Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Meninggalkan rumah.


__ADS_3

Di sebuah penginapan sederhana Widia mengajak serta putranya Farhan untuk menginap selama beberapa hari sebelum ia berhasil menemukan sebuah kontrakan baru.


Widia sengaja tak pergi ke kontrakan lamanya setelah meninggalkan kediaman sang suami, karena jika ia pergi ke sana sudah pasti Putri akan ikut kepikiran dengan masalahnya.


Menurut Widia sahabatnya itu sudah terlalu baik padanya, ia tidak mau lagi merepotkan Putri. apalagi saat ini Putri merupakan salah satu pegawai di perusahaan suaminya, ia tidak ingin terkena imbas dari masalah rumah tangganya dengan Gunawan Wicaksono yang tak lain adalah pimpinan perusahaan tempat Putri bekerja.


"Mah, kenapa kita harus pergi meninggalkan rumah ayah Gunawan??." Farhan yang belum juga memejamkan matanya bertanya pada ibunya yang tengah menemaninya tidur.


"Apa mama dan ayah berantem?." lanjut pria kecil itu saat ibunya belum juga menjawab pertanyaan darinya.


Widia nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari putranya.


"Sayang, mamah dan ayah tidak sedang berantem, hanya saja untuk sementara kita harus menginap di sini dulu ya nak!!." hanya itu jawaban yang bisa terlontar dari mulut Widia pada putranya, sebab tidak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya pada seorang anak yang masih berusia tujuh tahun tersebut tentang apa yang terjadi antara kedua orang tuanya.


Farhan nampak manggut-manggut, mungkin karena usianya yang masih terbilang sangat muda, maka pria kecil itu bisa percaya begitu saja dengan jawaban dari ibunya.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari Farhan nampak telah terlelap dalam tidurnya, namun tidak begitu dengan Widia. wanita itu masih nampak melihat layar ponselnya yang menunjukkan panggilan dari kontak Gunawan.


Setidaknya sudah lebih dari dua puluh kali panggilan dari kontak yang sama, namun Wanita itu sama sekali tidak berniat menerima panggilan tersebut.


"Mungkin saat itu telah tiba mas, saat di mana kamu tidak perlu lagi terpaksa menjalani rumah tangga bersama denganku. maaf jika selama ini sudah membuat kamu tidak nyaman karena harus terpaksa hidup bersamaku." Air mata Widia yang sejak tadi terus di Tahan wanita itu akhirnya tumpah ruah bersama dengan tatapan ke layar ponselnya, yang kini menunjukkan kontak suaminya sedang memanggil.


"Sayang, mamah janji akan tetap membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang, sama seperti mama sayang pada kakak kakak kamu, Farhan dan Arista." Gumam Widia sebelum menonaktifkan ponselnya.


***


"Kamu di mana sayang, kenapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?? apa kamu marah pada mas Widia?? apa tadi kamu mendengar semuanya??." Gumam Gunawan di sela aktivitas mengendarai mobilnya mencari keberadaan istri dan anaknya.

__ADS_1


"Kenapa kamu pergi begitu saja Widia, kenapa kamu tidak memberi kesempatan pada mas untuk menjelaskan semuanya padamu. kenapa kamu tidak memberi kesempatan pada mas untuk mengungkapkan perasaan mas yang sesungguhnya padamu Widia." perasaan Gunawan kini bercampur aduk, rasa penyesalan serta Khawatir akan sang istri membuat pria itu nampak menghantam cukup keras setir mobilnya usai menepikan mobilnya.


Baru kali ini Gunawan menitihkan air mata karena seorang wanita selain mendiang istrinya.


"Sebaiknya kamu segera mengungkapkan perasaan kamu pada istrimu Gun, sebelum kamu menyesal nantinya.


!!" Tiba tiba Gunawan teringat akan ucapan sahabatnya,Dr Beni.


"Mengapa dulu aku tidak mendengarkan nasehat Beni, mengapa saat itu aku begitu keras kepala. jika saja aku mendengar nasehat Beni, mungkin Widia tidak akan meninggalkan rumah." gumam Gunawan menyesali kebodohannya yang tetap keras kepala dan tak mengindahkan nasehat dari sahabatnya.


Malam semakin larut namun Gunawan tak juga menemukan keberadaan istrinya, sampai terdengar suara adzan subuh di masjid barulah pria itu mampir di sebuah masjid untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Usai melaksanakan sholat subuh, Gunawan segera kembali ke rumahnya.


Wajah pria itu nampak lesu tak bersemangat, pakaian yang di kenakannya pun sudah nampak lusuh, dengan kemeja yang sudah di gulung hingga ke siku.


Arista bisa merasakan jika saat ini suasana hati Sang ayah sedang tak baik, terbukti dari penampilannya saat ini.


"Apa ayah sudah jatuh cinta sama mama??." tebak Arista dalam hati saat melihat kondisi ayahnya yang merasa begitu kehilangan saat mengetahui istrinya meniggalkan rumah.


"Tapi bagaimana jika mama malah ingin berpisah dari ayah setelah mendengar semuanya, hal itu pasti akan membuat ayah hancur. maafkan Arista, ayah, Arista janji akan menemukan mama secepatnya, Arista juga janji akan kembali mempersatukan kalian segera, apalagi saat ini mama Widia sedang mengandung anak ayah." lanjut gumam Arista sembari memperhatikan ayahnya yang kini tengah duduk bersandar di sofa dari kejauhan.


Mungkin karena kelelahan Gunawan tertidur dengan posisi bersandar di sofa, sampai pukul tujuh pagi pria itu kembali terjaga.


"Ayah sebaiknya kita sarapan dulu!!." ajak Arista saat melihat ayahnya hendak beranjak dari duduknya.


"Ayah tidak lapar sayang, kamu saja yang sarapan!!." jawab Gunawan sembari melanjutkan langkahnya menuju kamar.

__ADS_1


Baru kali ini ayahnya bersikap seperti ini setelah meninggalnya sang bunda, sebagai seorang anak Arista semakin yakin dengan dugaannya, jika ayahnya kini memang telah jatuh cinta pada sang istri yang kini telah mengandung benihnya.


Meski pikirannya sedang kalut karena sang istri meninggalkan rumah, namun Gunawan tetap pergi ke kantor.


***


Pagi ini tak seperti beberapa Minggu terakhir, Wajah pria tampan itu kembali dingin seperti sebelumnya. bahkan ia tidak mengindahkan sapaan dari para pegawainya.


Sehingga membuat pegawai yang pagi ini berpapasan dengannya menjadi heran termasuk Putri, sahabatnya Widia. apalagi pria itu menatap tajam ke arah Putri saat keduanya kebetulan berpapasan di koridor gedung.


Meski tak mengeluarkan sepatah katapun, Putri bisa menebak jika ada sesuatu yang tidak beres dengan pimpinannya Tersebut.


"Ada apa dengan tuan Gunawan, apa beliau sedang bertengkar dengan Widia?? apa sebaiknya aku tanyakan langsung saja pada tuan Gunawan??." begitu banyak pertanyaan yang berputar putar di kepala Putri saat ini.


Dengan mengumpulkan semua keberanian yang ada Putri memasuki ruangan pimpinan sebelum mengetuk pintu lebih dulu.


Putri pun segera masuk setelah di persilahkan oleh empunya ruangan.


"Maaf jika saya mengganggu waktu anda tuan, saya hanya ingin bertanya tentang kondisi sahabat saya, Widia, pada anda tuan." pertanyaan Putri mendapat tatapan tajam dari pria itu.


"Kenapa kamu malah bertanya pada saya, bukankah seharusnya saya yang bertanya sama kamu, di mana istri saya dan bagaimana kondisinya saat ini??." Putri semakin bingung saat pertanyaannya malah di jawab oleh pertanyaan pula dari pria itu.


"Apa maksud ucapan anda tuan saya tidak mengerti??." melihat dari raut wajah putri yang nampak Bingung membuat Gunawan mematahkan dugaannya, jika saat ini istrinya tengah bersama dengan wanita itu.


"Istriku meninggalkan rumah semalam." Akhirnya Gunawan mengatakan hal itu pada Putri, saat melihat wajah Putri seperti benar benar tidak mengetahui tentang kepergian Widia.


"Apa??." Saking cemasnya pada sahabatnya, Putri Sampai lupa jika saat ini ia tengah berbicara dengan atasannya, terbukti dari nadanya yang sedikit meninggi.

__ADS_1


__ADS_2