Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Bagai jatuh tertimpa tangga.


__ADS_3

Bagai mimpi di siang bolong, seperti itulah perasaan Widia saat ini karena jabang bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu terpaksa harus di keluarkan akibat pendarahan hebat yang di alami Widia.


Meski bibirnya masih bisa tersenyum di depan sang suami, namun sorot mata tak bisa berbohong. jika saat ini wanita itu merasa sangat sedih karena harus kehilangan calon buah hatinya.


Hancur, begitulah perasaan Gunawan saat ini, bukan hanya karena kehilangan calon buah hatinya namun juga karena melihat kondisi sang istri saat ini.


"Maafkan mas sayang, karena tidak bisa menjaga kamu dan calon anak kita dengan baik." Ucap Gunawan seraya menundukkan kepalanya, pria itu sungguh merasa bersalah. meski kejadian itu sama sekali bukan kesalahannya, tetapi sebuah kecelakaan yang Arista sendiri sama sekali tidak sengaja melakukannya.


"Mas tidak perlu merasa bersalah, mungkin ini sudah menjadi takdir yang harus terjadi di dalam ruang tangga kita sebagai ujian." sahut Widia dengan suara lemahnya, sengaja memberikan kekuatan agar suaminya ikhlas menerima semua yang telah terjadi. meski pada kendaraan, ia sendiri bahkan merasakan kesedihan yang lebih mendalam. sebab wanita mana yang tidak hancur hatinya, saat kehilangan calon buah hatinya.


🌹🌹🌹


Seminggu berlalu, Widia masih di rawat di rumah sakit, namun kondisi wanita itu semakin membaik. namun sayangnya selama di rawat di rumah sakit tak sekalipun anak sambungnya, Arista menjenguk.


"Mas, kemana kakak(Arista), kenapa kakak tidak kesini, apa Kakak masih marah sama aku mas??." Widia memandang ke arah pintu, seperti mengharapkan kedatangan seseorang.


Gunawan mendengar pertanyaan sang istri namun pria itu berpura pura tak mendengar, karena bingung harus memberikan jawaban seperti apa.


"Mas."


"Iya sayang."

__ADS_1


"Mas kok nggak Jawab pertanyaan aku, Kakak kok nggak ikut ke sini??." Widia mengulangi pertanyaannya.


"Anak anak lagi sekolah sayang, sebaiknya kita siap siap sekarang karena dokter sudah mengizinkan kamu untuk pulang hari ini." Widia mengeryit heran karena suaminya seperti sengaja mengalihkan pembicaraan.


Dari raut wajah pria tampan itu Widia bisa menebak jika ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan Gunawan darinya.


"Ada apa mas, apa yang coba mas sembunyikan dariku??." Gunawan nampak salah tingkah saat Widia bertanya seperti itu. namun sebagai suami Gunawan tak sanggup berbohong pada sang istri, namun saat ini pria pun tak sanggup mengatakan kejujuran yang sangat menyakiti hatinya serta membuat pria itu gelisah seminggu terakhir ini.


"Sayang, apapun yang akan terjadi kita akan menghadapinya bersama sama. dan sayang percayalah apapun yang akan terjadi, tidak akan merubah perasaan mas padamu, Widiaku sayang." Kalimat Gunawan semakin meyakinkan Widia, ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan pria itu darinya.


Usai berkemas keduanya kembali ke rumah dengan di sopirkan oleh Gio selaku asisten pribadi dari Gunawan.


Di perjalanan Gunawan duduk di samping sang istri nampak lebih banyak diam, sehingga membuat Gio tak tega melihatnya.


Namun saat tiba ada yang berbeda, ada sebuah mobil asing bagi Widia, yang terparkir di area kediaman mewah tersebut. mobil itu asing bagi Widia namun tidak bagi Gunawan, sebab sudah seminggu terakhir mobil itu bolak balik kediaman miliknya.


Gunawan segera turun dari mobil hendak menemui pemilik mobil, dengan meninggalkan sang istri dengan pandangan penuh tanya.


"Bukankah sudah saya katakan pada anda, jika saat ini kondisi kesehatan istri saya belum pulih sempurna. jadi saya harap anda bisa mengerti!!." ujar Gunawan tanpa basa basi menghampiri dua orang tamu pria, yang seperti sengaja menunggu kedatangannya.


"Sebaiknya anda bicara saja dengan pengacara saya, karena kondisi kesehatan istri saya masih sangat tidak memungkinkan untuk menjawab pertanyaan dari anda. lagi pula pihak kepolisian tidak cukup bukti untuk menjadikan istri saya sebagai tersangka pembunuhan almarhumah Rahma, istri saya hanya saksi yang kebetulan ada di TKP saat kejadian itu terjadi." saat menjelaskan pada dua orang pria yang merupakan anggota kepolisian, Gunawan tidak melihat jika istrinya kini sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Bagaimana anda bisa menetapkan saya sebagai tersangka pada kasus yang sama sekali tidak saya lakukan??." dengan mata berkaca-kaca menahan buliran bening yang hampir saja lolos di pelupuk matanya Widia berkata kata, sehingga membuat Gunawan sontak menoleh ke arah Sang istri.


"Sayang tenanglah!! mas janji akan menyewa pengacara terbaik di negeri ini untuk menangani kasus ini.." Gunawan segera menghampiri dan menggenggam erat tangan Widia.


"Aku tidak salah mas, bagaimana bisa aku harus menanggung dosa yang tidak pernah ku perbuat." rasanya kali ini Widia merasa dadanya begitu sesak, belum juga kesedihannya kehilangan calon buah hatinya terobati kini ia harus mendapat luka baru saat pihak kepolisian hendak melakukan penyidikan padanya atas kasus kematian Rahma setahun yang lalu.


"Maaf nyonya untuk saat ini kami belum mengatakan jika anda adalah tersangka dalam kasus ini, namun berdasarkan laporan dari kakak kandung korban, jika beliau menentukan barang bukti yang merupakan sebuah anting di TKP. dan kakak kandung korban menduga jika sebelah anting yang di temukan di TKP tersebut merupakan milik anda, sebab Nona Sela menemukan sebelah anting lainnya ada di kamar anda." terang salah seorang petugas kepolisian.


Baru saja Widia hendak memberikan pembelaan, namun suara seseorang terdengar begitu menggelegar hampir ke seluruh ruangan tersebut, sehingga Widia sontak menoleh ke arah sumber suara, saat lengkingan suara itu seperti hendak merobek jantungnya.


"Kamu pikir kami ini bodoh hah,,,tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan Widia, saat kecelakaan itu terjadi kamu berada di TKP. dan setahun berselang kamu menikah dengan suami almarhumah, lalu alibi apa lagi yang akan kamu jadikan alasan haaahhh???." Sela sengaja mendatangi kediaman mantan adik iparnya, karena wanita itu tahu dari Arita jika hari ini Widia akan kembali dari rumah sakit. dan bukan secara kebetulan pihak kepolisian hari ini mendatangi kediaman Gunawan Wicaksono, mereka sengaja datang karena mendapatkan informasi dari Sela, jika hari ini dokter telah mengizinkan Widia kembali ke rumah.


"Nona mungkin anda benci pada saya karena berpikir saya merebut cinta mas Gunawan dari mbak Rahma, tapi jangan lupa mbak, saya bertemu dengan mas Gunawan saat mbak Rahma telah tiada. meski saya sadar betul jika anda tidak menyukai kehadiran saya di sisi mas Gunawan, tapi saya tidak menyangka jika anda sampai tega memfitnah saya sekeji ini." Ujar Widia yang tetap mencoba tenang meski saat ini hanya tuhan yang tahu bagaimana hancurnya hati wanita itu.


Terlebih lagi saat melihat anak sambungnya, Arista yang nampak hanya diam berdiri di belakang Sang Tante, sama sekali tidak membenarkan pembelaan dirinya.


"Baiklah bapak bapak yang terhormat, karena saya merupakan warga negara yang patuh akan hukum maka saya akan ikut dengan anda untuk melakukan pemeriksaan." ujar Widia masih berusaha menunjukkan raut wajah tenang. berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sang suami, Gunawan, yang nampak langsung mengepalkan kedua tangannya geram.


Namun Widia segera menatap sang suami seraya menggeleng, seolah memberi isyarat pada sang suami untuk tidak menyelesaikan masalah ini dengan emosi.


Gunawan yang melihat itu hanya bisa menarik napas dalam dalam, seperti sedang menetralkan emosinya yang hampir membeludak.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan mengizinkan anda melakukan pemeriksaan terhadap istri saya, namun saya tekankan pada anda jika anda tidak memiliki bukti yang cukup dan istri saya terbukti tidak bersalah tetapi anda tetap kekeh dengan dugaan dan persepsi anda, saya pastikan anda akan kehilangan seragam kebanggaan anda ini tuan tuan,,,," meski terdengar tenang namun kalimat Gunawan terselip amarah.


__ADS_2