Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Pingsan.


__ADS_3

Usai makan siang mereka kemudian kembali ke rumah.


Arista dan Farhan segera menemui sang Oma yang kini tengah bersantai di kamar, sementara Gunawan nampak menyusul langkah Widia menuju kamar mereka.


Setibanya di kamar, Widia yang hendak memasuki ruang ganti kini menoleh saat mereka seruan suaminya.


"Tunggu." Widia sontak menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suaminya.


"Iya mas." sahut wanita itu.


Bukannya menjawab Gunawan malah mengulurkan tangannya seperti sedang meminta sesuatu pada wanita itu.


"Ada apa mas??." tanya Widia yang nampak bingung melihat uluran tangan suaminya yang mengarah padanya.


"Berikan ponsel milikmu!!." titah pria itu dengan sorot mata sulit di artikan.


Masih dengan Raut wajah bingung Widia meraih ponselnya dari dalam tas jinjing miliknya kemudian menyerahkannya pada Gunawan.


"Memangnya ada dengan ponselku mas??." dengan mengumpulkan seribu keberanian dalam dirinya Widia bertanya pada pria yang kini nampak mengutak ngatik ponsel tersebut.


"Bukankah aneh jika seorang istri tidak memiliki nomor kontak suaminya." jawab pria itu Dengan nada datar seraya berkutat dengan ponsel milik istrinya.


Mendengar itu Widia hanya mengangguk paham sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti.


Lagi lagi Widia menghentikan langkahnya saat pria itu kembali bertanya sesuatu padanya.


"Apa nomor kontak Bosku yang tersimpan di ponselmu adalah nomor kontak pria itu??." pertanyaan Gunawan dengan nada dingin membuat Widia seolah membeku.


"Pria itu,apa tadi mas Gunawan melihat aku tak sengaja bertemu dengan pak Ridwan??." dalam hati Widia yang kini nampak gelisah padahal ia sama sekali tidak berbuat kesalahan.

__ADS_1


"Jawab!!." lanjut titah pria itu masih dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Iya mas, itu nomor kontak pak Ridwan mantan bos aku dulu saat bekerja di restoran tempat kita makan siang tadi." jawab Widia jujur.


Mendengar jawaban dari wanita itu membuat Gunawan langsung menekan tombol delete pada kontak tersebut, sebelum mengembalikan ponsel tersebut pada empunya.


Widia kemudian mengambil ponselnya yang kini di serahkan Gunawan padanya.


Widia Masih bertanya tanya dalam hati apa sebenarnya maksud pria itu meminta ponselnya, sampai dengan jawaban pria itu membuat Widia paham maksud dari pria itu meminta ponselnya.


"Pria itu bukan lagi bos kamu jadi tidak perlu lagi menyimpan kontak pria itu di ponsel kamu!!" mendengar itu Widia lalu memeriksa Kontak atas nama Bosku, dan ternyata kontak tersebut telah terhapus. Widia yakin itu pasti ulah suaminya, namun yang Widia tidak mengerti mengapa pria itu sampai harus melakukan hal itu. padahal bagi Widia sendiri pak Ridwan hanyalah seorang mantan bosnya. dan mungkin tidak akan pernah menghubungi pria itu lagi atau bahkan untuk selamanya.


Setelah mencerna sikap suaminya, Widia yakin jika tadi pria itu melihatnya bertemu dengan mantan bosnya.


" Jika tadi mas Gunawan melihatku tidak sengaja bertemu dengan pak Ridwan, apa tadi mas Gunawan juga melihat pak Ridwan spontan menggenggam tanganku??." dalam hati Widia mulai nampak Khawatir, takut jika pria itu akan mengamuk.


"Kenapa aku harus takut, lagipula aku tidak melakukan sesuatu yang di luar batas. aku hanya tak sengaja bertemu dengan pria itu di sana, lagi pula restoran itu milik pak Ridwan jadi wajar jika beliau ada di sana. lagi pula kenapa mas Gunawan harus marah, bukankah dia tidak peduli padaku. bahkan di dalam surat perjanjian itu jelas jelas tidak boleh ikut campur urusan pribadi masing masing." lanjut batin Widia seraya Menganti pakaiannya dengan dres rumahan, sementara Gunawan tengah mandi.


Widia yang kini tengah fokus mencari informasi tersebut tiba tiba kehilangan fokus saat Gunawan yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya melintas di hadapan wanita itu.


"Aku tahu kalau aku ini seksi, tapi jangan sampai segitunya memandangiku!!." teguran Gunawan seketika menyadarkan Widia yang sempat beberapa saat memandang ke arah pria itu.


Mendengar teguran dari pria itu membuat Widia seketika mengalihkan pandangannya ke sembarang arah karena salah tingkah, seperti seorang maling yang tengah tertangkap basah. sementara Gunawan yang menyadari istrinya tersebut salah tingkah tak sadar menarik ke atas sudut bibirnya.


"Jika di perhatikan wanita ini nampak begitu cantik dan menggemaskan, seandainya saja kamu adalah Rahma mungkin aku tak akan sanggup menahan birah*ku ." tanpa sadar Gunawan membatin seraya terus memperhatikan istrinya.


Sedang asyik dengan lamunannya, seketika Gunawan tersadar kala Widia memanggilnya.


"Mas,,,mas,,,,." panggil wanita itu saat melihat suaminya asyik tersenyum sendiri sembari terus memandang ke arahnya.

__ADS_1


"Iy iya ada apa??." sahut Gunawan gelagapan, kini giliran pria itu yang nampak salah tingkah.


"Mas Boleh nggak aku tetap melanjutkan usahaku berjualan online??." tanya Widia hati hati, tidak ingin merubah suasana hati Pria itu.


"Bukankah sudah saya katakan bahwa saya akan menanggung biaya hidup kamu sebagai seorang suami." jawab pria itu dengan kembali menampilkan raut wajah datar.


"Tapi mas, aku ingin tetap melanjutkan usaha yang telah ku rintis dari nol." jawab Widia memberanikan diri.


"Lagi pula aku juga harus tetap terbiasa menghidupi diriku sendiri serta putraku, jadi jika suatu saat nanti tiba saatnya mas menceraikan aku, aku tidak akan mengemis di jalanan untuk menghidupi putraku." entah kenapa mendengar wanita itu mengucapkan kata cerai, membuat hati pria itu terasa nyeri.


Beberapa saat nampak diam tak ada lagi yang bersuara, sampai dengan Gunawan kembali membuka obrolan.


"Tidak perlu berpikir sejauh itu, lagi pula saya belum pernah bilang akan segera menceraikanmu!!." mendengar kalimat suaminya membuat Widia tersenyum getir.


"Mungkin saat ini belum, tapi itu pasti akan terjadi mas. saat di mana aku harus kembali menjanda, mulai dari sekarang aku harus siap sampai dengan saat itu tiba" sahut Widia di sisa senyum getirnya, sehingga membuat Gunawan tak dapat lagi menimpali ucapan wanita itu.


Suasana di kamar tersebut kembali nampak sepi, sampai suara teriakan Farhan memecahkan keheningan karena pintu kamar itu tak tertutup sempurna.


"Ayah,,,mama,,,,kakak,,,kakak,,,,." Farhan yang berlari ke kamar kedua orangtuanya nampak begitu panik, sampai anak itu berbicara terbata bata.


"Ada apa dek, sebaiknya kamu tenang dulu, memangnya apa yang terjadi dengan kakak??." Gunawan yang kini menghampiri anak itu berusaha menenangkannya agar dapat menyelesaikan kalimatnya.


"Itu yah, kakak pingsan di kamarnya." mendengar ucapan Farhan membuat Gunawan lantas berlari menuju kamar anak gadisnya itu dengan wajah tak kalah paniknya dengan wajah Farhan barusan. Widia pun segera menyusul langkah suaminya, tidak berbeda jauh dengan sang suami kini wajah Widia juga nampak begitu panik.


Saat berada di depan pintu kamar gadis itu, Gunawan di suguhkan dengan pemandangan putrinya yang tengah tergeletak di lantai kamar.


"Sayang, kamu kenapa nak?? bangun Arista jangan bikin ayah takut sayang!!." Gunawan nampak menepuk nepuk pelan pipi putrinya namun sampai dengan beberapa kali pria itu melakukannya gadis itu tak juga sadar, sehingga membuat pria itu segera menggendong tubuh putrinya dan melarikan gadis itu ke rumah sakit.


Gunawan nampak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara tubuh Arista yang di baringkan di bangku belakang dengan berbantalkan paha Widia.

__ADS_1


"Kak bangun sayang, jangan bikin kita semua ketakutan seperti ini anak mama sayang." ucap Widia sembari mengelus lembut pipi gadis itu, namun karena gadis tak juga membuka matanya, Widia pun kembali bersuara sementara Gunawan nampak fokus menyetir.


"Memangnya kakak udah nggak sayang lagi ya sama mama." lanjut wanita itu saat putri sambungnya tak kunjung membuka mata, sehingga membuat wajah Widia kini mulai berurai air mata.


__ADS_2