
Di rumah sakit, Gunawan pamit sebentar hendak membeli kopi.
Tidak perlu waktu lama, Gunawan pun kembali. namun ketika pria itu membuka pintu kamar perawatan, sang istri tak ada di tempat tidurnya.
"Sayang" Gunawan memanggil Widia, seraya kembali menutup pintu, karena tidak ada sahutan Gunawan memeriksa kamar mandi dan ternyata Pintu kamar mandi tidak terkunci.
"Widia kamu di mana??." tetap tak ada sahutan dari pemilik nama, sehingga membuat hati Gunawan mulai khawatir.
Gunawan segera keluar hendak menanyakan keberadaan istrinya kepada beberapa orang bodyguard suruhannya yang berjaga di depan pintu.
"Kemana istri saya??." Gunawan bertanya kepada dua orang bodyguard yang selalu setia berjaga di depan pintu.
"Tapi nyonya di bawa oleh seorang perawat tuan, katanya akan melakukan pemeriksaan USG." Salah satu dari pria yang berdiri tegap tersebut sigap menjawab pertanyaan Gunawan.
"Lalu kenapa kalian masih di sini??." wajah Gunawan nampak kesal, karena para pria itu tidak mengikuti istrinya sesuai dengan perintah darinya.
"Maaf tuan, tadi kami_" pria itu tidak menyelesaikan kalimatnya saat seseorang yang baru saja tiba menatapnya tajam, seolah menyesalkan keteledoran mereka.
Gunawan melangkah dengan sedikit tergesa gesa hendak menuju ruang perawat untuk menanyakan keberadaan istrinya.
"Selamat siang sus, di mana istri saya??." beberapa orang perawat langsung saling melempar pandang satu sama lain, saat Gunawan bertanya.
"Bukannya Nyonya Widia sedang di kamar perawatannya Tuan?? Gunawan mengeryit heran dengan pengakuan dari salah satu perawat.
"Kata pengawal pribadi saya, ada perawat yang tadi datang ke kamar perawatan istri saya hendak mengantarkan ke ruang USG??." Gunawan mencium sesuatu yang tidak beres, namun berusaha berpikir positif.
Para perawat yang bertugas kembali saling melempar pandangan, seolah saling bertanya lewat pandangan.
"Maaf sebelumnya tuan, tapi tidak ada perawat yang membawa nyonya Widia keluar dari ruang perawatannya, lagi pula hari ini tidak ada pemeriksaan apapun pada Nyonya Widia." Dengan wajah takut Kepala ruangan perawatan VIP memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Lalu siapa yang telah membawa istri saya??."Dari nadanya tersirat amarah, sehingga membuat para perawat bahkan dokter yang tengah bertugas jadi gelagapan, bagaimana tidak, yang kini tengah berbicara di depan mereka merupakan seorang pengusaha ternama yang memliki hampir Tujuh puluh lima persen saham di rumah sakit tersebut.
"Tenang dulu tuan Wicaksono, kami akan mencari keberadaan istri anda." Dokter yang bertugas jaga hari ini berusaha menenangkan Gunawan yang mulai nampak emosi.
Dengan jarak yang tidak begitu jauh, Seorang pria nampaknya begitu marah.
"Plak,,,plak,,," Suara nyaring berasal dari wajah kedua bodyguard, yang di tampar oleh Gio.
"Kenapa kalian bisa sebodoh ini, jika sampai terjadi sesuatu pada nyonya Widia, saya pastikan kalian akan menyesal seumur hidup" sebagai kepala bodyguard, nampak begitu marah kepada kedua bodyguard tersebut.
"Kenapa kalian masih di sini, cepat cari keberadaan nyonya Widia!!." Meski Gio berbicara tidak dengan nada keras, namun terdengar bagai bom atom yang hendak meledak di telinga kedua bodyguard itu.
"Baik tuan." Kedua segera berpencar mencari keberadaan istri dari tuannya.
***
Gunawan nampak mengepalkan kedua tangannya geram, saat melihat rekaman CCTV, yang memperlihatkan seorang wanita yang mengenakan seragam perawat lengkap tengah mendorong istrinya dengan menggunakan kursi roda.
"Siapa wanita itu, siapa yang telah menyuruhnya menculik istriku??." Gunawan menggusar rambutnya frustrasi.
Gunawan tidak bisa melihat wajah wanita itu, karena seperti wanita itu sengaja menutupi wajahnya dengan masker.
Gunawan menoleh pada Gio "Katakan pada pihak yang berwajib untuk menutup semua akses keluar kota, termasuk akses laut,darat dan udara!!." Titah Gunawan. Horang kaya mah bebas,,,,.
"Baik tuan."Gio menggangguk patuh, kemudian meraih ponselnya di saku jasnya lalu melakukan panggilan.
Yang semakin membuat Gunawan gusar, CCTV kini menampilkan wanita yang menyamar sebagai seorang perawat itu, dengan sengaja membius istrinya, terbukti saat wanita itu menempelkan sebuah sapu tangan ke area hidung Widia, sesaat sebelum istrinya tergolek lemas di atas kursi roda.
Nampaknya wanita itu sudah merencanakan semua dengan matang serta sudah membaca situasi, terbukti wanita itu dengan mudah bisa membawa tubuh Widia dengan mudahnya hingga ke basemen rumah sakit.
__ADS_1
Si penculik bahkan mampu mengecoh para penjaga yang siaga di depan pintu kamar Widia.
Wajah Gunawan nampak memerah menahan amarah, saat melihat wanita itu dengan kasarnya memindahkan tubuh Widia ke mobil dengan bantuan seseorang yang entah siapa, karena pria itu menggunakan masker serta menggunakan topi.
Dengan wajah tersirat amarah besar, Gunawan kembali memandang ke arah Gio "siapkan mobil!!" Gio mengangguk, Gio kenal betul dengan watak Gunawan. pria itu tidak akan puas dengan berdiam diri menunggu sampai pihak yang berwajib memberikan laporan tentang keberadaan istrinya.
"Baik tuan." Gio meninggalkan ruangan tersebut untuk menyiapkan mobil sesuai perintah Gunawan.
Gunawan nampak melihat satu persatu tanda pengenal para petugas medis yang bertugas hari ini " Ingat !!! jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi pada istri saya, maka saya pastikan kalian tidak akan bekerja di rumah sakit ini lagi." Gunawan terdengar tidak main main dengan ancamannya, sehingga terdengar mengerikan, seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja di telinga para perawat serta dokter yang berada di sana.
Sepeninggal Gunawan para petugas medis nampak saling menyalahkan satu sama lain, akibat takut dengan ancaman Gunawan tadi.
***
Widia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
Widia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan yang nampak penuh dengan perabot yang telah rusak serta telah di penuhi sarang laba laba.
"Di mana aku sekarang?? aduh kepalaku pusing sekali." Widia meringis pelan saat kepalanya terasa masih sedikit pusing, Mungkin akibat bius yang di berikan wanita itu tadi.
"Uhuk,,, uhuk,,, uhuk." sekuat tenaga Widia berusaha untuk tidak menimbulkan suara, namun begitu banyaknya debu yang berserakan membuat Widia pun terbatuk-batuk.
Sontak suara yang di timbulkan Widia memancing kedatangan beberapa orang pria dengan perawakan tinggi besar memasuki ruangan tersebut.
Wanita mana yang tidak ketakutan saat melihat ada beberapa orang pria bertubuh tinggi besar dengan raut wajah menyeramkan datang menghampiri, itulah yang di rasakan Widia saat ini.
"Siapa kalian, kenapa kalian membawaku kesini?? apa aku ada salah pada kalian??." bukannya menjawab para pria itu nampak tertawa dan itu semakin membuat Widia ketakutan.
"Bersabarlah sebentar Nyonya Wicaksono, sebab sebentar lagi bos kami akan datang, beliau hanya ingin sedikit bermain main dengan anda." Tubuh Widia semakin menggigil ketakutan.
__ADS_1
"Mas Gunawan tolong aku, aku takut mas." itu hanya berani Widia lontarkan dalam hati, karena tidak ingin memancing amarah para pria pria tersebut dan sampai melakukan sesuatu yang membahayakan janin dalam kandungannya.