Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Kebenaran.


__ADS_3

Gunawan kembali ke rumah lebih awal sebab hampir seharian di kantor pria itu sama sekali tidak fokus dengan pekerjaannya, kalung milik mendiang istrinya menjadi buah pikiran pria tampan itu.


Bukan apa-apa, yang menjadi buah pikiran Gunawan adalah mengapa kalung milik mendiang istrinya bisa berada pada istrinya,Widia. jika menurut pengakuan wanita itu ia sama sekali tidak mengenal sosok mendiang istrinya, lalu bagaimana bisa benda kesayangan Rahma bisa ada pada Widia. berbagai macam spekulasi terlintas di benak Gunawan, sampai begitu banyak pertanyaan yang melintas di pikiran pria itu.


Setibanya di rumah Gunawan yang langsung mencari keberadaan sang istri, menemukan Widia tengah menemani kedua buah hatinya mengerjakan pekerjaan rumah.


"Assalamualaikum." Ucap Gunawan saat memasuki ruangan belajar anak anaknya.


"Waallaikumsalam." sahut ketiganya hampir bersamaan, Widia segera beranjak hendak menyambut kedatangan sang suami, sementara kedua anaknya, Arista dan Farhan kembali fokus dengan pekerjaan rumah masing masing.


Widia merasa sikap suaminya sedikit berubah, karena untuk beberapa Minggu terakhir semenjak pria itu mengungkapkan perasaannya pada sang istri, ini kali pertamanya sikap Gunawan sedikit berbeda dari biasanya. sehingga membuat Widia bertanya tanya dalam hati.


"Ada apa dengan mas Gunawan, apa aku melakukan kesalahan sampai mas Gunawan bersikap seperti ini padaku??." batin Widia saat Gunawan meninggalkan dirinya begitu saja, di kala wanita itu hendak membantu melepas jas yang di kenakannya.


Widia menyusul langkah suaminya menuju kamar.


"Mas mau langsung mandi, biar aku sediakan air hangat." seolah tak merasakan perbedaan sikap suami, Widia menawarkan untuk menyiapkan air hangat guna Gunawan mandi.


"Tidak perlu." sahut Gunawan dengan mencoba kembali bersikap biasa dan Widia pun mengangguk sebelum wanita itu melangkah hendak meletakkan pakaian kotor suaminya ke dalam keranjang.


"Darimana kamu mendapatkan kalung ini??." tanya Gunawan tanpa basa basi seraya mengeluarkan sebuah kalung liontin dari saku celananya.


Widia yang tak biasa berbohong pun menjawab.


"Seseorang yang memberikannya kepadaku." jawab Widia santai karena tidak tahu maksud dan tujuan suaminya bertanya seperti itu.


Sementara Gunawan yang mendengar jawaban sang istri segera melangkah mendekati Widia.


"Siapa seseorang yang kamu maksud??." tanya Gunawan dengan raut wajah serius, sehingga membuat Widia jadi bingung harus memberikan jawaban seperti apa.

__ADS_1


Namun karena sang suami terus menatapnya penuh dengan rasa penasaran akhirnya Widia mengatakan yang sebenarnya.


"Kalung ini milik seorang wanita dan wanita itu memintaku untuk memberikan kalung ini pada putrinya." jawaban Widia semakin membuat Gunawan penasaran.


"Di mana kamu bertemu dengan wanita itu??" Widia nampak mundur beberapa langkah saat Gunawan semakin melangkah mendekatinya dengan raut wajah tak biasa.


"Ada apa denganmu mas, kamu membuatku takut mas." Ujar Widia yang kakinya mulai bergetar saat mendapat tatapan Gunawan.


Gunawan mengusap wajahnya kasar, karena merasa hampir lepas kendali sehingga membuat istrinya kembali merasa ketakutan padanya.


Pria itu nampak menghela nafas panjang sebelum kembali bersuara.


"Maafkan mas, mas tidak bermaksud membuat kami ketakutan sayang, mas hanya ingin tahu bagaimana dan dari mana kamu bisa mendapatkan kalung ini sebab kalung ini milik mendiang ibunya Arista." Widia seketika mematung tak percaya dengan pengakuan dari suaminya.


"Mas yakin sebab mas sendiri yang memberikan kalung ini pada almarhumah Rahma, saat ulang tahun pernikahan kami dulu." mendengar itu seketika pakaian yang berada di genggaman Widia berjatuhan ke lantai dan tangan wanita itu nampak semakin bergetar.


"Jangan takut sayang, mas hanya ingin tahu mas sama sekali tidak bermaksud menuduh kamu yang bukan bukan." Gunawan meraih tubuh istrinya ke dalam dekapannya sebab melihat Widia seperti orang yang linglung.


"Jika kalung itu milik mbak Rahma, itu artinya wanita yang coba keselamatkan setahun yang lalu itu adalah mbak Rahma." ujar Widia beberapa saat kemudian yang membuat Gunawan terkejut bukan main.


Gunawan melepaskan pelukannya untuk memberi jarak di antara mereka.


"Apa saat terjadinya kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa bundanya Arista kamu berada di tempat kejadian??." Tanya Gunawan hati hati agar tidak membuat wanitanya itu semakin tertekan dengan pertanyaan darinya.


"Itu bukan kecelakaan tunggal mas, ada sebuah mobil yang dengan sengaja menabrak mobil yang di kendarai mbak Rahma saat itu." dengan tubuh yang masih nampak bergetar Widia menceritakan apa yang tidak sengaja di lihatnya setahun yang lalu tersebut.


"A p a??." Gunawan yang seperti tidak percaya dengan cerita dari istrinya itu sedikit menaikkan intonasinya sehingga membuat Widia yang kembali teringat dengan kejadian naas itu hanya bisa menangis. sehingga membuat Gunawan tak tega melihatnya.


"Sudah sayang, jangan menangis!!" kembali Gunawan menarik lembut tubuh istrinya ke dalam dekapannya. namun saat ini pikiran Gunawan kemana mana.

__ADS_1


"Jika apa yang diceritakan Widia benar adanya, itu artinya ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Rahma saat itu, tapi siapa yang tega melakukan semua itu?? setahuku Rahma sama sekali tidak mempunyai musuh." bathin Gunawan antara penasaran dan marah mengingat hal itu.


Gunawan memutuskan untuk menunda berbagai pertanyaan yang kini membeludak di dada, mengingat kondisi Widia yang tengah hamil tak mungkin ia terus menekan psikis dari wanita yang dicintainya itu.


Sampai dengan malam harinya Widia bersedia menceritakan semuanya pada Sang suami ketika berpikir mungkin inilah saatnya ia melepas semua yang menjadi buah pikirannya selama setahun belakangan ini.


"Mas aku ingin mengatakan semua yang tidak sengaja aku lihat setahun yang lalu, di mana mbak Widia harus meregang nyawa akibat kecelakaan itu." Gunawan yang tengah duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya sontak bangkit dari duduknya saat mendengar kalimat istrinya.


"Baiklah, jika kamu merasa lebih baikan sekarang." sahut Gunawan yang sebenarnya sejak siang tadi sangat menantikan hal ini.


Widia kini duduk berdampingan dengan Sang suami di sofa, sebelum mulai menceritakan kejadian naas setahun yang lalu.


Flash back On.


Siang itu Widia hendak menjemput Farhan di sekolahnya, namun saat di perjalanan ada sebuah mobil truk menyalip motor yang di kendarai Widia, bahkan truk tersebut nyaris menyerempet motor yang di kendarai Widia.


Karena kesal Widia melajukan motornya hendak mengejar pengendara truk tersebut, karena kesal dengan tindakan pengendara tersebut yang sama sekali tidak menunjukkan etikat baiknya. bagaimana tidak kesal, pakaian yang kini di kenakan Widia bahkan basah akibat terkena genangan air yang mengenai tubuh wanita itu.


Tapi sayangnya saat dalam perjalanan suatu kejadian yang tidak di inginkan terjadi, dan itu terjadi tepat di depan mata Widia. di mana pengendara truk tersebut seperti dengan sengaja menabrakan mobilnya pada mobil sedan putih yang melintas di depannya. sehingga membuat mobil sedan putih yang ternyata di kendarai seorang wanita muda tersebut terguling beberapa kali. hingga mengakibatkan pengendara mobil sedan putih tersebut bersimbah darah dan juga kritis, mungkin karena banyaknya darah yang keluar dari tubuh wanita itu.


Widia nampak berteriak meminta tolong, namun kondisi jalanan yang lumayan sepi mengakibatkan pengendara truk tersebut berlenggang bebas begitu saja meninggalkan korban. Widia tidak dapat melihat wajah dari pengendara truk tersebut sebab kaca mobil yang di tutup rapat. menurut Widia pengendara truk tersebut memang sengaja melakukannya, terbukti pengendara truk tersebut bahkan menabrakan mobilnya pada mobil sedan tersebut beberapa kali, hingga mobil sedan berwarna putih itu kehilangan keseimbangan kemudian terjadilah kecelakaan naas itu.


Flash back Of.


"Aku yakin mas itu bukan kecelakaan tunggal, karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat mobil truk itu sengaja menabrak mobil sedan putih milik mbak Rahma, hingga kejadian naas yang menyebabkan mbak Rahma kehilangan nyawanya." Ujar Widia penuh keyakinan sehingga membuat Gunawan nampak mengepalkan kedua tangannya geram.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat??." tanya Gunawan kembali ingin memastikan jika apa yang baru saja di ceritakan istrinya benar adanya.


"Aku sangat yakin mas." jawab Widia.

__ADS_1


__ADS_2