Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Melepas rindu.


__ADS_3

"Terima kasih mas, sudah menjaga Farhan dengan baik selama aku tidak ada di sisinya." ucap Widia yang kini tengah mengembalikan pakaiannya ke dalam lemari.


"Kenapa harus mengucapkan terima kasih, bukankah sudah menjadi tugas seorang ayah untuk menjaga anak anaknya." Widia sungguh merasa terharu dengan kalimat yang baru saja di ucapkan Gunawan. bagaimana tidak, sebagai seorang ayah sambung, kasih sayang Gunawan bahkan tidak kalah dengan kasih sayang seorang ayah kandung pada putranya.


Widia ikut dud jluk di tepi ranjang, tepatnya di samping sang suami.


"Maafkan aku mas." Gunawan menjadi heran saat tiba tiba istrinya tersebut meminta maaf.


"Minta maaf" Gunawan nampak mengeryit heran, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Memangnya kamu meminta maaf tentang apa sayang??." lanjut tanya Gunawan.


"Maaf karena aku tidak bisa menjaga calon anak kita dengan baik." ujar Widia dengan wajah tertunduk sedih, sehingga membuat Gunawan menghela napas dalam sebelum menimpali ucapan sang istri.


Sebelum berujar, Gunawan menengadahkan wajah sang istri yang kini tengah tertunduk sedih.


"Tidak perlu meminta maaf sayang, mas percaya kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang ibu, hanya saja takdir berkata lain. dengar sayang !! mas minta sama kamu, untuk tidak lagi membahas tentang itu, karena semua itu hanya akan membuat kamu kembali bersedih!!" kata pria itu menguatkan sang istri.


"Karena Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana caranya agar mas bisa kembali membuatmu mengandung." lanjut Gunawan dengan mengedipkan sebelah matanya, sehingga membuat raut wajah Widia berubah tersenyum akibat tingkah sang suami.


"Apaan sih mas." Widia nampak malu malu.


"Mas kangen banget sama kamu sayang, apa kamu nggak kangen sama mas??." pertanyaan Konyol macam apa ini, karena bagi Widia tak sehari pun berlalu tanpa ia merindukan sosok suaminya tersebut.


Widia mengusap lembut wajah klimis Gunawan yang nampak begitu tampan, sebelum menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat konyol.


"Mas tahu nggak, hampir setiap malam aku sulit memejamkan mata karena sangat merindukan mas Gunawan?? asal mas tahu, aku belum pernah merasakan perasaan seperti yang aku rasakan pada mas, bahkan dulu sewaktu bersama ayah kandungnya Farhan." Kini Widia mengungkapkan perasaannya pada sang suami, bahkan ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak di katakan. namun mau bagaimana lagi, itulah kenyataannya yang saat ini di rasakan wanita itu.

__ADS_1


Gunawan menatap lekat manik mata sang istri, tersirat jelas kejujuran di manik mata indah itu.


"Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mentakdirkan mas hadir di dalam kehidupanku." lanjut Widia dengan wajah berkaca kaca, karena jangankan memimpikan untuk bisa mendapat seorang suami yang nyaris sempurna seperti seorang Gunawan Wicaksono, membayangkannya saja Widia tidak berani ketika itu.


"Mas Juga sangat mencintaimu sayang." pelukan hangat yang begitu di rindukan keduanya, semakin lama semakin berubah menjadi pelukan mesra yang di sertai ciuman serta kerajinan tangan dari sang suami, sehingga memancing suara rintihan rintihan kecil yang semakin membuat Gunawan menginginkan hal lebih.


Kini pria itu nampak menuntun sang istri untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, sebelum ia mengungkung tubuh wanitanya tersebut, dengan lengan kekarnya sebagai penyangga.


Gunawan nampak bangkit sekejap guna menggulung kemeja yang kini di kenakannya hingga ke siku, sebelum kembali melanjutkan aktivitas yang telah lama di nantikan.


Keduanya terlihat begitu merindukan satu sama lain, terbukti Widia yang juga mampu mengimbangi permainan suaminya, dengan mulai melepas kancing kemeja yang di kenakan Gunawan. setelah sebelumnya sang suami yang lebih dulu melakukan hal yang serupa pada pakaiannya.


Sehingga keduanya terbuai dengan pergulatan panas yang bahkan sampai membuat Widia kesulitan saat berjalan menuju kamar mandi, hingga membutuhkan bantuan dari Sang suami untuk mengendong tubuh wanita itu hanya untuk sekedar membersihkan diri dari peluh.


"Sayang, sekarang sudah pukul tiga sore kita belum makan siang." kata Gunawan saat menyadari bahkan keduanya lupa makan siang tadi, ketika Gunawan kembali merebahkan tubuh sang istri di ranjang Usai membersihkan diri di kamar mandi.


"Sebentar, mas akan meminta Bi Inah Untuk membawakan makanan ke kamar, kamu pasti sangat lapar kan sayang??." Ujar Gunawan seraya mengelus lembut rambut panjang sang istri yang kini tengah berbaring di bawah selimut putih.


"Hemt." hanya itu yang bisa terlontar dari mulut Widia dengan wajah lelahnya.


"Apa kamu selelah itu sayang??." tanya Gunawan saat melihat raut wajah istrinya.


"Pertanyaan macam apa itu mas, bagaimana aku tidak lelah jika mas melakukannya beberapa kali. lelahnya saat ini bahkan mengalahkan lelahnya saat kerja bakti di lapas mas." seketika pria itu tersenyum tipis, karena bingung harus merasa kasihan atau lucu usia mendengar ucapan istrinya.


"Kamu bisa saja." ujar Gunawan, sebelum beranjak membuka pintu sebab terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.

__ADS_1


"Ini makanannya tuan." ternyata Bi Inah yang tengah mengantarkan makanan untuk keduanya.


"Maaf pak, apa ibu sedang sakit??." tanya bi Inah Khawatir sebab Gunawan hanya membuka setengah pintu kamarnya, apalagi sangat tidak biasa istri dari tuannya tersebut meminta di bawakan makanan ke kamar.


"Enggak kok bi, istri saya baik baik saja, hanya saja sedikit kelelahan usai olahraga." Usai menjawab Gunawan segera menutup kembali pintu kamarnya, setelah mengambil Alih nampan dari tangan bi Inah.


Di perjanjian kembali ke dapur, Bi Inah masih kepikiran dengan jawaban majikannya tadi.


"Sejak kapan ibu suka olahraga di kamar, bukannya biasanya ibu kalau olahraga di ruang khusus olahraga ya??." gumam bi Inah dengan polosnya, sampai wanita itu kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya.


***


"Sayang makan dulu, nanti kamu sakit kalau nggak makan!!." Gunawan mengusap lembut wajah istrinya dan beberapa saat kemudian wanita itu pun membuka matanya.


"Tapi Mas, aku ngantuk banget." ujar Widia dengan raut wajah yang terlihat begitu menggemaskan di mata Gunawan.


"Kamu mau milih makan atau mas yang akan memakan kamu??." seketika bola mata Widia terbuka sempurna, saat mendengar ucapan suaminya. bagaimana tidak, saat ini saja badannya serasa mau remuk akibat mengimbangi permainan suaminya tadi, sekarang pria itu bahkan mengancam akan melakukannya lagi jika ia masih kekeh menolak untuk makan.


"Baiklah mas." akhirnya Widia lebih memilih untuk menyantap makanannya, karena wanita itu kenal betul dengan watak suaminya, jika pria itu mengancam Sudah pasti tidak akan main main.


Gunawan nampak tersenyum saat melihat istrinya yang tengah menyantap makanannya, sementara ia sendiri lebih memilih untuk makan di meja makan saja, agar tidak mengurangi porsi makanan untuk sang istri tercinta.


"Ya Tuhan, aku sungguh tidak menyangka bisa tergila gila pada wanita ini." dalam hati Gunawan sewaktu menatap lekat wajah istrinya yang tengah menyantap makanan.


Tanpa sepengetahuan Widia, selama ia tak tidur di kamar itu, Gunawan pun tak pernah tidur di kamar tersebut, karena setiap kali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan ukuran king Size tersebut pria itu tak bisa memejamkan matanya, terus merindukan sosok istrinya. wanita yang setiap malam selama beberapa bulan terakhir selalu menemani malam malamnya.

__ADS_1


__ADS_2