Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Ternyata karena Warisan.


__ADS_3

Hari ini dokter telah mengizinkan Gunawan kembali ke rumah, mengingat kondisi pria itu yang sudah membaik, hanya butuh kontrol untuk beberapa hari kedepan.


Setibanya di rumah Gunawan yang merasa gerah ingin segera mandi, karena selama di rawat di rumah sakit ia sama sekali tidak mandi, tubuhnya hanya di bersihkan menggunakan handuk basah, itu pun menggunakan air hangat layaknya bayi.


"Mas mau ngapain??." Widia bertanya saat melihat suaminya seperti sedang berusaha membuka kaos yang di kenakannya.


"Mas ingin mandi gerah sekali rasanya." Widia mendelik seolah tidak mengizinkan, mengingat kondisi suaminya saat ini masih sangat sulit untuk melakukannya sendiri, sebab masih ada perban yang menempel di lengan pria itu.


"Mas, dalam kondisi seperti ini mas pasti masih kesulitan untuk mandi." ujar Widia.


"Kan ada kamu yang memandikan mas." mata Widia terbelalak saat suaminya berkata ingin di mandikan olehnya.


"Tapi mas_."


"Tapi apa, kamu malu, kenapa mesti malu sayang, bukannya kamu sudah melihat semuanya lalu untuk apa lagi kamu harus malu." Gunawan seakan bisa menebak isi kepala istrinya.


"Bukannya begitu mas, aku hanya_" Widia tak menuntaskan kalimatnya karena Gunawan telah menuntunnya memasuki kamar mandi.


Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air trik itulah yang saat ini di gunakan Gunawan guna melepas rindu kepada sang istri.


Keluar dari kamar mandi wajah Widia nampak merona mengingat adegan dewasa yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu di kamar mandi, hal itu membuat Gunawan semakin ingin menggodanya.


"Sepertinya tubuh istriku semakin berisi sekarang." Gumam pria itu di sela aktivitasnya memasang kaosnya.


"Apaan sih mas." sahut Widia yang nampak malu malu di buatnya.


Baru saja pria itu hendak kembali menggoda sang istri dengan celetukannya, tiba tiba ponselnya bergetar ternyata Gio yang baru saja mengirimkan sebuah pesan padanya.


"Tuan Sebentar lagi pihak berwajib akan tiba di kediaman anda, mereka ingin meminta keterangan tentang penculikan yang menimpa istri anda." kiranya begitulah bunyi pesan yang di kirim oleh Gio.

__ADS_1


"Ada apa mas??." Widia bertanya ketika melihat air wajah suaminya tiba tiba berubah.


"Pesan dari Gio, katanya sebentar lagi akan ada pihak yang berwajib yang hendak datang untuk meminta keterangan perihal penculikan tempo hari." jelas Gunawan.


"Lalu apa yang akan mas lakukan, apa mas tetap menuntut nona Sela??." Widia bertanya dengan hati hati, karena jika sudah begini sikap tegas suaminya pasti akan terlihat.


Gunawan mengangguk perlahan namun pasti.


Jika sudah seperti itu, Widia yakin akan sulit merubah keputusan suaminya.


***


Beberapa saat kemudian pihak berwajib tiba di kediaman Gunawan Wicaksono, dari pria itu memberikan keterangan berdasarkan Fakta, termasuk fakta tentang Kematian mendiang istrinya,Rahma.


Widia yang membuat Widia terkejut saat ikut bergabung bersama sang suami saat memberikan keterangan adalah ketika pria itu memiliki bukti sebuah rekaman saat Sela mengakui jika dirinyalah yang telah menghabisi nyawa adik kandungnya sendiri.


Tentunya pertanyaan Widia saat itu, bagaimana bisa suaminya memiliki bukti tersebut sedangkan kalau itu Gunawan tak bersamanya.


"Ada apa, kenapa kamu terus memperhatikan mas seperti itu??." tanya Gunawan, karena sejak tadi dia terus merasa di perhatikan sang istri.


"Bagaimana mas bisa memiliki bukti tentang rekaman suara Nona Sela??." tanya Widia dengan tatapan serius.


Sesaat Gunawan beralih menatap Widia kemudian tersenyum kecil, sebelum kembali menatap layar laptopnya.


Merasa tak mendapatkan jawaban yang yang memuaskan wanita itu memutuskan untuk ke dapur untuk memasak.


Tanpa sepengetahuan Widia, kalung yang selama ini di kenakannya pemberian sang suami memiliki alat detektor buatan Amerika, yang mampu mendeteksi keberadaan serta merekam percakapan di sekitar penggunanya. itulah mengapa Gunawan bisa menemukan keberadaan istrinya serta bukti otentik tentang rekaman suara Sela.


***

__ADS_1


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang pria nampak berpikir keras bagaimana caranya dia bisa mendapatkan kembali wanita yang di cintai.


"Ibu meminta kamu untuk merebut hak asuk Putra kamu Hardi, jadi tidak perlu memikirkan wanita tidak berguna itu." Ujar mamanya Hardi dengan nada sarkas.


"Cukup Bu, Selama ini Hardi sudah terlalu banyak menuruti keinginan ibu, sekarang biarkan Hardi memilih apa yang terbaik untuk kehidupan Hardi." baru kali ini Hardi berbicara dengan nada tinggi pada ibunya, sehingga membuat wanita paruh baya tersebut serasa tak mengenal putranya.


"Ada apa denganmu Hardi, hanya karena wanita tak berguna itu kamu sampai membentak ibu seperti itu." seperti biasa ibunya pasti akan berakting layaknya orang terzalimi, jika dalam situasi seperti ini.


"Maafkan Hardi Bu, Hardi tidak bermaksud membentak ibu." Hardi merasa menyesal telah bersikap kasar pada ibu yang telah melahirkan dirinya, namun di pria itu merasa ibunya terus mengintimidasi hidupnya selama ini. ia bahkan terpaksa menceraikan sang istri akibat hasutan ibunya. suatu tindakan yang saat ini sangat disesali Hardi.


***


Keesokan harinya.


Di sebuah gedung pencakar langit yang bertuliskan WICAKSONO GROUP.


Gunawan sibuk memeriksa ulang hasil laporan yang baru saja di kirimkan sekretarisnya melalui email.


Gio memasuki ruangan kerja Gunawan setelah mengetuk terlebih dahulu.


Gunawan melipat komputer jinjing miliknya, sebelum beralih memandang ke arah Gio yang berdiri di depannya. seolah tahu jika Gio akan membawa berita baik untuknya.


"Saya sudah berhasil menyelediki alasan mengapa ibunya Hardi ingin merebut hak asuh Farhan, alasannya karena anak itu mewarisi sejumlah perkebunan teh milik ayahnya Hardi. dan selama Farhan belum dewasa mereka berhak untuk mengatur. tetapi berdasarkan penyelidikan dari sumber terpercaya , ternyata wanita itu berniat untuk merebut kembali milik suaminya yang telah di wariskan kepada cucunya." terang Gio panjang kali lebar.


"Apa alasannya, bukankah Farhan adalah cucunya sendiri??." tanya Gunawan.


"Ibunya Hardi tidak rela jika harta warisan milik suaminya jatuh ke tangan anak dari mantan menantunya, yaitu nyonya Widia." dengan hati hati Gio kembali menjawab, sebab saat itu ikut menyebut nama istri kesayangan Bos-nya.


"Kurang ajar, berani sekali dia berpikiran seperti itu, bukannya berterima kasih pada wanita sudah melahirkan cucunya ke dunia malah berpikir seperti itu." inilah yang di takutkan Gio, ketika nama istri kesayangan Tuannya itu di bawa bawa, ibarat sedang membangunkan singa yang sedang tidur.

__ADS_1


"Temui notaris, saya akan mengajak Farhan ke sana dan atur semuanya, kembalikan semua warisan itu atas nama mereka, saya tidak ingin hanya karena warisan tak seberapa mereka itu menganggu ketenangan hidup istri saya!!." titah Gunawan kemudian Gio pun mengangguk, sebelum pamit undur diri untuk melaksanakan perintah.


Gunawan nampak menggeleng, tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya Hardi, sebelum pria itu kembali membuka laptopnya dan kembali fokus dengan pekerjaannya.


__ADS_2