
Dua bulan kemudian
Di bandara internasional Soekarno-Hatta Gunawan nampak tengah menunggu seseorang yang tak lain adalah ibunya tercinta, yang baru saja tiba dari Singapura.
Sudah beberapa Minggu wanita paruh baya tersebut meninggalkan tanah air untuk mencari rumah sakit terbaik untuk cucunya tercinta. nyonya Lena ingin cucunya segera di rawat di RS yang berada di Singapura, menurutnya fasilitas di sana lebih lengkap sehingga kemungkinan untuk kesembuhan Arista lebih besar.
Setelah menemukan rumah sakit yang menurutnya tepat wanita itu segera kembali ke tanah air dengan tujuan untuk menjemput sang cucu tercinta. nyonya Lena sengaja tidak menggunakan jet pribadi milik keluarganya, dengan memberi berbagai macam alasan pada Gunawan.
"Mana menantu ibu, ibu kangen banget sama menantu ibu?? itulah pertanyaan yang pertama kali di lontarkan wanita paruh baya tersebut saat baru saja bertemu putranya di Bandara.
"Apa Widia tidak ikut menjemput ibu??." tanya wanita itu saat melihat menantunya tak nampak di sekitar putranya.
"Widia sengaja tidak ikut menjemput ibu sebab istri Gunawan sedang memasak spesial untuk menyambut ibu mertuanya." jawab Gunawan di sertai senyum.
"Menantu ibu memang luar biasa, jika suatu saat nanti kamu akan melepaskan dia dari kehidupan kamu, ibu pasti akan mencarikan seorang pria untuknya." senyuman Gunawan seketika memudar saat mendengar kalimat dari ibunya.
"Ibu ngomong apa sih, mana ada seorang mertua yang akan mencarikan seorang pria untuk menantunya." sahut Gunawan dengan wajah menahan kesal usai mendengar kalimat ibunya tadi.
"Loh,,,kamu kenapa sewot sih, ibu kan cuma jaga jaga jika saja kamu tetap dengan keputusan awal kamu yang berniat menceraikan istri kamu nantinya." Gunawan tak ingin lagi menimpali kalimat ibunya yang ada pria itu segera mengajak ibunya tersebut berjalan menuju mobil setelah Gio membawakan kopernya.
Setibanya di rumah wanita itu langsung di sambut hangat oleh menantu serta kedua cucunya yang sudah begitu merindukannya.
__ADS_1
"Bu, Widia kangen banget sama ibu." Widia yang mendengar suara deru mobil segera keluar untuk menyambut kedatangan ibu mertuanya, begitu juga dengan kedua buah hatinya.
"Oma" ucap Arista dan Farhan hampir bersamaan dengan raut wajah berseri seri saat melihat kedatangan nenek mereka, keduanya nampak berlari ke arah wanita itu.
"Oma kangen banget sama kalian." Nyonya Lena nampak merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedua cucu kesayangannya.
"Arista kangen banget sama Oma." ujar cucu perempuannya,Arista.
"Farhan juga kangen banget sama Oma." nyonya Lena nampak tidak membedakan keduanya, meski Farhan hanyalah anak bawaan Widia.
"Bu, Widia sudah memasak khusus buat ibu, sekarang kita makan siang dulu ya!!." Widia yang sejak pagi tadi sudah mulai memasak untuk menyambut kedatangan ibu mertuanya itu pun segera mengajak untuk makan siang bersama.
"Terima kasih sayang kamu sudah perhatian sama ibu." Widia terharu saat mendengar ibu mertuanya tersebut mengucapkan terima kasih padanya, padahal saat menjalani pernikahan sebelumnya, Widia tak sekalipun mendapatkan perlakuan layak dari mantan ibu mertuanya. meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk merebut hati dari mantan ibu mertuanya terdahulu.
Setelah melayani suami, mertua serta kedua buah hatinya kini Widia hendak mengisi piringnya dengan nasi dan lauk, namun hal itu urung di lakukan wanita itu saat piring tersebut telah terisi dengan nasi serta begitu banyak lauk seperti ia tak makan sebulan saja, saking banyaknya lauk yang kini ada di piring tersebut.
"Bagaimana bisa aku menghabiskan semua ini mas??." ujar Widia saat melihat begitu banyak lauk yang kini berada di piring miliknya.
"Kamu harus makan banyak karena anakku juga butuh asupan gizi yang banyak!!!." sahut pria itu dengan sengaja menjadikan anaknya yang dalam kandungan Widia sebagai alasan agar wanita itu menghabiskan makan siangnya, sebab sudah beberapa hari terakhir Gunawan perhatikan Widia makan lebih sedikit.
Baru saja Widia merasa di perhatikan oleh sang suami, namun akhir kalimat pria itu menyadarkannya jika Gunawan melakukan semua demi hanya karena anak yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
"Baik mas." jawab Widia dengan berusaha bersikap biasa menutupi rasa kecewa yang menyelinap di relung hati.
"Memangnya apa yang kamu harapkan Widia, tentu saja mas Gunawan memberikan perhatian pada anaknya bukan padamu. jika saja saat ini kamu tidak sedang mengandung anak yang begitu di nantikan oleh suami kamu, sudah pasti mas Gunawan tidak akan membuang buang waktu untuk memberikan perhatiannya padamu." dalam hati Widia seperti sedang menyadarkan dirinya untuk tidak berharap banyak dari pria yang kini tengah duduk bersebelahan dengan kursinya sembari menikamnya makan siangnya.
Usai makan siang nyonya Lena menceritakan pada putra serta menantunya mengenai niatnya yang ingin agar cucunya tersebut mendapatkan penanganan di rumah sakit ternama di Singapura.
Gunawan pun setuju dengan keputusan ibunya, namun pria itu nampak tak setuju saat ibunya mengatakan jika ingin mengajak serta menantu kesayangannya bersama ke Singapura. nyonya Lena menyarankan agar menantunya tersebut melakukan persalinan di RS yang berada di Singapura.
Gunawan menolak bukan karena tak setuju istrinya bersalin di Singapura namun Gunawan Khawatir dengan kondisi kandungan Widia, apalagi kondisi kandungan istrinya baru menginjak enam belas Minggu.
"Sebelum berangkat kita akan bertanya terlebih dahulu tentang kondisi kehamilan Widia pada dr Beni. jika memungkinkan, apa salahnya Widia ikut bersama ibu??.". Nyonya Lena masih berusaha menyakinkan putranya.
"Tapi bu_" Gunawan tak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa lagi Gun, kalau Widia ikut bersama dengan ibu, ibu bisa membantu kamu menjaga kondisi istri kamu. lagi pula kamu kan sibuk dengan urusan di kantor, untuk sekolah Farhan ibu sudah menghubungi pihak sekolah untuk mengasramakan anak kalian untuk sementara selama Widia ikut bersama ibu.". kedua ibu dan anak itu nampak berbincang serius, sementara Widia hanya diam sambil sesekali menatap ke arah suaminya yang kini duduk berdampingan dengannya di sebuah sofa Doble.
"Maaf Bu, bukannya Gunawan ingin menjadi anak durhaka, tapi untuk kali ini Gunawan tidak setuju dengan keputusan ibu." kata Gunawan masih dengan nada sopan, untuk menghargai wanita yang telah melahirkannya tersebut sebelum pria itu beranjak dari duduknya dengan mengajak serta sang istri.
"Ayo!!." Widia hanya bisa menatap sungkan pada ibu mertuanya saat Gunawan meraih tangannya. wanita itu bisa bernapas lega saat melihat anggukan dari ibu mertuanya, seolah memberi isyarat.
Setibanya di kamar Gunawan meraih ponselnya dari saku celana pendek yang kini di kenakannya. pria itu seperti sedang mengetik sesuatu, terlihat dari jemarinya yang menekan keyboard ponselnya satu persatu, sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas.
__ADS_1
"Ada apa dengan mas Gunawan, apa dia merasa berat berpisah denganku?? atau hanya karena tak ingin terjadi sesuatu pada anak yang ada di dalam kandunganku??." batin Widia saat melihat suaminya mengusap kasar wajahnya,. seperti orang yang tengah frustasi.