Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Perubahan sikap Arista.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan aktivitasnya di dapur Widia menyusul suaminya ke kamar, namun saat hendak menaiki anak tangga tak sengaja Widia berpapasan dengan Arista.


Widia mengeryit heran saat gadis itu sama sekali tak menyapa dirinya, bahkan Arista terkesan cuek pada ibu sambungnya.


"Mau kemana kak??" Widia memutuskan menyapa lebih dulu, saat melihat anak gadisnya itu nampak rapi seperti hendak pergi.


"Aku janjian mau ke Mall sama Tante Sela." Arista menjawab pertanyaan Widia seraya terus melanjutkan langkahnya, sungguh sangat seperti Arista biasanya, sehingga membuat Widia heran dengan sikap gadis itu.


"Jangan terlalu malam pulangnya ya kak!." meski mendapat sikap kurang sopan dari Arista, namun sebagai seorang ibu, Widia tak lupa memberi nasehat pada gadis itu.


"Mama kenapa sih, belum juga pergi." jujur jawaban Arista sangat mengecewakan Widia, namun begitu Widia sama sekali tak menampakkan rasa kecewanya di hadapannya Arista.


"Lagian bunda saja nggak pernah segitu protektifnya sama Aku." Kali ini jawaban Arista sungguh membuat Widia begitu kecewa, sehingga membuat Widia tak lagi berkata. wanita itu hanya bisa melanjutkan langkahnya menuju kamar, karena Widia cukup tahu diri karena bagaimanapun ia hanyalah ibu sambung Arista.


Namun beberapa langkah kemudian Widia menoleh ke arah Arista.


"Maaf jika sikap mama terlalu protektif menurut kakak, mama melakukan semua itu tak lain karena mama sayang sama kakak." Mata Widia nampak berkaca kaca saat mengatakan hal itu pada Arista.


Sebenarnya Arista juga tak tega berkata demikian pada sang ibu sambung,namun kalimat hasutan dari Tantenya selalu terngiang ngiang di telinga gadis itu.


Sebelum membuka handle pintu kamar Widia lebih dulu mengusap wajahnya, tak ingin suaminya melihat air mata yang berlinang begitu saja di wajah cantiknya.


"Mas."


"Hemt." Gunawan yang masih mengenakan handuk sebatas pinggang menjawab singkat sapaan istrinya.


"Apa Arista sudah meminta izin pada mas, jika ingin pergi ke Mall bersama Nona Sela??." yang di tanya langsung menoleh dengan wajah bingung, bagaimana tidak, anak gadisnya itu bahkan tak memberi tahukan padanya jika hendak keluar dengan tantenya.

__ADS_1


Gunawan menggeleng.


"Memangnya Arista minta izin Sama kamu kalau mau main ke mall bareng mbak Sela??." Meski usia Gunawan lebih tua dua tahun dari Sela, namun Pria itu tetap menyematkan sebutan mbak pada Sela. karena bagaimanapun wanita itu merupakan kakak kandung dari Rahma, mendiang istrinya terdahulu.


Widia hanya bisa menggeleng perlahan, setelah mengetahui bahwa anak gadisnya itu bahkan tidak meminta izin pada ayahnya.


Segera Gunawan mengenakan celana pendek jeans miliknya, sebelum keluar hendak mencari keberadaan putrinya. sementara Widia tak berani melarang, karena bagaimanapun Gunawan berhak atas putrinya. apalagi saat ini raut wajah suaminya itu nampak seperti menahan kesal, saat mendengar putrinya hendak pergi tanpa meminta izin padanya.


Beberapa saat kemudian Widia ikut menyusul langkah suaminya.


Langkah Widia terhenti saat mendengar suara Sela di depan, sudah pasti suaminya menasehati putrinya. karena terdengar jelas suara Sela seperti sedang membela keponakannya itu saat di nasehati ayahnya.


"Kamu kenapa sih Gun, apa yang sudah dikatakan istri kamu tercinta sampai kamu tidak mengizinkan Arista pergi bersama dengan tantenya sendiri??." Lagi lagi Sela menjadikan Widia sebagai sasaran.


"Bukan begitu mbak, aku hanya tidak suka jika putriku pergi tanpa meminta izin, sebab aku tidak pernah mengajarkan hal demikian padanya. dan satu lagi mbak, jangan pernah menyalahkan istriku dalam hal seperti ini sebab Widia tidak tahu apa apa!!." Ujar Gunawan penuh penekanan.


"Dan kamu Kak, ayah minta kembali ke kamar!! sebagai hukuman karena tidak meminta izin dari ayah, maka hari ini kakak tidak boleh keluar rumah!!." titah Gunawan pada Putri kesayangan.


Widia yang berdiri di balik tembok segera menghampiri dengan maksud ingin menengahi perdebatan di antara ketiganya.


"Sudahlah mas, lagian apa salahnya jika kakak pergi bersama Nona Sela, Nona Sela kan Tantenya Arista." Niat hati ingin menengahi perdebatan, namun bukannya mendapat perlakuan baik dari Sela. Widia justru mendapat senyuman sinis dari wanita itu.


"Jangan sok jadi pahlawan kamu, jelas jelas kamu yang sudah ngomong yang bukan bukan pada Gunawan kan, sampai sampai Gunawan melarang Arista pergi dengan tantenya sendiri." kalau saja tak berdosa melumuri mulut wanita itu dengan sambal, mungkin itulah yang saat itu akan di lakukan Widia saat ini, saking kesalnya dengan wanita bernama Sela.


"Saya minta dengan sangat pada mbak, tolong jangan menuduh istri saya seperti itu lagi!! karena hal itu bisa membuat rasa hormat saya pada mbak hilang begitu saja." Kini raut wajah Gunawan nampak tak main main, sehingga membuat Sela mampu menutup mulutnya rapat rapat.


"Baiklah, untuk kali ini ayah mengizinkan kakak pergi bersama Tante Sela, tapi ayah lakukan ini bukan berarti kakak lepas dari hukuman ayah." ujar Gunawan sebelum beranjak kembali ke kamarnya begitu pun dengan Widia yang ikut menyusul langkah suaminya.

__ADS_1


"Mas jangan terlalu keras pada Arista, aku khawatir Arista berpikir jika aku yang sengaja mengadukan hal yang tidak tidak sama kamu mas, sampai kamu marah padanya!!." setibanya di kamar dengan hati hati Widia menyampaikan pendapatnya pada Sang suami.


"Mas tidak pernah mengajarkan sesuatu yang salah pada Arista, sayang. mas merasa kecewa saat tahu putri mas mulai bersikap seolah tidak menghargai mas sebagai ayahnya." jawab Gunawan yang kini duduk di sofa kamar dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


Widia ikut duduk di samping Gunawan, sebagai seorang istri Widia bisa ikut merasakan kekecewaan yang saat ini di rasakan sang suami.


"Aku yakin mas, Arista tidak berniat membuat mas Kecewa, hanya saja Arista masih sangat muda untuk menentukan sikap. sebaiknya kita sama sama mendidik anak anak kita agar lebih baik lagi ke depannya mas, mas tidak perlu menyalahkan diri sendiri." Widia memeluk sang suami, seperti sedang memberikan kekuatan pada pria itu.


"Terima kasih sayang." bahkan sekelas Gunawan yang terkenal begitu tegas dan berwibawa bak macam rimba di kalangan pebisnis kalangan atas, akan terlihat manja dan manja layaknya seekor anak kucing yang menggemaskan jika bertemu dengan pawangnya.


🌹


🌹


🌹


Di kontrakan sederhana miliknya, Putri sibuk dengan laptop di hadapannya. begitu banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan wanita itu dalam waktu singkat, mengingat tanggung jawab perusahaan cabang di kota B sepenuhnya di berikan pimpinan padanya.


"Kruyuk kruyuk kruyuk,,,,." Putri memegangi perutnya, di mana cacing cacing sudah menuntut untuk di beri asupan makanan.


Wanita itu nampak beranjak meninggalkan laptopnya yang masih stay di meja, untuk membuat semangkuk mie instan guna mengganjal perut yang mulai berdendang ria.


"Beginilah sedihnya hidup sendiri, mau apa apa sendiri, cari duit sendiri, mau makan masak sendiri, mau tidur juga sendiri. nasib ,,,,nasib,,,,." gumam Wanita itu ketika sedang merebus mie instan di dapur.


Tanpa sepengetahuan Putri, ada seseorang yang sejak beberapa saat tadi berdiri di ruang tamu kontrakannya, karena rumah kontrakan Putri yang terbilang sangat sederhana, bisa di pastikan jika seseorang tersebut bisa dengan jelasnya mendengar gumaman dari mulut wanita itu.


"Jika merasa berat hidup sendiri, mengapa tidak segera mencari pendamping??." Seketika tubuh putri mematung saat mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, setelah hati dan jiwanya berkumpul sempurna, Putri segera menoleh untuk memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Anda, apa yang anda lakukan di rumah saya??." dengan nada ketus Putri berkata pada seseorang yang ternyata adalah seorang pria.


__ADS_2