
Di sela kebahagiaan yang kini tengah di rasakan Widia, ada seorang ibu yang sedang memainkan perannya sebagai pengatur skenario dalam kehidupan putranya.
"Sudah berapa kali ibu harus mengatakannya Sama kamu Hardi, cari cara untuk bisa mendapatkan anak kamu dari perempuan itu!! atau kamu memang ingin melihat ibu cepat Mati ya??." Hampir setiap hari kalimat seperti itu yang harus di dengarkan Hardi, setiap kali kembali ke rumah ibunya.
"Bu, bisa tidak ibu berikan Hardi waktu untuk berpikir, ibu tahu tidak bagaimana susahnya untuk bisa mendekatkan Widia saat ini, apalagi Tuan Gunawan Wicaksono selalu ada di sampingnya." Dengan wajah menahan kesal Hardi menimpali ucapan ibunya.
"Dan asal ibu tahu, kemarin pria itu bahkan menghajar Hardi karena sudah berani mendekati istrinya." Lanjut Hardi yang semakin kesal, kala teringat saat bogem mentah milik Gunawan melayang cantik di wajahnya, sehingga membuat sudut bibirnya berdarah.
Mendengar pengakuan putranya, wanita paruh baya tersebut melangkah mendekati sang putra.
"Jangan terlalu banyak alasan, Ingat Hardi!! jika kamu tidak bisa mengambil Alih kembali perkebunan teh itu, maka bisa di pastikan kita akan tinggal di kolong jembatan." Ujar wanita itu sebelum beranjak meninggalkan putranya yang nampak begitu frustrasi dengan semua tekanan yang ia berikan.
Hardi menyandarkan tubuh serta kepalanya pada sandaran sofa seraya memejamkan matanya.
Saat memejamkan mata, pria itu kembali teringat akan kehidupan rumah tangganya dulu, saat masih beristrikan Widia.
Semua kenangan itu kembali berputar di benak serta pikiran Hardi. yang paling membuat Hardi merasa menyesal adalah, saat ia harus menuruti keinginan ibunya untuk segera menceraikan sang istri ketika itu.
Hardi teringat kembali akan sikap Widia yang begitu menghargai dirinya sebagai seorang suami, wanita itu bahkan mengorbankan perasaannya demi menuruti semua keinginan suaminya.
"Maafkan mas Widia, seandainya waktu bisa di putar kembali, mas tidak akan pernah menceraikan kamu Widia." tanpa di sadari oleh pria itu, untuk pertama kalinya ia menitihkan air mata untuk seseorang yang bahkan pernah sangat menderita karena dirinya.
Kini hanyalah penyesalan yang ada di benak Hardi, benar kata orang, sesuatu baru terasa begitu berharga setelah kita kehilangannya.
🌹
🌹
🌹
__ADS_1
Saat kembali ke kamar, Gunawan tidak menemukan keberadaan istrinya di sana. namun pria itu melihat pintu yang menghubungkan ke balkon terbuka. pria itu berjalan menuju balkon untuk memastikan dugaannya,dan benar saja saat ini Widia tengah berdiri dengan bersekedap dada memandang indahnya pemandangan malam itu. bahkan saking menikmati Widia sampai tidak menyadari kedatangan Gunawan, wanita itu baru menyadarinya saat merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
Widia tersenyum kala merasakan pelukan hangat suaminya, meski tak menoleh namun dari aroma tubuhnya wanita itu bisa menebak.
"Ngapain berdiri di sini malam malam sayang??." kata Gunawan Khawatir, kala melihat istrinya hanya mengenakan lingerie yang di balut dengan jubahnya, untuk menutupi pakaian yang lumayan menerawang tersebut.
"Mas." ~
"Hemt." sahut pria itu sembari sesekali mendaratkan sebuah kecupan pada tengkuk leher istrinya.
"Terima kasih." ucap Widia, kemudian membawa telapak tangan yang melingkar pada perutnya Lalu menciumnya. jujur saat di perlakukan seperti itu, Gunawan merasa sangat di hormati sebagai seorang suami.
"Terima kasih untuk apa sayang??." pria itu bertanya, karena merasa bingung sebab tidak merasa memberikan hadiah spesial, namun mendapat ucapan terima kasih dari Sang istri.
"Terima kasih untuk semuanya mas, terima kasih atas kasih sayang dan cinta mas untukku." ucap Widia seraya membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sang suami.
"Terima kasih karena telah menerimaku apa adanya, terima kasih karena telah menyayangi Farhan layaknya anak kandung mas sendiri, dan terima kasih atas dukungan serta bantuan mas selama aku dalam kesulitan. I Love you Gunawan Wicaksono." ucap Widia tulus, sebelum mengecup lembut bibir suaminya.
Meski untuk melakukan itu semua Widia perlu sedikit berjinjit, akibat tinggi badannya yang hanya setinggi bahu sang suami. bukan karena Widia pendek, namun karena tinggi badan Gunawan yang mencapai 183 cm.
"I Love you more honey." Jawab Gunawan dengan tatapan lembut penuh cinta.
Suasana berubah jadi romantis, dengan Gunawan yang mulai men*cium mesra bibir istrinya, hingga ciu*man itu turun ke bagian leher jenjang milik Widia. hingga membuahkan sebuah tanda kepemilikan di leher putih jenjang milik Sang istri.
Namun sayang, kegiatan itu terpaksa harus terhenti, kala keduanya mendengar suara Farhan yang mencari keberadaan ibunya.
"Mah,,,Mamah." mendengar suara putranya, Gunawan nampak gelagapan karena salah tingkah, bagaimana tidak, pria kecil itu hampir berada di depan pintu ke arah balkon.
"Mamah dan ayah ngapain di sana, di luar udaranya dingin, mamah dan ayah bisa masuk angin." ujar pria kecil yang kini berdiri di ambang pintu yang mengarah ke balkon.
__ADS_1
"Itu sayang, ayah lagi menemani bunda menikmati keindahan bintang bintang." Jawab Gunawan asal, sehingga membuat pria kecil itu sontak menatap ke langit.
"Mana bintangnya ayah??." tanya Farhan, saat tak melihat satu bintang pun di langit yang saat ini bahkan terlihat mendung.
"Ah,,,, itu sayang, mungkin bintangnya sudah menghilang karena malu di pandang sama pria tampan seperti kamu. sudahlah sebaiknya kita masuk sekarang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." sahut Gunawan mengalihkan perhatian putranya dari pertanyaannya.
"Baiklah ayah." Farhan pun menurut saat Gunawan menggenggam tangannya saat hendak melangkah, sementara Widia hanya bisa tersenyum saat melihat suaminya yang salah tingkah akibat menghadapi pertanyaan putranya.
Setelah ketiganya kembali ke kamar, Widia lantas bertanya pada putranya.
"Memangnya ada apa anak ganteng mencari mamah??." Widia bertanya pada putranya yang kini tengah duduk di tepi ranjang bersama dengan sang ayah.
Widia semakin penasaran saat melihat putranya seperti ragu saat ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa sayang?? jangan ragu, katakan sama ayah dan mamah jika kamu ingin menyampaikan sesuatu anak ganteng!!." Gunawan benar benar memperlakukan Farhan layaknya anak kandung sendiri, pria itu bahkan bisa ikut peka saat melihat raut wajah anak itu.
"Ayah,,,,mamah,,,,,tadi siang Nenek datang ke sekolah, nenek bilang jika nenek ingin Farhan tinggal bersama papa." dari ucapannya putranya, Widia bisa menebak jika yang di maksud putranya adalah mantan ibu mertuanya.
"Selain itu nenek bilang apa lagi sama kamu nak??." meski kesal saat mendengar mantan ibu mertuanya mendatangi sekolah putranya, namun Widia tetap berusaha bersikap tenang di hadapan Farhan.
"Nenek juga bilang sama Farhan, jika saat ini nenek sering sakit sakitan karena merindukan Farhan mah." emosi Widia hampir di ubun ubun, saat mendengar ucapan mantan ibu mertuanya melalui mulut sang putra.
"Apa sebenarnya niat ibunya mas Hardi berbicara seperti itu pada Farhan, sedangkan sudah jelas jelas beliau sama sekali tidak mempedulikan putraku selama ini??." batin Widia dengan berbagai prasangka yang kini mulai menghantui pikirannya.
"Dengar nak, ayah tidak pernah melarang Farhan untuk bertemu dengan nenek serta papanya Farhan, tapi untuk tinggal bersama dengan mereka ayah kurang setuju, tapi itu kembali lagi dengan keputusan mamah." meski sebenarnya Gunawan benar benar tak setuju jika Farhan tinggal bersama Hardi dan ibunya, namun Gunawan cukup tahu diri untuk memberikan kesempatan pada Widia untuk mengambil keputusan.
"Sekarang sudah malam sayang, sebaiknya Farhan kembali ke kamar!! besok ayah akan mencoba berkomunikasi dengan nenek serta papanya Farhan, untuk mencari solusi ya." Gunawan masih nampak tenang,. berbeda dengan Widia yang kini terlihat mulai gelisah, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Baik ayah, mah, Adik kembali ke kamar ya.". Sebelum kembali ke kamarnya, Farhan pamit pada mamanya, dan Widia hanya bisa mengangguk.
__ADS_1