Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Pria itu ternyata Gio.


__ADS_3

"Anda, apa yang anda lakukan di rumah saya??." ujar Putri dengan nada sedikit ketus mengingat saat ini seseorang yang ternyata adalah seorang pria itu bisa masuk ke dalam rumah kontrakannya.


"Bagaimana saya tidak bisa masuk, jika pintu rumah anda terbuka lebar Nona Putri??." jawaban seseorang yang ternyata adalah Asisten dari Pimpinan perusahaan tersebut membuat Putri langsung beralih memandang pintu rumah kontrakannya, yang ternyata memang terbuka lebar.


"Setidaknya anda bisa memberi salam dulu sebelum masuk." sanggah putri membela diri.


"Jika saja ada mesin hitung di depan rumah anda, mungkin dia akan mengatakan pada anda sudah berapa kali saya mengucapkan salam. Namun sama sekali tidak ada jawaban, itulah mengapa saya memutuskan untuk masuk saja." ujar Gio yang juga membenarkan diri, sebab apa yang di katakan pria itu benar. sudah beberapa kali ia mengetuk pintu, namun sama sekali tak ada sahutan dari empunya rumah.


Beberapa saat kemudian Gio nampak tersenyum tipis, namun senyuman pria itu tak luput dari perhatian Putri.


"Kenapa anda malah senyum senyum sendiri, anda belum kehilangan kewarasan bukan??." ujar Putri sewot.


"Bukan apa apa Nona, saya hanya teringat akan ocehan seseorang yang kini hidup sendirian." mata Putri sontak melotot pada Gio, sadar jika pria itu tengah menyindir dirinya.


"Saya rasa anda tidak perlu merasa, sebab saya sama sekali tidak menyebutkan nama anda Nona Putri." ujar Gio dengan tatapan menusuk jantung Putri, entah apa maksud dari tatapan pria itu, yang jelas tatapan Gio mampu menembus hingga ke jantung Putri.


Putri menggelengkan kepalanya seolah ingin memberi isyarat pada jantung serta otaknya, untuk kembali bekerja dengan normal.


Sementara Gio yang melihat tingkah wanita cantik itu hanya bisa tersenyum tipis, karena menurut pria itu tingkah putri sangat lucu, untuk wanita di usia dua puluh sembilan tahun.


Sedangkan usia Gio juga sudah terbilang sangat matang yaitu tiga puluh lima tahun, namun pria itu pun masih setia menjomlo.


"Sekarang sebaiknya anda katakan apa maksud dan tujuan anda datang ke rumah saya??." tanya Putri setelah merasa jantungnya mulai tenang.


"Saya hanya membawakan berkas ini untuk anda kerjakan, saya harap anda menyelesaikan semua ini tepat waktu sebab ini perintah dari tuan Gunawan!!." Gio pun meyerahkan berkas yang di maksud dan Putri pun segera membacanya.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya berkas ini menjadi pekerjaan anda, lalu mengapa memberikannya padaku??." protes Putri usai membaca isi berkas yang di berikan oleh Gio.


"Bukankah sudah saya katakan jika tuan Gunawan yang meminta saya untuk menyerahkan berkas ini pada anda untuk segera di selesaikan." Ucap Gio, namun Putri nampaknya masih tetap tidak terima.


"Memangnya sesibuk apa anda pak Gio yang terhormat, sampai harus membebani pekerjaan anda kepada orang lain?." dengan nada ketus Putri kembali bertanya.


Karena Putri masih bersikeras tak mau menerima berkas tersebut, terpaksa Gio menyebut nama sahabat dari wanita itu dengan harapan Putri tak lagi banyak tanya dan menerima pekerjaan tersebut.


"Karena ada pekerjaan yang lebih penting yang harus segera saya selesaikan, dan itu berhubungan dengan istri dari pimpinan perusahaan." bukannya puas dengan jawaban Gio, Putri malah semakin banyak pertanyaan karena Gio menyebut nama istri dari pimpinan, dan itu artinya yang di maksud Gio adalah Widia, sahabatnya.


"Memangnya apa yang terjadi dengan Widia, Widia baik-baik saja kan?? atau ada sesuatu yang buruk menimpa Widia?? ayo jawab jangan diam saja, anda tidak bisu kan??." cecar Putri Khawatir pada keadaan Sahabatnya.


"Maaf Nona, saya tidak bisa mengatakannya pada anda, karena ini sudah merupakan perintah pimpinan untuk merahasiakan masalah ini dari orang lain." Tegas Gio, namun Bukan Putri namanya kalau menyerah begitu saja.


"Apa yang anda lakukan Nona??." tanya Gio heran.


"Jika anda tetap tidak mengatakannya pada saya, maka anda akan tetap di sini sampai anda bersedia mengatakan sesuatu yang anda rahasiakan itu padaku." Gio semakin mengeryit heran dengan sikap wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya itu, bahkan wanita itu hanya mengenakan sebuah kaos putih tipis serta hot pants sepaha. sebagai pria normal tidak bisa di pungkiri, saat menyaksikan keindahan itu Gio kesulitan menelan salivanya.


Namun dengan segera pria itu memalingkan pandangannya ke sembarang arah, agar pikirannya tidak melayang ke mana mana.


"Saya mohon Nona menyingkirlah!!." ujar Gio saat Putri masih kokoh menghalangi jalan Gio.


"Bukankah sudah saya katakan, bahwa anda akan tetap di sini sampai anda mengatakan semuanya pada saya pak Gio yang terhormat." kekeh Putri menghalangi jalan Gio dengan berdiri tepat di depan pintu rumah kontrakannya.


"Jangan menguji kesabaran saya Nona, karena jika kesabaran saya habis, saya bisa saja memaksa anda untuk menyingkir dari hadapan saya." Nada ucapan Gio terdengar tegas di indera pendengaran Putri, namun gadis itu masih yakin jika Gio tidak mungkin berani menyentuh dirinya agar menyingkir.

__ADS_1


Namun sayang dugaan Putri salah, Kini Gio hendak meletakkan tangannya di pinggang ramping wanita itu, untuk membuatnya menyingkir.


"Apa yang akan anda lakukan??." tanya Putri saat tangan Gio berada di udara.


"Bukankah ini yang anda inginkan Nona??" sahut Gio dengan santainya, sehingga membuat Putri sedikit Khawatir jika pria itu tidak sedang becanda.


Akhirnya Putri pun mengalah dan memberikan jalan untuk pria itu keluar dari rumahnya.


Saat berhasil keluar dari rumah Putri, Gio nampak menyunggingkan senyum seolah taktiknya mengelabuhi Putri berhasil. karena tidak mungkin juga ia sungguh sungguh akan menyentuh wanita itu, walaupun hanya sekedar menyentuh pinggangnya agar menyingkir. bagaimana jika Putri berteriak, sudah pasti Gio akan mendapat amukan warga sekampung.


"Sepintar apapun seorang wanita, otaknya pasti tidak akan bekerja sempurna jika ada seorang pria yang hendak mencoba menyentuhnya. mana mungkin saya serius ingin menyentuh anda Nona Putri, jika saya berani melakukannya sama saja saya sedang menggali kubur untuk diri saya sendiri." gumam Gio saat mulai mengendarai mobilnya sambil sesekali tersenyum lucu, teringat akan wajah putri yang tadi nampak ciut saat ia hendak menyentuh tubuhnya.


"Lagi pula saya bukanlah pria brengsek Nona." lanjut Gumam Gio.


🌹


🌹


🌹


Sudah dua hari berlalu, sikap Arista semakin dingin pada ibu sambungnya. bahkan saat berangkat ke sekolah gadis itu tak ingin di antarkan oleh ibu sambungnya seperti hari hari sebelumnya.


Gadis itu lebih memilih di antar jemput oleh tantenya, Sela. namun begitu Widia tetap berusaha bersikap positif, mungkin Arista sangat merindukan sosok Sela sebab sudah lama mereka tidak bertemu.


Namun tiba saat Arista pulang sekolah, Gadis itu tidak sengaja mendorong lengan Widia, sehingga menyebabkan wanita itu terjatuh dari tangga. akibatnya Widia harus di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2