Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Kalung.


__ADS_3

Malam harinya tepat pukul tiga dini hari Gunawan terjaga dan tak dapat kembali memejamkan matanya di akibatkan sang istri yang kembali mengalami mimpi buruk seperti beberapa malam sebelumnya.


Malam ini merupakan malam ketiga di mana Widia kembali bermimpi buruk, namun yang membuat Gunawan kepikiran sampai tak lagi dapat memejamkan matanya adalah igauan sayang istri.


"Mbak harus bertahan, saya akan mencari bantuan untuk membawa mbak ke rumah sakit. mbak saya mohon bertahanlah!! mungkin di rumah ada seseorang yang menunggu kedatangan mbak, jadi mbak harus bertahan!!." Gunawan terus kepikiran, sebab sudah tiga malam berturut-turut istrinya mengingau dengan kalimat yang sama.


Gunawan mengelus lembut puncak kepala istrinya yang kini kembali terlelap di dalam dekapannya.


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku Widia?? tapi apapun itu, aku yakin itu sesuatu yang serius. karena jika tidak mana mungkin sampai kamu terus mengigau kalimat yang sama." dalam hati Gunawan curiga.


Saat hendak memejamkan mata, Gunawan mendengar ponselnya berdering. pria itu pun dengan hati hati meraih ponselnya yang di letakan di atas nakas agar tidak membangunkan sang istri yang terlelap di dekapannya.


Sayangnya pria itu sedikit kesulitan, sehingga ia perlu meraba raba untuk mendapatkan ponselnya. namun saat tangan kekar Gunawan meraba di dalam nakas, bukannya ponselnya yang langsung di dapatkan pria itu melainkan sebuah benda yang tidak asing baginya.


Saat melihat benda itu, Gunawan tak lagi fokus untuk mengambil ponselnya sampai panggilan di ponselnya berhenti bergetar.


"Bagaimana benda ini bisa ada di sini, bukankah ini milik Rahma yang dulu hilang saat kecelakaan??." bathin Gunawan saat tak sengaja menemukan sebuah kalung yang di yakini adalah milik mendiang istrinya yang di duga hilang saat kecelakaan setahun yang lalu.


Gunawan yakin benda itu hilang sebab mendiang istrinya, Rahma sama sekali tidak pernah melepas kalung pemberiannya tersebut, dengan alasan hadiah spesial dari sang suami saat ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua tahun. dan saat di rumah sakit, Gunawan tak lagi melihat kalung itu melingkar di leher sang istri, dari situ Gunawan berpikir jika kalung tersebut hilang di tempat Rahma kecelakaan.


🌹


🌹


🌹


Keesokan harinya saat di kantor Gunawan yang tengah sibuk berkutat dengan pekerjaannya beralih menatap layar ponselnya saat kontak yang di bertuliskan My Wife memanggil.


"Ada apa sayang, tumben pagi pagi sudah menelepon kangen ya?? baru juga beberapa jam di tinggal." Gunawan sengaja menggoda sang istri saat baru saja menggeser icon hijau pada ponsel miliknya.


"Mas apaan sih, pagi pagi sudah gombal deh,,,". sahut Widia di seberang telepon.

__ADS_1


"Terus kalau nggak kangen apa dong??." Gunawan yang biasa terdengar tegas di lingkungan kerja terdengar begitu lembut dan manja kala berbicara pada sang istri.


"Aku hanya mau tanya sama mas, apa mas melihat kalung aku?? perasaan semalam aku taruh di nakas deh." lanjut Widia mengatakan niat sebenarnya mengapa ia menghubungi sang suami.


Seketika Gunawan terdiam sejenak saat mendengar kalimat istrinya, namun begitu ia tak langsung bertanya.


"Iya kalung itu ada pada mas." jawab Gunawan dengan seribu pertanyaan yang kini berputar di benar dan pikirannya.


"Syukurlah jika kalung itu ada pada mas, aku pikir kalung itu hilang." usia mengatakan itu Widia pun meletakkan ponselnya di atas nakas sebab suaminya lebih dulu mematikan sambungan telepon.


Di perusahaan Wicaksono Group, Gunawan nampak tak lagi fokus pada pekerjaannya. pria itu nampak melamun, sehingga membuat Ia tak menyadari kedatangan asisten pribadinya, Gio, padahal ia sendiri yang meminta Gio ke ruangan kerjanya.


"Selamat pagi tuan." sapaan Gio tak mendapat sahutan dari pemilik ruangan sehingga membuat pria bertubuh kekar itu kembali mengulang kalimatnya.


"Selamat pagi tuan." kedua kalinya sapaan Gio barulah Gunawan menyadari kedatangan asisten pribadinya tersebut.


"Selamat pagi." sahut Gunawan yang baru menyadari kedatangan Gio.


Dari raut wajahnya bosnya, Gio bisa menebak jika suasana hati pria itu sedang tak baik baik saja.


Gio mengeryit saat melihat tuannya itu menunjukkan sebuah kalung padanya, kalung yang Gio sendiri ingat betul jika kalung tersebut merupakan hadiah dari tuannya untuk mendiang istrinya di saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. sebab saat itu Gio menemani Gunawan untuk memesan khusus kalung tersebut yang di dalam liontinnya terdapat Foto Arista yang masih bayi.


"Bukannya kalung itu hilang saat nyonya Rahma kecelakaan tuan??." dengan spontan Gio melontarkan pertanyaan, yang semakin membuat Gunawan yakin jika dugaannya tidak salah. jika kalung itu memang hilang saat mendiang istrinya kecelakaan.


"Bagaimana anda bisa menemukan kalung itu tuan??." Tanya Gio dengan raut wajah penuh tanya.


"Saya menemukan kalung ini di rumah, yang lebih membingungkan lagi, Widia mengakui kalung ini miliknya." Gunawan sangat percaya pada Gio itu sebabnya ia menceritakan hal itu pada Gio.


Mendengar itu membuat Gio tak lagi berkomentar, karena tidak ingin tuannya itu malah kembali bersikap dingin seperti sebelumnya pada sang istri.


"Sudahlah, untuk hal ini biar saya sendiri yang akan bertanya langsung pada istriku, bagaimana kalung ini bisa ada padanya. saya meminta kamu ke sini untuk menanyakan perkembangan bisnis di Bogor." ujar Gunawan yang kini menunjukkan sikap tenang meski hatinya penuh dengan seribu pernyataan tentang kalung milik mendiang istrinya yang ada pada Widia, wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


"Semuanya berjalan dengan lancar tuan, untuk berkas laporan keuangan serta yang lainnya ada pada Nona Putri." jawab Gio dengan lugas,padat dan jelas, sebab untuk lebih detailnya Putri lah yang akan menjelaskan pada pimpinan mereka.


"Baiklah kalau begitu, nanti saya akan bertanya langsung pada Putri. sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaan kamu!!." Titah Gunawan sebelum menekan panggilan pada Putri melalui sambungan paralel telepon milik perusahaan.


"Baik tuan." Gio membukukan badan tanda hormat sebelum berbalik badan kemudian meninggalkan ruangan atasannya.


Namun saat hendak keluar Gio tidak sengaja berpapasan dengan Putri yang hendak memasuki ruang pimpinan.


"Selamat pagi Nona Putri.". sapa Gio dengan nada datar, sehingga membuat Putri bingung sendiri dengan sikap Gio yang kembali seperti biasanya bak kanebo kering.


"Selamat pagi juga pak Gio." sayangnya ucapan Putri tak lagi di dengar oleh pria yang kini telah melenggang dengan langkah panjang meninggalkan tempat tersebut.


"Aish, dasar pria aneh." umpat Putri sebelum melanjutkan langkahnya.


"Selamat pagi tuan." sapa Putri saat memasuki ruangan Gunawan.


"Pagi.".


"Ini berkas yang anda minta tuan, semua hasil pertemuan kemarin serta catatan keuangan di perusahaan cabang sudah saya print." Putri maju beberapa langkah untuk menyerahkan berkas yang di bawahnya pada pimpinan perusahaan.


"Bagus, target kita untuk tahun ini berjalan sesuai dengan rencana. saya harap kamu terus memantau kondisi di sana, karena mulai sekarang itu akan menjadi tugas serta tanggung jawab kamu Putri!!." titah Gunawan pada Putri selaku pegawai yang beberapa bulan yang lalu di angkat menjadi manager keuangan.


"Baik Tuan, jika sudah tidak ada yang ingin anda tanyakan saya pamit untuk kembali bekerja tuan." melihat anggukan dari pria itu Putri pun segera beranjak, namun baru beberapa langkah wanita itu kembali menoleh.


"Tunggu!!." titah Gunawan.


"Iya tuan, apa masih ada yang ingin anda tanyakan??." tanya Putri dengan sopan.


"Tidak ada, saya hanya ingin mengatakan jika Gio merupakan pria yang baik dan bertanggung jawab." kalimat Gunawan hanya mendapat anggukan sopan serta senyum tipis dari Wanita itu.


Saat berada di ruangannya Putri hanya bisa mengusap wajahnya yang sejak tadi memerah menahan malu.

__ADS_1


"Apa maksud dari ucapan tuan Gunawan tadi, apa pria itu menceritakan tentang kesalahpahaman kedua orangtuaku??." gumam Putri lirih, karena berpikir Gio menceritakan tentang kejadian di Bogor pada tuan Gunawan, padahal pada kenyataannya pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun dan pada siapapun.


"Memalukan sekali, apa saat ini di mata pak Gio, aku ini adalah gadis yang tak laku. arghhh,,,,," tanpa sadar Putri mengacak rambutnya karena malu, sampai sampai beberapa orang pegawai yang melintas di depan ruang kerjanya menjadi heran dengan tingkah wanita itu.


__ADS_2