Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Mimpi buruk.


__ADS_3

Usai mencuci piring bekas makan mereka tadi Widia yang hendak kembali ke kamar menoleh, saat mendengar ibu mertuanya memanggilnya.


"Widia." Widia sontak menghentikan langkahnya saat mendengar seruan ibu mertuanya.


"Iya Bu." sahut Widia.


Nyonya Lena nampak berjalan mendekati menantunya, dengan membawa sebuah kotak merah di tangannya.


"Apa ini Bu??." tanya Widia dengan raut wajah bingung, saat ibu mertuanya menyerahkan sebuah kotak merah padanya.


"Ini perhiasan peninggalan neneknya Gunawan, dulu ibu pernah memberikan perhiasan ini pada Rahma, Almarhumah ibunya Arista. saat Rahma meninggal setahun yang lalu, lantas suami kamu mengembalikan ini pada ibu. karena sekarang kamu sudah menjadi menantu ibu, maka ibu berikan perhiasan ini untuk kamu nak." Widia nampak diam sejenak mendengar penjelasan ibu mertuanya sebelum ia kembali bersuara.


"Maaf Bu, bukannya Widia ingin menolak pemberian ibu, tapi Widia merasa kalau Widia tidak pantas menerima semua ini. sebaiknya ibu saja yang menyimpannya, Widia takut tidak bisa menjaganya dengan baik." jawab Widia secara tidak langsung menolak pemberian ibu mertuanya, meski begitu, Widia melakukannya dengan lembut agar tidak menyinggung perasaan ibu kandung dari suaminya tersebut.


"Tapi nak, ini sudah menjadi tradisi turun temurun di keluarga ibu, jadi ibu mohon sama kamu untuk mau menerimanya." Nyonya Lena nampak begitu kekeh untuk memberikan satu set perhiasan emas tersebut pada menantunya. sehingga Widia nampaknya tak tega terus menerus menolak, meski sebenarnya hati wanita itu berat menerima pemberian ibu mertuanya. Widia mengingat bagaimana nanti waktunya tiba, di mana saatnya Gunawan akan menceraikan dirinya. bagaimana caranya ia mengembalikan perhiasan itu kembali pada ibu mertuanya, bagaimana ia sanggup menghadapi wanita yang begitu menyayangi Dirinya Dengan tulus.


"Sekarang kembalilah ke kamar kalian, Gunawan pasti sudah menunggumu!!."titah ibu mertuanya ketika Widia nampak diam seraya memegang kotak perhiasan tersebut di tangannya.


"Tapi bu_." ucapan Widia membuat ibu mertuanya kembali menoleh ke arahnya.


"Ada apa lagi sayang??." tanya wanita itu dengan nada yang begitu lembut, nada lembut yang tak sekalipun di dengarnya dari mulut mantan ibu mertuanya dulu.


"Bagaimana jika mas Gunawan berpikir jika Widia merebut barang milik mendiang istrinya??." mendengar itu nyonya Lena tersenyum seraya berkata.


"Setelah Gunawan mengembalikan perhiasan itu kembali pada ibu, berarti perhiasan itu kembali menjadi milik ibu, jadi ibu berhak memberikannya kepada siapa saja yang ibu mau termasuk kamu sebagai menantu di rumah ini." terang ibu mertuanya sebelum benar benar berlalu meninggalkan Widia yang masih nampak diam mematung.

__ADS_1


Sampai dengan suara Gunawan mengejutkan wanita itu.


"Ada apa, kenapa kamu masih berdiri di situ??." mendengar suara bariton Milik suaminya, membuat Widia spontan menyembunyikan tangannya yang memegang kotak tersebut di belakangnya, sehingga membuat Gunawan mengeryit heran dengan tingkah Widia yang menurutnya mencurigakan.


"Apa yang kamu sembunyikan??." tanya Gunawan seraya melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga mendekati istrinya.


Widia hanya nampak diam mendengar pertanyaan suaminya, namun dari raut wajahnya nampak jelas jika ia sedang ketakutan, terbukti saat berdiri kaki Widia nampak gemetar.


Kini Gunawan sudah berdiri tegak di hadapannya, sehingga membuat wajah Widia nampak pucat.


"Sebaiknya segera tunjukan apa yang kamu sembunyikan dariku, sebelum aku memaksa memperlihatkannya padaku!!." Mendengar kalimat Gunawan yang terdengar begitu mengerikan di indera pendengaran Widia, wanita itu pun segera memperlihatkan sebuah kotak yang tadi sempat di sembunyikannya tersebut.


"Ini mas, tadi aku sudah sempat menolak, tapi ibu terus memaksaku untuk menerima kotak perhiasan ini mas. sungguh mas, aku sama sekali tidak berniat merebut barang milik mendiang istrinya mas Gunawan." mendengar penjelasan dari istrinya membuat Gunawan menatap lekat manik mata wanita itu.


"Aku hanya takut mas akan marah, karena berpikir aku telah merebut barang milik almarhumah istrinya mas Gunawan." jawab Widia seraya menunduk, tak berani menatap wajah pria itu, mengingat bagaimana marahnya pria itu saat dirinya ketahuan mengenakan pakaian milik mendiang istrinya.


"Jika ibu yang memberikannya padamu, bagaimana aku bisa marah. perhiasan ini milik ibu, jadi beliau berhak memberikannya pada siapapun yang beliau inginkan." mendengar itu membuat Widia seraya bermimpi, bagaimana tidak, awalnya Widia berpikir jika Gunawan akan marah bahkan mengamuk padanya.


"Sebaiknya kamu segera kembali ke kamar sekarang sudah larut malam, tidur terlalu telat tidak baik untuk kesehatan!!." titah Gunawan sebelum berlalu menuju ruang kerjanya.


"Ku pikir besok aku tak bisa lagi melihat matahari terbit." gumam Widia di sela langkahnya, bagaimana tidak, wanita itu bahkan berpikir Gunawan pasti akan marah bahkan akan membunuhnya saking kesal, karena perhiasan yang pernah di kenakan mantan istrinya di berikan ibunya pada Widia.


Kini Widia kembali ke kamar sementara Gunawan yang baru saja tiba di ruang kerjanya nampak duduk bersandar di sandaran sofa seraya memejamkan matanya.


Saat tengah sibuk berkutat dengan berbagai macam pemikiran di kepalanya,tiba tiba Gunawan di kejutkan dengan suara jeritan putrinya. kamar Arista tidak di fasilitasi kedap suara, sehingga suara gadis itu dapat terdengar hampir ke seisi rumah.

__ADS_1


"Mama,,,,Ayah,,,,." Mendengar itu Gunawan lantas berlari menuju kamar putrinya, yang terletak di lantai yang sama dengan kamarnya.


Saat berada di dekat kamar Arista yang pintunya tidak tertutup sempurna, Gunawan melihat sosok Widia di sana wanita itu nampak tengah menenangkan putrinya. dengan sabar wanita itu menenangkan Arista, yang tengah ketakutan akibat mimpi buruk.


Beberapa saat kemudian Gunawan pun melanjutkan langkahnya memasuki kamar putrinya.


"Ada apa sayang, kenapa kamu sampai berteriak seperti itu??." tanya Gunawan yang kini duduk di sisi ranjang pada Putrinya yang kini tengah memeluk erat tubuh ibu sambungnya.


Mendengar suara ayahnya membuat Arista melepas pelukannya dari ibu sambungnya lalu memandang ke arah ayahnya.


"Arista mimpi buruk ayah." jawab gadis itu, kemudian kembali memeluk ibu sambungnya. kali ini untuk pertama kalinya putrinya tersebut tak memeluk dirinya, saat gadis itu tengah bermimpi buruk sama seperti malam sebelumnya.


"Kamu tidak perlu takut nak, ayah akan menemani kamu di sini." ucap Gunawan, namun alangkah terkejutnya pria itu saat mendengar putrinya malah ingin di temani oleh Widia.


"Tapi Arista ingin di temani mama sampai tertidur." permintaan gadis itu membuat Widia merasa tidak enak pada suaminya, yang notabennya adalah ayah kandung Arista, sementara dirinya hanyalah seorang ibu sambung.


"Kakak nggak perlu takut, mama akan tidur di sini menemani Kakak.". Widia baru berani menjawab permintaan putrinya tersebut saat mendapat anggukan dari sang suami. sejak menikah dengan Gunawan beberapa hari yang lalu, Widia memanggil sebutan kakak pada putri sambungnya tersebut, sebutan adik untuk Farhan putra kandungnya. meski Arista hanyalah putri sambungnya, namun Widia menyayangi Arista layaknya ia menyayangi Farhan.


"Baiklah nak, ayah dan mama akan menemani kamu malam ini." jawab Gunawan lalu beranjak pindah ke sofa. Gunawan yang tengah berkutat dengan ponselnya, sesekali melirik ke arah ranjang di mana nampak Widia tengah memeluk tubuh putrinya layaknya menidurkan seorang anak kecil.


Mungkin karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, sehingga tanpa sadar Widia pun ikut terlelap bersama putrinya.


"Widia nampak begitu menyayangi Arista, wanita ini sama sekali tidak membedakan antara Arista dan Farhan dalam memberikan kasih sayang." dalam hati Gunawan yang kini merubah posisinya berbaring di sofa.


Mungkin karena lelah seharian bekerja Gunawan pun ikut terlelap di sofa.

__ADS_1


__ADS_2