
Putri yang berdiri di depan kontrakan miliknya di buat heran, saat melihat sahabatnya turun dari mobil bosnya dengan mengenakan pakaian yang basah. namun putri sama sekali tidak menaruh curiga jika semua itu ada hubungannya dengan bosnya, sebab saat itu Widia turun dengan mengenakan jas milik tuan Gunawan untuk membalut tubuhnya.
Setelah mobil bosnya meninggalkan tempat itu, Putri kemudian berjalan menghampiri Widia yang berjalan menuju kontrakannya.
"Apa yang terjadi Wid, kenapa pakaian kamu bisa basah begini??." tanya Putri penasaran.
"Nggak papa Put, tadi aku habis menemani Arista bermain di kolam berenang makanya pakaianku basah." Jawab Widia jujur, namun ia tidak menceritakan semua kejadian yang membuatnya malu tersebut.
Setelah mendengar penjelasan sahabatnya yang menurutnya masuk di akal, Putri kemudian meminta Widia segera mengganti pakaiannya, khawatir jika sahabatnya itu sakit, jika kelamaan mengenakan pakaian basah seperti itu.
"Sebaiknya segera ganti pakaian kamu, kamu bisa sakit jika kelamaan mengenakan pakaian basah seperti ini." titah Putri kemudian Widia pun mengangguk, namun sebelum melangkah menuju kamarnya, Widia menanyakan keberadaan Farhan pada Putri.
"Put, di mana Farhan, sejak tadi aku belum melihatnya??." tanya Widia pada sahabatnya.
"Farhan sedang tidur di kontrakanku, mungkin dia lelah seharian belajar." mendengar jawaban putri, Widia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar kemudian mengganti pakaiannya.
Usai mengganti pakaiannya Widia kembali menemui Putri.
"Bagaimana??.".tanya Putri sehingga membuat Widia kembali bertanya.
"Bagaimana apanya???." ucap Widia yang kembali bertanya pada putri.
"Bagaimana hasil pembicaraan kamu dengan tuan Gunawan??." tanya Putri lebih detail.
"Baik." sahut Widia singkat.
__ADS_1
"Baik gimana maksud kamu??." kembali cecar Putri.
"Sesuai dengan tawaran bos kamu tempo hari, kami akan segera menikah sesuai dengan tawaran beliau." jawab Widia kemudian menarik napas dalam lalu menghembusnya perlahan.
"Lalu kapan kalian akan menikah??.lanjut tanya Putri.
"Besok." jawaban Widia membuat Putri kaget bukan kepalang.
"Apa besok??." bola mata Putri nyaris membulat sempurna, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya, besok aku akan segera menikah dengan bos kamu, dan mulai besok juga aku akan kembali hidup di bawah telunjuk seorang pria." jawab Widia dengan senyum kecutnya, saat membayangkan bagaimana tersiksanya saat hidup di bawah tekanan seseorang, apalagi orang tersebut berstatus suami. bayangan rumah tangganya di masa lalu kembali menari nari di benak Widia, namun begitu ia tetap harus ikhlas, sebab itu tidak seberapa jika di bandingkan ia harus hidup terpisah dari putranya.
"Sebenarnya tuan Gunawan orangnya sangat lembut, namun semua itu sirna seakan terkubur bersama jasad sang istri." ucap Putri kala teringat sikap bosnya sebelum istrinya meninggal akibat kecelakaan maut.
"Aku lelah Put, boleh aku istirahat sebentar??." permintaan Widia membuat Putri mengerti, mungkin saat ini sahabatnya itu butuh waktu sendiri.
Di kamar sederhana yang sudah ditinggalinya hampir empat bulan lamanya, Widia merenungi nasibnya. di sisi lain hatinya lega saat mendapat peluang besar hak asuh putranya, namun di sisi lain bayangan tentang rumah tangganya bersama mantan suami kembali menari nari di pikirannya. tak bisa di pungkiri, wanita itu masih merasa trauma dengan kehidupan rumah tangganya di masa lalu, bersama dengan mantan suami.
"Aku harus kuat menjalani semua ini, belum tentu aku bisa menjalani hidup jika berpisah dari Farhan, namun jika menjalani hidup dengan Farhan aku pasti kuat menjalani semua ini." dalam hati Widia seperti sedang memberi kekuatan pada dirinya sendiri.
***
Sementara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang wanita paruh baya tengah mencecar putranya.
"Hardi kapan persidangan akan segera di adakan, ibu tidak sabar ingin membawa cucu ibu tinggal di sini??." seorang wanita paruh baya nampak begitu ambisi ingin memiliki cucunya sepenuhnya.
__ADS_1
"Sabar Bu,,,, beberapa hari lagi, pengadilan sudah memberikan surat panggilan pada Widia." jawab Hardi seraya melepas sepatunya.
"Bu, sebenarnya aku tidak tega merebut Farhan dari Widia, sudah banyak yang Hardi rebut darinya, bahkan rumah yang kami bangun dari hasil jerih payah bersama, telah Widia serahkan sepenuhnya menjadi milik Hardi." ucap pria itu berharap ibunya berubah pikiran, namun bukannya berubah pikiran wanita paruh baya tersebut malah mengancam ingin bunuh diri, jika Hardi membatalkan niatnya untuk merebut hak asuh cucunya.
"Apa kamu mau melihat ibu mati bunuh diri Hardi??." ancaman itu selalu di lontarkan ibunya ketika Hardi tidak ingin menuruti keinginannya.
"baiklah Bu, tapi Hardi harap ibu mau sedikit bersabar, sebab hak asuh Farhan pasti akan jatuh ke tangan Hardi, mengingat Widia tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi putra kami." jawab Hardi sebelum berlalu meninggalkan ibunya yang masih duduk di sofa.
"Kalau bukan karena almarhum ayah kamu yang mewariskan seluruh harta kekayaannya pada anak itu, kamu pikir ibu mau menjaga anak dari wanita itu." wanita paruh baya tersebut nampak bergumam, saat melihat putranya mulai menjauh darinya.
Sebelum meninggal mendiang ayah Hardi mewariskan seluruh harta kekayaannya pada cucu pertamanya, termasuk perkebunan teh miliknya. itu sebabnya ibunya Hardi mati Matian membujuk putranya untuk merebut hak asuh Farhan dari tangan Widia. dengan niat mengambil alih harta warisan tersebut.
Mengenai harta warisan itu, Widia sama sekali tidak tahu menahu, jika seandainya Widia tahu mungkin dengan suka rela wanita itu akan mengembalikan semuanya pada mantan mertuanya, dari pada harus kehilangan putranya.
***
Keesokan harinya, Widia nampak mengenakan kebaya sederhana guna melangsungkan pernikahannya yang juga di gelar sangat sederhana, bahkan pernikahan tersebut hanya di laksanakan di kantor urusan agama. dengan di hadiri salah satu saudara kandung Widia sebagai wali yang menikahkan kakak kandungnya, selain saudaranya yang bernama Adit tak satu pun keluarga Widia yang mengetahui pernikahan tersebut.
Awalnya Adit pun ingin melarang kakaknya untuk menikah lagi karena masih trauma dengan sikap mantan kakak iparnya, namun setelah Widia menceritakan alasan mengapa ia menerima lamaran pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya tersebut. dengan berat hati Adit pun bersedia menjadi wali nikah kakak kandungnya.
Tidak banyak yang hadir di acara ijab qobul tersebut, hanya kedua mempelai, Adit sebagai wali, ibu serta putri Gunawan dan juga Putri serta Farhan, buah hati Widia dari pernikahannya terdahulu. serta Beberapa perangkat KUA yang bergelar sebagai saksi.
Sampai beberapa saat kemudian saksi kompak mengucap kata.
"Sah." kini sah lah Widia Saputri menjadi nyonya Gunawan Wicaksono. meski hanya menikah demi kedua buah hati masing masing, namun pernikahan keduanya tetap sah di mata hukum dan agama.
__ADS_1
Setelah melakukan ijab qobul di kantor urusan agama,Nampak Gunawan mengajak serta istri serta anak sambungnya untuk tinggal di kediamannya. sebenarnya Widia berat meninggalkan Sahabatnya, Putri, Namun bagaimana pun sebagai istri ia harus patuh pada suaminya.
Sebagai sahabat Putri hanya berharap dan berdoa semoga sahabatnya itu segera menjalani biduk rumah tangga layaknya pasangan bahagia pada umumnya.