
Pagi tadi Dini, adik bungsu Widia sengaja tak menghadiri persidangan kakaknya, karena hari ini rencananya keluarga dari calon suaminya akan datang melamar.
Wajah Dini nampak cantik dengan balutan dres berwarna navi dengan panjang selutut, dres brokat yang di kombinasikan dengan permata di bagian dada membuat gadis itu nampak anggun dan cantik, meski hanya di menggunakan make up natural.
Sudah satu jam menunggu dengan persiapan yang nyaris sempurna, namun keluarga dari calon suaminya belum juga tiba. sehingga membuat Adit yang merupakan saudara laki laki Widia meminta Adiknya, Dini, untuk menghubungi Anton.
Beberapa kali menekan panggilan pada ponselnya, namun panggilannya sama sekali tidak di jawab, padahal Anton aplikasi hijau miliknya dalam kondisi Online.
"Bagaimana, apa ponsel Anton tidak bisa di hubungi??." tanya Adit dengan tatapan curiga saat melihat gerak gerik adiknya, dan pertanyaan itu di jawab gelengan oleh Dini.
"Bagaimana bisa mereka belum datang juga, sementara dua hari yang lalu mereka sendiri yang begitu antusias, untuk segera melamar kamu?." Adit nampak geram, tersirat jelas dari nadanya saat berujar.
"Kak, mungkin mereka mengalami kendala di perjalanan menuju ke sini." Dini berusaha meredam amarah Kakaknya yang mulai nampak mengepalkan kedua tangannya.
Adit berdiri dari sofa, pria itu berdiri di ambang pintu, guna melihat kedatangan dari calon suami adiknya. namun sampai beberapa saat, semuanya sia sia karena tidak ada tanda-tanda kedatangannya mereka.
Bukan hanya sakit hati, Adit juga merasa malu dengan tetangga yang sudah hadir di rumah mereka hendak menyaksikan lamaran tersebut.
Di tempat tinggal mereka saat ini meski hanya untuk lamaran, para tetangga sudah datang untuk menghadiri acara tersebut. karena jika itu sudah menjadi tradisi, jika lamaran terjadi dengan sengaja di tutup tutupi maka semua akan bergunjing. bahkan kita akan menjadi pusat pergunjingan para tetangga, isu Hamil di luar nikah sudah pasti akan tersebar. meski pada kenyataannya tidak seperti itu, namun begitulah hidup di pinggiran ibu kota. pengintaian tetangga lebih detail di banding CCTV.
"Giman sih udah jam segini keluarga calon suami kamu belum datang Juga, apa jangan jangan Mereka ingin membatalkan lamaran ini ya??." salah satu mulut ibu ibu mulai terdengar begitu pedas, sehingga mau tak mau Adit pun hanya bisa pasrah mendengarnya.
__ADS_1
"Coba kamu hubungi lagi dek!!." Adit yang hampir kehilangan kesabarannya, meminta Andini untuk kembali menghubungi ponsel Anton. namun hasilnya tetap sama, Anton sama sekali tidak menerima panggilannya.
Karena merasa bosan sudah hampir tiga jam duduk menanti, akhirnya para tetangga pamit kembali ke rumah masing masing. namun baru saja hendak beranjak, tiba tiba sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah tersebut. anehnya hanya sebuah mobil, padahal biasanya di daerah mereka jika hendak lamaran, keluarga dari pihak laki laki akan datang dengan membawa seserahan lamaran. dan sudah pasti bukan hanya satu mobil yang di perlukan, untuk membawa seserahan lamaran tersebut.
Mata Adit mengeryit heran saat yang tiba hanyalah ayah, ibu serta Anton yang turun dari mobil.
Anehnya lagi, raut wajah kedua orang tua Anton sama sekali tidak menampilkan senyum.
"Silahkan masuk!!." meski geram dengan sikap calon suami dari adiknya, namun Adit tetap berusaha bersikap ramah.
"Tidak perlu, lagi pula kami tidak bisa berlama lama di rumah adik dari seorang pembunuh." mulut ibunya Anton memang tidak menggunakan Filter, wanita itu berkata tanpa ada rasa bersalah.
"Apa maksud ucapan anda Bu??." tanya Adit sembari menahan emosi.
Ingin rasanya Adit memarahi bahkan mengamuk pada keluarga songong tersebut, namun semua itu urung di lakukan oleh pria itu. apalagi saat melihat kesedihan di wajah adiknya, Dini.
Bahkan Demi kebahagiaan sang adik tercinta, Adit bahkan sampai merendahkan harga dirinya, dengan meminta kedua orang tua Anton untuk kembali mempertimbangkan keputusan mereka.
"Bu, apa sebaiknya ibu pikir pikir lagi sebelum mengambil keputusan, lagi pula putra ibu, Anton dan adik saya,Andini saling mencintai." Dengan merendahkan harga dirinya, Adit berkata demikian karena berpikir Anton pasti akan membantunya untuk meyakinkan kedua orang tuanya. namun sayangnya jawaban Anton sangat jauh dari ekspektasi Adit.
"Maaf mas, saya tidak bisa melanjutkan lamaran ini, lagi pula kedua orang tua saya sudah menemukan seorang gadis yang berasal dari keluarga baik baik." Jangankan Dini sebagai calon istri, Adit saja merasa saat ini jantungnya seperti di hujam ribuan belati, hatinya hancur mendengar jawaban Anton, apalagi sang adik, Dini.
__ADS_1
Namun gadis itu berusaha terlihat tegar, Andini tidak ingin nampak menyediakan di depan keluarga sombong tersebut.
"Syukurlah,jika kamu sudah menemukan seorang wanita yang jauh lebih baik dari diriku, aku doakan semoga kamu selalu bahagia." Jangankan Anton, Adit sendiri serasa tak percaya saat melihat adiknya tersebut bersikap meski dalam situasi seperti saat ini. situasi yang pastinya membuat hatinya hancur berkeping keping.
"Dan maaf sebelumnya, jika kalian tidak ingin mengatakan apa apa lagi, sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang!! karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan, bukan hanya melayani anda sekalian." secara tidak langsung gadis itu meminta Anton dan kedua orang tuanya untuk segera meninggalkan rumah tersebut.
Selagi mobil yang di kendarai Anton belum meninggalkan pekarangan rumah, Selama itu pula Dini menampilkan mode senyum. Senyum palsu di wajah cantik Dini perlahan memudar, seiring mobil yang di kendarai Anto meninggalkan pekarangan rumah mereka.
Andini hendak beranjak kembali ke kamarnya, namun baru beberapa langkah Dini kembali menghentikan langkahnya seraya berkata.
"Bukankah ibu ibu sekalian sudah dengar sendiri, jika acara lamaran ini di batalkan. dengan begitu silahkan kembali ke rumah masing masing!! saya harap ibu ibu sekalian tidak menyebarkan gosip yang tidak tidak!!." ujar Dini, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah para ibu ibu serta yang lainnya kembali ke rumah masing-masing, Adit menemui Dini di kamarnya.
"Ceklek" Adit membuka pintu kamar yang tak terkunci, setelah mengetuk terlebih dahulu.
Adit hanya bisa diam berdiri di belakang Dini yang kini duduk di depan meja rias.
"Maafkan Dini karena sudah membuat mas malu di depan banyak orang." ucap Andini dengan wajah menahan tangis dan semua itu tidak luput dari perhatian Adit, sebagai seorang kakak.
"Tidak perlu minta maaf dek, sebab semua ini di luar batas kemampuan kita sebagai manusia biasa. kita hanya bisa merencanakan namun Tuhan yang menentukan." Adit nampak menguatkan adiknya, karena biar pun adiknya tersebut tidak mengeluh bahkan menangis di hadapannya, namun Adit bisa merasakan seperti apa kesedihan adiknya saat ini.
__ADS_1
"Mas, tolong rahasiakan hal ini dari mbak Widia, aku tidak ingin mbak Widia jadi kepikiran tentang masalah Dini!!." Pinta Dini dan Adit pun nampak mengangguk. sekalipun Dini tidak merahasiakan hal ini dari Widia, namun sudah pasti pria itu akan merahasiakannya dari Widia serta Aga. mengingat saat ini Widia sedang menghadapi ujian besar, serta Aga yang kini tengah merantau ke luar pulau.