Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Khawatir.


__ADS_3

Keesokan harinya


Gunawan telah bersiap ke kantor karena sudah beberapa hari sejak Widia di rawat di rumah ini hari pertama pria itu kembali bergelut dengan kesibukannya di perusahaan miliknya.


Saat hendak berangkat dengan di antarkan sang istri Sampai ke depan, ponsel Gunawan berdering tanda sebuah pesan masuk di aplikasi hijau miliknya.


Widia yang saat itu memperhatikan sikap sang suami sempat di buat bingung, sebab raut wajah suaminya yang awalnya nampak berseri-seri berubah menjadi menegang seketika saat membaca sebuah pesan yang Widia sendiri tidak tahu pasti siapa yang baru saja mengirim pesan pada suaminya.


Meski heran dengan perubahan sikap sang suami, Widia Sama sekali tak berani bertanya sampai pria bersuara.


"Jangan pergi kemanapun selagi saya tidak ada di rumah, saya akan pulang lebih awal hari ini." ucap pria itu sebelum berangkat dengan menggunakan mobilnya.


Setelah mobil yang di kendarainya mulai keluar dari gerbang rumah, Gunawan menggunakan airphone lalu menghubungi seseorang.


"Kamu kerahkan beberapa orang bodyguard untuk berjaga jaga di rumah, jika ada yang mencurigakan segera hubungi saya!!." titah Gunawan begitu panggilannya tersambung pada seseorang yang tak lain adalah Gio asisten sekaligus bodyguard pribadinya.


Usai memberikan perintah Gunawan langsung mematikan sambungan telepon.


"Ternyata aku salah terlalu meremehkan nyali pria itu." gumam Gunawan di sela sela kesibukannya mengemudikan mobilnya menuju perusahaan miliknya.


Gunawan kembali teringat pesan yang tadi di kirimkan seseorang padanya, seseorang yang bisa di tebak pria itu adalah Hardi, mantan suami Widia.


"Sekali lagi pria itu berani menyentuh istriku dengan tangan kotornya, aku pastikan pria itu tidak akan bisa lagi menggunakannya kedua tangannya." Gumam Gunawan dengan rahang yang nampak mengeras menahan emosi.


"Anda jangan berbangga diri bisa menikahi mantan istri saya, karena saya tahu alasan mengapa Anda menikahi Widia. anda tidak mencintainya, anda menikahinya hanya karena putri anda. saya pastikan, tidak lama lagi Widia akan kembali padaku karena aku masih sangat mencintainya." pesan yang masuk di aplikasi hijau miliknya tadi terus terlintas di benak serta pikiran Gunawan, sehingga membuatnya semakin kesal dan seketika menepikan mobilnya lalu memukul keras setir mobilnya.

__ADS_1


"Brengsek,,,,pria itu belum tahu dia sedang bermain main dengan siapa." Ucap Gunawan dengan senyuman sinis.


Setelah merasa perasaannya lebih tenang Gunawan pun melanjutkan perjalanannya.


Setibanya di perusahaan, Gunawan langsung di hampiri oleh asisten pribadinya Gio.


"Selamat pagi tuan." Gio yang melangkah di Belakang Gunawan memberi salam, namun sayangnya pria sama sekali enggan menjawab, Gunawan terus melangkah, sampai memasuki ruangannya, barulah pria itu bersuara.


"Pastikan usaha yang baru di rintis pria itu mengalami kebangkrutan, saya hanya ingin memberi peringatan padanya bahwa dia telah bermain main dengan orang yang salah!!." mendengar perintah bosnya Gio kemudian mengangguk patuh, sebab pria itu bisa menebak jika pria yang di maksud bosnya tersebut adalah Hardi yang tak lain adalah mantan suami dari istrinya.


"Baik tuan." Gio kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan bosnya, hendak melaksanakan perintah dari bosnya tersebut.


Hari ini Gunawan di sibukkan dengan dokumen yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya, bukannya untuk mengerjakannya namun pria itu hanya perlu membubuhi dokumen dokumen tersebut dengan tanda tangannya selaku pimpinan perusahaan.


Gunawan segera meninggalkan ruangan kerjanya hendak kembali ke rumah saat waktu menunjukkan pukul lima sore.


"Letakan saja di atas meja, saya akan menandatangani nya besok karena sekarang sudah pukul lima sore." dari kalimat yang terlontar dari mulut atasannya tersebut Gisel bisa menebak jika pria akan segera kembali ke rumah, sehingga ia tak berani lagi berkomentar. wanita itu pun meletakkan berkas tersebut ke atas meja, sebelum keluar dari ruangan bosnya.


"Aku jadi penasaran dengan sosok wanita yang mampu melelehkan dinginnya gunung es." dalam hati Gisel sebelum benar benar keluar dari ruangan tersebut.


Saat tiba di rumah Gunawan yang mencari keberadaan istrinya hampir seluruh penjuru rumah, namun pria itu tak kunjung mendapati keberadaan sang istri. sehingga membuatnya terlihat begitu khawatir.


"Bi, kemana istri saya??." Gunawan menuju dapur kemudian bertanya pada Bi Inah yang tengah sibuk memasak untuk makan malam.


"Tadi tuan pamit ke toko buku tuan, katanya ingin mencari keperluan sekolah anak anak." jawab Bi Inah sebab tadi sebelum berangkat Widia berpamitan pada kepala ART tersebut.

__ADS_1


Mendengar ucapan bi Inah membuat raut wajah Gunawan semakin kesal lalu berlalu begitu saja keluar dari rumah dengan menggunakan mobilnya.


"Kenapa kamu tidak mendengarkan perintah saya Widia, bukankah saya sudah bilang jangan pergi kemanapun selama saya tidak ada di rumah." Gunawan yang kesal Nampak bergumam.


Sudah beberapa toko buku yang didatangi oleh Gunawan namun tak juga menemukan keberadaan istrinya, sehingga membuat rahang pria itu nampak semakin mengeras akibat menahan emosi karena khawatir.


Hampir satu jam berkeliling mencari keberadaan Sang istri yang entah di mana keberadaannya, Gunawan pun memutuskan kembali ke rumah. berharap wanita itu telah tiba di rumah.


Untungnya harapan Gunawan benar, saat kembali ke rumah pria itu mendengar suara istrinya yang tengah mengobrol dengan anak anaknya di ruang keluarga.


Saking kesal istrinya tersebut tak mengindahkan perintahnya sehingga membuatnya Khawatir setengah mati, pria itu tak sadar bertanya pada wanita itu dengan nada tinggi, sehingga membuat kedua anaknya langsung menatap takut pada ayah mereka.


"Dari mana saja kamu, bukankah sudah saya bilang jangan kemanapun selama saya tidak ada di rumah!!." akibat khawatir Gunawan sampai tak sadar melontarkan kalimat dengan nada tinggi, bukan hanya Widia di buat terkejut tapi kedua anak mereka pun ikut terkejut sekaligus ketakutan saat mendengar nada suara ayahnya.


"Kalian ke kamar dulu ya sayang, mungkin ayah kalian ingin bicara dengan mama!!." titah Widia pada kedua anaknya, meski dirinya sendiri pun tak kalah takutnya dengan kedua anaknya.


"Baik ma." jawab keduanya patuh yang sesekali memberanikan diri memandang ke arah ayah mereka.


Widia sengaja meminta kedua anaknya segera kembali ke kamar, wanita itu tidak ingin kedua anaknya tersebut melihat ayah mereka memarahi dirinya.


Setelah memastikan kedua buah hatinya telah menjauh dari keduanya, Widia pun mulai menimpali pertanyaan dari Gunawan tadi.


"Maafkan aku mas tadi aku hanya pergi ke toko buku sebentar untuk mencari keperluan sekolah anak anak. sebenarnya tadi aku sudah menghubungi mas Gunawan untuk meminta izin, tapi ponsel mas sedang tidak bisa di hubungi." Meski sakit hati dengan nada suara tinggi sang suami Widia tetap menjawab dengan tenang.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu dan anak kita??." pertanyaan Gunawan membuat Widia kemudian tersenyum getir.

__ADS_1


"Mas jangan lupa anak ini bukan hanya anak mas seorang, tapi dia juga anakku. sebagai seorang ibu tidak mungkin aku akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti anak yang ada di dalam kandunganku. jadi, mas tidak perlu terlalu khawatir!!." jawab Widia yang berpikir jika kemarahan pria itu di sebabkan Khawatir dengan anak yang ada di dalam kandungannya saja.


"Haaaahhh???." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Gunawan, tidak habis pikir jika wanita itu salah mengartikan kekhawatirannya.


__ADS_2