Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Widia Hamil.


__ADS_3

Putri begitu khawatir memikirkan kondisi sahabatnya, Widia, terlebih lagi sahabatnya itu mual serta muntah akibat mencium Soto ayam yang ia bawakan.


Putri nampak duduk di bangku panjang rumah sakit dan Gio masih berdiri tegap dengan kedua tangannya berada di saku celananya, sementara Widia tengah di periksa oleh dokter dengan di temani sang suami.


"Anda yakin tidak menawarkan racun untuk Nyonya Widia??." pertanyaan Gio dengan nada dingin memancing reaksi putri.


"Enak saja, anda pikir saya Setega itu pada sahabatnya saya sendiri." Putri menjawab dengan nada ketus.


"Jika anda yakin,maka tidak perlu sepanik itu!." secara tidak langsung Gio ingin menenangkan Putri yang sejak tadi nampak begitu panik serta khawatir.


"Bagaimana saya tidak panik jika kondisi sahabat saya seperti itu, mungkin anda tidak sepanik saya karena dia bukan sahabat anda. oh saya lupa, orang sekaku anda mana mungkin memiliki seorang sahabat." bagai senjata makan tuan, kini sindiran pedas berbalik pada pria itu sendiri.


Tidak ingin melanjutkan perdebatan yang tidak berfaedah itu, Gio memilih diam tak lagi menimpali perkataan Gadis itu. Gio hanya memandang ke arah pintu, menunggu bosnya itu keluar untuk memberikan kabar tentang kondisi istri tercinta.


Beberapa saat kemudian, Suara pintu terbuka. menampakkan Gunawan yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan, namun pria itu keluar seorang diri tidak membawa serta istrinya.


"Bagaimana kondisi nyonya, tuan??."


"Bagaimana kondisi Widia, tuan??."


Keduanya bertanya hampir bersamaan.


Perasaan Putri semakin tak menentu saat Gunawan malah nampak menarik Napas dalam sebelum memberikan jawaban.


"Sepertinya sebentar lagi Arista dan Farhan akan segera punya adik." jawaban Gunawan membuat raut wajah Putri berubah seketika.


"Selamat atas kehamilan istri anda tuan." ucap Gio lalu Gunawan menanggapinya dengan senyum bahagia.


"Oh ya,,,." tanpa sadar Putri menabok lengan Gio saking senangnya, sehingga membuat pria itu mengeryit saat menatap gadis itu. hingga beberapa saat kemudian barulah Putri menyadari apa yang baru saja dilakukan.


"Maaf, saya tidak sengaja." dengan terbata Putri berkata.


"Apa nyonya di sarankan dokter untuk opname tuan??." bukannya menjawab permintaan maaf dari Putri, Gio malah bertanya pada Gunawan.


"Sebenarnya kata dokter istri saya tidak perlu di rawat, tapi saya yang memintanya agar istri saya bisa di beri Vitamin melalui injeksi." jawab Gunawan.


"Karena saya harus menjaga istri saya di rumah sakit, maka saya minta kalian berdua untuk menjadi perwakilan Wicaksono group dalam rapat penting siang ini!!." mendengar perintah dari pimpinan perusahaan, Putri langsung menoleh ke arah Gio yang kini berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Baik tuan." sahut Gio patuh, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Putri yang sesekali melirik ke arahnya.


"Baiklah, kalau begitu kalian bisa pergi sekarang!!." titah Gunawan sebelum beranjak kembali menemui istrinya.


***


Dengan berat hati Putri terpaksa kembali berada satu mobil bersama Gio, pria yang menurutnya sangat menyebalkan. bagaimana tidak, tempo hari saat keduanya di tugaskan ke kota B untuk keperluan pekerjaan, pria itu nampak ramah padanya. bahkan keduanya sempat berbincang, tapi yang membuat Putri kesal, sekarang pria itu bersikap dingin bahkan angkuh menurut gadis itu.


Di dalam mobil suasana hening tercipta, tak ada satupun yang berniat mengawali obrolan.


Sampai dengan suara dering ponsel Gio memecah keheningan, sehingga membuat keduanya menoleh ke arah ponsel Gio yang berdering.


Gio menepikan mobilnya sebelum pria itu turun dari mobil, untuk menerima panggilan yang entah dari siapa Putri pun tak tahu.


Dari mobil Putri menatap pria dengan tinggi badan 180 cm tersebut saat berbicara melalui sambungan telepon.


"Telepon dari siapa sih, kenapa juga harus turun dari mobil saat menerima panggilan??." cetus Putri kesal, karena pria itu sudah hampir lima belas menit meninggalkannya di mobil sendirian.


"Apa apaan sih aku, mau telepon dari siapa pun itu kan bukan urusanku."gumam Putri, seolah memperingati diri sendiri.


Tak lama kemudian akhirnya pria itu kembali ke mobil, dan segera kembali menghidupkan mesin mobilnya.


Putri nampak menarik napas dalam saat melihat layar ponselnya, ternyata ayahnya yang melakukan panggilan.


"Kenapa tidak di angkat??." Tanya Gio, saat melihat Putri hanya menatap layar ponselnya, tanpa berniat menerima panggilan tersebut.


Mendengar pertanyaan Gio, Putri hanya melirik sekilas ke arah pria itu.


"Ini masih terlalu pagi untuk berdebat, karena sudah pasti ayahku menelpon hanya untuk mengajakku membahas masalah yang tidak pernah ada habisnya." sahut gadis itu dengan wajah lesu.


"Apa salahnya menerima panggilan dari seorang ayah yang mungkin sangat merindukan putrinya." mendengar perkataan Gunawan, membuat Putri berpikir mungkin apa yang di katakan pria itu ada benarnya.


Putri pun menekan icon hijau pada ponselnya, untuk menerima panggilan ayahnya.


"Assalamualaikum, ayah." ucap gadis itu ketika baru saja menerima panggilan.


"................." entah apa yang di katakan ayahnya di seberang telepon, sehingga membuat gadis itu kembali menarik napas dalam, sebelum menjawab pertanyaan ayahnya.

__ADS_1


"Ayah jangan bercanda, ini masih terlalu pagi untuk bercanda."ujar Putri.


"................" entah apa yang kembali di katakan ayahnya, Sehingga membuat bola mata Putri nyaris membulat sempurna.


"Ayah serius??." cecar gadis itu yang tadinya berpikir jika ayahnya sedang bercanda.


".........." ayahnya Putri


"Baiklah ayah." jawab Putri dengan raut wajah penuh kepasrahan.


Sampai tiba di sebuah restoran ternama, Putri masih nampak menekuk wajahnya, seperti tidak bersemangat.


"Jangan menekuk wajah anda seperti itu Nona, saya tidak ingin terlihat seperti seorang pria yang tengah melarikan wanita jomlo." dari nadanya, Gio seperti tengah menggoda Putri dengan kalimatnya.


"Dengar ya pak Gio yang terhormat, silahkan anda mengatai saya sepuas hati anda!! karena Mungkin sebentar lagi, Anda tak bisa mengatai saya dengan kata kata itu lagi." ujar Putri sebelum melangkah mendahului pria itu.


Mendengar itu Gio hanya menyunggingkan ke atas sudut bibirnya, sebelum menyusul langkah Putri.


🌹


🌹


🌹


Tidak terasa sudah hampir dua bulan setelah peristiwa lamarannya yang gagal, Dini tak lagi memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan pria, karena menurut gadis itu seorang pria hanya bisa menggores luka di hati.


Pagi ini Dini sudah terlihat rapi dengan mengenakan kemeja berbahan licin yang di padukan dengan rok selutut.


"Memangnya Kamu mau kemana Din, tumben pagi pagi sudah rapi??." Adit yang Baru saja keluar dari kamarnya bertanya pada Dini, saat keduanya berada di meja makan hendak sarapan.


"Aku ingin mencari pekerjaan mas." Dini yang tengah mengisi piring di depan Adit menjawab.


"Apa tidak sebaiknya kamu tinggal di rumah saja, lagi pula mas masih mampu memenuhi keperluan kamu." Adit mencoba menasehati Dini, karena bagaimanapun sebagai seorang Abang, Adit tidak sampai hati melihat adiknya harus lelah bekerja, belum lagi Dini harus mengurus rumah.


Dini menarik napas dalam sebelum kembali berkata.


"Mas, Dini hanya ingin mencari pengalaman." Dini berusaha meyakinkan abangnya.

__ADS_1


Karena Adit melihat keseriusan di wajah Dini, sebagai Abang Adit hanya bisa mendukung keputusan Dini.


Dan pagi ini berangkatlah gadis itu untuk mencari pekerjaan, dengan menumpangi bus.


__ADS_2