
Hari ini keluarga Gio kembali ke Jakarta setelah menghadiri pernikahan putra mereka dua hari yang lalu.
Gio, Putri serta kedua orang tua Putri mengantarkan besan yang hendak kembali ke Jakarta.
Ibu mertuanya memeluk Putri dengan penuh kasih sayang.
"Ibu berharap kalian secepatnya memberikan ibu dan ayah seorang cucu." dengan mengukir sebuah senyuman ibunda Gio berkata, sehingga membuat wajah Putri nampak malu malu sementara Gio hanya tersenyum.
"Gio ayah dan ibu pergi dulu, jadilah suami serta pemimpin yang baik dalam rumah tangga kalian!!." ujar ayahnya Gio ketika hendak masuk ke mobil, setelah bersalaman dengan kedua besannya.
"Baik ayah." jawab Gio
Kedua orang tua Gio pun kembali ke Jakarta, sementara Gio dan Putri akan kembali ke Jakarta seminggu kemudian karena masih ada sisa cuti beberapa hari lagi.
***
Sore harinya Putri mengajak Gio mengunjungi pabrik konveksi milik ayahnya.
"Lima tahun yang lalu aku terakhir datang ke sini." ujar Putri di sela langkahnya berkeliling pabrik.
"Kenapa kamu lebih memilih berkarir di Jakarta ketimbang mengurus pabrik ayah di sini??." tanya Gio yang berjalan di belakang istrinya.
"Sebelum pindah ke kota ini kami dulu berdomisili di Jakarta, hanya seminggu sekali ayah datang ke sini untuk menengok pabrik karena ayah mempercayakan semuanya kepada salah satu sahabatnya untuk mengurus pabrik." jawab Putri yang kini menghentikan langkahnya kemudian duduk di sebuah bangku di kawasan pabrik.
"Kenapa kamu tidak ikut pindah bersama ayah dan ibu ke sini??." pertanyaan Gio kali ini membuat Putri menghela nafas panjang seolah teringat sesuatu.
"Aku bersahabat dengan Widia sudah sejak lama, semenjak Widia menikah dengan ayah kandungnya Farhan dulu, dia tak pernah di perlakukan dengan baik oleh suaminya maupun ibu mertuanya, sehingga membuat aku tidak tega meninggalkan Widia begitu saja saat itu. ayahnya Farhan sangat egois dia sangat membatasi kegiatan Widia di luar rumah, bahkan untuk bertemu pun kami harus kucing kucingan saat itu, karena jika sampai mas Hardi tahu maka Widia pasti akan mendapat amukan dari pria itu." dari sorot matanya saat berbicara, Gio bisa menebak jika istrinya itu sangat menyayangi sahabatnya, Widia.
__ADS_1
"Sampai suatu saat Widia datang padaku dan berkata jika ia dan ayahnya Farhan telah bercerai, sejak itu aku merasa semakin iba pada Widia. jangankan untuk memikirkan untuk meninggalkannya seorang diri dalam kesulitan membuka hati untuk seorang pria pun aku tidak punya waktu rasanya." lanjut Putri mengisahkan persahabatannya dengan Widia.
"Apa yang membuat kamu begitu sayang padanya??." seolah bisa menebak ada sesuatu di balik besarnya rasa sayang Putri pada Widia, Gio pun melontarkan pertanyaan demikian.
Putri nampak diam sejenak, seolah mencoba mengingat sesuatu.
"Saat masih duduk di bangku SMP dulu, aku hampir pernah mengalami kejadian penculikan yang di lakukan oleh rival bisnis ayah. kalau saja saat itu Widia diam saja tidak nekat menolongku mungkin saat ini Putri hanya tinggal nama saja." dari pengakuan Putri, Gio bisa mengerti mengapa istrinya begitu menyayangi sahabatnya.
"Sudahlah, sebaiknya kita tidak membahas tentang hal itu." Ujar Putri seraya kembali menampilkan senyum yang beberapa saat lalu sempat menghilang kala wanita itu menceritakan kisah persahabatan dengan Widia.
Putri baru menyadari jika saat ini suaminya menjadi pusat perhatian para karyawati, terutama mereka yang masih single. tidak bisa di pungkiri wajah tampan serta tubuh Gio yang seksi di balik kaos putihnya membuat yang memandang seperti terhipnotis.
Dengan senyum yang sedikit di paksakan di arahkan putri kepada beberapa karyawati yang saat ini memandang kagum ke arah suaminya, begitu pun Gio, pria itu membalas dengan senyuman tipis.
"Permisi." Ucap Putri sebelum menarik tangan suaminya masuk ke dalam ruang kerja ayahnya yang saat ini tak berpenghuni.
"Senangnya yang jadi pusat perhatian." Sindir Putri dengan wajah dongkol, sementara Gio hanya menanggapi sindiran Putri dengan senyum manisnya.
Putri melangkah hendak membuka gorden jendela, namun langkahnya terhenti saat Gio mencekal lengannya.
"Kenapa kamu cemburu??." tebak Gio dengan sorot mata berbinar.
"Siapa juga yang cemburu." Sangkal Putri sebelum menepis pelan cekalan tangan Gio pada lengannya. namun belum Putri berhasil Melani langkahnya, Gio lebih dulu memeluk tubuh Putri dari belakang.
"Kalau cemburu juga tidak masalah." ujar Gio seraya menyandarkan dagunya di bahu Putri. kini posisi keduanya begitu dekat, sampai putri merasa jantungnya seperti ingin meledak rasanya, apalagi saat ini Gio mulai mengelus lembut perut rata miliknya.
"Sabar ya sayang, ayah masih menunggu bunda kamu siap dulu biar kamu segera hadir di sini." Gio berkata sembari mengelus perut rata milik Putri, sebelum Gio membalikkan tubuh Putri agar mengarah padanya.
__ADS_1
"Cup." sebuah kecupan lembut mendarat di kening Putri, sebelum Gio membawa Putri ke dalam hangatnya dekapannya.
"Maaf karena secara tidak langsung sudah membuat istriku cemburu, tetapi aku senang karena itu artinya istriku menyayangiku." ucapan Gio mendapatkan cubitan kecil di perutnya.
"Awh... sakit sayang." Gio pura pura meringis kesakitan padahal pada kenyataannya cubitan Putri sama sekali tidak terasa sakit.
"Habis kamu sih." ucap Putri dengan wajah kesal.
Gio meletakkan kedua tangannya di bahu Putri, keduanya saling berhadap-hadapan.
"Sayang, boleh tidak kamu manggil aku dengan sebutan mas!!." wajah Gio nampak serius.
Setelah berpikir sejenak dengan malu malu Putri mulai memanggil Gio dengan sebutan Mas.
"Baik M-a-s." ucap Putri dengan terbata karena masih belum terbiasa.
"Makasih sayang."~Gio.
"Cup." Gio kembali mendaratkan sebuah kecupan, namu kali ini bukan di kening namun di bibir cantik merah jambu milik Putri. kecupan yang cukup lama dan penuh kasih sayang, sehingga membuat Putri pun ikut terhanyut. merasa tak mendapat penolakan, kecupan Gio berubah menjadi sebuah Ciuman hangat.
Beberapa saat kemudian Gio melepaskan tautan di antara keduanya, di sertai Putri yang membuka matanya.
"Sepertinya kegiatan ini harus di lanjutkan di rumah, jika ada yang memergoki sudah pasti kita akan menjadi perbincangan hangat seisi pabrik." kata Gio kemudian tersenyum lepas lalu di ikuti Putri yang juga ikut tersenyum lepas, membayangkan jika itu terjadi.
Puas hampir seharian berkeliling pabrik Gio dan Putri kembali ke rumah orang tua Putri, di mana ibunya Putri telah menyiapkan sebuah sajian khusus untuk wanita itu. berbagai macam makanan yang berbahan dasar toge, jenis sayuran yang paling tidak di Sukai Putri sejak dulu.
Sayang sayangku terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menikmati karya author. jangan lupa untuk meninggalkan jejak,,,like,koment, and Vote. satu komentar dari kalian sangat membakar semangat author untuk selalu mengupdate,,,,,🥰🥰🥰😘😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️❤️❤️🙏🙏🙏
__ADS_1