
Baru saja aku memarkirkan motorku di pekarangan rumah tanteku, putraku sudah nampak berlari ke arahku. melihat wajah teduh putraku seakan menghidupkan semangat hidupku yang baru.
"Mama." putraku langsung memeluk tubuhku, tanpa ada satu pun pertanyaan tentang ayahnya padaku.
"Iya nak, apa Farhan sudah makan nak??." pertanyaan seperti biasa saat baru bertemu dengannya saat aku meninggalkan untuk beberapa saat, langsung ku lontarkan.
"Iya ma, baru saja Farhan selesai makan." jawab putraku dengan seulas senyum di bibirnya. meski memperlihatkan senyum di depanku, namun aku tahu jika putraku tersebut merasa berat berpisah dengan papanya. itulah alasan terbesarku mengapa aku selalu berusaha mempertahankan keutuhan rumah tanggaku dulu, semua demi putraku. tapi saat mantan suami sudah mengatakan jika tak lagi ingin hidup bersama denganku, maka akhirnya aku pun menyerah untuk terus mempertahankan keutuhan rumah tangga kami.
"Widia, sebaiknya kamu segera makan siang lalu beristirahat, Tante lihat kamu nampak lelah sekali." ucap tanteku yang sejak tadi berdiri di antara aku dan putraku.
"Baik Tante." aku pun segera masuk ke rumah tanteku, meski tak berselera untuk makan, namun tetap ku paksakan untuk menelan beberapa suapan. aku ingin nampak baik baik saja di depan semua orang, termasuk di depan tanteku sendiri, meski aku tahu jika tanteku itu tahu betul dengan apa yang kini aku rasakan.
Setelah menidurkan putraku, aku mencoba menghubungi satu satunya teman dekatku yang bernama Putri. putri adalah teman dekatku, kami sudah berteman sejak duduk di bangku kelas satu SD, bahkan rumah orang tua kami bertetangga.
Aku sengaja ingin menghubungi putri untuk meminta bantuannya mencarikan sebuah rumah kontrakan, yang akan aku tinggali bersama putra semata wayang ku.
"Tit,,,,tit,,,tit,,,,." pertama kali aku menghubungi putri namun belum juga tersambung, sampai dengan beberapa kali aku menelepon barulah tersambung.
"Halo, tumben kamu nelepon aku Wid, ada apa??." tanya Putri di seberang telepon.
"Put boleh nggak sore ini kita ketemuan di cafe mawar??." tanyaku hati hati takut ajakanku akan menggangu kesibukan sahabatku itu.
"Emangnya suami kamu nggak marah, kalau kamu ketemuan di luar, ketemuan di rumah aja kadang suami kamu ngamuk. apalagi kalau mau ketemuan di luar, bisa di hukum nggak keluar rumah selama setahun kamu Wid ??." seperti biasa pertanyaan itu yang akan di lontarkan Putri jika aku akan mengajaknya ketemuan.
"Tidak usah khawatir tentang mas Hardi, lagi pula aku bukan lagi istrinya sekarang!." kataku pada Putri.
"What, jangan bercanda kamu Wid, jangan sampai aku mengaminkan candaan kamu??." ucap Putri yang sebenarnya sejak dulu sudah menyarankan aku untuk berpisah dari mas Hardi, bagaimana tidak, sebagai sahabatku Putri tidak tega saat melihat mas Hardi bertindak sesuka hati padaku. meski tidak menyakitiku secara fisik, namun mantan suamiku tersebut sudah terlalu banyak menyakiti hatiku, dan hal itu terkadang di lakukan mas Hardi di depan putri, ketika putri beberapa kali mampir ke rumah kami.
__ADS_1
"Aku tidak sedang bercanda put, aku memang bukan lagi istrinya mas Hardi sekarang, karena kami sudah sah bercerai secara hukum dan agama." mendengar itu putri jadi iba padaku, terbukti dari kata katanya.
"Bagaimana bisa Wid, bukannya selama ini kamu selalu berusaha menjaga keutuhan rumah tangga kalian, bahkan saat mas Hardi selingkuh sewaktu kamu hamil pun kamu masih bersedia bertahan. meski kamu juga tahu sendiri jika itu bukan perselingkuhan pertama dan terakhir suami kamu." mendengar rentetan kalimat yang di lontarkan Putri melalui sambungan telepon membuatku menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan, seolah semua perselingkuhan mas Hardi kembali menari nari di pikiran ku saat ini.
"Kapan saja kamu ingin cerita aku siap mendengarkan Wid, jangan merasa sendiri masih banyak orang orang yang sayang sama kamu, termasuk aku Wid." lanjut Putri, yang membuatku terharu. mungkin dulu aku tidak beruntung sebagai seorang istri, namun sebagai seorang wanita, aku merasa sangat beruntung tuhan hadirkan seorang sahabat yang selalu ada di dalam suka maupun duka untukku.
"Ceritanya panjang put,,,, nanti aku ceritakan semuanya padamu, jangan lupa sore ini di cafe mawar jam lima sore!!" ucapku, setelah Putri mengiyakan ajakanku, aku pun segera mematikan sambungan telepon.
Mungkin karena lelah mengendarai sepeda motor dari pengadilan agama yang jaraknya lima belas lili meter dari tempat tinggalku, atau karena lelah menjalani takdir hidup ini, akhirnya aku pun ikut terlelap di samping putraku.
Sehingga Aku baru terbangun pukul setengah empat sore, setelah usai melaksanakan sholat ashar aku segera menuju sebuah cafe di mana aku telah janjian dengan sahabatku, putri. aku berangkat menuju cafe bersama dengan putraku.
"Kita mau ketemuan sama siapa di sini mah??." ketika baru saja tiba di cafe, tiba tiba putraku bertanya padaku.
"Mamah sudah janjian sama tante putri di sini nak, kita masuk yuk!!." jawabku kemudian menggandeng tangan putraku memasuki cafe tersebut. saat masih berdiri di ambang pintu cafe, tiba tiba suara seseorang yang tidak asing di telinga memanggil namaku.
"Maaf Put, sudah sering merepotkanmu." ucapku saat tiba di meja Putri.
"Jangan ngomong gitu kali Wid, itulah gunanya sahabat." jawab Putri kemudian sahabatku itu langsung memelukku, seperti sedang memberiku semangat.
"Silahkan duduk!!." lanjutnya setelah beberapa saat kami berpelukan.
"Terima kasih Put." ucapku sebelum menarik sebuah kursi untuk putraku dan juga untukku sendiri.
"Aku ikut prihatin atas apa yang menimpa rumah tangga kamu Wid, namun bagaimanapun kamu harus tetap semangat menjalani hidup, ada Farhan yang sangat membutuhkan dirimu." mendengar nasehat sahabatku itu, pandanganku langsung menuju putraku yang duduk di sebelahku. wajah selalu bisa membuatku tersenyum, meski hatiku sakit setiap kali papanya terus mengkhianatiku dulu.
"Terima kasih banyak Put, karena kamu selalu ada buatku, dan maaf jika aku sudah terlalu banyak merepotkan kamu." mendengar ucapanku putri pun segera menggenggam kedua tanganku, seraya berkata.
__ADS_1
"Jangan pernah bicara seperti itu Wid, persahabatan kita serasa saudara, jadi aku mohon jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan padaku, selagi aku bisa membantu pasti aku akan membantumu Widia." jujur aku sangat terharu dengan ucapan sahabatku itu, sampai tak sadar air mataku pun berlinang di sudut mata.
Namun dengan segera ku sapu air mata itu, agar tak nampak oleh putraku. aku tidak ingin Farhan berpikir jika aku bersedih karena berpisah dari papanya, meski tak bisa di pungkiri aku juga sedih berpisah dari pria yang sudah sepuluh tahun hidup bersama denganku.
Di sisi lain aku sedih, karena kini aku harus memulai kehidupan yang baru hanya berdua dengan putraku. namun di sisi lain hatiku merasa lega, karena bisa terbebas dari pria yang sama sekali tidak berniat membahagiakan aku. bagaimana tidak, setelah ayahku meninggal mantan suamiku bahkan tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan anggota keluargaku yang lain, termasuk kakak serta kedua adik kandungku.
Bahkan di hari lebaran pun mantan suamiku tidak mengizinkan anggota keluargaku berkunjung ke rumah kami, begitupun sebaliknya. jujur saat itu aku merasa seperti orang bodoh, yang hidupnya di kendalikan layaknya robot.
Saat bertemu diam diam dengan keluargaku jantungku bahkan berdebar debar seperti sedang ketakutan, takut ketahuan olehnya jika aku bertemu dengan keluargaku.
Namun kini semua itu tinggallah sebuah kenangan pahit, yang tak akan aku kenang lagi di sepanjang sisa hidupku.
"Ada apa Wid??." ucapan Putri membuyarkan lamunanku tentang kenangan pahit ku bersama mantan suami.
"Nggak papa kok Put, Putri aku ingin meminta bantuanmu untuk mencarikan aku rumah kontrakan. aku ingin memulai kehidupan yang baru bersama dengan putraku." mendengar ucapanku membuat Putri heran.
"Kenapa kamu harus mencari kontrakan Wid, bukannya kamu punya rumah??." tanya Widia.
"Mas Hardi memintaku untuk memilih, jika ingin hak asuh Farhan jatuh ke tanganku, maka aku harus siap keluar dari rumah kami. namun jika aku menginginkan rumah itu, maka artinya Farhan akan ikut dengannya." jawabanku membuat Putra geleng geleng, tidak percaya dengan sikap mas Hardi yang sangat keterlaluan menurutnya.
"Aku yakin mas Hardi sengaja memberimu pilihan seperti itu untuk menguasai rumah kalian, karena dia sendiri tahu jika kamu tidak bisa berpisah dari Farhan." Sebenarnya tebakan putri tidak berbeda dengan tebakanku, namun tidak ingin mas Hardi lebih menyulitkan aku lagi untuk urusan hak asuh putra kami, maka aku pun pasrah dengan menerima tawarannya.
"Sebentar, aku hubungi dulu pemilik kontrakan sepertinya masih ada satu lagi rumah kontrakannya yang belum terisi." Putri kemudian menelepon pemilik kontrakan, untuk menanyakan sebuah kontrakan yang masih kosong.
Setelah beberapa saat berbincang dengan pemilik kontrakan melalui sambungan telepon, Putri pun mematikan sambungan telepon di ponselnya.
"Kamu bisa mulai pindah besok Wid, tapi kontrakan itu bisa di bilang sangat sederhana Wid, tapi menurutku kontrakan masih layak untuk di tinggali." terang putri tentang kondisi kontrakan tersebut padaku, aku pun sama sekali tidak keberatan.
__ADS_1
"Tidak masalah put, lagi pula aku hanya akan tinggal berdua dengan Farhan di kontrakan itu." jawabku dengan wajah mulai berseri seri, sebab mulai besok aku bisa segera pindah, jadi aku tidak harus merepotkan tanteku. meski Adik kandung dari ayahku tersebut sama sekali tidak merasa keberatan, namun tetap saja aku tidak ingin membuat keberadaan kami di sana akan memicu pertengkaran di antara tanteku dan suaminya.