Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Pulang tepat waktu.


__ADS_3

Dua Minggu kemungkinan, setelah kembali dari kota B Gunawan hampir tak pernah lagi lembur untuk masalah pekerjaan, bahkan pria itu terkesan kembali ke rumah lebih awal. paling lembut pukul lima sore pria itu sudah kembali ke rumah, bukan hanya seorang Widia Saputri yang di buat heran namun sang ibu pun tak kalah herannya dengan perubahan jam pulang dari putranya tersebut.


Contohnya hari ini, Gunawan nampak bersiap kembali ke rumah padahal masih ada jadwal meeting dengan salah satu rekan bisnisnya. namun pria itu tetap memutuskan untuk segera kembali, dan meminta sekretarisnya untuk menjadwalkan kembali meetingnya besok pagi.


"Gisel tolong Kamu jadwalkan kembali pertemuan saya dengan tuan Samuel besok, karena sekarang sudah jam lima sore." titah Gunawan pada sekertarisnya seraya menatap ke arah arloji yang kini melingkar di pergelangan tangannya.


"Baik tuan." sejujurnya Gisel merasakan ada yang berbeda dengan atasannya tersebut selama dua Minggu terakhir, sebab semenjak kematian istrinya setahun yang lalu pria itu hampir tak pernah pulang tepat waktu, setiap harinya lembur, lembur dan lembur menjadi rutinitas pria itu.


Gisel menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan pimpinan, meski di dalam hati wanita itu sempat bertanya tanya, apa yang bisa membuat pria itu berubah hampir seratus delapan puluh derajat seperti sekarang ini.


"Jangan lupa katakan pada Gio untuk menungguku di parkiran, aku akan pulang bersamanya hari ini!!." belum habis dengan satu perubahan sikap bosnya kini wanita telah berdiri di ambang pintu tersebut kembali di kejutkan dengan permintaan bosnya yang ingin kembali disopiri oleh asisten pribadinya. padahal semenjak kematian istrinya setahun yang lalu bosnya itu juga tak bersedia di antarkan oleh siapapun termasuk Gio, bodyguard sekaligus asisten pribadinya.


"Baik tuan." meski merasa begitu penasaran, namun Gisel tak berani menanyakan perihal tentang itu.


Setelah benar benar keluar dari ruangan pimpinan, Gisel pun segera menyampaikan pesan bosnya pada pria yang biasa disapanya pak Gio tersebut.


"Pak Gio, Tuan Gunawan meminta anda untuk menunggu beliau di parkiran karena hari ini beliau ingin di antarkan oleh anda kembali ke rumah." tidak berbeda jauh dengan reaksi dari wanita bernama Gisel, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahunan tersebut juga merasa terkejut dengan permintaan bos mereka. meski begitu Gio tak banyak bertanya, ia langsung melaksanakan perintah yang di sampaikan Gisel tadi padanya.


Biasanya Gio selalu melakukan pengawalan pada Tuannya namun hal itu di lakukan Gio di mobil yang berbeda, Gio selalu membuntuti mobil tuannya dari belakang. karena tidak sopan rasanya jika mereka berada di dalam satu mobil, namun tuan Gunawan sebagai majikannya yang harus menyetir sendiri. itu sebabnya Gio selalu mengawal majikannya dengan mobil yang berbeda.


Beberapa saat berada di parkiran atau lebih tepatnya berdiri di samping mobil tuannya, Gunawan pun tiba dengan langkah penuh wibawa seperti biasanya.


"Maaf tuan, saya hanya melakukan perintah anda yang di sampaikan nona Gisel." Gio nampak menunduk hormat saat tuannya menghampiri.


"Ini." Gunawan menyerahkan kunci mobilnya pada Gio, dan pria itu pun menerimanya kemudian membukakan pintu mobil untuk tuannya, sebelum pria itu masuk ke mobil dan duduk di balik kemudi.


Tanpa banyak bertanya Gio menghidupkan mesin mobil kemudian perlahan menginjak pedal gas hingga mobil yang dikendarainya memecah padatnya jalanan ibu kota.


"Kemana saja Widia hari ini??." Gunawan yang tengah sibuk berkutat dengan ponselnya bertanya pada Gio yang kini tengah fokus menatap jalanan.


"Hari ini nyonya Pergi ke ruko setelah dari ruko nyonya Widia mampir sebentar di kontakan lamanya. yang saya lihat nyonya kesana untuk mengambil beberapa barangnya yang masih tersisa di kontrakan lamanya." terang Gio tentang hasil pengamatannya selama mengikuti istri tuannya secara diam diam.


"Pastikan Widia jangan sampai mengetahui jika selama beberapa Minggu terakhir kamu terus mengikutinya!!." titah Gunawan yang masih fokus menatap layar ponselnya.


"Tapi tuan, tadi saya hampir saja ketahuan oleh nyonya, karena kehadiran seorang pria di sana" ucapan Gio sontak membuat Gunawan beralih dari layar ponselnya.


"Apa pria itu Hardi." tebakan Gunawan mendapat anggukan dari Asisten pribadinya, Gunawan dapat melihat itu dari pantulan cermin spion.

__ADS_1


"Saya hampir saja ketahuan oleh Nyonya karena saya tidak tahan melihat pria itu seperti sedang memaksa nyonya untuk masuk ke dalam mobilnya, untung saja sahabat Nyonya yang bernama Putri itu segera tiba. kalau tidak mungkin saat itu saya sudah melanggar perintah anda , untuk tidak sampai ketahuan nyonya Widia." Gunawan nampak geram saat mendengar penjelasan dari pria itu.


"Tetapi anda tidak perlu khawatir tuan, karena saya memberinya pelajaran karena sudah berani bersikap seperti itu pada Nyonya Widia." Gunawan nampak tersenyum saat mendengar ucapan Gio.


"Pastikan setiap hari perhatian kalian tidak luput dari istriku, ikuti kemana pun dia pergi!!." Titah Gunawan sambil memikirkan sesuatu, yang menurut tebakan Gio sebagai asisten pribadinya selama lebih dari sepi tahun, bosnya tersebut sedang memikirkan sang istri. sebab ternyata sejak tadi pria itu terus memandang foto istrinya yang berada di ponselnya.


"Baik tuan." sahut Gio patuh.


Beberapa waktu di perjalanan, kini mobil yang di kendarai Gio tiba di kediaman bosnya.


Gio segera turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk tuannya.


"Kamu boleh pulang sekarang, jangan lupa untuk kembali menjemputku ke kantor besok!!." titah Gunawan kemudian di anggukan patuh oleh pria itu.


"Baik tuan." saat memastikan tuannya telah masuk ke dalam rumah, Gio pun kembali ke apartemennya untuk beristirahat untuk kembali beraktivitas besok.


"Anak anak ayah lagi ngapain nih??." ucap Gunawan ketika ia tiba di ruang keluarga mendapati Farhan dan Arista yang kini mulai bisa melakukan aktivitas meski masih dengan kondisi lemah.


"Ini nih yah, Farhan lagi lihat lihat pakaian bayi yang cantik buat adik kita nanti, soalnya kata kakak sebentar lagi kita bakalan punya baby dari mama." Arista mengatakan hal itu pada Adiknya Farhan, padahal ia sendiri belum bisa memastikan kapan calon adik mereka itu akan hadir dalam keluarga ini, sementara Gunawan langsung teringat akan sosok Widia.


"Mama lagi di kamar yah" kini Farhan yang terdengar menjawab pertanyaan dari Gunawan.


"Ya sudah kalau gitu kalian lanjutkan melihat pakaian baby-nya, ayah mau ke kamar dulu!!." Gunawan melangkah menapaki anak tangga menuju kamar mereka.


Saat Gunawan membuka pintu kamar, nampak Widia yang tengah memasukkan pakaian ke dalam lemari.


"Mas sudah pulang, sebentar mas aku buatkan teh manis dulu??." Widia menawarkan secangkir teh dan Gunawan pun nampak mengangguk, sebelum berlalu ke kamar mandi.


Setelah membuat secangkir teh manis, Widia kembali ke kamar dengan membawa sebuah nampan yang berisikan secangkir teh serta serta sepiring Kue buatannya pagi tadi.


Widia meletakkan secangkir teh serta sepiring Kue Brownies buatannya di atas meja kamar.


"Di minum tehnya mas mumpung masih hangat!!." ucap Widia pada Gunawan yang kini tengah duduk santai di sofa dengan mengenakan sebuah celana pendek serta baju kaos.


Gunawan kemudian meraih teh buatan sang istri, setelah beberapa kali menyesap teh hangat tersebut pandangan pria itu beralih pada sang istri yang kini tengah duduk berdampingan dengannya di sofa kamar.


"Dari mana saja kamu hari ini??." Tanya Gunawan seraya memandang ke arah Widia.

__ADS_1


"Tadi aku ke ruko setelah dari ruko aku mampir sebentar ke kontrakan lamaku mas, dan di sana aku tidak sengaja bertemu dengan mas Hardi." Widia sengaja mengatakan semua aktivasinya hari ini pada pria itu, karena Widia yakin jika suaminya tersebut akan mempertanyakan sesuatu yang ia sendiri sudah tahu pasti jawabannya.


"Owh,,,." sahut Gunawan seperti hari sebelumnya saat ia mempertanyakan perihal kegiatan Widia.


"Mas Gunawan pasti mengetahui aktivitasku hari ini, termasuk saat aku tak sengaja bertemu dengan mas Hardi di kontrakan." dalam hati Widia, saat melihat reaksi suaminya yang sama sekali tidak menampakkan wajah terkejut sama sekali.


"Untuk apa lagi dia menemuimu??." tanya Gunawan dengan nada santai namun terkesan menakutkan di mata Widia.


"Mas Hardi hanya mengatakan jika ia ingin bertemu dengan Farhan." Widia nampak berhati hati saat menjawab pertanyaan dari suaminya tersebut, takut pria itu malah salah paham.


"Sungguh mas, aku sama sekali tidak janjian dengan mas Hardi, aku sendiri juga tidak tahu kenapa sampai mas Hardi bisa tahu kalau hari ini aku akan mampir ke sana." lanjut Widia, sementara Gunawan tak berniat bertanya lagi karena pria itu percaya, bukan hanya karena mendengar penjelasan dari Widia, namun pria itu yakin karena asisten pribadinya, Gio senantiasa mengikuti istrinya kemanapun wanita itu pergi, tentu saja hal itu di lakukan Gio tanpa sepengetahuan istri dari tuannya.


Kini pandangan Widia mengikuti Suaminya yang tengah menyaksikan acara kuliner di TV.


"Mas." panggil Widia.


"Hemt." sahut Gunawan yang kini tengah melihat ke acara TV, bukan karena serius dengan acara tersebut namun pria itu malah asyik memikirkan sesuatu hanya pandangannya saja yang menatap layar TV namun tidak dengan hati dan pikirannya.


"Mas aku pengen makan itu deh!!." Gunawan seketika menoleh saat mendengar istrinya yang tengah menginginkan sesuatu.


"Memangnya kamu pengen makan apa??." tanya Gunawan heran, karena ini kali pertama Widia berani meminta sesuatu padanya.


"Itu mas." kata Widia seraya menunjuk ke layar TV yang menyajikan kuliner bakso malang.


Karena baru kali ini Widia berani mengutarakan permintaan padanya sehingga membuat Gunawan beberapa memandang wanita itu.


"Kalau nggak boleh juga nggak papa mas." Widia nampak menunduk karena berpikir suaminya tidak memperbolehkan.


Gunakan segera bangkit dari duduknya dan meraih salah satu kunci mobil miliknya yang lain, karena yang biasa digunakannya kini tengah di gunakan Gio untuk kembali ke apartemennya.


"Ayo!!." ajak Gunawan.


"Ayo kemana mas??." tanya Widia bingung.


"Katanya kamu mau makan bakso." lanjut Gunawan, mendengar ajakan Suaminya membuat sebuah senyum terukir di wajah cantik Widia.


Keduanya pun segera berlalu mencari penjual bakso, karena Widia menginginkan bakso yang di jual Abang Abang dengan menggunakan gerobak dorong, bukannya di restoran seperti yang di tawarkan Gunawan.

__ADS_1


__ADS_2