
Gio yang mendapat lampu hijau terus melancarkan aksinya hingga suara de_sahan tanpa sadar keluar begitu saja dari mulut Putri, ketika Gio mere_mas salah satu aset berharga miliknya.
Di saat keduanya seakan berada di atas awan dan mungkin sebentar lagi akan menikmati indahnya Nirwana di saat yang bersamaan suara ketukan di balik benda persegi panjang membuat Putri nampak gelagapan berbeda dengan Gio yang nampak tenang sembari memandang ke arah pintu.
"Iya sebentar." jawab Putri yang kini menatap ke arah pintu sembari merapikan kembali rambut serta pakaiannya yang mulai tak karuan akibat ulah suaminya.
"Putri apa kamu baik baik saja nak, bibi bilang tadi kamu seperti sedang muntah muntah??." Suara ibunya Putri terdengar dari balik pintu.
Dengan langkah cepat Putri berjalan ke arah pintu kemudian membukakan pintu hingga menampilkan wajah ibunya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Ibunya selangkah maju saat pintu terbuka. "Apa benar kata bibi jika kamu muntah muntah??." tanya ibunya memastikan ucapan salah satu assisten rumah tangganya.
"I_tu Bu tadi." Putri nampak salah tingkah saat menjawab pertanyaan ibunya karena saat ini jantungnya masih berdetak tak menentu akibat ulah suaminya.
Gio melangkah mendekati Putri kemudian merangkul pinggang sang istri."Tidak apa apa kok Bu, putri cuma sedikit merasa mual saja." kini Gio yang ikut menimpali obrolan ibu dan anak tersebut.
"Astaga kamu mual nak...atau jangan jangan kamu lagi hamil nak??." Tebak ibunya dengan wajah berbinar sedangkan Putri menanggapi ocehan ibunya dengan wajah malas. " Ibu Gimana sih baru juga menikah beberapa hari masa sudah main hamil aja." jawab Putri dengan nada malas.
"Lagian bagaimana Putri bisa hamil kalau bahan bakunya saja belum di transfer sama mas Gio." dalam hati Putri dengan nada malas.
"Ibu kan cuma bertanya." jawab Ibunya Putri seolah tidak mau kalah. "Ya udah ibu mau lanjut masak buat makan malam di dapur, kalian istirahatlah!!." lanjut ibunya sebelum berlalu meninggalkan kamar anaknya.
Gio nampak tersenyum saat melihat raut wajah istrinya yang kini berubah bete akibat mendengar pertanyaan ibunya yang selalu saja sama padahal mereka baru saja menikah beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Apa kamu tidak berniat melanjutkan yang tadi??" tanya Gio dengan nada menggoda. sehingga membuat pria itu mendapat cubitan di perutnya.
"Awwwwghhh." sakit sayang. panggilan baru Gio membuat wajah Putri merona di tambah lagi dengan detak jantungnya terdengar berdebar tak menentu. Putri memalingkan wajahnya dari Gio dirinya tak ingin Gio melihat rona di wajahnya. tapi sepertinya usaha Putri sia sia karena Gio dapat melihat gurat merah di wajah istrinya.
Gio mengusap gemas rambut sang istri. "Mas tidak akan memaksamu sayang, Mas akan sabar sampai kamu siap memberikan hak mas sebagai suami." ucap Gio. tak ada raut kecewa di wajah pria itu yang ada hanya ketulusan.
"Lagi pula menurut mas menikah bukan hanya semata mata karena se_ks yang terpenting dalam sebuah pernikahan adalah ketulusan di antara pasangan suami istri." lanjut Gio sebelum beranjak mengambil laptop miliknya yang di letakan di atas nakas.
"Ya Tuhan ternyata ini alasannya engkau membuatku menunggu. terima kasih ya Tuhan karena telah memberikan aku jodoh seperti mas Gio, maaf jika selama ini dalam doaku terkadang aku protes." dalam hati Putri. wanita itu menatap sang suami yang kini tengah sibuk menatap layar laptopnya.
Gio sibuk memeriksa pekerjaan di laptopnya. meskipun tak berada di Jakarta namun Gio tetap melaksanakan kewajibannya sebagai asisten pribadi tuan Gunawan dengan baik.
Gio nampak menarik napas panjang usai memeriksa satu email dari salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik Gunawan. "Sepertinya aku harus segera kembali ke Jakarta." gumam Gio setelah mengingat jika di pertemuan tersebut ia harus hadir menemani tuannya, Gunawan.
Setelah beberapa saat Gio pun menutup laptopnya dan kembali menyimpan benda itu di atas nakas, sebelum ia ikut bergabung di atas ranjang bersama istrinya.
Gio nampak diam sehingga membuat Putri bertanya atas perubahan sikap suaminya itu usai berkutat dengan laptopnya.
"Ada apa mas??." tanya Putri dengan dahi yang nampak berkerut.
"Jika kita kembali ke Jakarta lebih awal apa kamu tidak akan keberatan??." tanya Gio usai menimbang nimbang dengan matang.
"Jika itu ada hubungan dengan pekerjaan kami aku tidak keberatan mas, lagi pula kita bisa main ke sini lagi jika kamu ada waktu." jawab Putri bijak. Gio nampak tersenyum mendengar jawaban Putri begitu pun dengan Putri yang ikut tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." ucap Gio sambil meraih tubuh sang istri ke dalam dekapannya.
Saat makan malam Gio mengemukakan niatnya untuk segera kembali ke Jakarta kepada mertuanya. meski merasa sungkan karena mereka baru menikah beberapa hari, namun Gio tetap harus segera kembali ke Jakarta. meski berat namun kedua orang tua Putri tetap setuju dengan keputusan menantu mereka.
Pagi harinya Gio dan Putri telah siap dengan dua koper besar hendak kembali ke Jakarta dengan menggunakan mobil Gio. Gio memilih menyetir sendiri.
"Ingat nak.. sekarang kamu bukan anak gadis lagi ada nak Gio yang sudah menjadi suami kamu. sebagai seorang istri kamu harus patuh serta siap melayani kebutuhan suami kamu, jangan membuat kami malu dengan sikap kamu yang tidak patuh pada suami!!." Nampak ibunya Putri tengah memberikan wejangan pada Putrinya.
Gio tahu jika saat ini ibu mertuanya tersebut merasa sedih karena harus kembali terpisah dari putri semata wayangnya, terbukti saat berbicara kedua mata wanita itu nampak berkaca kaca.
"Gio janji Bu jika Gio ada. waktu luang, Gio akan sering sering mengajak Putri kembali ke sini." ucap Gio dan ibu mertuanya nampak mengangguk sebagai jawaban.
"Ibu Titip Putri ya nak Gio.... tolong jaga dan sayangi anak ibu, jangan sakiti hati anak ibu." pesan dari ibunya membuat Putri tak sanggup menahan air matanya. "Ibu." Putri memeluk erat tubuh ibunya, tubuh wanita yang telah melahirkan serta merawatnya hingga dewasa.
Ayahnya Putri yang sejak tadi lebih banyak diam kini mulai berpesan pada menantunya.
"nak Gio, Ayah titip anak ayah satu satunya pada kamu. tolong jaga dia agar selalu berjalan di jalan yang Allah ridhoi." ayahnya Putri nampak menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Jika suatu hari Nanti kamu sudah tak lagi mencintainya tolong kamu kembalikan dia secara baik baik pada ayah sama seperti saat kamu memintanya baik baik untuk menjadi istri kamu." lanjut ayahnya Putri dengan mata berkaca-kaca.
Gio bisa merasakan betapa besarnya kasih sayang kedua mertuanya pada sang istri.
"Selama tuhan masih mengizinkan saya untuk bernapas, selama itu juga saya akan berusaha menjaga dan mencintai anak ayah dengan sepenuh hati. dan terimakasih karena telah memberikan kesempatan untuk saya bisa menjadi pendamping hidup untuk putri kesayangan ayah dan ibu." jawab Gio. sedangkan Putri kini nampak mengurai pelukan ibunya dan berganti memeluk ayahnya.
"Ayah..." Putri memeluk ayahnya. wanita itu bisa merasakan betapa besarnya kasih sayang kedua orang tuanya terhadap dirinya.
__ADS_1