
Gunawan mengajak Widia berkeliling dengan menggunakan mobilnya tanpa adanya tujuan pasti. Gunawan sengaja mengajak wanita itu agar bisa bicara berdua, meski hanya di dalam mobil saja.
Sebelum meninggalkan rumah sakit tadi Gunawan tak lupa mengirim sebuah pesan pada ibunya, dengan alasan mengantar Widia mencari makanan karena Widia sejak siang tadi belum makan.
Di dalam mobil nampak senyap tak ada terdengar bersuara, sampai dengan beberapa saat kemudian Gunawan mengutarakan niatnya ingin memiliki seorang anak dari Widia sehingga membuat wanita itu tersentak.
"Saya ingin memiliki seorang anak darimu, karena hanya itu cara untuk menyelamatkan nyawa Arista." entah kenapa mendengar permintaan Gunawan membuat perasaan Widia jadi bercampur aduk.
Jika ia menerima permintaan pria itu sudah pasti akan berdampak pada anaknya kelak, sebab lahir karena terpaksa oleh keadaan. namun jika ia menolak Sama artinya ia sudah menjadi ibu yang jahat bagi putri sambungnya Arista, sementara ia sendiri sudah begitu menyayangi gadis itu.
"Saya tidak sedang meminta persetujuan darimu, tapi saya hanya ingin memberi tahumu. jadi mau tidak mau kamu harus melahirkan seorang anak untukku. kamu tidak perlu berpikir yang aneh aneh, karena kita akan melakukan bayi tabung." jawaban Gunawan semakin meyakinkan Widia jika pria itu benar benar tak Sudi menyentuhnya bahkan demi keselamatan putri kesayangannya.
"Terserah mas saja, apa pun yang menjadi keputusan mas aku akan menurutinya." jawab Widia pasrah dengan genangan air mata yang kini mulai beranak sungai di pelupuk mata indahnya.
"Lagi pula mas sudah melakukan tugas mas sebagai ayah sambung putraku, kini giliran aku yang melakukannya untuk Arista." lanjut jawab Widia, mendengar jawaban dari wanita itu membuat Gunawan melirik ke arah Widia yang kini tengah menatap ke luar jendela kaca mobil.
"Maafkan saya Widia, saya tahu kamu pasti merasa jika saya hanya memperalat kamu, tapi saya tidak punya jalan lain lagi." dalam hati Gunawan saat melirik ke arah wanita itu.
"Kapan kita bisa memulai program bayi tabung itu??." tanya Widia tanpa memandang ke arah lawan bicaranya.
"Saya juga belum tahu kapan, tapi saya akan membicarakannya pada Beni. sebab Beni adalah seorang dokter spesialis kandungan, mungkin dia bisa sedikit membantu." jawab Gunawan kembali datar seperti biasanya.
"Sebaiknya kita segera kembali ke rumah sakit karena Arista menginginkan dirinya di rawat di rumah, maka sore ini juga kita akan membawanya kembali ke rumah." ucap Gunawan sembari memutar balik arah menuju rumah sakit.
__ADS_1
Setibanya di parkiran rumah sakit ibunya menghubungi Gunawan jika mereka sudah siap kembali ke rumah dengan peralatan lengkap rumah sakit yang akan di bawa serta ke kediaman mereka.
Kini sebuah mobil khusus di persiapkan pihak rumah sakit untuk mengantarkan putri dari pengusaha ternama, yang merupakan pemilik separuh saham di rumah sakit swasta tersebut.
Oma, Farhan, Beni serta beberapa orang perawat yang di tugaskan untuk merawat Arista berada di mobil yang mengantarkan gadis itu, sementara Gunawan yang kini berada di mobil bersama sang istri segera menyusul mobil tersebut.
Sesampainya di rumah Sebuah kamar lengkap dengan fasilitas rumah sakit, telah di persiapkan dua orang perawat sebelum kedatangan Arista di rumah. sehingga saat gadis itu tiba, para perawat yang di tugaskan pihak rumah sakit untuk merawat gadis itu segera membawa Arista ke kamar tersebut.
Melihat putrinya berbaring lemah di ranjang membuat hati Gunawan nyeri, seandainya saja penyakit itu bisa di pindahkan, maka ia akan meminta agar penyakit yang kini tengah di derita putrinya di pindahkan pada tubuhnya. karena ia tak tega melihat kondisi Arista saat ini.
Baru beberapa saat kembali ceria gadis itu harus kembali kehilangan senyum bahagianya, akibat penyakit yang menggerogoti tubuh gadis itu.
Kini Beni dan Gunawan duduk di sofa sementara Widia dengan sabar menyuapi putrinya itu. sampai Beni sendiri di buat kagum dengan sikap Widia yang nampak begitu menyayangi Arista, padahal gadis hanyalah anak sambungnya. menurut Beni, Gunawan merupakan pria beruntung karena bisa menikahi wanita seperti Widia.
"Ben, ikut aku sebentar!!." Gunawan mengajak Beni bicara di ruang kerjanya.
Setibanya di ruang kerjanya, Gunawan duduk di kursinya lalu menghela napas dalam kemudian menghembusnya perlahan seraya memejamkan matanya, sementara Beni yang kini duduk di sofa nampak memperhatikan sahabatnya itu.
"Ada apa kamu mengajakku ke sini??." Mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut membuat Gunawan perlahan membuka matanya.
"Aku yakin kamu pasti sudah tahu tentang penyakit yang di derita putriku." mendengar kalimat Gunawan membuat Beni mengangguk seperti membenarkan tebakan sahabatnya tersebut.
"Dan sebagai seorang dokter kamu juga pasti tahu bagaimana cara untuk menyembuhkan penyakit yang di derita putriku." Beni nampak kembali mengangguk untuk memberi jawaban pada Gunawan.
__ADS_1
"Jadi, sekarang jelaskan padaku apa saja yang menjadi ketentuan untuk melakukan bayi tabung??." pertanyaan sahabatnya tersebut membuat Beni tak habis pikir.
"Apa kamu sudah gila Gun, jika kamu melakukan bayi tabung sama halnya kamu sengaja menyinggung perasaan Widia sebagai istri kamu." kata Beni yang kurang setuju dengan keputusan Gunawan.
"Jadi menurutmu aku harus bagaimana, harus mengkhianati istriku Rahma dengan tidur dengan wanita lain begitu??." mendengar jawaban Gunawan membuat Beni menggeleng.
"Widia itu istri kamu Gun bukan wanita lain." jawab Beni yang hampir kehabisan akal mengahadapi sahabatnya tersebut.
"Tapi jika memang itu sudah menjadi keputusan kamu, aku juga tidak bisa menghalanginya. aku harap kamu sanggup melihat istrimu saat melakukan bayi tabung nantinya." mendengar itu membuat Gunawan mengeryit bingung.
"Apa maksud kamu??." tanya Gunawan yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Beni.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, silahkan kalian ke rumah sakit besok kita akan segera membicarakan tentang proses bayi tabung!!." ujar Beni sebelum meninggalkan ruangan kerja Gunawan.
Malam harinya saat kembali ke kamar, Gunawan tak melihat istrinya di sana. sehingga membuat pria itu menuju kamar Farhan untuk mencari keberadaan Widia. namun saat membuka pintu kamar anak itu, Widia tak nampak di sana. sehingga membuat pria itu berjalan menuju kamar putrinya yang bersebelahan dengan kamar putra sambungnya.
Saat tiba di sana Gunawan melihat sosok wanita yang sejak tadi di carinya tengah tertidur dengan berbantal lengan di samping ranjang putrinya.
Jujur setiap kali melihat kedekatan putrinya dengan Widia membuat Gunawan semakin kagum pada sosok wanita itu. namun saat bayangkan mendiang istrinya hadir di pikirannya, Gunawan segera menepis kekagumannya pada sosok Widia, wanita yang hampir sebulan dinikahinya.
Gunawan melangkah mendekati Widia kemudian mengguncang pelan bahu wanita itu sampai Widia mengerjapkan matanya.
"Sebaiknya kamu istirahat di kamar, biar aku yang menemani Arista di sini. lagi pula sudah ada dua orang perawat yang menjaga Arista." ujar Gunawan, meskipun dengan berat hati Widia meniggalkan anak gadisnya itu, namun sebagai istri dia juga harus patuh pada perintah suaminya.
__ADS_1
"Baik mas." jawab Widia kemudian berlalu meninggalkan kamar Gadis itu.