
Saat Gunawan kembali ke kamar dengan membawa sebuah wadah yang di letakan di dalam kantong plastik berwarna hitam, membuat Widia pandangan Widia tertuju pada kantong hitam yang berada di genggaman suaminya. wanita itu bisa menebak jika itu adalah sampel milik suaminya yang kemarin di pinta oleh dokter.
"Apa kita bisa berangkat sekarang!!." ajak Gunawan karena merasa kurang nyaman saat pandangan wanita itu masih tertuju pada sebuah kantong plastik yang berada di tangannya.
"Baik mas." sahut Widia singkat sebelum beranjak keluar kamar mendahului langkah suaminya.
Ketika tiba di kamar Gunawan sudah nampak siap dengan stelan tuksedo miliknya, sebab di ruang kerjanya terdapat beberapa pakaian ganti miliknya.
Suasana di mobil nampak hening, keduanya hanya fokus pada pikiran masing masing.
"Mas Gunawan pasti membayangkan wajah mendiang istrinya tadi saat melakukan itu" dalam hati Widia, entah kenapa membayangkan pria itu menikmati sesuatu dengan membayangkan wajah wanita lain membuat hati Widia terasa nyeri.
"Kenapa aku sedih memikirkan hal itu, padahal aku sendiri tahu jika mas Gunawan cinta mati sama mbak Rahma. aku tidak boleh iri Wid apalagi cemburu, almarhumah mbak Rahma itu istrinya mas Gunawan, kamu harus sadar diri siapa diri kamu." lanjut dalam hati Widia seperti sedang memberikan semangat serta kekuatan pada dirinya sendiri.
Gunawan yang tengah fokus menatap jalanan sesekali melirik ke arah Widia seraya membatin.
"Bagaimana mungkin wajah wanita ini terus melintas di benak serta pikiranku di saat saat seperti tadi??." dalam hati Gunawan yang kini melirik ke arah Widia yang kini nampak memilin jemarinya. sampai membuat Gunawan bertanya tanya, apa yang saat ini ada di pikiran wanita itu.
Di tengah perjalanan tiba tiba pertanyaan Widia pada pria yang kini fokus mengemudi memecah keheningan.
"Mas, seandainya Tuhan berkehendak proses bayi tabung yang akan kita jalani berjalan dengan lancar, apa mas akan memberikan kasih sayang yang sama seperti yang mas berikan pada Arista, pada anak yang lahir dari rahimku??." pertanyaan Widia membuat Gunawan seketika menoleh kearahnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu??." bukannya menjawab Gunawan malah balik bertanya, sehingga membuat wanita itu tersenyum getir seolah bisa menebak jawaban yang akan di berikan pria itu.
__ADS_1
"Nggak papa mas, sudah mas lupakan saja lagi pula tidak penting!!." ujar Widia di sisa senyum getirnya.
"Kenapa aku sebodoh itu, bagaimana mungkin aku mempertanyakan sesuatu yang aku sendiri sudah tahu jawabannya." dalam hati Widia terasa nyeri mengingat nasib anaknya kelak, meski begitu ia tetap akan melanjutkan proses bayi tabung, karena hanya itu satu satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Arista.
"Sayang jika nanti kamu hadir di rahim mama, kamu harus kuat tidak boleh cengeng. ingat nak ada mama yang akan selalu ada dan sayang padamu!!." lanjut batin Widia seraya menatap ke arah jendela samping mobil agar matanya yang kini mulai berkaca-kaca tak nampak oleh pria yang kini tengah mengemudi di sampingnya.
"Apa Widia tidak ikhlas mengandung anakku??." kini giliran Gunawan yang menerka apa yang ada di benak Widia, sebab sejak tadi wanita itu seperti enggan memandang ke arahnya.
Keduanya terus sibuk dengan pemikiran masing masing sampai mobil yang di kendarai Gunawan tiba di rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Gunawan segera berjalan menuju ruangan Dr Beni yang tak lain adalah sahabat dekatnya, dengan di ikuti Widia di belakangnya.
Tidak jauh berbeda dengan kemarin, saat tiba di ruangan Dr Beni, kedua dokter yang kemarin mendampingi sahabatnya tersebut kembali hadir di sana.
Gunawan nampak meletakkan sampel miliknya di sana sebelum seorang pegawai laboratorium datang mengambilnya, untuk selanjutnya di lakukan pemeriksaan, jika kembali menunjukkan hasil yang baik maka akan dilakukan proses pematangan di laboratorium pada sampel ******* tersebut.
"Apa harus dengan cara seperti itu??." tanya Gunawan dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Bukankah sudah ku jelaskan sebelumnya pada anda tuan Wicaksono." jawab Beni selaku dokter yang menangani proses bayi tabung yang akan di lakukan oleh keduanya.
"Setidaknya apa tidak bisa di lakukan oleh dokter perempuan??." pertanyaan Gunawan membuat Beni menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan, sebelum menjawab pertanyaan dari pasien sekaligus sahabatnya tersebut.
"Maaf tuan proses ini tidak bisa di lakukan oleh seseorang yang tidak berkompeten, maka saya sarankan anda tidak perlu berpikir macam macam, sebab ini bukan pertama kalinya bagi kami melakukan hal seperti ini." jawab Beni penuh wibawa, sehingga membuat Gunawan langsung memijat pelipisnya seperti sedang meredakan sakit kepalanya akibat memikirkan cara pengambilan sel telur pada istrinya.
__ADS_1
"Ayo nyonya silahkan!!." Beni nampak mempersilahkan Widia duduk di ranjang khusus untuk proses pengambilan sel telur di rahimnya.
Tanpa bersuara Widia nampak menuruti ucapan dari dokter Beni, namun sebelum wanita itu benar benar berbaring di ranjang tersebut Gunawan lebih dulu mencekal lengan Widia, sehingga membuat wanita itu menatap bingung pada suaminya itu.
"Ada apa mas??." tanya Widia yang kini nampak bingung dengan perubahan sikap suaminya.
"Maaf dok, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan program bayi tabung ini." tegas Gunawan tanpa ragu, sementara Widia semakin di buat bingung dengan perubahan sikap suaminya. sebab sebelumnya pria itulah yang nampak begitu bersemangat saat hendak melakukan program bayi tabung, tapi kenapa kini malah Gunawan sendiri yang memutuskan untuk tidak melanjutkan proses tersebut.
"Tapi tuan, bukankah Anda telah mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk menempuh proses bayi tabung ini, apa anda tidak merasa rugi dengan semua yang telah anda keluarkan demi program yang sebentar lagi akan membuahkan hasil??" kembali tanya Dr Beni meyakinkan atas keputusan yang telah di ambil oleh pasien sekaligus sahabatnya tersebut.
"Aku lebih rela kehilangan uangku daripada harus melihat istriku di gera_" Gunawan tak melanjutkan kalimatnya saat menoleh ke arah dokter Arham dan dokter Rama, karena tak ingin menyinggung perasaan keduanya.
"Dari pada harus apa Tuan??." kini Beni sengaja memberikan pertanyaan untuk memancing reaksi Sahabatnya tersebut.
"Sudahlah dok tidak perlu di bahas lagi, aku sudah teguh pada keputusanku untuk tidak melanjutkan program bayi tabung ini." dari jawaban sahabatnya tersebut Beni bisa menebak jika Gunawan tak rela istrinya di sentuh pria lain, meski itu adalah seorang dokter sekalipun.
Beni yang kenal betul dengan watak Gunawan meminta dengan hormat kedua dokter yang mendampinginya untuk keluar sebentar dari ruangan tersebut.
"Bisa tinggalkan kami sebentar!!." titah Beni pada kedua rekan sejawatnya, kemudian keduanya pun mengangguk sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Baiklah jika tidak ada yang ingin anda tanyakan lagi kami pamit." ucap Gunawan seraya menggenggam tangan Widia.
"Jika kamu tidak ingin melanjutkan program ini, lalu bagaimana dengan nasib Arista Gun apa kamu tega melihat putrimu dalam kondisi seperti itu??." kini Beni mulai menggunakan bahasa santai, sehingga membuat Gunawan menghentikan langkahnya sejenak lalu menoleh ke arah sahabatnya tersebut seraya berkata.
__ADS_1
"Aku pastikan istriku akan segera mengandung anakku untuk menjadi penolong putriku, tapi bukan dengan cara bayi tabung. aku akan melakukannya dengan caraku sendiri." ucapan sahabatnya tersebut membuat Beni sontak menggigit bibir bawahnya seperti sedang menahan senyum.
"Ternyata tebakan sebelumnya benar benar terjadi, aku sudah menduga sebelumnya Gunawan, jika kamu tidak akan rela melihat istrimu di sentuh pria lain meski pria itu adalah seorang dokter." gumam Beni dengan senyum yang kini mengembang sempurna di bibirnya, saat sahabatnya tersebut menghilang di balik pintu.