
Pagi ini Gunawan sengaja tetap berangkat ke kantor sebab berpikir jika istrinya pasti akan pergi ke kontrakan sahabatnya saat meninggalkan rumah, namun usai berbincang dan memastikan bahwa Putri sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan Widia, maka Gunawan segera mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan sang istri.
Gunawan nampak semakin cemas mengingat saat ini istrinya tengah mengandung.
"Apapun yang terjadi, kamu harus menemukan keberadaan istri saya secepatnya!!." titah Gunawan dengan nada penuh penekanan.
"Baik tuan." sahut Gio patuh sebelum meninggalkan ruangan bosnya guna melaksanakan perintah dari pria itu.
"Kamu di mana Widia??." Gumam Gunawan yang nampak mengusap wajahnya frustasi.
Bagaimana tidak pagi tadi sebelum berangkat ke kantor pria itu menyempatkan diri untuk bertanya pada adik iparnya, Dini, namun gadis itu sama sekali tidak mengetahui keberadaan sang kakak yang membawa serta keponakannya tersebut.
Hampir seluruh kota di telusuri anak buah Gunawan termasuk akses keluar masuk bandara bahkan terminal pun di jaga ketat oleh anak buah Gunawan, namun tak juga menemukan keberadaan Widia serta Farhan.
Segala upaya dilakukan pria itu sampai mendatangi kantor polisi untuk melakukan laporan atas hilangnya sang istri.
Bahkan Gunawan sampai meminta Gio untuk memastikan di kantor pengadilan agama, jangan sampai istrinya tersebut menggugat cerai padanya, semua itu dilakukan Gunawan agar bisa menemukan keberadaan sang istri.
***
Seminggu berlalu, meski sudah mengerahkan hampir semua anak buahnya, namun belum juga membuahkan hasil. sehingga para bodyguard berbadan kekar Tersebut sampai mendapat amukan dari tuannya.
"Apa saja yang kalian lakukan selama seminggu ini, mencari keberadaan istri saya saja kalian tidak bisa??." dengan nada tinggi Gunawan nampak membentak Gio beserta beberapa orang anak buahnya yang lain.
__ADS_1
"Sekarang kalian sebarkan selebaran tentang orang hilang, dan katakan barang siapa yang bisa menemukan keberadaan istri saya akan mendapatkan imbalan lima ratus juta!!." titah Gunawan, kemudian Gio yang mengetuai para bodyguard tersebut pun nampak mengangguk patuh sebelum beranjak meninggalkan ruangan Gunawan.
***
Pagi harinya, Widia menatap Iba pada putranya yang masih terlelap dalam tidurnya, bagaimana tidak sudah seminggu terakhir putranya tersebut tidak masuk sekolah.
"Maafkan mama sayang, karena mama kamu harus ikut merasakan kesusahan seperti ini. tetapi mama janji nak, kamu pasti akan kembali bersekolah meski tidak di sekolah itu lagi karena mama tidak mampu membiayai kamu di sekolah mahal seperti itu sayang." dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya, Widia mengusap lembut puncak kepala putranya yang masih terlelap usai melaksanakan sholat subuh tadi.
Seketika ingatan Widia kembali pada malam itu, malam di mana ia mendengar semua percakapan antara Sang suami, ibu mertua, serta anak sambungnya.
Flash back On.
Malam itu Widia hendak membawa sebuah nampan yang berisikan teh serta sepiring Kue untuk ketiganya, yang tengah mengobrol di ruang kerja suaminya.
"Ini semua bukan salah Oma, ayah, dalam hal ini Arista yang salah karena Arista yang menceritakannya pada Oma, saat ayah berniat menceraikan mama Widia. dan saat itu Arista yang tak tidak ingin sampai hal itu terjadi terus menangis, sehingga membuat Oma yang tak tega melihatnya, akhirnya membuat Oma merencanakan semua itu." Kalau saja Widia tak menggenggam nampan itu dengan kuat, mungkin semua yang ada di atas nampan itu sudah jatuh berserakan di lantai saat Widia mendengar pengakuan Arista.
Dengan sekuat tenaga Widia menguatkan kakinya berpijak untuk menopang tubuhnya,. sebelum wanita itu membalikkan badannya hendak beranjak. namun saat hendak melangkah Wanita itu kembali mendengar sesuatu yang membuatnya sadar, jika tak ada lagi gunanya jika ia terus bertahan hidup bersama seorang Gunawan Wicaksono, seorang pengusaha tampan dan ternama.
"Tapi sekarang Arista sadar jika perasaan tak bisa di paksakan, jika memang ayah ingin menceraikan mama Widia, Arista tidak akan melarangnya lagi. meski berat rasanya Arista harus berpisah dengan mama Widia. namun jika itu bisa membuat ayah tenang, Arista akan mencoba untuk ikhlas. dan semoga mama Widia juga di berikan pengganti yang bisa mencintai mama Widia dengan sepenuh hati." Luruh sudah Air mata di sudut mata indahnya, sebelum Widia benar benar beranjak menuju kamar dan mengemasi semua pakaiannya, sebelum wanita itu menuju kamar putranya untuk mengemas pakaian pria kecilnya itu.
Meski putranya bertanya hendak kemana mereka berdua malam malam begini, namun Widia hanya memberikan alasan seadanya pada pria kecilnya itu.
Dengan tatapan nanar Widia menoleh saat hendak keluar dari gerbang mewah tersebut, beruntung penjaga tak banyak bertanya saat wanita itu meninggalkan rumah dengan mengunakan motor metik miliknya.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan penjaga gerbang tak bertanya banyak sebab Widia hanya membawa sebuah koper kecil yang di letakan di depan dan pandangan pria penjaga gerbang tersebut terhalang oleh Farhan yang di bonceng Widia di depan.
Dengan alasan ingin ke apotek sebentar Akhirnya Widia bisa meninggalkan rumah mewah tersebut dengan mudah tanpa halangan.
Widia tersadar dari lamunannya saat mendengar suara berat putranya yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Mah, Farhan lapar." ucap Pria kecil itu sembari memegangi perutnya yang terdengar keroncongan.
"Astaga mama sampai lupa nak, kamu tunggu di sini sebentar ya, mama mau keluar sebentar untuk membeli makanan. ingat jangan kemana mana sampai mama kembali!!." Sebelum beranjak Widia nampak menasehati putranya.
"Baik mah." jawab pria kecil itu patuh, sebelum mencium punggung tangan ibunya yang hendak membelikan makanan untuknya.
Widia pun segera meninggalkan penginapan yang sudah ditempati bersama sang putra selama seminggu terakhir itu, untuk mencari sebuah warung guna membeli makanan untuk sarapan pagi.
Widia hanya berjalan kaki sebab warung tempat ia biasa membeli makanan selama seminggu terakhir menginap di sana, jaraknya tidak terlalu jauh hanya sekitar lima ratus meter.
Widia merasa tidak begitu nyaman saat tatapan ibu penjual di warteg tersebut menatapnya dengan tatapan tak seperti sebelumnya.
Karena merasa tak nyaman Widia segera meninggalkan warteg tersebut usai membayar, namun saat hendak melangkah Widia mendengar sayup-sayup ibu tersebut berbincang dengan seorang pria yang juga termasuk pelanggan setia di wartegnya. terbukti setiap kali datang untuk membeli makanan di warung tersebut pria itu selalu nampak setia menikmati hidangan di sana.
"Saya yakin wanita itu memang wanita yang sama dengan foto wanita yang ada di gambar ini." ucapan wanita itu semakin membuat Widia cemas, apalagi saat ini Farhan seorang diri di penginapan menuggu dirinya.
Saat tiba di depan penginapan mata Widia terbelalak tidak percaya saat melihat sebuah mobil yang begitu familiar terparkir di sana.
__ADS_1
Dengan tergesa gesa Widia melanjutkan langkahnya, benar saja dugaannya. saat ini ayah kandung Farhan sedang duduk di tepi ranjang, seperti sedang membujuk putranya agar mau ikut dengannya.