Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Kembali bersikap dingin.


__ADS_3

Usai persidangan siang tadi, Gunawan kembali ke kantor setelah lebih dulu mengantarkan Widia dan Farhan kembali ke rumah.


Hari ini sama seperti di mana ia belum menikahi Widia, Gunawan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. sehingga Putri yang melihat hal itu jadi kepikiran dengan sahabatnya, Widia.


"Kamu sedang apa di sana Wid, apa tuan Gunawan memperlakukan kamu dengan baik??." dalam hati Putri, yang malam ini sedang lembur. saat itu Putri melintas di depan ruangan pimpinan namun lampu di ruangan tersebut masih nampak menyala, padahal sekarang sudah pukul sebelas malam.


Walaupun hal itu sudah menjadi pemandangan setiap kali Putri lembur, namun menurut wanita itu bukankah seorang pria yang baru saja menikah seharusnya pulang tepat waktu.


Putri yang masih berdiri tidak jauh dari pintu ruangan pimpinan, segera bersembunyi di balik dinding, saat mendengar suara pintu hendak di buka dari dalam.


Dari balik dinding Putri yang masih setia mengintip tersebut melihat bosnya seperti hendak kembali ke rumah, terbukti saat putri melihat Gunawan menggenggam kunci mobilnya.


Meski memiliki sopir pribadi, namun Bosnya itu lebih suka mengemudikan mobilnya sendiri. entah apa yang menjadi alasan pria itu kerap mengemudikan mobilnya sendiri tanpa di bantu oleh sopir pribadi, Putri pun tak tahu pasti. hanya saja kabar yang berhembus di perusahaan, sejak kematian istrinya pria itu sangat jarang di antar jemput oleh sopir pribadinya.


Beberapa saat setelah mobil Gunawan berlalu meninggalkan perusahaan, Putri pun ikut bersiap kembali ke rumah, berhubung semua pekerjaan telah selesai di kerjakan wanita itu.


***


Sementara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Widia nampak duduk di meja makan. sudah hampir tiga jam usai menyajikan makan malam sampai makanan tersebut pun dingin, namun sang suami tak kunjung tiba.


Malam ini Widia sengaja tidak ikut makan malam bersama ibu mertua serta kedua anaknya. wanita itu sengaja menunggu kedatangan suaminya, karena menurut Widia apapun alasan mereka sampai dipersatukan dalam ikatan pernikahan, namun kini Gunawan tetaplah suaminya yang sah, sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri, untuk menunaikan kewajibannya termasuk menunggu untuk makan malam.


Barulah setelah setengah jam kemudian Gunawan tiba di rumah. saat pria itu tiba rumah sudah sepi.


"Apa mereka sudah tidur??." gumam Gunawan saat berada di ruang keluarga, namun saat hendak beranjak ke kamar, Gunawan mampir sebentar ke dapur untuk mengambil segelas air karena merasa tenggorokannya kering.namun saat melintas di meja makan, pria itu tidak sengaja melihat seseorang yang tengah tertidur dengan beralaskan lengannya di meja makan.


"Widia, apa dia sedang menungguku??." tebak Gunawan, sebab pria itu melihat begitu banyak menu yang tertata rapi di meja makan.


"Eehem." Gunawan nampak berdehem, untuk membangunkan Widia yang tengah terlelap dengan beralaskan lengannya di meja makan.


Meski sudah sah menjadi istrinya dan berhak menyentuh wanita itu, Gunawan tidak melakukannya. pria itu tidak ingin Widia berpikir jika dirinya lancang, apalagi menyentuh wanita itu dalam keadaan tidak sadar.

__ADS_1


"Maaf mas tadi aku ketiduran." ucap Widia dengan suara berat khas Bangun tidur.


"Mas mau makan dulu atau mandi dulu??." dengan perasaan canggung, Widia memberanikan diri bertanya, pada pria yang kini kembali memperlihatkan wajah datar seperti biasa.


"Ada apa dengan mas Gunawan??." batin Widia bingung, sebab siang tadi wajah pria itu nampak begitu hangat saat di pengadilan, tapi mengapa malam ini sikap datar bahkan terkesan dingin dari pria itu seakan kembali membekukan setiap sudut hati Widia.


Kini Widia nampak menunduk, sebab sejak tadi Gunawan tak sekalipun menjawab pertanyaan darinya. sampai dengan beberapa saat kemudian, Widia baru kembali mengangkat wajahnya saat mendengar tebakan suaminya.


"Kamu sendiri pasti belum makan malam kan??." pertanyaan Gunawan mendapat gelengan dari Widia, sehingga membuat pria menghela napas dalam.


"Lain kali tidak perlu menungguku karena aku pasti akan terlambat kembali ke rumah, sebab masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. sebaiknya kamu segera makan malam bersama yang lainnya dan tidak perlu lagi menungguku!!." mendengar jawaban Gunawan entah kenapa Widia merasa kecewa, meski begitu, wanita itu tetap berusaha bersikap seperti biasa, Widia sama sekali tidak menampakkan raut wajah kecewa didepan suami barunya tersebut.


Tanpa menunggu lama Gunawan pun segera menarik sebuah kursi kemudian mendudukinya, sementara Widia masih nampak berdiri mematung.


"Duduklah, bukankah kamu menungguku untuk makan malam!!." ucap Gunawan sebelum hendak mengisi piringnya yang masih kosong. namun saat tangan pria itu hampir meraih sendok nasi, tiba tiba tangan Widia lebih dulu mendarat guna meraih sendok nasi tersebut, sehingga membuat Gunawan memandang ke arahnya.


"Apa aku boleh melayani mas??." tanya Widia saat pandangan Gunawan tertuju padanya, kemudian pria itu pun mengangguk tanda setuju.


"Terima kasih mas." ucapan Widia sontak membuat pandangan Gunawan beralih padanya.


"Terima kasih untuk apa??." tanya pria itu dengan raut wajah datar seperti biasa.


"Terima kasih karena mas sudah banyak membantu aku dan putraku, kalau bukan karena mas mungkin sekarang aku dan Farhan sudah hidup terpisah" jawab Widia.


"Tidak perlu berterima kasih, bukankah tujuan kita menikah memang untuk itu." ucapan Gunawan kembali mengingatkan Widia tentang tujuan pernikahan mereka, sehingga membuat wanita itu sadar jika perkataan Putri selama ini bukanlah isapan jempol belaka. Gunawan Wicaksono memang seorang pria dengan pendiriannya yang teguh, tetap setia pada seorang wanita yang kini telah beristirahat dengan tenang di surga.


"Saya sudah melakukan tugasku, jadi sekarang saya berharap kamu juga melakukan tugasmu dengan baik, jadilah ibu sambung bagi putriku sampai waktu yang belum di tentukan." jawaban pria itu kembali menyadarkan Widia, jika ia tidak boleh berharap lebih dari pria itu. dan Widia juga bisa menebak jika suatu saat nanti ia pasti akan kembali menyandang status janda, sama seperti sebelum ia menikah dengan duda tampan itu.


Setelah usai makan malam Gunawan segera kembali ke kamar sementara Widia mencuci piring bekas makan keduanya. meski rumah itu mempunyai banyak asisten rumah tangga, namun tidak membuat Widia yang terbiasa melakukan semuanya sendiri lantas berubah menjadi manja.


Ketika merebahkan tubuhnya di ranjang usai mandi, Gunawan kembali teringat akan ucapan sahabatnya, Beni.

__ADS_1


Flashback On


Saat di kantor usai menghadiri persidangan, entah kenapa Gunawan terus teringat wajah istri barunya itu, sampai kedatangan sekretarisnya ke dalam ruangan kerjanya pun tak di sadari oleh pria itu.


Menyadari jika kini dirinya mulai terkontaminasi oleh sosok Widia, Gunawan pun segera memusatkan pikirannya kembali pada kenangan indah saat bersama mendiang istrinya. saat saat indah di mana keduanya berjanji untuk sehidup semati sampai maut memisahkan.


Mengingat kembali semua kenangan manis itu, membuat Gunawan tak sadar kembali menitihkan air mata.


"Aku tidak boleh mengkhianati cinta mendiang istriku, hanya dia yang akan ada di dalam hatiku sampai kapanpun." gumam Gunawan di sela tangisnya.


Sampai dengan beberapa saat kemudian Gunawan nampak mengusap wajahnya, saat menyadari Beni yang merupakan Sahabatnya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas tersebut masuk ke ruangan kerjanya.


Sebagai sahabat, Beni kenal betul dengan watak sahabatnya itu, pria yang tidak mudah jatuh cinta pada seorang wanita.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk??." ketus Gunawan.


"Mau sampai kapan kamu akan terus seperti ini??." bukannya marah dengan ucapan Ketus Gunawan, Beni justru balik bertanya. karena seperti biasa saat Gunawan tak mengangkat telepon darinya, sudah pasti sahabatnya tersebut tengah teringat mendiang istrinya, Rahma, seorang wanita cantik yang telah memberikan Gunawan seorang Anak perempuan.


"Itu bukan urusanmu." jawaban Gunawan masih sama ketusnya, sehingga membuat Beni menghela napas panjang lalu menghembuskan nafasnya perlahan.


"Aku tahu Gun itu memang bukan urusanku, tapi sedikit banyak aku ambil andil dalam memberi informasi tentang wanita yang kini telah engkau nikahi. jika engkau berbuat zholim padanya, sudah pasti aku pun ikut menanggung dosa." Sebagai seorang sahabat Beni mencoba mengingatkan Gunawan.


"Bagaimana bisa kau mengatakan jika aku berbuat Zholim pada Widia, sedangkan aku telah memenuhi semua kebutuhannya." jawab Gunawan tak mau kalah.


"Ingat Gun, kewajiban seorang suami bukan hanya memenuhi kebutuhan istrinya secara materi, tapi sebagai seorang suami kita juga berkewajiban menjaga perasaan pasangan kita." lanjut Beni menasehati Gunawan.


"Tapi semua itu kembali lagi padamu, sebagai sahabat aku hanya bisa mengingatkan, agar kau tidak menyesal suatu saat nanti. karena sama seperti Rahma, Widia juga istrimu, sebagai seorang istri tentunya wanita itu juga berharap mendapat kasih sayang dari suaminya." ucap Beni sebelum berlalu meninggalkan ruangan Gunawan.


Mendengar nasehat Beni membuat Gunawan jadi bingung sendiri, bagaimana harus memperlakukan Widia yang notabennya telah menjadi istri sahnya, menggantikan posisi Rahma yang kini telah meninggal dunia.


Sampai dengan pukul sebelas malam Gunawan pun segera memutuskan kembali ke rumah.

__ADS_1


Flashback off.


__ADS_2