Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Positif Hamil.


__ADS_3

Wajah Widia nampak pucat dan juga tegang, saat dalam perjalanan ke rumah sakit. mungkin wajah wanita itu nampak pucat karena semalam tak dapat tidur dengan nyenyak, Widia terus kepikiran tentang yang akan terjadi pagi ini, dimana ia harus menuruti permintaan sang suami untuk memastikan dugaan pria itu.


Jika mengingat saat masih bersama mantan suami, hasil yang pasti akan di terima wanita itu pasti hanyalah kekecewaan, bukan hanya sekali namun sudah berulang kali.


Ingin rasanya wanita itu mengulur waktu agar pria itu mengurungkan niatnya, apalagi dokter yang akan mereka temui untuk berkonsultasi masalah kehamilan tak lain adalah dokter Beni sahabat dari suaminya. sudah pasti Gunawan akan memaksa sahabatnya itu untuk segera melakukan pemeriksaan yang akurat.


Widia nampak memilin ujung kemejanya hingga jemarinya nampak memutih, sampai mobil yang di kendarai Gunawan tiba di rumah sakit tempat dr Beni bekerja pun Widia sampai tak menyadarinya.


"Ayo turun!! apa kamu akan terus duduk melamun di situ ??." tiba tiba ucapan Gunawan menyandarkan lamunan Widia.


"Maaf mas." sahut Widia, kemudian segera turun dari mobil yang pintunya telah di bukakan oleh sang suami.


Keduanya pun berjalan menuju ruangan dokter Beni di mana pria itu telah menunggu kedatangan mereka, sebab semalam Gunawan telah menghubungi sahabatnya itu dan membuat janji dengannya.


"Selamat pagi." Gunawan yang baru saja membuka pintu ruangan memberi salam dan di ikuti oleh Widia di belakangnya.


"Selamat pagi, silahkan duduk!!." dengan ramah dr Beni menyambut kedatangan pasangan suami istri tersebut.


Beni sudah mengetahui niat dan tujuan sahabatnya itu mengajak sang istri ke rumah sakit, sehingga Dr Beni langsung mempersilahkan Widia untuk berbaring untuk melakukan ultrasonografi.

__ADS_1


Awal pria itu ingin berbincang bincang lebih dulu, namun berhubung sahabatnya tersebut sangat tidak sabaran makanya Dr Beni langsung saja pada niat dan tujuan Gunawan datang menemuinya.


Jantung Widia semakin berdetak tak menentu saat dr tersebut mulai mengolesi perutnya dengan jeli sebelum melakukan pemeriksaan USG.


"Tarik napas dalam lalu hembuskan perlahan, agar anda tidak terlalu tegang!!." sebagai dokter yang berpengalaman, Dr Beni tahu betul jika saat ini wanita itu sangat tegang, terbukti saat dr Beni tak sengaja menyentuh jemari lentik wanita itu yang terasa sangat dingin.


"Tenanglah,,,jangan tegang, apapun hasilnya aku tetap terima dengan ikhlas." entah kenapa kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Gunawan, yang kini berdiri di tepi brankar menemani Sang istri hendak melakukan pemeriksaan USG.


Jangankan Dr Beni, Widia saja tidak menyangka jika pria itu akan mengatakan hal demikian, sehingga membuat Widia bisa sedikit mengurangi ketegangan yang kini dirasakannya.


"Sebenarnya lebih baik jika ini di lakukan dua Minggu mendatang, namun karena suami anda sangat tidak sabaran, maka kita akan melakukannya sekarang. sebagai dokter sekaligus sahabat, saya hanya bisa mengingatkan apapun hasil dari pemeriksaan ini semoga tidak membuat kalian berdua putus asa!!." kini Beni berbicara layaknya seorang sahabat yang mencoba mengingatkan sahabatnya, agar lebih lapang dada dengan hasil pemeriksaan kali ini.


Widia perlahan memejamkan matanya, karena wanita itu yakin akan hasil yang akan mengecewakan Sang suami.


Mulailah dr Beni meletakkan sebuah alat di permukaan perut rata milik Widia, beberapa kali setelah menggeser alat itu dr Beni nampak tersenyum kemudian berkata.


"Sepertinya senjata Anda tokcer juga tuan Gunawan." kata dokter Gunawan saat memastikan ada gumpalan yang sebesar kacang hijau yang saat ini tumbuh di rahim wanita itu, wajah Gunawan nampak berseri seri, berbeda dengan Widia yang kini baru saja membuka matanya karena terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Apa, dokter bilang apa tadi, saya hamil dok??." tanya Widia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

__ADS_1


"Sepertinya begitu Wid, karena berdasarkan pemeriksaan pada pasien sebelumnya jika di usia kandungan seperti kamu saat ini, saya bisa pastikan jika kamu tengah mengandung." Widia langsung meneteskan air mata saat mendengar penjelasan dokter Beni, semua di luar ekspektasi wanita itu.


"Kenapa kamu malah menangis??." pertanyaan Gunawan mendapat gelengan dari Widia yang kini seperti tak sanggup berkata kata untuk beberapa saat, sampai dengan beberapa menit kemudian Widia kembali melontarkan kalimat.


"Nggak papa mas, aku hanya terlalu senang." jawab Widia jujur, bagaimana tidak, kini ia bisa kembali merasakan bagaimana rasanya bisa mengandung seorang jabang bayi. padahal dulu ia bahkan merasa sangat kesulitan untuk bisa kembali hamil, dan Karena hal itu juga yang membuat mantan ibu mertuanya selalu mengatai wanita itu dengan kata kata yang begitu menyakitkan.


Meski demikian Widia tidak menceritakan tentang itu pada suaminya, tidak ingin Gunawan berpikir jika ia masih terkenang dengan mantan suami, karena semua itu mustahil. mustahil bagi wanita itu mengenang masa pahit, selama menjalani kehidupan rumah tangga bersama ayahnya Farhan dulu.


Meski pun saat ini menurut Widia ia belum mendapatkan cinta dari sang suami, bahkan mungkin tidak akan pernah mendapatkannya, namun pria itu tidak seperti mantan suami terdahulu yang hanya menganggapnya sebagai boneka, dan lagi Widia merasa ibu mertuanya yang sekarang begitu baik padanya berbeda seratus delapan puluh derajat dari mantan ibu mertuanya terdahulu, yang selalu memandangnya sebelah mata bahkan sering kali berkata kata kasar padanya.


"Btw selamat atas kehamilan istri kamu Gun, sebagai sahabat saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian berdua, semoga dengan kehadiran buah hati kalian bukan hanya bisa menolong Arista, namun calon jabang bayi dalam kandungan istri kamu saat ini bisa mempererat hubungan kalian. karena menurut saya tidak ada seorang anak yang tuhan titipkan pada sepasang suami istri tanpa adanya rasa cinta di Antara kedua orang tuanya." Gunawan yang mendengar kalimat wejangan dari sahabatnya itu sontak memandang ke arah istrinya dan begitu pun sebaliknya, sehingga untuk beberapa saat keduanya saling beradu pandang. sampai Gunawan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali, entah kenapa jantungnya berdebar tak menentu saat beradu pandang dengan sang istri.


"Baiklah untuk pemeriksaan USG hari ini cukup sampai di sini, kita akan kembali melakukan USG bulan depan untuk memastikan embrio tumbuh dengan sempurna." lanjut terang dr Beni, kemudian Widia pun segera turun dari brankar pemeriksaan dengan di bantu oleh sang suami.


"Ya Tuhan, dulu saat masih bersama dengan mas Hardi, aku bahkan sangat sulit untuk bisa kembali hamil, tapi sekarang aku di nyatakan positif hamil padahal aku dan mas Gunawan baru beberapa kali melakukannya. jika semua ini sudah menjadi rencanamu, aku mohon semoga kelak calon yang ada di dalam kandunganku, bisa mendapatkan kasih sayang semestinya dari ayah kandungnya. karena sekalipun mas Gunawan tidak akan pernah bisa mencintaiku, namun anak ini tetaplah anaknya darah dagingnya." dalam hati Widia penuh harap.


Setelah diresepkan vitamin untuk menguatkan kandungan serta vitamin brain si jabang bayi, keduanya pun kembali ke rumah.


Di sepanjang jalan wajah Gunawan nampak berseri seri, bahkan Widia yang sejak tadi terus memperhatikan pria yang tengah fokus menyetir Tersebut di buat tidak percaya, saat melihat suaminya sesekali tersenyum tipis sambil menyetir.

__ADS_1


"Mas, apakah kamu bahagia karena aku mengandung anakmu, atau kamu bahagia hanya karena kamu memiliki harapan untuk kesembuhan Arista semata??." dalam hati Widia saat melirik ke arah suaminya.


__ADS_2