Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Menginap.


__ADS_3

"Saya Akan segera berterus terang padamu sayang tentang perasaanku padamu di saat anak kita lahir nanti." dalam hati Gunawan saat menatap lekat raut wajah wanita yang kini meminta maaf padanya.


"Tapi jika kamu tahu kalau aku mencintaimu, apakah kamu juga akan menjauh dariku??." perasaan Gunawan kembali pada kejadian setahun yang lalu saat mendiang istrinya, Rahma, tetap kekeh dengan keputusannya mengejar cita citanya.


"Saya tidak peduli kamu cinta atau tidak padaku Widia yang pasti saya akan tetap memastikan kamu akan tetap bersamaku selamanya."lanjut batin Gunawan sebelum meraih tangan istrinya.


"Kita mau kemana mas??." tanya wanita itu yang nampak bingung saat suaminya membukakan pintu mobil untuknya.


"Jalan jalan." jawab pria itu dengan santainya sembari membantu sang istri masuk ke mobil.


Gunawan mengitari mobil kemudian ikut duduk di balik kemudi.


"Memangnya hari ini mas nggak ke kantor??." tanya Widia.


"Perusahaan itu milik saya jadi terserah saya mau datang atau tidak." mendengar jawaban suaminya membuat Widia menarik napas panjang lalu menghembusnya perlahan.


"Enak banget jadi mas Gunawan, udah ganteng, berwibawa, dan mapan, wanita mana yang tidak tergoda dengan pesona mas Gunawan. Mungkin setelah berpisah nanti mas Gunawan bahkan tidak lagi ingat padaku." dalam hati Widia dengan tatapan sendu ke arah suaminya.


"Apa anakku juga yang ingin menatap ayahnya seperti itu??." tiba tiba pertanyaan Gunawan membuat Widia segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Maaf mas." ucap Wanita itu saat ketahuan menatap lekat wajah suaminya.


"Tidak perlu minta maaf, aku sampai lupa sudah berapa kali kamu meminta maaf." Gunawan sekilas melirik ke arah Widia yang kini nampak salah tingkah.


"Baik mas." ~widia.


Untuk beberapa saat suasana hening sampai Widia memberanikan diri untuk kembali memulai obrolan.


"Mas."


"Hemt."


"Apa Aku boleh bertanya sesuatu??." kata wanita itu meminta persetujuan.

__ADS_1


"Hemt." hanya itu yang keluar dari mulut Gunawan yang kini fokus menatap jalanan.


"Jika nanti kita tak lagi bersama, apa mas akan tetap ingat padaku setelah mas menikah lagi dengan wanita pilihan mas Gunawan??." pertanyaan Widia sontak memancing pandangan Pria itu padanya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu??." bukannya menjawab pria itu malah balik bertanya dengan raut wajah sulit di artikan, sehingga membuat Widia tak berani lagi bertanya.


"Enggak kok mas, nggak papa cuma nanya aja." ujar wanita itu dengan memaksakan senyum terukir di wajah cantiknya.


"Kamu sendiri bagaimana, apa kamu akan ingat padaku??." Gunawan sengaja bertanya demikian untuk melihat reaksi Widia jika mereka berpisah, apakah wanita akan nampak bersedih atau malah bahagia karena terlepas dari pernikahan dengannya.


Widia nampak menarik napas panjang lalu menghembusnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Tentu saja aku bahagia karena_." Widia tak melanjutkan kalimatnya sebab Gunawan lebih dulu menyela.


"Apa maksud kamu??." sela pria itu dengan tatapan tajam.


"Tentu saja aku bahagia karena wanita biasa sepertiku pernah menjadi bagian dari hidup seorang pria luar biasa seperti mas Gunawan, meski mas tidak mencintaiku tapi aku pernah merasakan hangat pelukan mas Gunawan." ujar wanita itu dengan senyum getir, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku bahkan merasa sangat bahagia, karena mendapat kesempatan mengandung anak dari mas Gunawan." Hati Gunawan terasa begitu nyeri saat mendengar istrinya berpikir jika ia tidak mencintai sang istri, namun begitu pria itu merasa belum siap berterus terang tentang perasaannya.


Gunawan tersentak saat wanita itu berani meraih tangan kirinya sementara tangan kanannya masih stay pada kemudi.


Gunawan segera menepikan mobilnya.


"Jangan menangis!!." pria itu tak lagi sanggup menahan diri untuk memberi pelukan hangat pada Sang istri.


Setelah melihat istrinya tak lagi menangis Gunawan kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


Saat melihat arah serta jalanan yang tak asing baginya, membuat wanita itu memandang ke arah sang suami.


"Bagaimana mas bisa tahu daerah ini??." tanya Widia heran saat mobil Gunawan memasuki jalanan yang begitu familiar baginya.


"Saya ini suami kamu, jangankan tempat tinggal saudara kamu, tempat tinggal mantan suami kamu sekarang saja saya tahu." jawaban Gunawan membuat Widia berdecak, dan tentunya itu hanya dapat di lakukan wanita itu di dalam hati.


"Ck,,,,baru juga mau bahagia dengan surprise ini, malah di buat dongkol." dalam hati Widia berubah dongkol saat suaminya tersebut menyebut mantan suami.

__ADS_1


Hari ini setelah sekian lama akhirnya Widia bisa kembali ke rumah di mana dulu ia di besarkan bersama dengan ketiga saudaranya yang lain.


Namun ada yang nampak berbeda di mata wanita itu, rumah yang dulu sudah di renovasi.


Widia segera turun dari mobil untuk mencari keberadaan saudaranya dengan di ikuti sang suami di belakang wanita itu.


Baru saja hendak mengetuk pintu tiba tiba seseorang membuka pintu dari dalam.


"Mbak Widia." kata seorang wanita yang ternyata adalah adik kandung Widia yang bernama Dini.


"Dini, mbak kangen banget sama kamu dek." Widia yang sudah begitu merindukan saudaranya tersebut langsung memeluk erat tubuh adiknya begitu pun sebaliknya.


Namun yang membuat Widia terkejut, adiknya tersebut bahkan terlihat begitu akrab dengan sang suami, terbukti saat adiknya itu menyapa sang suami tanpa canggung.


"Mas Gunawan, kenapa nggak ngomong ngomong kalau mau mengajak mbak Widia ke sini, biar saya buatkan kue spesial." kata Dini tanpa canggung pada kakak iparnya, sehingga membuat Widia mengeryit heran.


Dini pun mempersilahkan kakak serta kakak iparnya tersebut untuk masuk ke dalam.


Setelah berbincang panjang lebar dengan kakak serta kedua adiknya Widia yang kini membantu adiknya memasak di dapur, memandang ke arah Suaminya yang kini mengobrol hangat dengan kakak serta adiknya.


Widia sungguh tidak menyangka saat adiknya, Dini mengatakan jika yang merenovasi rumah peninggalan orang tua mereka adalah sang suami, Gunawan.


"Mbak sangat beruntung karena di cintai oleh pria sebaik mas Gunawan, mas Gunawan begitu baik pada Dini,Adit dan juga kak Aga." ucap Dini yang kini memotong sayuran.


"Terkadang apa yang kita lihat belum tentu yang sebentar." ucapan Widia justru membuat Dini tersenyum karena salah menebak maksud ucapan kakaknya.


"Mbak benar, Sama seperti kakak iparku." Dini menunjuk ke arah Gunawan dengan sorot matanya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Tuh,,, buktinya anak sambungnya aja sampai di jemput ke sini dari sekolahnya." lanjut Dini dengan menunjuk ke arah Farhan yang baru saja tiba dengan di antarkan oleh seorang pria dengan mengenakan stelan jas berwarna hitam.


Widia segera berjalan ke arah putranya yang baru saja tiba dengan diantarkan Gio.


"Sayang." seperti biasa saat pulang sekolah wanita itu akan memeluk hangat tubuh putranya, Widia melakukan hal itu bukan hanya pada Farhan namun pada Arita, Widia pun melakukan hal yang sama.


"Saya sengaja meminta Gio menjemput Farhan di sekolahnya dan mengantarkannya ke sini, karena malam ini kita akan menginap di sini." kata Gunawan yang tadi mengiyakan permintaan kakak iparnya untuk menginap di sana.

__ADS_1


Widia benar benar terpaku saat mengetahui sisi lain dari suaminya itu.


"Bagaimana aku bisa tak jatuh cinta padamu mas, jika kamu selalu memperlakukan aku seperti ini." dalam hati Widia sembari memandang ke arah suaminya.


__ADS_2