Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Panggilan baru.


__ADS_3

Wajah Arista nampak semakin berseri seri, apalagi saat ini gadis itu mulai mengganti panggilannya pada Widia.


"Rista senang banget hari ini." ucap gadis itu ketika semua tiba di rumah.


"Tante, mulai hari ini boleh nggak Arista memanggil Tante dengan sebutan mama??." hati Widia berdenyut saat mendengar gadis itu memanggilnya mama, namun sebelum menjawab Widia beralih memandang Gunawan yang kini berdiri di sampingnya, seperti sedang meminta persetujuan dari pria itu.


"Boleh sayang, tentu saja boleh!!." jawab Widia dengan senang hati setelah pria yang baru saja menikahinya Tersebut mengangguk, tanda setuju.


"Ma, malam ini Farhan boleh tidur bareng mama nggak??." belum sempat Widia menjawab pertanyaan putranya, Arista lah lebih dulu memberikan pengertian pada adik sambungnya tersebut.


"Bukannya Nggak boleh dek, tapi malam ini mama kan tidurnya bareng ayah." jawaban Arita membuat sepasang pengantin dadakan tersebut saling pandang.


"Gitu ya kak??." sahut Farhan dengan polosnya.


"Sini kakak antar ke kamar Farhan!!." dengan lembutnya Arista mengajak Farhan menuju sebuah kamar yang sudah di sediakan untuk pria kecil tersebut.


Sementara Tuan Lena tersenyum melihat cucu perempuannya Nampak begitu sayang pada adik sambungnya.


Beberapa saat kemudian perhatian wanita itu tertuju pada sepasang pengantin yang kini masih diam mematung.


"Kenapa kalian masih berdiri di situ, sana sebaiknya kalian istirahat di kamar!!." seruan ibu mertuanya semakin membuat Widia canggung, bingung harus menjawab apa.


Sampai dengan Gunawan memulai obrolan.


"Mari saya antar ke kamar!!." ajak Gunawan yang lebih dulu melangkah, kemudian Widia pun segera menyusul langkah pria itu. dengan dua orang asisten rumah tangga yang mengikuti langkah keduanya guna mengantarkan koper Widia.


Widia sama sekali tidak menyangka ia bisa tinggal di rumah semewah itu, bermimpi pun wanita itu bahkan tidak berani.


"Letakan saja di sana!!." titah Gunawan pada dua orang ART yang membawa koper Widia, saat tiba di kamar utama.


"Baik tuan." jawab keduanya kemudian meletakkan dua koper milik istri baru majikannya tersebut, lalu keduanya pun segera keluar dari kamar tersebut.


Setelah kedua ART tersebut keluar dari kamarnya, Gunawan yang sudah merasa gerah sejak tadi langsung meraih sebuah handuk sebelum berlalu menuju kamar mandi dengan fasilitas lengkap miliknya. sementara Widia masih diam mematung di tempat, sampai dengan tiga puluh menit berlalu saat Gunawan keluar dari kamar mandi, pria itu mengeryit heran saat melihat Widia masih berdiri tegak seperti sebelum ia masuk ke kamar mandi.


Widia masih berdiri seperti itu karena takut, takut jika apa yang akan di lakukannya nanti salah di mata Gunawan.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih berdiri di situ, kamu pikir di sini sedang upacara bendera." cetus Gunawan yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan sebuah handuk berwarna putih yang di lilitkan di pinggangnya. sementara Widia langsung membuang pandangan ke sembarang arah, ketika menyadari pria itu dalam kondisi bertelanjang dada. bukan karena tidak pernah melihat seorang pria dalam kondisi seperti itu, mengingat statusnya sebelum menikah dengan Gunawan adalah seorang janda. namun Widia sengaja membuang pandangannya, karena takut kembali mendapat amukan dari pria itu seperti tempo hari.


"Maaf tuan, saya hanya takut kembali membuat kesalahan."jawab Widia jujur, sontak membuat Gunawan merasa tidak enak hati karena secara tidak langsung kalimat wanita itu mengingatkan dirinya akan perlakuan kurang menyenangkan darinya tempo hari.


"Jik kamu gerah, sebaiknya kamu mandi sekarang!!.". seruan Gunawan sontak memancing tatapan dari wanita yang kini sah menjadi istrinya.


"Jangan pernah berpikir macam macam, sesuai dengan perjanjian yang sudah kita tanda tangani bersama!!." ucap pria itu sebelum berlalu masuk ke ruang ganti.


"Saya kan tidak berpikir sejauh itu, saya cuma ingin bertanya, apa saya boleh menggunakan kamar mandi ini."gumam Widia saat merasa pria itu sudah berlalu masuk ke ruang ganti, menurutnya sudah pasti pria itu tidak mendengar ucapannya.


"Jika kamu tidak boleh menggunakan kamar mandi itu, tidak mungkin saya menyuruh kamu mandi." Widia sontak terperanjat saat pria itu memunculkan kepalanya di ambang pintu ruang ganti.


"Selain dingin ternyata pria itu juga memiliki indera pendengaran yang sangat tajam." lanjut gumam Widia sebelum berlalu masuk ke kamar mandi.


Sementara Gunawan hanya bisa geleng-geleng saat dirinya masih bisa mendengar ucapan Widia.


"Jujur aku sendiri bingung, mengapa putriku begitu menginginkan wanita itu sebagai ibu sambungnya. apa kelebihan dari wanita itu, sampai Arista begitu sayang padanya??." Gunawan nampak bermonolog usai mengenakan pakaian santainya, sebuah baju kaos berwarna putih serta celana puntung. jika berpakaian seperti ini, Gunawan nampak lebih muda dari usianya.


Setelah mengenakan pakaian lengkap Gunawan duduk bersandar di bahu ranjang sembari berkutat dengan laptopnya. sementara Widia yang usai mandi segera keluar dengan mengenakan jubah mandi. karena tadi ia lupa membawa serta pakaiannya ke kamar mandi.


Seketika pandangan Gunawan tertuju pada Widia yang kini berdiri membelakangi pria itu.


Sampai tanpa sadar Gunawan bangkit dari tempat tidur lalu memeluk Widia dari belakang, hal itu sontak membuat Widia berbalik badan ke arah Gunawan dengan wajah bingung. sementara Gunawan yang menyadari jika itu bukanlah mendiang istrinya segera melepaskan pelukannya, lalu mengusap kasar wajahnya.


"Maafkan aku." ucap Gunawan setelah beberapa saat kemudian.


"Iya tuan." jawab Widia dengan wajah bingung, bagaimana tidak, jelas jelas pria itu sendiri yang mengatakan jika ia tidak ingin bersentuhan dengan Widia, namun mengapa lama pria itu yang mulai menyentuhnya.


Tidak ingin suasana semakin canggung, Widia kemudian berlalu ke kamar mandi untuk mengenakan piyamanya. setelah berpakaian lengkap Widia kemudian keluar dari kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, Widia tak melihat Gunawan di kamar itu, entah kemana perginya pria itu Widia sendiri tidak tahu. namun yang ada di pikiran Widia saat ini adalah, ia bisa kembali bebas menghela udara saat pria itu tak ada di sana. sebab jika Widia berada dekat dengan pria dingin itu, untuk menghela nafas saja serasa sulit bagi wanita itu.


Mungkin karena lelah Widia sampai tidak sadar jika ia tertidur di sofa, sampai dengan suara pintu terbuka wanita itu pun terjaga dari tidurnya lalu wanita itu pun langsung kembali berdiri. takut jika Gunawan akan marah jika ia menggunakan sofa tanpa izin.


"Kenapa kamu tidur di sofa??." mendengar pertanyaan Gunawan sudah membuat jantung Widia seperti mau copot.

__ADS_1


"Maaf sudah menggunakan sofa tanpa izin anda tuan." ucap Widia menunduk.


"Jika masih mengantuk tidurlah di ranjang, biar saya yang tidur di sofa!!." mendengar kalimat pria itu membuat Widia langsung menengadahkan wajahnya.


"Tidak perlu tuan, saya bisa tidur di sofa, sebaiknya anda saja yang tidur di ranjang." ujar Widia merasa tidak enak jika ia harus enak enakkan tidur di ranjang sementara pemiliknya harus tidur di sofa.


"Silahkan Tuan!!." dengan seulas senyum Widia mempersilahkan empunya untuk menikmati ranjang mewah miliknya.


Pada saat Widia hendak melanjutkan tidurnya tiba tiba Gunawan kembali bersuara.


"Tunggu jangan tidur dulu!!." titah Gunawan membuat Widia berpikir jika ia melakukan kesalahan, sehingga dengan sigap wanita itu kembali duduk.


"Ada apa lagi tuan??." tanya Widia bingung.


"Sebaiknya kita makan malam dulu, aku tidak ingin masuk penjara karena membiarkan istrinya mati kelaparan." jawaban Gunawan membuat Widia tak sadar tersenyum tipis.


"Ternyata di balik sikapnya yang dingin pria ini masih takut juga dengan penjara, aku pikir penjara yang takut sama dia." batin Widia tersenyum tipis.


"Kenapa kamu tersenyum??." cetus Gunawan saat tak sengaja melihat sisa senyum di wajah Widia.


"Tidak kok tuan, saya hanya teringat sikap lucu teman saya." jawab Widia terpaksa berbohong, karena tidak mungkin juga ia berkata jujur, jika saat ini penyebab Widia tersenyum adalah dirinya. kemudian Widia pun melangkah keluar kamar, namun masih berada di depan pintu, tiba tiba Wanita itu kembali menoleh saat suaminya tersebut kembali mengajaknya berbicara.


"Tunggu,,,,!!! satu lagi, jangan lagi memanggilku dengan sebutan tuan, karena bagaimanapun kamu itu tetap istriku bukan pembantuku!!." titah Gunawan.


"Lalu saya harus memanggil anda dengan sebutan apa tuan??." tanya Widia tidak ingin ia salah memilih sebutan untuk pria dingin itu.


"Terserah, kamu bebas memanggil saya dengan sebutan apa saja, asal jangan dengan sebutan tuan, saya serasa tidur sekamar dengan ART." kembali ucap Gunawan sembari meletakkan laptopnya di atas nakas.


"Ayahnya Rista??." Ucap Widia meminta pendapat.


"Semua orang tahu saya ayahnya Rista, jangan panggil saya seperti itu, karena kamu bukan tetangga kompleks tapi istri saya. hanya tetangga saya yang kerap memanggil dengan sebutan seperti itu." Gunawan nampak protes saat Widia memanggil dirinya dengan sebutan ayahnya Rista.


"Katanya boleh manggil dengan sebutan apa saja, eh di panggil ayahnya Rista malah nggak suka, gimana sih nih orang." dalam hati Widia, sebelum satu panggilan terlintas di pikirannya.


"Kalau saya manggilnya mas boleh??." tanya Widia hati hati, takut pria itu kembali tidak setuju kemudian malah mengamuk.

__ADS_1


Ternyata dugaan Widia salah.


"Sepertinya tidak buruk." jawab Gunawan sebelum mendahului langkah Widia.


__ADS_2