Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Kamar Hotel.


__ADS_3

Gunawan berjalan mengandeng tangan Widia dengan langkah lebarnya, sehingga membuat wanita itu kesulitan mengikuti langkah suaminya.


Sampai dengan mendengar suara rintihan Widia saat kakinya hampir tersandung akibat terlalu kesulitan mengikuti langkah Gunawan, membuat pria itu menyadari hal itu.


"Arght." rintih Widia.


"Maafkan aku." ucap Gunawan saat menyadari ternyata kaki istrinya tersebut hampir saja tersandung, saat keduanya sudah mendekati mobil yang di parkir di area parkiran rumah sakit.


"Masuklah!!." titah Gunawan beberapa saat kemudian saat telah membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Widia pun segera masuk ke mobil tanpa berani bertanya, begitupun dengan Gunawan yang segera berjalan mengitari mobil lalu masuk dan duduk di balik kemudi.


Pria itu nampak menghela nafas dalam sebelum menghembusnya perlahan seolah hari ini paru parunya membutuhkan asupan oksigen lebih, sebelum ia menghidupkan mesin mobilnya lalu perlahan menginjak pedal gas hingga mobil yang dikendarainya membelah padatnya jalanan ibu kota.


Jujur saat ini begitu banyak pertanyaan yang melintas di benak serta pikiran Widia, namun wanita itu tak berani bertanya sebab melihat raut wajah suaminya sedang nampak tak baik baik saja.


Sampai dengan beberapa saat kemudian Widia yang mengumpulkan seluruh keberanian dalam diri melontarkan pertanyaan yang membuat pria itu langsung menoleh tajam ke arahnya.


"Mas apa kamu tak ingin Arista sembuh dari penyakit yang di deritanya??." jujur saat bertanya jantung Widia seperti hampir lepas dari tempatnya, karena pria itu sontak menatap tajam ke arahnya.


"Ayah mana yang tidak ingin anaknya segera sembuh??." bukannya menjawab Gunawan malah balik bertanya, sehingga membuat Widia sedikit bingung.


"Jika memang mas ingin Arista segera sembuh dari penyakitnya, lalu kenapa mas membatalkan program bayi tabung tersebut. sementara mas tahu betul jika satu satunya yang bisa menyelamatkan nyawa Arista adalah dengan kelahiran seorang bayi yang merupakan anak kandung mas sendiri." lanjut terang Widia mencoba menyadarkan pria itu jika keputusannya dengan membatalkan program bayi tabung tersebut sama saja dengan menghapus harapan Arista untuk sembuh.


"Siapa bilang seorang anak tidak akan segera lahir, aku akan memastikan kamu akan tetap mengandung anakku, tapi bukan dengan cara bayi tabung." jawaban Gunawan membuat Widia diam seraya mencoba mencerna kalimat yang baru saja terlontar dari mulut pria itu.


Namun tiba tiba Widia kembali bersuara saat menyadari jika jalan yang di tempuh suaminya kini bukanlah jalan menuju rumah.

__ADS_1


"Mas bukankah ini bukan jalan menuju rumah?? ." tanya Widia sembari memastikan jika jalan tersebut memang bukanlah jalan yang biasa mereka lintasi saat hendak kembali ke rumah suaminya.


"Aku memang tak ingin mengajakmu pulang." jawab Gunawan yang kini fokus menatap jalanan.


"Jika tidak hendak kembali ke rumah, lalu kita mau kemana mas??." kembali cecar Widia.


"Diamlah, sebenar lagi juga kamu akan tahu." Titah Gunawan masih dengan fokus menatap jalanan, sehingga membuat Widia tak berani lagi bertanya.


Widia terus bertanya tanya dalam hati kemana suaminya tersebut akan membawanya, sampai pikiran yang tidak tidak kini melintas di pikiran wanita itu.


"Apa mas Gunawan berniat membunuhku, karena merasa aku tidak berguna??." saking dinginnya raut wajah Gunawan saat ini, sampai sampai Widia berpikir sejauh itu.


"Tidak,,, tidak mungkin, mas Gunawan tidak mungkin sekejam itu, dia pasti tidak akan tega melakukannya." lanjut batin Widia yang kini mulai nampak memilin jemarinya sampai buku buku jarinya nampak memutih.


Sampai dengan beberapa saat kemudian pertanyaan Widia seolah terjawab saat mobil yang di kendarai suaminya tersebut memasuki kawasan hotel bintang lima. yang ada di pikiran wanita itu sekarang Adalah suaminya tersebut mungkin sedang membuat janji dengan klien di sana. karena waktunya mepet sehingga pria itu yang tidak sempat mengantarkannya pulang, mengajak serta dirinya bersama.


Widia segera bangkit dari duduknya saat menyadari pandangan suaminya tertuju padanya, dari pandangan pria itu Widia bisa menerka jika Gunawan memintanya untuk mengikuti langkahnya.


Widia nampak mengikuti langkah suaminya dengan menaiki sebuah lift sampai dengan lift tersebut berhenti di lantai empat gedung hotel tersebut.


Wanita itu nampak setia mengikuti langkah suaminya sampai dengan pria itu membuka sebuah pintu kamar hotel dengan sebuah cart.


"Kita mau ngapain ke sini mas??." akhirnya Widia kembali memberanikan diri bertanya, saat menyadari jika ternyata tebakannya tadi salah.


"Masuklah!!." titah Gunawan kemudian Widia pun mengangguk patuh.


Saat telah berada di dalam kamar hotel seketika wanita itu menoleh ke arah sumber suara, saat mendengar pintu tertutup atau lebih tepatnya di tutup oleh suaminya, seketika Widia paham dengan maksud suaminya mengapa mengajak dirinya ke tempat itu. apalagi ketika itu Gunawan nampak membuka jasnya serta membuka beberapa kancing kemejanya hingga tersisa beberapa saja.

__ADS_1


"Tunaikan kewajibanmu sebagai seorang istri!!." ucapan pria itu semakin meyakinkan wanita itu tentang maksud dan tujuan mereka datang ke hotel tersebut.


"Maaf mas, bukannya aku tidak ingin menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri, tapi bukankah mas Gunawan sendiri yang mengatakan dalam surat perjanjian itu bahwa mas tak ingin menyentuhku??." ucap Widia mencoba mengingatkan pria itu akan isi perjanjian yang justru pria itu sendiri yang membuatnya.


"Apa kamu juga lupa dengan pengecualian yang ada di dalam perjanjian itu??." sahut Gunawan dengan santainya sehingga membuat Widia hanya bisa mengangguk paham. bodohnya Widia, wanita itu lupa jika Isi perjanjian itu juga mengatakan jika perjanjian tidak akan berlaku jika yang menginginkannya adalah pihak Gunawan sebagai pihak pertama.


"Apa masih ada pertanyaan lagi??." tanya Gunawan kemudian Widia nampak menggelengkan kepalanya, sebagai tanda ia tak ingin lagi berdebat karena sudah pasti ia akan kalah dari pria itu.


Kini Gunawan nampak duduk di sofa berdampingan dengan istrinya, Widia. saat ini Gunawan bahkan bisa mendengar degup jantung Widia yang berdebar kencang, seperti sedang lari maraton, meski posisinya saat ini berada di belakang wanita itu.


"Huft." Gunawan nampak mengendus aroma harum tengkuk wanita itu, sebelum mendaratkan sebuah kecupan yang membuat wanita itu tersentak karena kaget.


Gunawan nampak membalikkan tubuh Widia, sehingga kini keduanya saling berhadapan.


Tak ada lagi kata yang terlontar dari mulut pria itu, yang ada hanyalah sentuhan yang semakin lama menuntut lebih.


Saat suaminya tersebut mulai mencium bibirnya tanpa sadar air mata meluncur di sudut mata Widia, namun dengan segera wanita itu mengusapnya agar tak nampak oleh pria itu. namun semua itu sia sia, sebab Gunawan telah melihat cairan bening yang mengalir dari sudut mata istrinya tersebut.


"Kenapa, kamu nggak ikhlas melayaniku??." pertanyaan Gunawan sontak membuat Widia merasa berdosa, karena bagaimanapun pria itu kini telah sah menjadi suaminya, dan pria itu berhak atas dirinya termasuk tubuhnya.


"Bukan mas bukan begitu, aku ikhlas mas sungguh." jawab Widia dengan tulus saat Gunawan melepas tautan di antara bibir keduanya, meski ia sendiri berpikir jika suaminya tersebut melakukan hal tersebut karena terpaksa demi kesembuhan putrinya, Arista.


Gunawan yang masih enggan memandang wajah istrinya tersebut karena merasa wanita itu tak siap melayani dirinya. sampai beberapa saat kemudian tindakan Widia mengejutkan Gunawan, saat wanita itu lebih dulu mencium bibirnya dengan lembut sehingga membuat pria itu segera membalas ciuman istrinya tersebut.


"Ya Tuhan kuatkan hati ini, meski mas Gunawan melakukannya tanpa cinta padaku, setidaknya aku sudah menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri baginya." dalam hati Widia terasa nyeri, saat membayangkan jika pria itu menidurinya, namun yang ada di benak serta pikirannya malah wajah mendiang istrinya.


Kini ciuman panas berubah menjadi ******* yang menuntut lebih. sebagai seorang pria yang sudah pernah merasakan nikmatnya bercinta sudah pasti Gunawan tak membuang buang waktu untuk melakukan penyatuan di antara keduanya.

__ADS_1


Sampai dengan pria itu sejenak terkulai lemas di atas tubuh istrinya, yang kini membuatnya kembali merasakan nikmatnya melakukan pelepasan pada pasangannya.


__ADS_2