Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Kembali ke rumah.


__ADS_3

Tiga hari berlalu, Widia telah di izinkan oleh dokter untuk kembali ke rumah.


Namun saat hendak kembali ke rumah, Gunawan mengatakan padanya jika pria itu akan mampir sejenak ke makam mendiang istrinya, dan Widia pun hanya bisa mengiyakan.


Bukan karena Widia tak suka jika suaminya itu berkunjung ke makam mendiang Sang istri, namun sebagai istri tentu tak bisa di pungkiri Widia juga merasa iri akan rasa cinta sang suami pada mendiang istrinya.


Rasa cinta yang menurutnya tidak akan pernah di rasakan pria itu untuk dirinya.


Setibanya di area pemakaman Widia memilih untuk menunggu di mobil, sementara Gunawan berjalan perlahan menghampiri makam mendiang istrinya, Rahma.


Dari kejauhan Widia menyaksikan sang suami yang tengah mengelus pusara mendiang istrinya, hal itu membuat Wanita itu tersenyum getir membayangkan dirinya yang hanya sebagai istri di atas kertas yang tak boleh berharap akan kasih sayang apalagi cinta dari sang suami yang kini telah memberinya seorang jabang bayi yang kini bersemayam di rahimnya.


Beberapa saat kemudian, Gunawan pun kembali ke mobil. namun berbeda dengan kunjungan Gunawan sebelumnya, kini ia mampir ke makam sepasang suami istri yang tak jauh dari makam mendiang istrinya, yang tak lain adalah makam orang tua dari istrinya, Widia.


Untuk beberapa saat Gunawan nampak seperti tengah berbicara di samping pusara tersebut, sebelum ia kembali menghampiri Widia yang tengah menunggunya di mobil.


"Maaf sudah membuat kamu lama menunggu." ujar Gunawan yang baru saja kembali duduk di balik kemudi.


"Nggak papa mas." sahut Widia kemudian tersenyum kecil pada suaminya sebelum mengalihkan pandangannya dengan memandang ke luar jendela mobil, sebelum kembali berujar.


"Terima kasih sudah mampir ke makam kedua orang tuaku mas." ucap Widia tanpa melihat lawan bicaranya.


"Tidak perlu berterima kasih, karena mereka adalah mertua saya." jawaban suaminya yang di sertai raut wajah datar seperti biasanya, semakin membuat Widia sadar jika hati pria itu bukanlah untuk dirinya.


"Di samping pusara mbak Rahma kamu sampai menitihkan air mata mas, tapi saat berbicara padaku kamu begitu datar bahkan terkesan dingin seperti sebelumnya. apa tak ada tempat sedikit pun di hati kamu untukku mas??." dalam hati Widia nyeri seraya melirik ke arah suaminya yang kini mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Ya Tuhan, ada apa denganku kenapa aku berharap mas Gunawan bisa membuka hatinya untukku sedangkan aku sendiri tahu jika mas Gunawan tidak akan mungkin bisa mencintaiku." Widia masih setia membatin saat mobil yang di kendarai Gunawan telah meninggalkan area pemakaman tersebut.


Tiba tiba Widia tersadar dari lamunannya saat tangan kiri suaminya mulai mengelus perutnya, sementara tangan kanannya masih stay memegang kemudi.


"Anak ayah nggak boleh nakal kasian mamah." ucapan itu yang keluar dari mulut pria itu kala mengelus lembut perut istrinya yang masih nampak rata.

__ADS_1


"Ayah jadi nggak sabar ingin segera melihat wajah kamu nak." lanjut Gunawan.


"Mirip ayah atau mirip mama kamu."~ Gunawan.


"Jika anak ini mirip dengan wajahku, apa mas tidak keberatan??." pertanyaan Widia membuat Gunawan menarik sudut bibirnya ke atas.


"Bagaimana mungkin saya keberatan kamu kan ibunya." jawab Gunawan dengan santainya.


"Jika anak ini mirip dengan wajahku, apa mas tidak akan menyukainya sama seperti mas tidak menyukaiku??." bukannya menjawab Gunawan malah melirik ke arah istrinya dengan lirikan yang sulit di tebak. sehingga membuat Widia tertunduk tak berani membalas lirikan pria itu.


"Maaf mas, jika mas tak senang mendengar pertanyaanku, sekali lagi aku minta maaf mas." seperti biasa jika raut wajah Gunawan sudah nampak seperti sekarang ini, maka Widia pasti akan nampak seperti ketakutan. terbukti kini wanita itu nampak memilin ujung kemejanya, sampai buku buku jarinya nampak memutih.


Setibanya di rumah Widia merasa seperti bisa kembali menghirup udara segar, sebab di mobil tadi wanita itu seperti merasa sesak mengingat ia begitu ketakutan, takut pria yang itu akan marah bahkan mengamuk padanya.


Baru saja bisa menghirup udara segar rasanya, kini Widia seakan kembali merasa jantungnya berdebar tak karuan saat tahu jika ada yang menyingkirkan pigura Suaminya dan mendiang istrinya yang di panjang di dalam kamar.


"Waduh, ini apa lagi sih, siapa yang sudah berani menyingkirkan foto pernikahan mas Gunawan dan mbak Rahma dan menggantinya dengan foto aku dan mas Gunawan di sana. bi,,,bibi,,,,." Widia begitu panik saat melihat foto pernikahan Gunawan dan mendiang istrinya yang di pajang di kamar, telah di ganti dengan foto pernikahan dirinya dan sang suami. saking paniknya sampai Widia sedikit mengeraskan intonasi suaranya memanggil ART.


"Bi, ini siapa yang sudah berani menyingkirkan foto bapak sama ibu??." pertanyaan Widia malah membuat ART tersebut heran kemudian berkata.


"Loh, itukan foto bapak sama ibu." jawab ART tersebut sembari menunjuk foto pernikahan Widia dan Gunawan yang kini terpajang di dinding kamar.


"Maksud aku foto pernikahan bapak sama mendiang istrinya bi??." lanjut Widia dengan wajah panik, takut jika suaminya segera tiba di kamar dan melihat foto pernikahannya dengan mendiang Rahma telah di ganti oleh foto pernikahan dengan wanita yang berbeda.


"Bibi juga nggak tahu Bu, setahu bibi nggak ada yang berani masuk ke kamar tuan selain nyonya besar." Jawab ART tersebut dengan raut wajah bingung.


Setelah melihat isi kamar, Widia menemukan foto Gunawan dan mendiang Rahma di letakan di belakang lemari dengan di tutup oleh sebuah kain, untuk melindunginya dari debu.


"Bi, sekarang tolong ambilkan aku tangga!!." mendengar titah dari majikannya membuat ART yang bernama Ina tersebut di buat bingung, untuk apa wanita itu menyuruh dirinya mengambilkan sebuah tangga.


"Memangnya tangga buat apa Bu??." saking penasarannya akhirnya bi Ina pun memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Udah ambil aja Bi, nggak usah banyak tanya keburu bapak ke sini!!." lanjut titah Widia dengan wajah paniknya. dan Bu inah pun segera mengambil sebuah tangga aluminium dan menyerahkannya pada Widia.


"Ini tangganya Bu."


Saking paniknya Widia segera menaiki tangga tersebut kemudian meminta bantuan pada Bi Inah untuk memberikan foto pernikahan Suaminya dan mendiang istrinya, untuk kembali di pajang sama seperti sebelumnya.


"Bu, bibi takut ibu bisa jatuh kalau naik tangga seperti ini, kalau bapak tahu bapak bisa marah bu." giliran bi Inah yang begitu panik saat Widia mulai menaiki tangga.


Sayangnya belum berhasil mengganti foto Widia yang kehilangan keseimbangan tiba tiba terhuyung ke bawah.


"Argh." Widia nampak berteriak saat merasa kakinya tak lagi berpijak pada anak tangga.


Seketika Widia membuka matanya saat merasa tubuhnya tak mengenai lantai.


Begitu membuka mata secara perlahan, wanita itu langsung di suguhkan tatapan tajam dari pria yang tengah menangkap tubuhnya yang tadi hampir saja terjun bebas.


Tanpa sepatah katapun Gunawan terus menatap tajam ke arah wanita itu, sehingga membuat Widia ketakutan. berpikir jika pria itu marah saat melihat foto dirinya dan mendiang sang istri telah di singkirkan.


"Maaf mas, sungguh bukan aku yang menyingkirkan foto itu dan menggantinya dengan foto pernikahan kita." dengan wajah takut takut Widia mencoba menjelaskan berharap pria itu percaya dan tak mengamuk padanya. saat Widia telah turun dari gendongan sang suami.


"Siapa yang sudah berani membawa tangga ke sini??." bukannya menimpali kalimat istrinya, Dengan tatapan tajam Gunawan malah balik bertanya pada ART yang kini masih nampak panik karena melihat istri dari tuannya hampir saja terjun bebas.


"Maafkan saya tuan, tapi saya sudah melarang nyonya namun nyonya Widia tetap keras kepala dan memaksa untuk membawa tangga ini kesini." dengan wajah ketakutan bi Inah menjelaskan pada tuannya.


"Cepat bawa tangga ini keluar dari sini, sebelum saya kehabisan kesabaran!!." dengan cepat bi Inah membawa tangga tersebut. bi Inah nampak begitu ketakutan sebab baru kali ini majikannya itu nampak begitu marah. meski tak mengeluarkan kata kata kasar, namun bi Inah bisa menebak dari sorot matanya.


Sepeninggalan bi Inah dari kamar itu wajah Widia masih nampak menundukkan kepalanya tak berani menatap mata suaminya yang nampak menakutkan menurut wanita itu.


"Aku mohon padamu Widia, jangan membuatku kehabisan kesabaran!!." masih dengan tatapan tajam pria itu bertutur sebelum ia berlalu menuju balkon meninggalkan wanita itu yang masih berdiri mematung.


"Aaaarrrrgggttttt." Widia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan sembari memegangi kakinya yang terasa lemas karena ketakutan. setelah melihat suaminya telah meninggalkan kamar menuju balkon.

__ADS_1


Mata Widia nampak berkaca kaca karena berpikir jika suaminya itu marah karena foto tersebut.


__ADS_2