Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Mual Muntah.


__ADS_3

"Mas, aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan putraku." dengan wajah memelas Widia berucap pada suaminya, sehingga membuat Gunawan jadi tidak tega melihatnya.


Pria itu kemudian membawa sang istri ke dalam dekapannya berusaha menenangkan, seolah ingin mengatakan pada Sang istri jika semuanya akan baik-baik saja.


"Mas aku takut mereka akan menghasut Farhan agar mau ikut bersama mereka." lagi lagi ucap Widia.


"Tenang sayang, selagi mas hidup, mas tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kamu dan Farhan, mas janji sayang." sahut Gunawan seraya memikirkan cara untuk menggagalkan rencana Hardi dan ibunya, yang sudah pasti ada udang di balik batu menurut Gunawan.


Karena berdasarkan cerita Gio selama ini, ibunya Hardi bahkan tidak pernah memberikan kasih sayang selayaknya pada Farhan selaku cucu kandungnya, tapi mengapa sekarang wanita itu malah berkata jika ia bahkan sampai sakit sakitan Akibat merindukan Farhan. sangat tidak masuk akal menurut Gunawan, sehingga Gunawan berencana untuk mencari tahu apa sebenarnya rencana dari wanita itu.


Setelah melihat istrinya mulai tenang bahkan telah terlelap dalam tidurnya, Gunawan kemudian meraih ponselnya di atas nakas.


Gunawan memilih satu nomor kontak kemudian melakukan panggilan.


"Mulai besok pinta beberapa orang untuk melakukan penjagaan ketat di sekolah Farhan, jangan biarkan siapapun menemuinya, bahkan Hardi dan ibunya!!." titah Gunawan pada seseorang yang tak lain adalah Gio, kepala bodyguard sekaligus asisten pribadinya.


"Baik tuan." jawab Gio patuh di seberang telepon.


"Satu lagi, cari tahu apa sebenarnya motif keduanya ingin Farhan tinggal bersama dengan mereka!." lanjut titah Farhan sebelum mematikan sambungan telepon, dan sudah pasti di seberang telepon Gio mengiyakan perintah tersebut.


"Rupanya kalian memang belum jera bermain main denganku." gumam pria itu dengan senyum seringai, sebelum ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Keesokan harinya.


Ibunya Hardi nampak geram saat ada pria bertubuh tinggi besar melakukan penjagaan ketat di depan sekolah Farhan. wanita itu bisa menebak jika para pria tersebut merupakan orang suruhan Gunawan.


"Rupanya pria itu cukup cerdas, dia bahkan melakukan semua ini saat aku belum bisa meyakinkan anak sialan itu untuk ikut tinggal bersamaku." gumam Ibunya Hardi dari kejauhan saat melihat beberapa bodyguard berdiri di depan gerbang sekolah Farhan. wanita itu tampak geram, terbukti saat ia terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan wajah kesal.


🌹

__ADS_1


🌹


🌹


Beberapa bulan kemudian, Hardi dan ibunya tidak dapat lagi menemui Farhan di sekolahnya, karena penjagaan ketat terus di lakukan oleh bodyguard.


Sehingga Widia kini merasa sedikit lega, begitu juga dengan Gunawan.


Pagi ini seperti biasa, pukul tujuh tiga puluh Gunawan tengah bersiap seraya menunggu kedatangan Gio untuk menjemput dirinya ke kantor.


Gio yang baru saja tiba di depan gerbang tidak sengaja melihat mobil Putri yang baru juga tiba, putri hendak mengantarkan makanan kesukaan sahabatnya, Widia.


"Apa yang anda lakukan di sini Nona??." Gio yang baru kali ini melihat putri datang ke rumah tersebut sekedar bertanya, namun yang di tanya malah sewot.


"Yang jelas bukan mencari anda.". jawab Putri sewot, sebelum kembali melanjutkan langkahnya usai turun dari mobil.


Baru beberapa langkah, kedatangan Putri pun segera di sambut oleh Widia yang hendak mengantarkan putra dan putrinya yang akan berangkat sekolah.


"Tumben kamu punya waktu mengunjungi aku??." cetus Widia sengaja menyindir Sahabatnya, karena kesibukannya sampai tidak punya waktu untuk sekedar mampir.


"Sori Wid, aku sibuk banget akhir akhir ini, lagian ini semua juga karena suami kamu. coba dia tidak memberikan pekerjaan yang begitu banyak untukku, aku pasti akan sering sering mengunjungimu." Widia Langsung tersenyum saat melihat wajah Sahabatnya mulai merengut.


"Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu." Putri menyerahkan rantang bawaannya kepada Widia, rantang yang berisikan soto ayam buatannya sendiri, makanan yang paling di sukai oleh Widia.


Saking antusiasnya, Widia segera membuka penutup rantang tersebut, namun alangkah terkejutnya Putri saat melihat reaksi Sahabatnya tersebut.


"Kenapa, kamu nggak suka??" Putri mengeryit heran saat melihat Widia menutup hidungnya, seperti tidak menyukai aroma Soto ayam buatannya.


"Nggak tahu, cuma aku merasa mual aja mencium aroma Soto ayam ini." Sejujurnya, Widia sendiri bingung dengan dirinya sendiri, bagaimana tidak, Soto ayam buatan Putri merupakan masakan kesukaannya. bahkan saat datang ke kontrakan sahabatnya tersebut, Widia pasti minta di buatkan Soto ayam oleh Putri.

__ADS_1


Mungkin karena sudah tidak tahan menahan mual, akhirnya Widia berlari ke kamar mandi. Putri yang nampak masih bingung, hanya bisa mengangguk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Widia kenapa sih??." gumam Putri Bingung.


Karena Widia tak kunjung kembali, Putri pun segera menyusul ke kamar mandi. untungnya Widia memasuki kamar mandi tamu, jadi Putri tidak canggung untuk menyusul langkah sahabat itu.


"Kamu kenapa sih Wid??." masih dengan wajah bingung Putri bertanya seraya memijat tengkuk Widia.


"Oekk,,,,oooeeek,,,,oooeeek,,,,,." bukannya menjawab, wanita itu semakin memuntahkan hampir semua isi perutnya. sehingga Gunawan yang melintas tidak sengaja mendengar, langsung menghampiri dengan raut wajah Khawatir.


"Kamu kenapa sayang??." Tanya Gunawan yang nampak telah siap dengan stelan jas lengkapnya hendak berangkat ke kantor.


"Nggak tahu tuan, tiba tiba saja Widia mual dan muntah muntah." Putri membantu menjawab pertanyaan Gunawan, sebab Widia masih terus mual dan muntah.


Gunawan mengelus tengkuk serta punggung istrinya bergantian, sebelum kembali melontarkan pertanyaan.


"Kenapa bisa seperti ini sayang??." cecar pria itu mencari tahu penyebab istrinya sampai muntah muntah seperti ini.


"Mati aku, kalau sampai tuan Gunawan tahu Soto ayam buatanku, yang sudah membuat istrinya muntah muntah seperti ini." dalam hati Putri.


Widia merasa tubuhnya sangat lemas, bahkan saat ini wanita itu merasa kakinya tak mampu untuk menopang berat tubuhnya. untungnya Gunawan berdiri tepat di belakang Widia, jadi pria itu menjadi sandaran istrinya.


"Mas, tubuhku lemas banget.". mendengar ucapan sang istri Gunawan segera menggendong tubuh sang istri, lalu berjalan menuju mobil. sementara Putri mengekor di belakang.


"Mas kita mau kemana??." tanya Widia saat suaminya telah melangkah keluar rumah dengan menggendong tubuhnya.


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit, mas tidak ingin terjadi sesuatu padamu sayang." jawab Gunawan dengan raut wajah panik.


Melihat itu Gio segera membantu membuka pintu mobil.

__ADS_1


Gunawan duduk di jok belakang dengan merebahkan kepala Widia di pahanya, sementara Putri duduk di samping kemudi, atau lebih tepatnya duduk di sebelah Gio yang tengah mengemudi.


Putri pun ikut mengantarkan Widia ke rumah sakit dengan menumpangi mobil yang di kendarai Gio, sementara mobilnya di tinggal di rumah bosnya, Gunawan.


__ADS_2