Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Sikap manis.


__ADS_3

"Mas aku lelah, aku ingin beristirahat sebentar" ucap Widia sebelum berlalu meninggalkan suaminya yang masih diam sembari menatap lekat ke arahnya.


"Kamu pikir aku hanya Khawatir pada anak yang ada di dalam kandungan kamu, seandainya kamu tahu saya hampir gila saat tahu kamu tidak ada di rumah. sekarang kamu malah berpikir aku hanya Khawatir pada anak yang ada di dalam kandungan kamu." Gunawan nampak bergumam, namun sayangnya Widia tak mendengar gumaman pria itu sebab kini wanita itu telah menapaki anak tangga menuju kamar mereka.


Setibanya di kamar, air mata yang sejak tadi terus ditahan wanita itu akhirnya luruh juga membasahi wajah cantiknya.


"Kamu bahkan tega membentak aku di depan anak anak mas." Gunawan yang segera menyusul langkah istrinya sempat mendengar saat wanita itu bergumam.


Gunawan nampak memijat pelipisnya, menyesali sikapnya tadi yang tak mampu mengendalikan diri.


"Maaf, saya tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini. saya minta maaf atas sikap saya tadi, tapi saya juga berharap kamu tidak lagi meninggalkan rumah tanpa izin saya. karena saya tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan juga calon anakku." ucap Gunawan seraya melangkah mendekati Widia yang tengah duduk di sisi ranjang.


"Tidak perlu minta maaf mas, lagi pula menjaga perasaanku tidak ada di dalam perjanjian kita." ucapan wanita itu semakin membuat Gunawan merasa bersalah sekaligus kesal karena Widia kembali membahas tentang perjanjian tempo hari.


Namun begitu Gunawan tetap berusaha mengendalikan diri agar tidak membuat suasana semakin keruh di antara ia dan istrinya.


"Maafkan saya, tapi lain kali jika ingin pergi keluar rumah katakan padaku, biar saya yang akan mengantarmu." kata Gunawan yang kini berjongkok di hadapan Widia untuk mensejajarkan posisi keduanya.


Entah kenapa Gunawan merasa penuh penyesalan saat melihat istrinya yang kini berlinang air mata.


Gunawan kini duduk di samping Widia, kemudian menengadahkan wajah wanita itu dengan menautkan jari telunjuknya pada dagu sang istri.


"Maaf sayang, mas tidak bermaksud memarahimu, mas hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu." bukannya berhenti menangis, tangisan wanita itu semakin menjadi jadi saat mendengar kalimat suaminya yang terdengar begitu lembut di tambah lagi dengan tatapan syahdu dari pria itu, semakin membuat tangis Widia pecah. sehingga membuat Gunawan merasa jika sikapnya tadi memang sudah keterlaluan.

__ADS_1


Dengan penuh kasih sayang Gunawan menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya, kemudian mengelus lembut puncak kepala istrinya itu.


"Maaf sayang jika sikap mas tadi begitu melukai hati kamu." kata Gunawan pada Widia yang kini berada di dekapannya.


Merasa di perlakukan begitu manis oleh pria itu membuat Widia menarik diri dari dekapan sang suami kemudian berkata.


"Mas, aku lebih suka jika kamu memperlakukan aku seperti tadi, dari pada harus mendapatkan perlakuan manis dari kamu. kamu tahu kenapa mas??, karena aku takut, aku takut jika aku tidak bisa menepati janji untuk tidak mencintai kamu." ujar wanita itu di sela Isak tangisnya, sehingga membuat Gunawan menyadari apa sebenarnya yang menjadi alasan Wanita itu sampai terisak seperti saat ini.


Gunawan menatap lekat manik mata istrinya kemudian berkata.


"Memangnya siapa yang melarang kamu jatuh cinta sama mas??." bukannya menjawab pertanyaan dari Gunawan, Widia malah menatap Gunawan dengan sorot mata getir.


"Mas memang tidak pernah melarangku untuk jatuh cinta sama mas Gunawan, tapi bagaimana nasibku nanti jika harus di ceraikan pas sayang sayangnya??." Widia merasa jika pria itu egois dengan memperlakukan dirinya sesuka hati. bagaimana tidak, terkadang pria itu bisa marah padanya, namun terkadang pria itu juga bisa bersikap begitu manis padanya. contohnya hari ini.


"Bisa tidak Wid, kita tidak perlu membahas Masalah perceraian!!." bukannya menjawab Widia malah di buat kebingungan, sebab bukannya pria itu sendiri yang mengatakan jika ia akan menceraikanya saat tiba waktunya. mengapa kali ini malah pria itu sendiri yang meminta dirinya untuk tidak membahas tentang perceraian.


***


Malam harinya


Putri mampir ke kediaman Gunawan Wicaksono untuk sekedar mengetahui keadaan sahabatnya, karena sejak menikah dengan pria itu putri hampir tidak pernah lagi bertemu dengan Sahabatnya, Widia.


Saat memasuki kediaman mewah tersebut putri bukannya merasa takjub akan bangunan mewah yang di dominasi warna putih bercampur gold tersebut. putri justru bertanya tanya dalam hati, apakah sahabatnya bahagia hidup di sana. apakah sahabatnya itu bahagia dengan pernikahannya, apakah sahabatnya itu di perlakukan layaknya seorang istri pada umumnya oleh sang suami atau malah di perlakukan bak keramik mewah yang menghiasi rumah mewah itu. di rawat namun tak terlalu di anggap keberadaannya.

__ADS_1


Berbagai pertanyaan terus berputar di kepala serta benak Putri sampai suara seseorang menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Hai,,,tumben kamu mampir ke sini put, aku pikir kamu sudah lupa denganku??." suara Sahabatnya tersebut menyadarkan Putri dari lamunannya tentang Widia.


"Justru aku yang harusnya berkata seperti itu." cetus Putri dengan berpura pura merajuk.


Widia hanya menanggapi ucapan Putri dengan senyum, sembari melangkah mendekati sahabatnya tersebut.


Namun saat Widia hendak memeluk tubuh Sahabatnya itu, tiba tiba ia merasa tak suka dengan parfum yang di gunakan Putri saat ini.


"Kamu kenapa sih Wid, apa nggak kangen apa sama aku??." tanya Putri bingung saat melihat Widia tak jadi memeluknya.


"Kamu pakai parfum apa sih Put, kenapa aromanya nggak enak banget sih??." Putri nampak mengeryit heran saat mendengar kalimat Widia.


"Aneh gimana sih Wid, biasanya juga kamu suka banget sama aroma parfum yang aku pakai. kenapa tiba tiba kamu bilang Aromanya nggak enak sih??." sahut Putri sebelum mencoba menebak jika sesuatu telah terjadi pada sahabatnya tersebut.


"Bentar deh Wid, jangan bilang kalau kamu lagi hamil??." tebak Putri karena merasa sikap sahabatnya itu benar benar aneh.


Beberapa saat kemudian Widia pun mengangguk, seperti sedang membenarkan tebakan Putri.


"Jadi kamu beneran hamil Wid??." kembali tanya Putri berharap sahabatnya tersebut bukan hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan saja.


"Iya Put, aku sedang hamil.". mendengar jawaban langsung dari mulut Widia membuat Putri langsung menarik napas panjang lalu menghembusnya perlahan, sebelum kembali melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


"Apa suami kamu memang mengharapkan kehadiran bayi ini, atau kehadiran bayi ini karena tidak sengaja??." meski merasa jika pertanyaannya terlalu sensitif, namun Putri tak lagi peduli. yang ada di pikiran wanita itu saat ini hanyalah ingin tahu, apakah pimpinan perusahaan tempatnya bekerja tersebut telah jatuh hati pada sahabatnya tersebut atau melakukan sesuatu yang sampai membuat sahabatnya tersebut mengandung hanya karena nafsu semata atau ada alasan lain.


Bukanya kepo tapi sebagai sahabat Putri hanya ingin agar Widia hidup bahagia, menjalani kehidupan rumah tangga selayaknya pasangan suami-istri yang saling mencintai.


__ADS_2