Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Kedatangan Putri.


__ADS_3

Meski sangat dekat dengan Putri, namun Widia tak ingin menceritakan masalah rumah tangganya pada sahabatnya tersebut. bukan karena Widia tak percaya pada Putri, namun karena wanita tak ingin membuat sahabatnya itu ikut terbebani karena kepikiran.


"Aku tidak yakin dengan semua yang kamu ceritakan Wid, aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku tentang kehamilan kamu." dalam hati Putri saat Widia dengan senyum manisnya mengatakan jika pernikahannya baik baik saja.


"Jika kamu sengaja menutupinya dariku, itu artinya kamu belum siap berbagi cerita denganku Widia. sebagai sahabat aku hanya bisa mendoakan kamu hidup bahagia bersama dengan tuan Gunawan." lanjut dalam hati Putri, wanita itu nampak melamun sehingga membuat Widia melambaikan tangannya pada sahabatnya tersebut.


"Ada apa denganmu put, apa kamu nggak enak badan??." tanya Widia saat melihat sahabatnya itu lebih banyak melamun.


Putri pun tersenyum " aku nggak papa Kok Wid, hanya kelelahan aja, soalnya sudah beberapa hari ini aku lembur di kantor." Putri terpaksa berbohong, namun jawaban Putri justru membuat Widia jadi tidak enak hati, karena perusahaan tempat Putri bekerja adalah milik suaminya.


Widia menggenggam kedua tangan sahabatnya "maaf ya Put, jika mas Gunawan sudah terlalu memaksa kalian untuk bekerja sampai larut malam." kata Widia dengan raut wajah bersalah.


"Nggak perlu minta maaf kali Wid.". Sahut Putri dengan senyum khasnya sehingga membuat Widia ikut tersenyum sebelum melepaskan genggaman tangannya.


Asyik berbincang di ruang keluarga tiba tiba suara seseorang, namun ada sesuatu yang membuat Putri seperti tidak percaya.


Nada suara pria yang biasa selalu terdengar tegas penuh wibawa bahkan mampu membuat para pegawai merasa terintimidasi meski hanya dengan mendengar suaranya, kini terdengar begitu hangat saat berbicara dengan sang istri.


"Assalamualaikum,,,,maaf mas tadi ada meeting di kantor jadi tidak sempat menelepon kamu siang tadi". dengan lembut Gunawan mencium kening istrinya usai bertutur, ketika pria itu baru saja tiba di rumah. Putri bisa menebak jika pria itu baru saja kembali dari kantor sebab saat ini waktu telah menunjukkan pukul lima sore.


"Waallaikumsalam mas." meski merasa canggung saat sang suami mengecup keningnya di depan putri, namun Widia tetap bersikap biasa. takutnya jika ia menolak perlakuan Gunawan pria itu akan marah padanya.

__ADS_1


Gunawan beralih memandang ke arah Putri kemudian tersenyum, sebelum kembali memandang ke arah istrinya."Mas mau ke kamar dulu, silahkan di lanjutkan ngobrolnya!!." kata pria itu sebelum hendak melangkah.


"Apa mas mau aku buatkan teh???." Widia menawarkan secangkir teh pada sang suami.


"Tidak perlu, jika mas ingin minum teh biar mas buat sendiri. kamu lanjutkan saja mengobrol dengan Putri, kalian kan baru bertemu lagi setelah sekian lama!!." kata pria itu sebelum benar benar beranjak menuju kamar mereka.


Setelah memastikan pria itu telah menjauh dari mereka Putri pun berujar " Apa aku sedang bermimpi??." kata Putri kemudian menampar pelan wajahnya sendiri.


"Awh,,,,sakit." ringis wanita itu saat tamparannya sendiri terasa sakit, yang artinya ia tidak sedang bermimpi saat ini.


"Lagian kamu sih, pake nampar wajah sendiri." Widia nampak menggeleng saat melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya gila.


"Ternyata aku memang lagi nggak mimpi Wid. aku nggak nyangka Wid, Tuan Gunawan ter


"Wah,,, pokoknya nggak bisa di ungkapkan dengan kata kata deh Wid, sorot mata tuan Gunawan saja mampu membuat para pegawai tak berani sekedar membuka mulut." Ujar Putri sembari membayangkan sikap atasannya tersebut ketika di kantor.


"Ternyata mas Gunawan bersikap seperti itu bukan hanya padaku, tapi semenjak sebulan terakhir mas Gunawan hampir tak pernah kasar padaku. hanya sekali sewaktu aku tidak meminta izin ketika pergi ke toko buku, selebihnya mas Gunawan tak pernah bersikap kasar lagi padaku." dalam hati Widia mengingat sikap Suaminya sebulan terakhir padanya, usai mendengar ucapan sahabatnya, Putri, mengenai sikap suaminya di kantor selaku pimpinan perusahaan.


Kembali Widia tersenyum kala teringat sikap manis suaminya, yang setiap kali hendak atau kembali dari kantor pasti akan mengecup keningnya. meski tak pernah terlontar kalimat cinta dari pria itu untuknya.


Jujur sampai saat ini, Widia sendiri masih Bingung dengan sikap suaminya tersebut. bagaimana tidak, di dalam isi perjanjian yang mereka tanda tangani ia di larang keras untuk melakukan kontak fisik sang suami, namun pada kenyataannya Justru pria itu yang selalu melakukannya. bahkan bisa di bilang pria itu lebih dari sekedar Kontak fisik secara umum, namun kontak Fisik yang menyebabkan wanita itu sampai mengandung benihnya.

__ADS_1


Widia sadar begitu jika suaminya tersebut melakukan itu karena ia harus segera mengandung anaknya, agar bisa menyelamatkan Arista. namun yang membuat Widia bingung, pria itu masih terus melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya meskipun kini ia telah mengandung.


Waktu telah menunjukkan pukul setengah enam sore tidak lama lagi Sholat magrib, Putri pun pamit pada Widia untuk kembali ke kontrakannya.


Setelah mengantar sahabatnya tersebut sampai ke depan rumah, Widia segera kembali ke kamar.


Ceklek " Widia membuka pintu kamar yang menampakkan Gunawan kini mengenakan celana puntung dan hendak mengenakan kaosnya.


"Mas mau aku masakin apa buat makan malam??." Tanya Widia menundukkan kepalanya enggan menatap suaminya yang kini hendak memakai kaosnya. bukan karena malu melihat tubuh Gunawan, namun karena tak ingin pria mengatai dirinya macam macam.


Gunawan terlihat sedikit kesal saat Widia enggan memandang ke arahnya "Tidak perlu, Seharusnya kamu bersyukur memiliki kesempatan untuk bisa menikmati pemandangan seperti ini, karena banyak wanita di luar sana yang berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa melihat tubuh suami kamu ini." ucap Gunawan dongkol, karena berpikir Widia enggan memandang ke arahnya karena tak Sudi.


Mendengar kalimat Gunawan yang terdengar begitu percaya diri membuat Widia berdecak kesal, dan tentunya hal itu hanya di lakukan wanita itu di dalam hatinya.


"Tapi kamu tidak perlu khawatir karena hanya dua orang wanita yang beruntung, dan salah satunya itu kamu." Kata Gunawan masih dengan percaya dirinya. namun kali ini sorot mata pria itu menatap damba ke arah istrinya.


"Apa mas sudah lupa dengan peringatan dari dr Beni??." sebagai Widia berkata demikian saat pria sudah mulai melingkarkan tangannya ke perut sang istri sembari sesekali memberikan kecupan hangat di tengkuk istrinya.


Menyadari ucapan istrinya membuat Gunawan terpaksa melepaskan pelukannya kemudian berdecak kesal mengingat kalimat sahabatnya beberapa hari yang lalu. "Ck,,,Dasar sahabat nggak punya pengertian." ujar Gunawan dongkol.


Sementara Putri yang kini tengah mengemudikan mobilnya menuju kontrakan tersenyum bahagia, mengingat sikap lembut atasannya tadi pada istrinya.

__ADS_1


"Aku paham sekarang Wid, kamu pasti masih ragu dengan perasaan tuan Gunawan padamu. tapi berdasarkan apa yang aku lihat tadi, aku bisa pastikan jika pria itu mulai jatuh hati padamu." gumam Putri di sisa senyumnya, sebelum kembali bergumam. "Lagi pula pria mana yang akan sanggup menolak pesona kecantikanmu Widia." lanjut Gumam Putri di sela aktivitasnya menyetir.


__ADS_2