Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Persidangan 2.


__ADS_3

Gunawan menyambut sang istri dengan pelukan hangat, saat melihat wanitanya itu berlari kecil ke arahnya yang baru saja bangkit dari duduknya.


"Terima kasih mas." ucap Widia tulus, karena dia tahu betul semua ini pasti tak lepas dari bantuan sang suami.


"Tidak perlu berterima kasih sayang, itu sudah menjadi kewajiban mas sebagai suami." kecupan hangat mendarat di kening sang istri, sampai pak pengacara yang menangani kasus Widia ikut terharu melihat kasih sayang tulus dari sepasang suami istri tersebut.


Terharu akan usaha Gunawan sebagai seorang suami, saat membela dan mencari bukti demi membuktikan jika Sang istri tidak bersalah.


"Nyonya anda sangat beruntung memiliki suami seperti tuan Gunawan Wicaksono, yang rela melakukan apa pun untuk bisa membuktikan jika anda tidak bersalah di persidangan." ujar pak pengacara saat menghampiri keduanya.


"Tanpa Anda saya tidak sanggup melakukannya sendiri pak pengacara, terima kasih telah membuktikan jika istri saya tidak bersalah." jawab Gunawan.


"Terima kasih pak pengacara, semoga tuhan membalas kebaikan anda." ujar Widia tulus pada pria yang berprofesi sebagai pengacara ternama di tanah air tersebut meski usianya masih terbilang muda yaitu tiga puluh tahun, bahkan saat ini beliau masih sendiri belum memiliki pendamping hidup.


"Tidak perlu berterima kasih tuan,,, nyonya, sebab ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang pengacara. lagi pula tuhan tidak akan rela hamba-nya yang tidak bersalah harus menjalani hukuman yang tidak seharusnya untuknya." terang pak pengacara tampan dengan kata-kata bijaknya.


Masih di ruangan yang sama Putri yang tak sabar pun segera menghampiri sahabatnya, Widia. saking bahagianya sahabatnya terlepas dari jeratan hukum, Putri yang berlari kecil sampai tak memperdulikan pak pengacara yang juga berada di sekitar sepasang suami istri tersebut. hingga hampir saja wanita itu menabrak tubuh kekar pengacara tampan itu.


"Maaf pak pengacara saya tidak sengaja." ucap Putri yang kini merasa malu, apalagi saat ini masih banyak orang yang berada di ruangan tersebut termasuk Gio, asisten pribadi Gunawan yang setia mendampingi tuannya dalam Suka maupun duka.


"Tidak perlu minta maaf Nona." jawab pak pengacara tampan dengan penuh wibawa di sertai senyum tipis nan manis.


"Baiklah tuan Nyonya saya pamit.".ujar pak pengacara sebelum beranjak meninggalkan ruangan tersebut dengan gagahnya.


"Tidak takut lepas matanya." sindir Gio lirih saat mata Putri terus mengikuti langkah pak pengacara yang bernama lengkap Aditya Permana tersebut.


Putri yang pastinya merasa tersindir dengan kalimat Gio segera memalingkan pandangannya ke arah pria itu seraya berdecak.

__ADS_1


"Ck, apa anda tidak suka Melihat seseorang senang sedikit??." ujar Putri pada Gio.


Intonasi Putri yang tak selirih Gio pun terdengar oleh sepasang suami istri yang kini berada di antara keduanya. sehingga membuat keduanya saling pandang kemudian tersenyum.


"Widia aku senang sekali kamu bisa bebas dari tuduhan tak berdasar ini." keduanya pun berpelukan dengan bahagianya, sebelum kembali melepaskan pelukannya masing masing.


Sementara di sudut ruangan tersebut nampak seorang anak gadis yang sengaja mengasingkan diri, gadis itu tak lain adalah Arista.


Widia yang baru menyadari hal itu segera beranjak menghampiri anak gadisnya itu.


"Kenapa kakak duduk sendiri di sini, kenapa nggak gabung bareng ayah sama mama sayang??." bukannya menjawab gadis itu malah menitihkan air mata, apalagi saat ini mama sambungnya tersebut mengelus lembut puncak kepalanya.


Arista semakin menunduk malu seperti tidak berani menatap wajah Widia yang kini sedikit merunduk di hadapannya untuk menyesuaikan posisi di antara keduanya.


"Maafkan kakak, mah." ujar gadis itu masih dengan posisi yang sama, tak berani menatap mamanya.


"Tapi karena Arista mama harus mengalami keguguran." ujar gadis itu penuh penyesalan.


"Sayang, jangan berkata seperti itu lagi, mungkin semua itu sudah menjadi takdir yang harus mama jalani. meski kejadian hari itu tidak terjadi, mungkin mama tetap akan mengalami keguguran itu sebab hal yang lain, karena itu sudah menjadi takdir mama." jawaban bijak dari istrinya semakin membuat Gunawan merasa beruntung bisa bertemu dengan wanita berhati mulia seperti Widia.


Sehingga membuat Gunawan yang kini berdiri di belakang istrinya ikut bersuara.


"Ayah bangga sama kakak karena sudah berani mengatakan yang sebenarnya. ayah harap kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, agar tidak mudah terhasut oleh omongan orang lain." ujar Gunawan kemudian anak gadisnya itu nampak mengangguk paham.


"Iya ayah." jawab Arista.


Sementara Ibu mertuanya tak ikut menghadiri persidangan sebab tengah berada di luar negeri guna mengurus perusahaan milik mendiang suaminya yang berada di USA.

__ADS_1


🌹


🌹


🌹


Di tengah kebahagiaan yang kini tengah di rasakan oleh Gunawan sekeluarga, ada seorang wanita yang harus melakukan pemeriksaan di kantor polisi.


"Saya tidak bersalah pak, lepaskan saya!!." Sela berteriak seperti orang gila saat polisi menjebloskan dirinya ke dalam jeruji besi.


"Karena sikap Anda yang kurang kooperatif Nona, maka terpaksa kami harus menahan anda untuk beberapa waktu sebelum melakukan penyidikan lebih lanjut." kata polisi wanita yang menjebloskan Sela ke dalam jeruji besi.


"Argh,,,,Awas saja kamu Widia, aku pasti akan membalas semua ini padamu. akan ku pastikan hidupmu menderita." meski sudah berada di dalam jeruji besi, Sela masih nampak berteriak seperti orang kehilangan kewarasan. hingga membuat salah satu polisi membentak wanita itu, barulah ia berhenti berteriak.


"Diam!!." bentak salah satu anggota polisi yang geram dengan tingkah Sela.


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, kini Gunawan sekeluarga telah tiba di rumah, setelah sebelumnya menjemput Farhan di sekolahnya. pria kecil itu sengaja tak di beritahu jika selama sebulan terakhir ibunya mendekam di balik jeruji besi. Gunawan selalu beralasan jika ibunya sedang mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, sebagai anak di bawah dua belas tahun Farhan tak di izinkan dokter untuk menjenguk.


"Adik sangat merindukan mama. memangnya semua anak di bawah usia Dua belas tahun nggak boleh menjenguk ke rumah sakit ya mah??." mendengar pertanyaan putranya membuat Widia beralih menatap sang suami. dan Gunawan pun nampak mengangguk seolah paham dengan sorot mata istrinya.


"Maafkan mama sayang, sudah meninggalkan kamu selama ini." Widia memeluk erat tubuh putra yang begitu di rindukannya.


"Mama nggak perlu minta maaf sama adik, seharusnya adik yang minta maaf sama mama karena selama ini nggak bisa menjenguk mama di rumah sakit." jawab Farhan dengan polosnya.


"Iya sayang." sahut Widia terguguh menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan putranya.


Setelah puas melepas rindu Farhan kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya sekolah, sementara Gunawan serta Widia beranjak menuju kamar yang begitu di rindukannya, selama sebulan terakhir selama ia menginap di penjara.

__ADS_1


__ADS_2