Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Kebenaran.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


Gunawan yang merasa begitu merindukan putrinya nampak memasuki kamar Arista yang sudah beberapa hari di tinggal penghuninya ke Singapura guna melakukan perawatan medis yang lebih intensif.


Tanpa sengaja saat Gunawan membuka laci nakas di kamar Arista, pria itu menemukan begitu banyak obat obatan yang masih utuh tak terjamah sama sekali. dan saat membaca merk obat tersebut pria itu bisa menebak jika obat obatan itu tak lain adalah milik putrinya.


"Ini pasti obat milik Rista." Ujar Gunawan ketika pertama kali menemukan begitu banyak obat di laci nakas milik Arista.


"Tetapi mengapa obat obatan ini nampak seperti sama sekali belum di buka??." beberapa saat kemudian barulah pria itu menyadari jika diperhatikan obat obatan tersebut masih utuh, sama sekali belum tersentuh.


"Apa selama ini putriku tidak meminum obatnya??."Gumam Gunawan dengan wajah bingung, sebab kata dokter selama ini obat obatan lah yang mampu membuat putrinya sanggup bertahan hidup. jika obat obatan tersebut nampak belum di sentuh sama sekali, bagaimana bisa putrinya mampu bertahan.


"Tetapi jika Arista tidak meminum obat obatan ini, lalu bagaimana putriku sanggup bertahan dengan penyakit yang selama ini dideritanya??." pria itu nampak berpikir keras demi mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.


"Ataukah ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan dariku??." entah mengapa sebuah kecurigaan melintas di benak Gunawan, sehingga membuat pria itu segera menghubungi Asisten pribadinya,Gio.


Usai menghubungi Gio dan memberi tugas penting pada pria itu, Gunawan segera kembali ke kamarnya. di sana pria itu lebih banyak diam, sehingga membuat Widia berpikir mungkin dirinya telah melakukan kesalahan yang tak disadarinya sehingga membuat sikap pria itu kembali berubah lebih banyak diam.


***


Sehari setelah kejadian Gunawan menemukan obat obatan milik putrinya, Gio nampak berbincang serius dengan bosnya tersebut di ruang kerja Gunawan.


Rahang Gunawan nampak mengeras menahan emosi.


"Sekarang juga kamu perintahkan anak buah kamu untuk segera menjemput Ibuku dan juga putriku, katakan pada mereka jika aku sudah tahu semuanya!!". perintah Gunawan kemudian di anggukan oleh Gio.

__ADS_1


"Baik tuan." Gio segera beranjak meninggalkan ruangan kerja bosnya, hendak melaksanakan perintah dari pria itu.


Malam harinya di kediaman Gunawan Wicaksono.


Nyonya Lena serta cucu kesayangannya telah kembali ke tanah air, dengan di jemput oleh anak buah dari putranya dengan menggunakan jet pribadi.


Tatapan Gunawan membuat langkah kedua wanita berbeda generasi tersebut menjadi gamang.


Keduanya nampak seperti tersangka yang hendak di adili, saat duduk di sofa yang berada di ruang kerja Gunawan.


Perlahan Gunawan bangkit dari kursinya hendak mendekat ke arah ibu dan putrinya yang nampak diam tak berani memulai obrolan.


"Katakan pada Gunawan, kenapa ibu tega melakukan semua ini pada Gunawan??." meski kesal namun tidak serta merta membuat pria itu menaikan intonasi suaranya.


"Maafkan ibu Gun." mendengar permintaan maaf dari wanita yang telah melahirkan dirinya tersebut membuat Gunawan mengusap wajahnya frustasi.


"Maafkan ibu Gun, semua ini ibu lakukan karena ibu tidak ingin kamu dan Widia berpisah." ujar Nyonya Lena jujur dengan niat awal mengapa ia melakukan semua itu.


Gunawan kini nampak duduk di ujung meja kerjanya dengan menyilangkan kedua tangannya ke dada.


Sebagai pria dewasa Gunawan bisa menebak jika maksud ibunya merencanakan semua itu, agar ia dan sang istri segera memiliki buah hati dari buah pernikahan mereka sendiri.


Sementara Arista yang tak Tega melihat omanya terus di cecar pertanyaan serta dipersalahkan terus menerus oleh sang ayah ikut bersuara.


"Ini semua bukan salah Oma, ayah, dalam hal ini Arista yang salah karena Arista yang menceritakan pada Oma, saat ayah berniat menceraikan mama Widia. dan saat itu Arista yang tidak ingin sampai hal itu terjadi terus menangis, sehingga membuat Oma yang tak tega melihat Arista terus menangis membuat Om merencanakan semua ini. selain Arista dan Oma, dr Beni juga tahu tentang hal ini." jawaban Putrinya sungguh membuat Gunawan tak habis pikir, apalagi ternyata sahabatnya dr Beni juga tahu tentang hal ini.

__ADS_1


"Tapi sekarang Arista sadar, jika perasaan tak bisa di paksakan. Jika ayah memang ingin menceraikan mama Widia, Arista tidak akan melarangnya. meski berat rasanya Arista harus berpisah dari mama Widia, namun jika itu bisa membuat ayah tenang, Arista akan mencoba ikhlas. Arista hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk ayah, dan semoga mama Widia juga di berikan pengganti yang mencintai mama Widia dengan tulus." entah kenapa perasaan marah Gunawan yang terasa begitu besar tadi tiba tiba berubah menjadi perasaan sakit di hatinya, saat mendengar putrinya mengatakan perceraian drinya dan sang istri.


Setelah diam sesaat, Gunawan kembali bersuara.


"Sebaiknya ibu dan Arista segera beristirahat, Gunawan minta pada ibu dan Arista untuk tidak menceritakan tentang hal ini pada Widia, biar Gunawan mencari waktu yang tepat untuk bicara padanya tentang hal ini!!." ujar Gunawan sebelum beranjak keluar dari ruang kerjanya, hendak menuju kamar.


Saat tiba di kamar Gunawan tak menemukan keberadaan Widia, sampai membuat pria itu mencari sang istri hingga ke kamar mandi, namun hasilnya Widia tak nampak di sana.


Namun tanpa sengaja Gunawan melihat sebuah koper yang selalu di letakan di atas lemari kamar kini telah tak nampak, sehingga membuat Gunawan segera membuka lemari dan memastikan dugaannya.


Benar saja lemari pakaian Widia kini nampak kosong. Gunawan yang nampak cemas bergegas menuju kamar Farhan. saat membuka lemari pria kecil itu, Gunawan semakin yakin dengan dugaannya jika istrinya telah pergi meninggalkan rumah.


"Arrrggghhhh." Gunawan yang merasa frustasi mengetahui istrinya telah pergi meninggalkan rumah tak sadar meninju dinding tembok, sehingga membuat tangan pria itu memar bahkan mengeluarkan darah segar.


Sementara Nyonya Lena serta Arista yang mendengar suara teriakan Gunawan segera menghampiri sumber Suara.


"Ada apa Gun??


"Ada apa ayah??."


Tanya ibu serta putrinya secara bersamaan, namun alangkah terkejutnya kedua wanita itu saat melihat tangan Gunawan sudah berlumuran darah segar.


"Astaga ayah." Arista pun menangis saat melihat tangan ayahnya terluka, begitu pun dengan nyonya Arista.


"Widia pergi dari rumah Bu" Nyonya Lena nampak menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat mendengar menantunya pergi dari rumah.

__ADS_1


"Apa kalian bertengkar Gun???." pertanyaan ibunya mendapatkan gelengan dari putranya yang kini nampak begitu frustasi, setelah mengetahui kepergian istrinya.


"Apa Widia mendengar semua pembicaraan kita tadi??." tebak nyonya Lena, sebab tidak mungkin Widia sampai meninggalkan rumah jika tidak ada masalah.


__ADS_2