pada Putriku!!! karena saya tidak punya banyak waktu lagi." seraya memegang kalung di lehernya dengan terbata akibat menahan sakit yang teramat, korban yang ternyata Rahma tersebut mengatakan hal itu pada sosok Widia, yang notabene wanita yang sama sekali tidak di kenalinya.


"Tapi Nyonya, bagaimana anda meminta saya yang memberikannya pada Putri Anda, sedangkan saya sama sekali tidak mengenal putri anda?? sebaiknya biarkan kalung itu tetap berada di tubuh anda!!." Widia menolak dengan lembut permintaan korban, namun saat Widia menolak korban malah menitihkan air mata di sela menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya.


"Saya mohon pada anda, tolong saya !! saya tidak ingin kalung ini jatuh ke tangan orang yang salah, dan ia menyalah gunakan kalung ini demi mendapatkan keinginannya selama ini." saat itu air mata terus mengalir di wajah korban, sehingga membuat Widia tak punya pilihan lain dan menerima permintaan Korban kecelakaan tersebut saat itu.

__ADS_1


Kalung itu pun telah berpindah tangan pada Widia, saat tiba di rumah sakit wanita itu berencana langsung memberikan kalung tersebut pada sanak keluarga korban. namun sayang, saat menunggu keluarga korban datang, secara tiba-tiba guru Farhan menghubungi Widia dan mengatakan jika saat ini Farhan menangis akibat terlambat di Jemput olehnya.


Maka tanpa berpikir panjang Widia segera ke sekolah Farhan, namun sebelumnya ia menaiki ojek untuk mengambil motornya yang tadi sempat di parkir di tepi jalanan.


Singkat cerita saat usia menjemput Farhan, Widia kembali ke rumah sakit namun saat tiba di rumah sakit ternyata korban telah tak ada di rumah sakit. dan dokter juga mengatakan pada Widia jika pasien korban kecelakaan yang di maksudnya telah meninggal dunia dan telah di bawa pulang oleh pihak keluarga.


Saat Widia bertanya tentang informasi keluarga korban serta alamat keluarga korban, dokter menolak untuk memberikan informasi dengan alasan peraturan rumah sakit tidak memberikan izin untuk memberikan informasi pada seseorang apalagi bukan dari kalangan kerabat sama sekali.


Dengan wajah lesu Widia meninggalkan rumah sakit, karena ia tidak tahu bagaimana caranya ia bisa menyampaikan amanah dari korban yang telah di nyatakan meninggal dunia sementara ia sendiri tidak tahu sama sekali alamat korban serta keluarga.


Hampir setiap hari Widia mencari tahu tentang nama serta alamat korban, namun karena Hardi sebagai suami melarang Widia keluar rumah maka semakin membuat wanita itu merasa kesulitan mencari tahu identitas serta alamat korban.


Flash back of.


"Begitulah ceritanya bagaimana kalung ini bisa ada padaku mas, untuk alasan jelasnya aku pun tak tahu pasti." ucap Widia usia menceritakan semuanya pada Sang suami.


"Bukan apa-apa sayang, mas hanya ingin memberi keadilan pada mendiang bundanya Arista. agar pelaku yang telah membuat Arista kehilangan sosok ibu kandungnya mendapat hukuman yang setimpal." lanjut Gunawan tak ingin istrinya berpikir macam macam, padahal pada kenyataannya Widia pun sama sekali tidak merasa keberatan atau pun berpikir yang tidak-tidak. sebab menurut wanita itu sekalipun suaminya masih mencintai sosok mending istrinya, sama sekali tidak membuat wanita itu keberatan apabila sampai marah. bagaimana pun dulu keduanya pernah dipersatukan oleh ikatan suci pernikahan.


"Aku tidak keberatan sama sekali mas, aku percaya sama kamu mas. aku tahu mbak Rahma dan aku memiliki tempat di hati mas Gunawan." jawaban bijaksana Widia semakin membuat Gunawan merasa sangat beruntung bisa menikahi wanitanya tersebut, meski awalnya keduanya menikah tanpa di dasari cinta.


"Terimakasih banyak sayang atas pengertian kamu, mas Sangat beruntung bisa bertemu dan menikah dengan wanita sepertimu." dengan lembut Gunawan mengecup puncak kepala Widia yang kini berada di dekapannya.


"Toska perlu berterima kasih mas, karena kini aku juga merasa lega, karena kalung ini akhirnya bisa menemukan pemiliknya yaitu Arista, sebab saat itu mendiang mbak Rahma meminta aku memberikannya pada putrinya." jawab Widia seraya mengelus lembut dada bidang suaminya.


🌹


🌹


🌹

__ADS_1


Keesokan harinya, Gunawan membawa serta sang istri menuju kantor polisi, untuk meminta pihak yang berwajib membuka kembali kasus kecelakaan yang menimpa istrinya setahun yang lalu. atas dasar memiliki saksi mata yang melihat kecelakaan tersebut memang sengaja di lakukan oleh seseorang.


Sebelum mendatangi kantor pihak yang berwajib, Gunawan menghubungi keluarga mendiang istrinya,Rahma, sehingga beberapa anggota keluarga Rahma ikut mendatangi kantor pihak yang berwajib termasuk kakak dari almarhumah.


Sehingga mereka semua Kini berkumpul guna meminta kasus kecelakaan yang menimpa Rahma kembali di buka.


"Apa anda berada di tempat kejadian saat kecelakaan terjadi nyonya ??." Tanya salah seorang petugas yang berwajib pada Widia untuk memastikan.


"Iya pak, saya kebetulan melintas di jalan tersebut saat kecelakaan terjadi, namun saya tidak bisa melihat pelaku karena mobil yang sengaja menabrak mobil korban segera melarikan diri." jawab Widia yakin dengan kesaksiannya.


"Bagaimana kamu yakin jika kecelakaan tersebut di sengaja??.". kakak kandung dari Rahma, Yaitu Sela ikut melontarkan pertanyaan pada Widia.


"Karena saat itu aku melihat mobil truk tersebut dengan sengaja menabrak mobil sedan putih korban beberapa kali." jawab Widia sesuai dengan apa yang di lihat olehnya.


"Apa jangan-jangan kamu sengaja mengatakan semua ini hanya karena ingin menarik simpati dari Gunawan." lanjut sela dengan nada kurang bersahabat, sehingga membuat Gunawan mengeryit bingung dengan sikap mantan kakak iparnya tersebut.


Di mana seharusnya ia merasa senang saat ada yang membantu untuk bersaksi atas kematian sang adik tercinta.


"Kenapa mbak Sela berkata seperti itu, seharusnya mbak senang karena secara tidak langsung kita mendapatkan titik terang atas kematian Rahma." ujar Gunawan secara tidak langsung mematahkan tuduhan Sela terhadap Sang istri.


Bukannya merasa atas ucapan mantan Adik iparnya, Sela malah kembali melemparkan tuduhan pada Widia.


"Atau jangan jangan malah kamu sendiri yang telah sengaja membunuh adik saya, buktinya sekarang kamu menikah dengan suami dari adik saya." tuduhan pedas yang di lontarkan Sela sungguh melukai perasaan Widia, namun demikian Widia masih nampak tenang mengahadapi sikap sinis dari Sela.


"Maaf Nona, saya tidak serendah yang anda tuduhkan. saya juga seorang ibu, tidak pernah terlintas di benak saya untuk memisahkan seorang anak dari ibu kandungnya." sanggah Widia penuh penekanan dan Gunawan pun turut membenarkan ucapan sang istri dengan anggukan.


"Tapi terserah, jika anda tidak ingin kasus kematian adik anda di buka kembali maka tidak ada masalah dengan saya, saya hanya bermaksud membantu memberikan sedikit titik terang akan kasus kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya Arista." Tutur Widia yang hampir tersulut emosi akan tuduhan demi tuduhan yang di lontarkan dari kakak almarhumah.


"Saya harap semua tenang, bagaimana pun jika kecelakaan ini sengaja di lakukan, maka sudah termasuk pidana. maka sebagai pihak yang berwajib kami berkewajiban untuk mengusut sampai tuntas. jadi kami nyatakan kasus kecelakaan yang menimpa almarhumah Rahma setahun yang lalu Resmi di buka kembali." petugas yang berwajib kemudian menengahi obrolan, serta memberikan keputusan atas kasus kecelakaan yang terjadi setahun yang lalu tersebut.

__ADS_1


__ADS_2