
Dua hari kemudian.
Di sebuah kamar yang telah di hiasi dekorasi pengantin serta ranjang dengan ukuran king Size yang telah di taburi kelopak mawar, semakin menciptakan suasana canggung terutama bagi Putri.
Wanita itu tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya itu telah resmi menjadi suaminya. pria yang sering kali di ajak berdebat.
Kedua duduk di sisi ranjang berlawanan, tak ada yang memulai obrolan sampai suara petir di tengah malam memecah keheningan.
Sepasang pengantin baru tersebut tak lain adalah Putri dan Gio, yang baru saja mengucap janji suci pernikahan pagi tadi.
"Kamu mau ngapain??." pertanyaan Putri dengan raut wajah was was mampu membuat suaminya mengukir senyum di wajah tampannya. saat Gio beralih duduk di sampingnya.
"Mau mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku." jawaban Gio semakin membuat tubuh Putri bergetar hebat.
Ketika Gio mengarahkan tangannya ke arah dirinya, dengan spontan Putri memukul lengan pria itu seraya menutup matanya. setelah beberapa saat menyadari Gio sama sekali tidak menyentuhnya, Putri perlahan membuka matanya.
"Hey,,,,Ada apa denganmu, aku hanya ingin mengambil kembali sapu tangan milikku." wajah Putri merah merona menahan malu, dia berpikir jika Gio akan meminta haknya sebagai seorang suami ternyata pria itu hanya meraih sapi tangan yang di letakan Putri di pahanya.
"Hah??." mulut putri nampak menganga.
Gio beranjak dari posisinya seraya berkata.
"Jangan khawatir aku tidak akan melakukannya jika kamu belum siap,tenang saja aku bukan tipe pria pemaksa." ujar pria itu setelah meriah sebuah handuk berwarna putih.
"Maaf, aku hanya masih merasa syok, tidak percaya jika anda sudah menjadi suami saya sekarang." jawab Putri sembari menunduk, merasa tak enak dengan Gio karena bagaimanapun dirinya merupakan wanita dewasa yang paham betul dengan hubungan di Antara pria dan wanita dewasa apalagi yang telah terikat tali pernikahan.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, saya ini pria matang tidak akan membuat saya terluka hanya dengan penolakan kamu. Justru saya khawatir kamu yang tidak sabar dan segera meminta nafkah batin dari saya." Gio berujar sembari menaikan sudut bibirnya, sehingga membuat perasaan bersalah yang di rasakan Putri tadi berubah menjadi perasaan kesal.
Spontan Putri menengadahkan wajahnya.
"Anda kalau bicara bisa di jaga sedikit tidak ucapannya!!." kata Putri kesal.
"Memangnya ada yang salah dengan ucapan saya, bukankah wajah jika seorang istri menuntut nafkah dari suaminya??." Kini tatapan Gio mulai tak main main, sampai putri pun segera memalingkan pandangannya ke sembarang arah karena kikuk.
"Sudahlah saya mau mandi, jika kamu mau ikut silahkan!!." Putri yang kesal dengan ajakan Gio melempar pria itu dengan sebuah bantal, bukannya marah Gio malah tersenyum sebelum pria itu menghilangkan di balik pintu kamar mandi.
Putri nampak menarik napas dalam untuk menetralkan detak jantungnya yang mulai Tak karuan.
"Apa sebenarnya tujuan pria itu bersedia menikah denganku, apa dia mencintaiku atau hanya karena kasihan padaku??" batin Putri bertanya tanya.
Flash back On.
Awalnya Putri berpikir jika calon suaminya merupakan putra dari salah satu sahabat orang tuanya, merasa tidak tertarik Putri sama sekali tidak bertanya kepada ayah ibunya siapa dan seperti apa bentukan calon suaminya.
Barulah ketika acara ijab Qobul Putri melihat sosok pria tampan yang tidak asing di matanya dengan stelan jas senada dengan gaun yang ia kenakan barulah Putri mengetahui, Jika ternyata pria yang akan menikahinya tak lain adalah Gio.
Meski begitu Putri sama sekali tidak tahu menahu bagaimana sampai pria itu bisa menjadi calon suaminya.
Satu rahasia yang hanya Gio dan kedua orang tuanya yang tahu.
Beberapa bulan yang lalu setelah kedua orang tua Putri salah paham dengan hubungan keduanya, Gio malah meminta kedua orang tuanya untuk meminang gadis itu untuk di jadikan istri.
__ADS_1
Bak gayung bersambut kedua orang tua Putri menerima lamaran kedua orang tua Gio. kedua belah keluarga juga sepakat akan melaksanakan pernikahan beberapa bulan mendatang, tanpa memberi tahu Putri. barulah seminggu terakhir baru wanita itu diberi kabar oleh kedua orang tuanya, jika ada seorang pria yang telah melamarnya.
Masih ingat saat Gio menerima panggilan kemudian pria itu memutuskan turun dari mobil untuk menerima panggilan, panggilan tersebut dari calon mertuanya. kedua orang tua Putri sengaja menghubungi Gio untuk memberikan informasi tentang konsep pernikahan serta lainnya. itulah mengapa Gio cukup lama berbicara memalui sambungan telepon, sehingga membuat Putri yang menunggu di mobil terus menggerutu tak jelas.
Gio mempersiapkan acara pernikahan mereka dengan matang, Pria itu bahkan menjadikan sebuah rumah mewah di kawasan elit serta mobil mewah sebagai mahar pernikahan.
Akhirnya hati pria dingin seperti Gio dapat di taklukkan oleh wanita bawel seperti Putri, meski bawel putri merupakan tipe wanita pekerja keras dan gigih terlebih lagi Putri memiliki paras cantik yang membuat siapa pun tak bosan memandang wajahnya. tidak heran jika Gio sampai di buat berdebar olehnya.
Flash back of.
Selesai mandi Gio keluar dari kamar mandi Hanya dengan sebuah handuk yang dililitkan di pinggangnya. tubuh Gio nampak seksi, meski usianya telah memasuki 35 tahun sama sekali tidak mengurangi keindahan bentuk tubuhnya, mungkin karena Gio termasuk pria yang Giat berolah raga untuk menjaga bentuk tubuhnya.
Gio nampak terpaku menyaksikan keindahan yang tersaji tepat di depan mata. sebelum Sesaat kemudian pria itu menyadari jika istrinya tak nyaman dalam kondisi seperti itu, mungkin karena ingin menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri Putri melakukan hal demikian.
"Tidak perlu seperti ini jika belum siap, aku akan sabar menanti saat di mana kamu siap dan ikhlas memberikan hakku sebagai suami." Gio meraih selimut putih untuk menutupi tubuh istrinya yang nampak jelas gemetar saat mengenakan sebuah lingerie seksi berwarna merah. Putri hanya bisa menunduk saat pria itu membawa tubuhnya ke dalam dekapannya.
"Jika belum siap jangan memaksakan diri, karena niatku menikahimu bukan semata mata untuk menikmati tubuhmu tetapi aku ingin membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah denganmu." dengan lembut Gio memberi pengertian kepada istrinya sembari mengelus lembut puncak kepala Putri, wanita itu pun membalas dekapan suaminya dengan pelukan hangat.
"Maaf jika harus membuatmu menunggu." kata Putri merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf." ujar Gio yang menjedah ucapan seraya menarik napas dalam, sebelum kembali berujar. "Sebaiknya kamu segera mengganti pakaianmu, karena aku takut pakaian yang kamu kenakan ini bisa membangun singa yang sedang tidur." sebagai wanita dewasa tak perlu terlalu memutar otak, untuk Putri bisa memaknai maksud ucapan suaminya.
"Apaan sih." Putri segera merenggangkan pelukannya kemudian memberikan cubitan kecil di perut bak roti sobek milik suaminya, sebelum bergegas mengambil sebuah piyama.
Sementara Gio hanya nampak menggeleng melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
Tadi sewaktu Gio berada di kamar mandi, Putri berpikir untuk memberikan hak pria itu sebagai seorang suami, meski harus melawan rasa ketakutan di hati.
Benar saja Putri yang tidak mampu mengontrol tubuhnya yang nampak gemetar, membuat Gio justru tak tega melihatnya.