Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Lomba.


__ADS_3

Pagi harinya Widia yang bangun lebih awal, segera turun guna menyiapkan sarapan untuk suami serta anak anaknya. meski Gunawan mempekerjakan lebih dari lima orang asisten rumah tangga, namun tidak membuat Widia serta merta melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. wanita itu tetap bangun lebih awal untuk memastikan menu sarapan yang akan mengisi perut suami, mertua serta anak anaknya, sebelum melakukan aktivitas masing masing.


Meski ia hanya menjadi istri sementara, bagi pria berprofesi sebagai pengusaha ternama tersebut.


Gunawan yang baru saja mengerjapkan matanya, kini menatap ranjang yang telah kosong tak ada lagi dua orang wanita yang semalam terlelap di atasnya.


Sayup terdengar gemericik air dari arah kamar mandi, sehingga Gunawan bisa menebak jika putrinya tengah mandi. sehingga ia pun segera beranjak meninggalkan kamar putrinya tersebut, untuk segera mandi lalu bersiap. sebab pagi ini di sekolah Arista akan di adakan perlombaan melukis, sebagai orang tua dari siswi yang juga mengikuti perlombaan tersebut, Gunawan mendapat undangan dari pihak sekolah untuk menghadiri acara perlombaan itu.


Awalnya Gunawan ingin menghadiri acara tersebut seorang diri, namun Arista meminta agar wanita yang kini di panggilnya dengan sebutan mama tersebut ikut bersama. akhirnya dua hari yang lalu baik Gunawan maupun Widia sepakat untuk menghadiri acara di sekolah Arista bersama sama, hanya Farhan yang tak bisa ikut sebab pria kecil itu juga harus tetap bersekolah.


Usia mandi dan bersiap siap Gunawan segera turun dari kamar menuju meja makan, di mana nampak Widia yang sedang menata makanan di meja.


"Sebaiknya kamu segera mandi dan bersiap, sebentar lagi kita akan ke sekolah mendampingi Arista!!." titah Gunawan setelah Widia meletakkan selembar roti yang telah di oles dengan selai ke piring suaminya. selama beberapa hari menjadi nyonya di rumah itu, belum pernah sekalipun Widia melihat suaminya tersebut sarapan dengan sepiring nasi. pria itu pasti hanya akan memakan selembar roti yang telah di olesi selai, dengan alasan menjaga asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. demi menjaga bentuk tubuh yang atletis, begitu lah kiranya menurut pria bernama Gunawan Wicaksono.


Tidak bisa di pungkiri, Gunawan memang memiliki bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh yang begitu di idamkan kaum hawa.


"Baik mas." jawab Widia patuh sebelum berlalu kembali ke kamar.


Beberapa saat setelah Widia kembali ke kamar, Arista nampak menuruni anak tangga bersama dengan adiknya, Farhan.


"Maaf ya kak, Ade nggak bisa iku menyaksikan kakak berlomba hari ini." ucap Farhan di sela langkah keduanya.


"Nggak papa dek, lagi pula akan ada Ayah dan mama yang akan menemani kakak di sana." sahut Arista seraya menggenggam tangan Farhan.


Setelah tiba di meja makan Arista nampak bertanya saat gadis itu tak melihat sosok Widia.


"Yah, mama kemana, kok sejak tadi nggak kelihatan??." tanya Arista seraya celengak celenguk mencari keberadaan Widia.


"Mama kamu lagi bersiap siap, sebentar lagi kan kedua orang tuamu akan menghadiri perlombaan melukis di sekolahan kamu." namun belum sempat Gunawan menjawab, omanya yang kini juga melangkah menuju meja makan, mendahului putranya untuk menjawab pertanyaan dari cucunya tersebut.


Sementara menikmati sarapan, Farhan yang tak sengaja memandang ke arah datangnya sang mama, seperti biasa pria berusia sepuluh tahun tersebut pasti memuji kecantikan wanita yang melahirkan dirinya tersebut.

__ADS_1


"Mama cantik banget." mendengar pujian Farhan membuat Gunawan mengikuti arah pandangan Farhan. tidak bisa di pungkiri, ucapkan Farhan memang bukanlah isapan jempol belaka. Widia memang terlihat begitu cantik dengan balutan dres di bawah lutut yang berwarna merah maron, warna yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. di tambah lagi dengan tatanan rambut yang di buat Carli semakin membuat Widia nampak seperti gadis belasan tahun.


Tanpa sadar Gunawan tak berkedip sedikitpun saat memandang ke arah datangnya wanita itu, sampai dengan suara ibunya menyadarkan pria nya.


"Nggak takut copot tuh mata." ucap ibunya lirih sebab Posisi ibunya duduk tepat di depan Gunawan. seketika Gunawan kembali fokus pada sarapan yang ada di depannya setelah sebelumnya melirik ke arah ibunya.


Arista yang juga ikut memandang ke arah Widia, segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri wanita itu.


"Wah ,,,mama cantik banget, kalau gini bisa di sangka anak gadis nih sama teman teman sekolah kakak." puji Arista seraya berjalan menghampiri Widia.


"Kakak bisa aja." jawab Widia seraya melirik ke arah suaminya yang kini juga kembali melirik ke arahnya, Sehingga membuat wanita itu canggung sebab tak sepatah kata pun yang terlontar dari bibir pria itu.


Kini Widia ikut sarapan bersama, sebelum mengantarkan Farhan ke sekolahnya lalu melanjutkan perjalanan menuju sekolah Arista.


Widia duduk di samping Gunawan yang tengah menyetir sementara Arista duduk di bangku Belakang.


Tiga puluh menit setelah mengantarkan Farhan di sekolahnya, kini mobil yang di kendarai Gunawan tiba di sekolah Arista.


Arista yang di temani ibu sambungnya itu lebih dulu turun dari mobil, sementara Gunawan masih nampak membaca sebuah pesan yang baru saja masuk di ponselnya.


"Nanti juga ayah turun kak." jawab Widia, sebelum beberapa orang siswi datang menghampiri keduanya atau lebih tepatnya menghampiri Arita.


"Siapa Ris???." tanya salah seorang siswi yang merupakan sahabat Arista dengan nada lirih, karena penasaran dengan sosok wanita yang kini datang bersama dengan gadis itu.


Di saat bersamaan Widia mendengar ponselnya berdering, sehingga wanita itu sedikit menjauh dari putrinya, guna menerima panggilan yang ternyata dari sahabatnya, Putri.


"Nyokap gue." jawab Arista dengan bangganya, mengakui Widia sebagai ibunya seraya memandang ke arah Widia yang nampak berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Sementara sahabatnya yang tahu tentang tentang kematian ibu kandung Arista, bisa menebak jika wanita itu adalah ibu sambung dari sahabat mereka tersebut.


"Gila Ris, cakep banget nyokap Lo." puji salah satu temannya tepat saat Gunawan sudah melangkah mendekati mereka, sehingga pria itu dapat mendengar dengan jelas pujian yang di tujukan untuk istrinya tersebut.

__ADS_1


"Jelas dong siapa dulu suaminya, bokap gue gitu." jawab Arista yang seperti biasa pasti memuji sosok ayahnya.


"Nggak kebayang Ris gimana cakepnya adik perempuan Lo nanti, bisa bisa kalah Lo sama adik perempuan Lo entar." timpal salah satu sahabat Arista yang posisinya membelakangi kedatangan Gunawan, sehingga pria itu bisa mendengar dengan jelas ocehan anak remaja tersebut.


"Kalian bisa aja." bukannya marah mendengar ocehan sahabatnya, Arista justru tersenyum manis kala terbayang akan sosok adik perempuannya kelak.


"Hemt." deheman Gunawan membuat para sahabat Arista diam seketika Seraya memandang ke sumber suara.


"Eh,,,Om, apa kabar Om." sapa salah satu sahabat Arista basa basi karena salah tingkah, Khawatir ocehannya tadi terdengar oleh ayahnya Arista.


"Alhamdulillah,,, seperti yang kalian lihat, Om sehat." jawab pria itu penuh wibawa.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu." ucap Widia yang kini kembali menghampiri yang lainnya seraya memasukan ponselnya ke dalam tas jinjing miliknya.


"Nggak papa kok Tante." jawab sahabat Arista hampir bersamaan.


Ketika hendak melanjutkan langkah untuk memasuki gedung perlombaan, Gunawan nampak merangkul pinggang Widia. meski sedikit terkejut dengan sikap suaminya, namun Widia sama sekali tidak protes, ia hanya sesekali melirik ke arah tangan Gunawan yang kini melingkar di pinggangnya.


Setelah berjalan kaki sekitar beberapa meter kini mereka tiba di Aula, di mana telah terlihat orang tua siswa yang juga hadir mendampingi buah hati masing masing.


Ketika hendak melangkah di deretan bangku Widia merasa aneh saat beberapa orang siswa terus memandang ke arahnya, sehingga membuat wanita itu berpikiran jika ada yang salah dengan penampilan saat ini.


"Mas." ucap Widia saat keduanya telah duduk di deretan bangku, sementara Arista serta para sahabatnya telah bergabung dengan siswa siswi yang lain.


"Hemt." sahut Gunawan yang kini fokus memandang ke depan.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini, soalnya sejak tadi anak anak itu terus memandang ke arahku." lanjut kata Widia, bertanya pada sang suami tentang penampilannya saat ini.


"Nggak ada yang salah dengan penampilan kamu, mungkin anak anak itu saja yang tidak pernah melihat wanita cantik." sahut Gunawan dengan nada sedikit lirih, namun masih terdengar samar di telinga Widia.


"Mas ngomong apa tadi??." tanya wanita itu memastikan jika ia tidak salah dengar, saat pria itu secara tidak langsung mengakui kecantikan istrinya.

__ADS_1


"Fungsi telinga kamu masih baikkan??." bukannya menjawab pria malah memberikan pertanyaan yang membuat Widia menjadi kesal sendiri, namun begitu ia tidak menampakkan kekesalannya di depan Gunawan.


"Nih orang pelit ngomong, sekalinya ngomong nyampe ke jantung rasanya." dalam hati Widia dongkol, sementara Gunawan yang menyadari itu pun tersenyum tipis.


__ADS_2