
Dengan seribu alasan yang sengaja di buat buat oleh gadis itu, akhirnya kedua orangtuanya mengizinkan Putri kembali ke Jakarta.
"Maaf sudah membuat kedua orang tuaku salah paham pada Anda." ucap Putri merasa tidak enak pada Gio.
"Ternyata ini yang membuat kamu lebih memilih bekerja keras di ibukota di banding menikmati kekayaan orang tua?." Ujar Gio yang bisa menebak, jika Putri sengaja tinggal jauh dari orang tuanya untuk menolak permintaan orang tuanya yang memintanya segera menikah.
Diamnya Putri membuat Gio semakin yakin dengan dugaan.
"Jangan memberikan harapan palsu pada orang yang kita sayangi apalagi mereka adalah orang tua kita!! menurut saya tidak ada yang salah jika orang tua menginginkan anaknya segera menikah dan membina kehidupan berumah tangga. apalagi di usia mereka yang tidak muda lagi, wajar jika mereka menginginkan kehadiran seorang cucu. terlebih kamu anak mereka satu satunya." Putri yang bisa membantah ucapan Gio sebab apa yang di katakan Gio sebenarnya benar adanya, namun mau bagaimana lagi sampai saat ini ia belum memiliki calon yang akan mengajaknya menuju ke jenjang pernikahan.
Beberapa saat kemudian Putri kembali berujar.
"Sekali lagi maafkan atas kesalahpahaman orang tuaku, jika suatu saat nanti ayahku menghubungi anda katakan saja jika hubungan kita sudah berakhir, dengan begitu ayah tidak akan membahas tentang pernikahan lagi pada anda." kalimat Putri membuat Gio melirik ke arah wanita itu.
"Bagaimana jika saya tidak mau berkata seperti itu??." jawaban Gio membuat Putri menghela napas panjang karena merasa Gio sengaja kembali mempermainkan dirinya dengan berkata seperti itu, sehingga wanita itu membalas dengan kalimat yang menohok menurutnya.
"Terserah pada anda pak Gio, tapi jika anda tidak mau mengatakan hal itu pada ayah saya itu artinya Anda bersedia menikah dengan saya." Dengan tenang, Putri sengaja berkata demikian agar Gio sadar dan bukan malah bercanda seperti yang ada di pikiran wanita itu, sehingga membuat Gio tersenyum tipis saking tipisnya Putri tak menyadari itu.
"Tapi seru juga jika ibu dari anak anakku memiliki sikap bar bar seperti ini." Ujar Gio yang teringat akan sikap Putri saat menghadapi Asya dan kawan kawannya saat ketahuan menggunjing Sahabatnya, Widia.
"Sahabatnya saja di lindungi sampai segitunya, apalagi anak-anaknya nanti." Lanjut Gio dengan di sertai senyuman, sementara Putri hanya bisa berdengus kesal sebab berpikir pria itu tengah mencandai dirinya.
"Terserah anda pak Gio yang terhormat, yang terpenting sekarang ini kemudikan saja mobilnya dengan baik agar kita cepat sampai ke Jakarta, sebab badan saya sudah sangat lelah sekali!!." dengan nada di buat setenang mungkin Putri melontarkan kalimat tersebut sebelum menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil.
🌹
__ADS_1
🌹
🌹
🌹
Gunawan yang tengah duduk di Sofa membawa sang istri yang awalnya duduk di sebelahnya berpindah ke pangkuan pria itu, sehingga membuat Widia jadi malu sendiri dengan perlakuan dari suaminya. untungnya keduanya sedang duduk santai di Sofa kamar, sehingga tak menjadi perhatian seisi rumah.
"Di mana foto pernikahan kita??." dengan lembut Gunawan bertanya seraya menunjuk dengan dagunya ke arah Foto dirinya dengan mendiang istrinya, yang Tempo hari pernah di ganti dengan Foto pernikahan dirinya dan Widia.
"Aku taruh di gudang mas." raut wajah manis Gunawan seketika berubah saat mendengar jawaban istrinya.
Widia langsung menundukkan wajahnya saat melihat perubahan raut wajah sang suami, hal itu membuat Gunawan menyadari jika secara tidak langsung ia sudah membuat istrinya itu merasa takut padanya.
Beberapa saat kemudian Widia kembali bersuara.
"Aku sengaja meletakkan Foto pernikahan kita di Gudang mas, biar ibu tidak melakukan sesuatu yang membuat jantungku seperti mau lepas dari tempatnya lagi mas." mendengar kalimat istrinya membuat Gunawan merasa bersalah karena pernah membuat wanita yang dicintainya merasa ketakutan terhadap dirinya yang notabennya adalah suami.
Masih teringat jelas di benak serta pikiran Gunawan bagaimana ekspresi serta reaksi sang saat ia melihat Foto pernikahan mendiang istrinya di gantikan dengan foto pernikahan mereka.
Wajah Widia nampak pucat, Gunawan bisa menebak jika saat itu istrinya tersebut begitu takut pada dirinya. meski saat itu Gunawan juga bisa menebak jika saat itu yang berani melakukan sesuatu hal sebesar itu hanyalah sang ibu.
"Untungnya saat itu Fotonya cepat aku ganti kembali dengan Foto pernikahan mas dan mbak Rahma, kalau tidak mungkin saat ini aku sudah tidak ada di dunia ini." lanjut Widia dengan senyum tipis kala teringat bagaimana dirinya yang merasa begitu ketakutan akan amukan sang suami.
"Ya Tuhan, ampuni aku sebab secara tidak langsung aku telah membuat istriku tersiksa dengan rasa ketakutannya padaku dulu." dalam hati Gunawan
__ADS_1
"Asal kamu tahu sayang, saat itu mas sangat marah karena kamu berani menaiki tangga untuk mengganti foto itu, apalagi kamu sedang hamil." Gunawan menceritakan kebenaran yang Widia sendiri tidak menyangka jika kemarahan suaminya saat itu di karenakan khawatir padanya serta anak dalam kandungannya.
Kali ini perasaan Widia bercampur aduk antara sedih dan bahagia, sedih kala teringat bagaimana ia pernah merasa begitu takut pada pria yang berstatus suaminya, namun di satu sisi relung hati wanita itu menghangat kala mendengar pengakuan dari suaminya.
Suasana hangat tercipta di antara keduanya bahkan kini gantian Gunawan yang berbaring di pangkuan sang istri, sehingga membuat Widia merasa inilah saatnya ia menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Mas."
"Hemt."
"Boleh nggak aku bertanya sesuatu??." tanya Widia dengan hati hati.
"Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan, seperti yang kamu tahu selama ini mas tidak pernah menyembunyikan sesuatu darimu sayang." jawab Gunawan seraya membuka matanya perlahan kemudian menatap manik mata indah istrinya yang kini menunjukkan rasa penasaran.
Untuk sesaat Widia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Mas, sebenarnya apa yang membuat Arista begitu menginginkan aku menjadi ibu sambungnya saat itu, padahal kita tahu sendiri aku dan Arista sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya. bahkan saat di pantai Tempo hari merupakan pertemuan pertama kami??." akhirnya pernyataan yang selama ini mengganjal di hati Widia ia lontarkan sudah, sehingga membuat suaminya segera bangkit dan duduk di samping wanita itu, sebelum menceritakan semuanya.
Widia hanya bisa mengeryit tak percaya saat mendengar semua cerita dari suaminya.
"Bagaimana aku bisa hadir di dalam mimpi Arista mas?? dan bagaimana bisa di dalam mimpi Arista, malah almarhumah mbak Rahma yang memperkenalkan aku pada Arista padahal semasa hidupnya mbak Rahma sama sekali tidak mengenal aku??." bukannya puas, Widia malah semakin bingung setelah Gunawan menceritakan semua padanya.
"Jujur untuk hal itu mas juga masih bertanya tanya, tapi menurut mas itu tidak penting sekarang. yang terpenting adalah kamu sudah menjadi bagian hidup mas dan Arista." jawab Gunawan agar istrinya tidak memikirkan hal yang menurutnya tidak terlalu penting lagi untuk saat ini, sebab apapun alasan mengapa sampai ia bisa menikahi wanita itu tak lagi penting, yang terpenting adalah saat ini dan selamanya ia berjanji pada dirinya sendiri akan terus mencintai dan menyayangi sang istri dengan sepenuh hati.
Berbeda dengan sang suami, Widia justru merasa semakin penasaran dan berniat ingin mencari tahu. sebab tidak mungkin ini terjadi secara kebetulan semata, sebab semasa hidup Widia sama sekali tidak mengenal mendiang Rahma.
__ADS_1