
"Mas Hardi, apa yang sedang kamu lakukan di sini?? bagaimana kamu bisa tahu kalau kami berada di tempat ini??." Dengan raut wajah tak bersahabat Widia melontarkan pertanyaan yang malah membuat Hardi tersenyum.
"Mas sudah bilang sama kamu Wid, mas masih sangat mencintai kamu. jangankan di tempat ini di lobang semut pun mas pasti bisa menemukan keberadaan kalian." dengan tidak tahu malunya pria itu mengatakan hal yang membuat Widia hampir kehilangan kesabaran.
Hardi yang duduk di tepi ranjang segera bangkit hendak mendekat ke arah Widia yang masih berdiri di ambang pintu yang masih terbuka lebar.
"Jangan berpura pura naif Widia, kamu bahkan tahu betul jika pria yang telah menikahimu itu sama sekali tidak mencintai kamu." raut wajah Widia berubah saat mendengar pria itu tahu rahasia tentang pernikahannya dengan seorang pengusaha ternama bernama Gunawan Wicaksono.
"Jangan pikir aku tidak tahu apa apa tentang pernikahan yang kalian jalani selama ini Widia ku sayang." ujar Hardi dengan tidak tahu malunya.
"Berhenti!! saya bukan lagi istri kamu mas, jadi jangan pernah berbuat di luar batas!! ingat saat ini saya sudah menjadi istri orang lain!!." bukannya takut dengan ancaman Widia, Hardi malah semakin tersenyum.
"Bagaimana mas Hardi bisa tahu tentang hal ini, apa mas Gunawan yang sengaja menceritakan semua ini pada mas Hardi??." Widia berpikir jika Gunawan yang telah sengaja menceritakan semua ini pada mantan suaminya tersebut.
"Apapun alasan saya menikah dengan mas Gunawan itu bukan urusan kamu mas. jadi jangan pernah ikut campur dengan masalah rumah tangga kami!!." Ujar Widia dengan nada kesal pada Hardi, seraya melangkah mendekati putranya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan kedua orang tua kandungnya.
"Ayo nak kita pergi dari sini!!." Farhan segera mengikuti ajakan ibunya, pria kecil itu nampak menatap tak bersahabat ke arah pria yang merupakan ayah biologisnya.
Sebenarnya bukan sekali ini saja pria kecil itu melihat kejadian yang sama, saat ayahnya selalu ingin mendominasi ibunya. bahkan tanpa sepengetahuan Widia, dulu putranya tersebut seringkali melihat ayahnya tersebut kala memarahi Widia. namun begitu Hardi tetap begitu sangat menyayangi putranya.
Melihat Widia hendak beranjak pergi, Hardi segera berusaha mencegah lengan dari mantan istrinya tersebut.
"Widia apa sudah tidak ada lagi tempat mas di hati kamu??." dengan wajah memelas Hardi berharap ibu dari anaknya tersebut masih memberikan dirinya kesempatan.
"Lagi pula pria itu sama sekali tidak mencintai kamu dengan tulus, dia hanya menjadikan kamu sebagai ibu sambung dari putrinya tidak lebih Widia." mendengar kalimat Hardi membuat Widia menatap tajam padanya.
"Sekalipun mas Gunawan tidak mencintai aku mas, aku tetap tidak akan pernah kembali padamu. sekalipun mas Gunawan tidak pernah cinta padaku, jika di bandingkan dengan kamu, aku bahkan lebih memilih hidup bersama dengan pria yang tidak mencintaiku namun bisa menghargai wanita seperti mas Gunawan. asal kamu tahu mas, kamu tidak pantas jika di bandingkan dengan mas Gunawan." tanpa sepengetahuan Keduanya seseorang yang telah berada di balik pintu kamar tersebut mendengar semuanya, sebelum pria itu masuk ke dalam dengan di ikuti oleh Asisten pribadinya.
"Harus berapa kali saya katakan pada anda untuk tidak mendekati istri saya lagi??." dengan raut wajah menahan emosi Gunawan masuk ke dalam kamar yang pintunya masih terbuka tersebut.
__ADS_1
"Mas Gunawan." Widia yang tidak menyangka pria itu bisa hadir di tempat itu, segera beranjak dan berlindung di belakang suaminya dengan membawa serta putranya.
Wajah Hardi menjadi pias, tidak menyangka kedatangan pria itu.
"Saya tidak menyangka ternyata anda sangat tidak punya malu, berani beraninya menggoda wanita yang sudah bersuami." meski ingin sekali menghajar Hardi, namun Gunawan tak melakukan hal itu sebab Gio sempat melarang dirinya, sebab di sana ada Farhan yang notabennya adalah anak kandung Dari Hardi. lagi pula Gunawan tidak ingin putra sambungnya tersebut melihat dirinya melakukan kekerasan, terlebih pada ayah kandungnya sendiri.
"Menurut saya justru anda yang tidak tahu malu, masih mempertahankan seorang istri yang sama sekali tidak menginginkan anda!!." kesabaran Gunawan hampir habis saat mendengar kalimat Hardi yang begitu membuat indera pendengaran Gunawan semakin memanas. untungnya Gio segera memberi kode untuk tidak meladeni pria bodoh itu dengan kekerasan, melainkan dengan kalimat yang justru membuatnya menyesal atas kalimat yang baru saja dilontarkannya.
"Bagaimana anda bisa berpikir jika saya tidak mencintai istri saya dan bagaimana juga anda bisa berpikir jika istri saya tidak mencintai saya, sedangkan saat ini istriku tercinta tengah mengandung buah cinta kami??." Bola mata Hardi membulat sempurna saat mendengar kalimat Gunawan, sebelum beralih menatap mantan istrinya itu seolah sedang meminta jawaban. dan benar saja Widia pun segera mengangguk, untuk memberi jawaban pada sorot mata Hardi yang penuh tanya.
Kini hanya ada penyesalan yang ada di relung hati serta sorot mata Hardi, karena sudah pernah menyia nyiakan wanita yang begitu dicintainya hanya karena hasutan ibunya.
"Bagaimana bisa begitu cepat kamu melupakan kenangan kita Widia??." mendengar kalimat Hardi itu membuat Gunawan tak sanggup lagi menahan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Bug."
"Mas,,sudah mas!!." mendengar suara istrinya yang terdengar bergetar ketakutan, Gunawan pun mengurungkan niatnya untuk kembali menghajar Hardi.
Widia melakukan hal itu bukan karena ingin membela mantan suaminya, namun ia tak ingin Suaminya itu berurusan dengan pihak berwajib karena sudah melakukan penganiayaan.
"Cepat pergi dari sini !! jika kamu masih ingin melihat matahari kembali bersinar esok hari." dengan suara berat menahan emosi Gunawan memerintahkan Hardi untuk segera pergi, dan benar saja Hardi segera berlalu pergi dengan memegangi sudut bibirnya yang berdarah akibat bogem mentah dari Gunawan.
Untungnya saat melayangkan bogem mentah ke wajah Hardi, Farhan tak lagi berada di ruangan tersebut. karena Gio yang melihat suasana hati bosnya mulai tak bisa di ajak kompromi, maka jalan satu satunya pria itu mengajak serta Farhan keluar dari kamar penginapan tersebut.
Setelah kepergian Hardi, Kini tersisa Gunawan serta Widia di kamar tersebut.
Gunawan segera menutup pintu kamar penginapan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, sehingga membuat Widia pun tak berani memulai obrolan dengan pria itu.
Widia menunduk tak berani menatap wajah suaminya, yang terus menatap lekat wajah cantiknya. pria itu menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
__ADS_1
Saking tegangnya Widia saat ini, untuk menelan salivanya sendiri saja sudah membuat wanita itu begitu kesulitan.
Sampai beberapa menit kemudian Gunawan memulai obrolan.
"Kenapa kamu pergi meninggalkan rumah?? kamu pikir saya akan membiarkan kamu membawa anak saya pergi begitu saja??." mendengar kalimat suaminya membuat wajah Widia merah menahan tangisnya.
"Mas tidak perlu khawatir dengan anak ini, karena bagaimanapun dia juga anakku tidak ada seorang ibu yang rela menyakiti anaknya sendiri!! lagi pula untuk apalagi mas peduli pada anak yang ada di dalam kandunganku, bukannya saat ini mas sudah tidak membutuhkan anak ini lagi." Gunawan nampak menghela nafas panjang kemudian menghembusnya perlahan saat mendengar pernyataan sang istri.
Dari kalimat istrinya sudah jelas jika wanita itu mendengar semua pembicaraan mereka malam itu.
"Jadi benar kamu mendengar pembicaraan kami malam itu??." pertanyaan Gunawan pun mendapat anggukan dari Widia.
"Mas bukan tipe pria yang suka memaksakan kehendak mas pada seorang wanita, mas tidak akan memaksa kamu untuk tetap hidup di sisi mas jika kamu tidak menginginkannya. tetapi satu yang harus kamu tahu, mas juga bukan tipe pria yang bisa berhubungan intim tanpa adanya rasa cinta. jika hanya ingin melakukan hubungan intim mas bisa saja membayar seseorang untuk memuaskan kebutuhan mas di ranjang, tapi mas bukan tipe pria seperti itu Widia. mas hanya bisa melakukan hal itu terhadap wanita yang mas cintai, dan hal itu yang sudah mas lakukan padamu sebagai istri mas." akhirnya keluar sudah pengakuan dari pria dingin tersebut sebuah pengakuan cinta terhadap sang istri.
"Jika saat itu mas hanya melakukannya demi Arista semata, mungkin mas tidak akan membatalkan program bayi tabung yang sudah di rencanakan nyaris sempurna. semua itu mas lakukan karena mas tidak rela ada pria lain yang melihat bagian tubuh dari istri mas. jadi, jangan pernah berpikir jika anak yang ada di dalam kandungan kamu saat ini Hadir tanpa cinta, sebab mas melakukannya dengan penuh cinta pada ibunya." mendengar semua pengakuan sang suami, Widia pun tak sanggup lagi menahan tangisnya.
Sementara Gunawan yang melihat itu berpikir jika Widia menangis karena tak ingin lagi melanjutkan rumah tangga bersama dengannya.
Gunawan mengangkat wajah istrinya dengan telunjuknya agar wanita itu menatap matanya.
"Kenapa, apa kamu sama sekali tidak memiliki perasaan pada mas, sayang??." bukannya menjawab, tangis wanita itu semakin terisak sehingga membuat Gunawan bingung sendiri dengan sikap sang istri.
"I love you Widia Saputri, apapun jawaban kamu sayang, mas ikhlas dengan keputusan yang akan kamu ambil. karena mas tidak bisa memaksa wanita yang mas cintai, sebab melihat wanita yang mas cintai tak bahagia sama saja mas menyiksa diri mas sendiri." Akhirnya Widia pun memeluk erat tubuh suaminya.
"I love you to mas Gunawan." senyum yang tadi sempat memudar di wajah tampannya kini kembali terukir saat mendengar kalimat istrinya.
"Kamu bilang apa tadi sayang??." ujar Gunawan memastikan jika ia tidak salah dengar.
"I love you ayahnya Arista." ujar Widia yang semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam dekapan sang suami, sehingga membuat hati pria itu begitu bahagia.
__ADS_1