Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Menginap di Vila.


__ADS_3

Pagi harinya Widia nampak menggeliat sembari membuka matanya perlahan.


"Nyaman banget sih??." Widia terlihat telah bangun dari tidurnya kemudian meregangkan otot-ototnya dengan nyamannya. mungkin karena nyawanya yang belum terkumpul sempurna, sehingga wanita itu belum menyadari di mana dirinya terbangun saat ini.


"Kamu sudah bangun??." Sampai dengan suara berat seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya, membuat Widia tersadar jika saat ini ia tengah menikmati tempat tidur yang terasa begitu nyaman, sementara si empunya kini tengah merebahkan tubuhnya di sofa.


Gunawan yang saat itu bersuara, masih dalam posisi memejamkan mata.


"Astaga mas Gunawan??." wajah Widia nampak cemas saat melihat dengan jelas pria itu merebahkan tubuhnya di sofa, dimana dirinya yang harusnya tidur di sana.


Dengan gelagapan Widia segera turun dari tempat tidur, lalu mendekati sofa yang kini di tiduri suaminya.


"Kenapa mas tidur di sofa, lalu kenapa aku bisa tidur di tempat tidurnya mas. seingat aku semalam aku tidur di sofa, tapi kenapa tiba tiba tadi telah berada di atas tempat tidur??." Wanita itu nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.


"Mulai besok kamu tidak perlu lagi tidur di sofa!!." titah Gunawan masih dengan mata terpejam, sehingga membuat Widia semakin tak mengerti dengan yang terjadi saat ini.


"Kalau nggak boleh tidur di sofa lalu aku mau tidur di mana, masa iya aku harus tidur di lantai, bisa mati beku aku nantinya." tentunya itu hanya ada di dalam benaknya, karena mana berani Widia mengeluarkan kalimat demikian pada pria itu.


"Mulai besok kamu tidak perlu lagi tidur di sofa, tidurlah di ranjang bersamaku!!." akhirnya kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Gunawan, mematahkan dugaan Widia yang menyangka jika pria itu melarangnya tidur di sofa karena memintanya untuk tidur di lantai.


"Nggak perlu mas, lagi pula aku sudah terlanjur nyaman tidur di sofa." Widia sengaja berbohong, agar pria itu mengurungkan niatnya untuk mengajak Widia tidur di ranjang bersama dengannya. bukannya Widia tidak ingin tidur seranjang dengan pria itu, namun Widia khawatir jika tiba tiba pria itu teringat akan mendiang istrinya, lalu menendangnya dari atas tempat tidur. menurut wanita itu sangat tidak lucu, jika ia harus patah tulang akibat di tendang dari tempat tidur, apalagi yang melakukanya adalah suami sendiri.


"Beneran mas, aku udah nyaman banget tidur di sofa." Widia nampaknya masih belum menyerah untuk meyakinkan pria itu, sehingga membuat Gunawan segera bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk.


"Apa, nyaman kamu bilang, badan saya seperti mau remuk begini kamu bilang tidur di sofa nyaman??." Gunawan nampaknya tidak terima dengan pernyataan Widia yang mengatakan jika selama tidur di sofa itu nyaman.


"Arght." Gunawan terdengar meringis saat merenggangkan otot ototnya yang serasa kaku akibat semalaman tidur di sofa, sebelum pria itu meraih sebuah handuk kemudian berlalu menuju kamar mandi.


"Mas mau aku buatkan sarapan??." Tanya Widia pada Gunawan yang kini melangkah menuju kamar mandi.


"Hemt." sahut Gunawan saat hendak membuka pintu kamar mandi.


Sebelum menyiapkan sarapan, Widia numpang mandi terlebih dahulu di kamar putranya, Farhan. sehingga saat hendak menyiapkan sarapan wanita itu sudah nampak kembali segar. pagi ini Widia juga berencana untuk menengok ruko yang baru di sewanya beberapa hari yang lalu, itu sebabnya wanita itu sudah bersiap, agar usai sarapan ia bisa segera berangkat.

__ADS_1


Gunawan yang kini telah mengenakan jas lengkap nampak menuruni anak tangga menuju meja makan, di mana terlihat Widia tengah mengoles selembar roti dengan selai strawberry kesukaan sang suami.


Saat hendak menarik sebuah kursi pandangan Gunawan terus tertuju pada Widia, yang kini telah terlihat rapi dengan mengenakan kemeja warna putih tulang berbahan satin yang di padukan dengan celana kulot berwarna Coklat tua, serta tatanan rambut Carli kesukaan wanita itu.


"Ini rotinya mas." Widia meletakkan roti tawar yang bagian tengahnya telah di olesi selai ke piring suaminya.


"Kamu mau pergi kemana??." tanya Gunawan saat melihat istrinya telah nampak rapi.


"Aku mau mengecek ruko yang kemarin aku pesan lewat online mas, aku hanya ingin memastikan jika ruko tersebut bisa aku jadikan tempat jualan sekaligus tempat untuk menyimpan stok barang." jawab Widia jujur.


"Kalau gitu biar saya antar kamu ke sana." Gunawan menawarkan diri untuk mengantarkan sang istri ke tempat tujuan.


"Nggak usah mas, aku bisa naik taksi online ke sana." Widia yang merasa cukup tahu diri tak ingin merepotkan, menolak halus tawaran dari suaminya.


"Jika tetap ingin ke tempat itu maka ikut bersamaku!!." Kalimat yang di lontarkan Gunawan terdengar penuh penekanan, seperti tidak ingin lagi mendengar bantahan.


"Baik mas." jawab Widia pasrah, padahal rencananya hari ini usai mengecek ruko yang di maksud, Widia ingin mampir sebentar ke kontrakan Putri, karena Sahabatnya tersebut hari ini sedang minta izin tak masuk kerja.


Sebelum mengantarkan istrinya ke tempat tujuan, Gunawan lebih dulu mengantarkan Farhan ke sekolahnya. ketiganya berangkat setelah pamitan terlebih dahulu pada Arista, yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya di atas tempat tidur.


Di dalam mobil Widia hanya nampak diam tak berani bicara apalagi protes, mengingat saat ini raut wajah suaminya tersebut nampak begitu serius, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.


Ketika mobil yang di kendarainya sudah hampir meninggalkan kota Jakarta, barulah Gunawan menyadari jika saat ini Widia masih ikut bersama dengannya.


Pada akhirnya mau tidak mau Wanita itu harus ikut bersama sang suami menuju kita B. mungkin karena kelelahan di perjalanan atau kelelahan menahan dongkol akibat ulah sang suami, Widia pun nampak tertidur di mobil.


"Maaf,,,, karena panik saya sampai lupa, dan akhirnya kamu harus ikut bersamaku." Gunawan nampak bergumam lirih sembari mengusap lembut puncak kepala Widia yang kini tengah terlelap.


Widia baru terbangun saat mobil yang di kendarai suaminya tiba di sebuah Vila mewah yang berada di kota B.


"Kita di mana mas??." Widia yang baru saja terbangun bertanya dengan suara serak khas orang Bangun tidur, hal itu sontak membuat lawan bicaranya merasa tergoda, namun dengan segera Gunawan menepis pikirannya yang kini mulai kemana mana.


"Kita sudah berada di Vila yang berada di kota B, saya akan memesan satu kami di Vila ini, selama saya rapat dengan kepala cabang kamu istirahat di sini!!." setelah mengatakan itu pada Istrinya, Gunawan lantas turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.

__ADS_1


Keduanya kemudian masuk ke dalam Vila, setelah mengambil sebuah kunci dari penjaga Vila tersebut.


Melihat Vila yang cukup besar dan ia harus beristirahat seorang diri sembari menunggu suaminya yang akan meeting dengan bawahannya, membuat pikiran Widia lari kemana mana sehingga rasa takut kini merasuki wanita itu.


"Kamu tidak perlu takut, saya sudah meminta beberapa orang penjaga untuk berjaga jaga di luar!!." kata Gunawan saat melihat raut wajah wanita itu nampak seperti ketakutan.


"Iya mas nggak papa, aku nggak takut kok." seperti biasa Widia yang tak ingin nampak lemah di depan siapapun termasuk sang suami, kini terpaksa kembali berbohong. namun meski mulutnya bisa berbohong pada pria itu, namun sorot mata wanita itu tak dapat berbohong. sehingga Gunawan menjadi ragu, untuk meninggalkan wanita itu sendirian di Vila.


"Sebaiknya kamu ikut saja denganku, lagi pula aku tak akan lama meetingnya hanya ada sedikit masalah saja yang harus segera ku selesaikan!!." berhubung sebenarnya ia pun tak berani di tinggal seorang diri, akhirnya Widia pun tak menolak ajakan sang suami.


Akhirnya keduanya pun segera beranjak menuju kantor cabang. karena banyaknya masalah yang terjadi di sana, akhirnya tak sesuai rencana. meeting pun usai saat waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, sehingga Gunawan pun memutuskan untuk menginap di kota tersebut malam ini.


Keduanya kembali ke Vila untuk menginap di sana, karena kota B kembali di guyur hujan lebat.tak memungkinkan untuk kembali ke Jakarta malam ini juga.


Setibanya di Vila Widia nampak menggigil kedinginan, akibat pakaiannya basah terkena hujan. karena tak membawa pakaian ganti akhirnya wanita itu pun terpaksa mengenakan kemeja suaminya, yang kebetulan masih tersimpan di mobil. sementara Gunawan hanya mengenakan sebuah celana panjang jens, tanpa baju pria itu nampak bertelanjang dada. karena hanya itu yang ada di mobilnya saat itu.


Gunawan yang melihat istrinya nampak kedinginan meraih tubuh Widia kedalam pelukannya, karena merasa begitu kedinginan Widia pun tak menolaknya.


Keduanya kembali berbagi selimut.


Sudah hampir satu jam merebahkan tubuh di tempat tidur, namun keduanya masih nampak terjaga meski tak seorang pun bersuara, keduanya hanya sibuk dengan pemikiran masing masing.


Sampai Widia di buat tersentak saat salah satu tangan kekar suaminya kini mulai aktif menggerayangi tubuhnya, yang kini tidur dengan berbantalkan salah satu lengan suaminya.


Apalagi saat ini Widia hanya mengenakan sebuah kemeja milik Gunawan tanpa pakaian dalam, sehingga membuat pria itu dengan mudahnya melancarkan aksinya.


Sehingga kejadian di hotel siang kemarin kembali terulang malam ini, namun bedanya malam ini pria itu nampak melakukannya beberapa kali, sampai membuat tubuh istrinya terkulai lemas di pelukannya.


Setelah mendengar hembusan napas istrinya mulai teratur, Gunawan sedikit menengadahkan wajah wanita itu agar dapat menatap lekat wajah cantiknya. namun akibatnya Widia nampak menggeliat saat merasa tidurnya terganggu, hal itu sungguh menggemaskan di mata pria itu. sampai membuat Gunawan kembali mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya.


"Kamu benar benar sudah membuatku gila Widia." Gunawan nampak bergumam lirih Usai mengecup bibir istrinya.


Sebelum ikut tidur bersama sang istri, Gunawan berusaha mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas dengan sebelah tangannya, karena tangan yang satu lagi kini memeluk istrinya yang kini tidur di dalam dekapannya.

__ADS_1


Gunawan nampak begitu hati hati saat hendak meraih ponselnya, karena tak ingin istrinya tergganggu tidurnya. setelah berhasil meraih ponselnya Gunawan mengirimkan pesan pada ibunya, jika malam ini ia tak bisa kembali sebab kota B tengah di guyur hujan lebat.


Setelah memastikan pesannya terkirim, Gunawan pun ikut terlelap bersama sang istri. malam ini keduanya tidur di bawah selimut dalam keadaan polos.


__ADS_2