
Widia terus memandang ke arah Arista yang kini tengah fokus mengikuti lomba melukis, sampai beberapa saat kemudian tiba saatnya peserta memperlihatkan hasil lukisan pada juri yang akan memberikan penilaian.
Saat gadis itu mulai memperlihatkan hasil lukisannya ke arah juri, mata Widia mulai nampak berkaca kaca.
Hampir semua peserta sudah mendapat komentar serta penilaian dari juri hingga tiba saatnya lukisan Arista yang menjadi pusat perhatian para juri yang akan segera memberikan penilaian masing-masing.
"Lukisan kamu sangat indah nak Arista, objek di dalam lukisan kamu juga nampak begitu cantik." puji salah satu juri sembari memberi penilaian pada hasil lukisan Arista.
"Jika tidak keberatan, bolehkah nak Arista memberi tahu pada kami siapa sosok wanita yang ada di lukisan kamu hari ini??." lanjut tanya salah satu juri lainnya.
"Sosok wanita yang ada di lukisan ini adalah mama saya pak, hari ini saya sengaja melukis wajah mama saya." jawab Arista seraya memandang ke arah Widia yang kini tengah duduk di salah satu deretan orang tua siswa yang mengikuti lomba melukis.
Semua yang hadir di tempat itu seakan mengikuti pandangan Arista yang kini tertuju pada ibu sambungnya Tersebut. jujur perasaan Widia saat ini begitu terharu bercampur bahagia, bukan karena mendapat pujian namun karena merasa bahagia karena merasa putri sambungnya tersebut begitu menyayangi dirinya.
"Itu mama saya, sosok wanita yang menjadi inspirasi saya dalam melukis." lanjut ucap Arista, masih memandang ke arah Widia di sambut hangat Widia dengan senyuman hangat begitu pun dengan ayahnya, Gunawan Wicaksono. pria itu tak kalah terharunya di banding Widia, ini untuk pertama kalinya putrinya kembali menampilkan wajah berseri seri di depan semua orang sejak kematian ibu kandungnya setahun yang lalu.
"Terima kasih sudah mengembalikan senyum putriku." ucap Gunawan tanpa menoleh ke arah Widia, pria itu tetap fokus memandang ke depan saat memberi ucapan terima kasih pada istrinya tersebut.
Widia sontak menoleh ke arah pria itu seraya tersenyum kecil, tidak percaya seorang Gunawan Wicaksono ternyata bisa mengucapkan kata terima kasih padanya.
Satu jam kemudian usai juri memberi komentar, kini tiba saatnya pengumuman untuk pemenang melukis yang di adakan sekolah tahun ini.
"Baiklah berdasarkan hasil penilaian serta pertimbangan dari Juri, siswa yang menjadi pemenang dalam perlombaan melukis untuk tahun ini jatuh pada Siswa...." MC acara nampak sengaja menggantung kalimatnya, hal itu sontak membuat para peserta dan juga orang tua dari masing masing peserta semakin tegang dengan hasil.
Setelah beberapa saat kemudian MC kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Pemenang dalam perlombaan melukis untuk tahun ini jatuh pada siswi atas nama Arista Wicaksono kelas sembilan A." lanjut ucap MC dalam acara tersebut.
__ADS_1
"Untuk ananda Arista di persilahkan kembali ke panggung!!." ucap MC mempersilahkan Arista naik ke panggung sebagai pemenang lomba untuk menerima piala serta perhargaan atas kerja kerasnya.
Widia serta Gunawan nampak saling pandang seraya tersenyum, keduanya tidak bisa menutupi raut wajah bangga di wajah keduanya saat putri mereka menjadi pemenang dalam perlombaan melukis yang di hadiri kurang lebih lima puluh peserta yang merupakan siswa dan siswi di sekolah tersebut.
Sementara Arista segera berjalan kembali naik ke panggung untuk menerima piala serta penghargaan sebagai pemenang lomba.
" Selamat untuk ananda Arista atas kemenangan anda hari ini, teruslah belajar untuk meningkatkan kwalitas melukis Ananda agar selalu menjadi kebanggaan sekolah kita." ucap kepala sekolah saat menyerahkan piala serta penghargaan pada gadis itu.
Arista nampak mengangguk sambil tersenyum mendengar nasehat dari kepala sekolah, saat ia menerima piala serta penghargaan dari orang nomor satu di sekolah tersebut.
"Bagi ananda Arista silahkan berikan satu dua patah kata untuk semua yang ada di sini sebagai penyemangat untuk siswa lainnya." MC nampak memberikan waktu dan tempat untuk Arista memberikan sepatah dua patah katanya sebagai pemenang lomba.
"Baiklah terima kasih." jawab Arisa setelah menerima Mikerophone yang kini di berikan MC itu padanya."
"Bagi saya semua hasil lukisan teman teman sekalian juga tak kalah indah dengan lukisan saya, hanya saja mungkin kali ini saya sedang beruntung sebab menjadi pemenangnya. menurut saya memang kalah hal yang biasa, namun tetap semangat dan tidak pernah menyerah itu yang luar biasa. mungkin teman teman banyak yang tidak tahu, hampir setahun ini saya hampir jarang melukis di karenakan semangat saya yang sempat luntur sejak kematian ibu kandung saya. namun semangat itu seakan kembali berkobar saat saya melihat wajah wanita yang menurut saya sangat luar biasa, wanita yang bisa mengembalikan semangat saya dalam melukis. terima kasih mama sudah menjadi semangat baru untuk Kakak, terima kasih karena Sudi menjadi ibu sambung bagi kakak. kakak sayang banget sama mama meski mama bukan ibu kandung Kakak, kakak juga berharap mama merasakan hal yang sama." akhir kalimat yang di tujukan Arista pada seseorang yang juga berada di ruangan tersebut, sanggup membuat hampir semua yang ada di sana terharu akan ucapan tulus gadis itu.
Setibanya di atas panggung Widia pun memeluk tubuh putrinya.
"Mama juga sayang banget sama kakak meski kakak tidak lahir dari rahim mama sendiri." ucap Widia ketika wanita memeluk tubuh putrinya, karena saat ini Mikerophone masih dalam genggaman gadis itu maka suara Widia tanpa sengaja masih terdengar oleh semua yang hadir di tempat itu. sehingga membuat hampir semua yang hadir di sana berdiri kemudian bertepuk tangan, ikut bahagia menyaksikan kasih sayang di antara ibu dan anak sambung tersebut. sementara Gunawan yang kini berdiri di antara keduanya mengusap wajahnya yang kini di basahi buliran bening haru.
Untuk pertama kalinya Gunawan menitihkan air mata di tempat umum seperti ini, meski itu merupakan air mata haru.
Satu jam berlalu, kini Gunawan, Widia serta putri tercinta nampak kembali ke mobil bersiap kembali ke rumah karena hampir semua rangkaian acara hari ini telah usai.
Di dalam mobil Widia yang hendak minum merasa kesulitan saat membuka penutup botol air mineral, sehingga membuat Gunawan yang melihat itu kemudian meraih botol dari genggaman wanita itu, lalu mengembalikannya kembali usia membuka penutup botol tersebut.
"Terima kasih mas." ucap Widia saat menerima boro dari suaminya.
__ADS_1
"Hemt." sahut pria itu singkat seperti biasanya.
"Ayah boleh nggak kakak minta hadiah dari ayah dan mama??." pertanyaan gadis itu sontak membuat Gunawan menoleh ke arah belakang sementara Widia nampak hendak memasukkan air dalam mulutnya.
"Memangnya putri cantik ayah ingin hadiah apa dari ayah??." tanya pria itu saat memandang ke arah putrinya.
"Kakak ingin ayah dan mama memberikan adik perempuan buat kakak!!." permintaan putri sambungnya tersebut sontak membuat Widia tersedak.
"Uhuk,,,,uhuk,,,, uhuk,,,," mendengar istrinya batuk akibat tersedak membuat Gunawan beralih memandang istrinya, karena pria itu tahu betul penyebab tersedaknya wanita itu.
Sementara Arista yang tak paham hanya bisa memastikan jika mamanya tidak kenapa Napa.
"Mama nggak papa kan??." tanya gadis itu dengan raut wajah khawatir.
"Nggak papa kok kak, mama nggak papa." jawab Widia setelah merasa batuknya mulai berkurang.
Tiba tiba Arista yang kini sudah berada di mobil melihat salah satu Sahabatnya yang baru saja tiba, sehingga gadis itu pamit sebentar pada kedua orang tuanya untuk menemui temannya tersebut.
"Yah,,,ma,,, tunggu bentar ya, kakak ingin menemui teman kakak." ucap gadis itu sebelum membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Setelah merasa Putri mulai menjauh Gunawan pun melontarkan pertanyaan pada wanita yang kini duduk di sebelahnya.
"Kenapa, apa kamu tidak ingin mengandung anak dariku??." pertanyaan pria itu sontak membuat Widia menoleh ke arah Gunawan.
"Seharusnya aku yang bertanya mas, apa kamu Sudi menerima anak yang lahir dari rahimku??." bak senjata makan tuan, kini Gunawan hanya bisa diam ketika Widia melontarkan pertanyaan yang dia sendiri bingung harus menjawab apa.
Hingga suasana di mobil nampak senyap Sampai kedatangan Arista kembali ke mobil tersebut barulah terdengar suara gadis itu dengan menceritakan tentang salah satu Sahabatnya yang baru saja mendapatkan adik perempuan.
__ADS_1
Mendengar cerita dari gadis itu membuat kedua orang tuanya hanya bisa diam seraya sesekali saling melirik satu sama lain, entah apa maksud dari lirikan itu hanya mereka berdua yang tahu.