Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Menghasut.


__ADS_3

Usai dari kantor pihak yang berwajib Gunawan menuju kantor dengan di temani Oleh Gio, setelah lebih dulu mengantarkan sang istri kembali ke rumah.


Gio yang fokus mengemudikan mobil sesekali melirik ke arah belakang memalui kaca spion di depannya.


"Apa anda yakin untuk membuka kembali kasus kecelakaan yang merenggut nyawa Nyonya Rahma, tuan??." tanya Gio yang tidak ikut masuk tadi.


"Jika tidak yakin, mana mungkin saya kekantor polisi hari ini." jawaban Gunawan membuat Gio tak lagi bertanya sebab bisa menebak suasana hati bosnya itu sedang tak baik baik saja.


"Saya ingin kasus ini kembali di buka karena saya ingin pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal untuk memberikan efek jera pada pelaku kejahatan di luar sana, agar tidak ada lagi Rahma Rahma yang lain yang akan menjadi kejahatan demi kepentingan pribadi seseorang berhati iblis." lanjut Gunawan dan Gio pun hanya bisa mengangguk paham.


Seketika Gio teringat akan sesuatu yang pernah di temukan oleh pihak berwajib di tempat kejadian perkara, yang di sinyalir adalah milik korban. dan barang tersebut telah berada di tangan Sela yang merupakan anggota keluarga.


"Maaf tuan, saat itu saya juga mendapat kabar dari pihak berwajib jika mereka menemukan sebelah anting berlian milik Nyonya Rahma di TKP, dan anting tersebut di berikan kepada anggota keluarga Nyonya Rahma." terang Gio teringat sesuatu yang terjadi setahun yang lalu.


Gunawan pun hanya bisa mengangguk di selah lamunannya. selama di perjalanan menuju perusahaan Gunawan lebih banyak melamun.


🌹


🌹


🌹


Widia yang kini tengah memasak makan malam bersama beberapa orang ART beranjak saat mendengar ribut ribut di depan rumah.


"Ada apa ribut ribut bi??." tanya Widia saat melangkah menghampiri sumber suara.

__ADS_1


"Ini Bu, mbak Sela datang datang malah marah marah, katanya ingin bertemu dengan ibu." jawab Salah satu ART yang sempat adu mulut dengan Sela.


"Nona Sela, Silahkan masuk!!" dengan ramah Widia mempersilahkan Sela masuk, namun bukannya segera masuk Sela malah menatap Widia dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Tidak perlu sok manis kamu, janda seperti kamu itu hanya bisa merebut milik orang lain." lontaran pedas keluar dari mulut wanita cantik bernama Sela yang merupakan kakak kandung dari Rahma.


Beberapa saat kemudian Sela kembali melanjutkan kalimatnya, yang sengaja ingin merendahkan Widia.


"Terbuktikan sekarang, kamu kan yang sengaja membunuh adik saya agar bisa menikmati kehidupan yang mewah dengan menikah dengan Gunawan." Widia hanya bisa menghela nafas panjang saat Sela kembali melontarkan tuduhan yang tidak berdasar padanya.


"Bagaimana anda begitu yakin dengan tuduhan anda Nona?? bukan berarti saat ini saya menikah dengan mas Gunawan lalu saya lah yang telah berbuat kejahatan pada mendiang adik anda. saya ingatkan pada anda untuk terakhir kalinya Nona, jika anda hanya ingin membuat keributan dengan saya maka anda salah orang Nona Sela!!." meski begitu terluka dengan tuduhan Sela, namun Widia tetap menunjukkan sikap tenang di depan wanita itu. dan benar saja, sikap tenang yang di tunjukkan Widia semakin menyulut emosi wanita itu.


Sela semakin emosi, karena berpikir Widia sudah menyepelekan dirinya, yang notabene Kakak dari mendiang Rahma. karena suara Sela yang menggelegar hingga ke seisi rumah, Sehingga Arista yang sedang berada di kamarnya segera menghampiri mereka.


"Ada apa ini, kenapa ribut ribut??" Ujar Arista di sela langkahnya. "Tante Sela,,,kenapa nggak bilang sih kalau Tante mau main ke sini??." lanjut Arista beberapa saat kemudian saat menyadari kedatangan kakak dari bundanya Tersebut.


"Arista kangen banget sama Tante." dari raut wajah gadis belia itu tak bisa di pungkiri jika ia begitu merindukan sosok tantenya itu.


Sementara Widia hanya bisa menyaksikan kedua wanita beda generasi tersebut saling melepas rindu.


"Tante kok nggak langsung masuk, malah berdiri di depan seperti ini??." pertanyaan Arista membuat Sela melirik tajam ke arah Widia.


"Bagaimana Tante mau masuk kalau istri papa kamu malah ingin mengusir Tante." Widia langsung mengeryit tidak percaya dengan sikap Sela yang seperti sengaja memojokkan dirinya di depan Arita. terbukti, dari tatapan Arista padanya saat Sela mengadukan yang tidak tidak pada gadis itu.


Seketika tatapan Arista kembali pada Tantenya,Sela.

__ADS_1


"Ayo masuk Tante!!." Sela pun mengikuti ajakan Arista seraya tersenyum penuh kemenangan ke arah Widia yang belum beranjak.


"Apa maksud Nona Sela dengan berbohong seperti itu pada Arista, apa nona Sela sengaja ingin aku terlihat buruk di hadapan Arista??." dalam hati Widia menebak niat wanita bernama lengkap Sela Pratiwi tersebut.


"Wajar jika Nona Sela belum bisa menerima aku, mungkin karena rasa sayang beliau pada mendiang mbak Rahma." lanjut batin Widia yang tak ingin berpikir negatif tentang sikap Sela padanya.


Widia kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya memasak makan malam.


Sementara Arista nampak berbincang dengan Sela di kamar gadis itu. Nyonya Magdalena yang melintas di depan kamar cucunya tersebut membiarkan Keduanya berbincang, menurut wanita paruh baya tersebut mungkin cucunya butuh waktu berdua dengan sang Tante sebab sudah lama tidak berjumpa.


Namun sayang di dalam kamar bukannya berbincang melepas rindu, Sela malah berusaha menghasut gadis itu agar membenci sosok ibu sambungnya.


Bahkan Sela menghasut Keponakannya itu Dengan mengatakan jika Sosok Widia ada hubungannya dengan kematian ibunya.


Waktu Telah menunjukan pukul lima sore Sela pun pamit pulang, beberapa saat setelah Sela meninggalkan kediamannya, Gunawan pun tiba di rumah.


Saat tiba di rumah, Gunawan mengendus aroma wangi masakan yang berasal dari dapur, dari aromanya Gunawan bisa menebak jika itu aroma masakan istrinya, Widia. sehingga membuat pria itu segera berjalan menuju dapur.


"Lagi masak apa sayang, aromanya wangi sekali??." Tanpa peduli dengan beberapa ART yang membantu kegiatan sang istri memasak, Gunawan memeluk tubuh Widia dari belakang.


"Aku memasak masakan kesukaan mas." jawab Widia yang sebenarnya merasa malu di perlakukan manis seperti itu di depan ART, namun wanita itu juga tak menolak perlakuan manis Sang suami. karena tidak ingin menyinggung perasaan pria yang dicintainya dengan penolakan, meski dengan alasan malu.


"Anak anak di mana sayang??." tanya Gunawan seraya melonggarkan pelukannya dan kesempatan itu di gunakan Widia untuk memberi jarak di antara keduanya, mengingat saat ini ada orang lain di antara mereka.


"Arista di kamar kalau Farhan belum kembali dari les di sekolahnya mas." jawab Widia.

__ADS_1


"Kalau gitu kamu lanjutkan memasaknya, mas mau ganti baju dulu sekalian mandi mas sudah gerah." ujar pria itu sebelum beranjak menuju kamar meninggalkan sang istri di dapur.


__ADS_2